Kuntilanak

Kuntilanak
Suara panggilan misterius


__ADS_3

Matahari kini mulai terbenam, seketika semua pekerjaan terhenti, semua orang yang lagi beraktivitas di luar rumah langsung masuk ke dalam, semua anak-anak kecil tidak di biarkan berada di luar rumah.


Desa anggrek berubah menjadi desa yang hening dan mencekam semenjak kedatangan hantu yang tengah meneror warga-warga desa.


Sekar berdiri di tengah jalan menatap semua pintu-pintu rumah-rumah warga yang tertutup rapat, satupun manusia tak terlihat di matanya, jalanan sepi hanya dia seorang yang berdiri di sana.


"Kemana semua orang, apa mereka takut pada ku, baguslah, suruh siapa mereka macem-macem sama aku, sekarang aku akan bikin desa yang paling banyak gosib ini jadi menakutkan, aku akan jamin gak bakal ada yang keluaran rumah, ini adalah bentuk balas dendam ku, waktunya aku balas dendam pada semua warga yang tinggal di desa ini!"


Sekar yang memiliki dendam menggebu-gebu akan berniat menjadikan desa tempat kelahirannya di selimuti ketakutan.


"Mereka semua lagi sembunyi rupanya, walaupun mereka semua sembunyi mereka kira aku gak bisa masuk ke dalam, tentu saja tidak, aku bisa dengan mudah masuk dan mengganggu kalian hahahaha" tawa seram dan sinis meluncur keluar.


Sekar yang di penuhi dendam yang menggebu-gebu berjalan dengan wajah seramnya, sepanjang perjalanan ia terus tertawa menakutkan.


"Hihihihihihihi"


Tawa seram itu menggelegar dahsyat di desa ini, setiap pintu rumah yang Sekar lewati tertutup rapat, Sekar tidak melihat ada satu orangpun yang berani keluar rumah, itu tandanya mereka benar-benar takut padanya yang lagi berusaha untuk meneror warga-warga desa ini.


"Hihihihihihihi"


"Hihihihihihihi"


"Hihihihihihihi"


Berulang kali suara menakutkan itu Sekar keluarkan, ia senang melihat ada orang yang menderita akibat perbuatannya, dulu warga membuatnya menderita sekarang gilirannya yang membuat mereka menderita.


"Hihihihihihihi"


Suara itu berhasil membuat bu Hamiddeh yang lagi sendirian di rumah merinding, bu Hamiddeh menatap jam yang terpampang di dinding.


"Jam 7, kenapa di jam segini ada suara kuntilanak, apa jangan-jangan itu Sekar, duh matilah aku, kenapa malam ini giliran aku yang akan di teror, semoga saja Sekar gak masuk kemari" harapan bu Hamiddeh, saat mendengar suara menakutkan itu perasaannya langsung jadi tidak enak.


Bu Hamiddeh masih diam di tempat, ia tidak mengeluarkan suara sedikitpun, ia terus menatap ke belakang.


"Kayak apa sih wajar Sekar yang katanya seram banget, kok aku jadi penasaran banget, coba deh aku cek aja, mudah-mudahan dengan begini aku gak penasaran lagi"

__ADS_1


Bu Hamiddeh bangkit dari duduk, dengan pelan-pelan ia berjalan mendekati jendela, sebisa mungkin ia tidak mengeluarkan suara sedikitpun agar tak ada yang mendengarnya.


Bu Hamiddeh kini berada di dekat jendela, ia masih belum menyibak tirai, ia merasa merinding tetapi ia penasaran sekali dengan wajah Sekar yang di kabarkan seramnya naudzubillah.


"Gimana ini, aku pengen lihat wajah Sekar, tapi aku takut, bagaimana kalau semua yang ibu-ibu bilang tentang Sekar benar, terus Sekar yang ada di depan ganggu aku, aaah aku gak mau itu terjadi" gelisah bu Hamiddeh.


"Hihihihihihihi"


"Hihihihihihihi"


Suara tawa seram Sekar terus terdengar di telinga bu Hamiddeh, seketika bulu kuduk bu Hamiddeh berdiri semua, ia menjadi panas dingin di sana.


"Suara Sekar makin lama kok makin keras aja, kayak apa sih orangnya, aku pengen lihat"


Rasa penasaran semakin menggebu-gebu di hati bu Hamiddeh, ia yang sudah penasaran setengah mati menyibak tirai sedikit untuk melihat seperti apa Sekar yang di bilang sangat mengerikan itu.


Bu Hamiddeh yang melihat dengan jelas seperti apa Sekar langsung tercekat, ia dengan cepat langsung menutup tirai.


Bu Hamiddeh terduduk di bawah dengan wajah yang masih tertegun dengan apa yang barusan ia lihat.


"T-ternyata Sekar seseram itu, pantesan aja banyak warga yang bilang kalau Sekar seramnya naudzubillah, tapi kok bisa dia berubah seram kayak gitu, itu beneran Sekar apa bukan ya?"


Di hati bu Hamiddeh ia ragu jika kuntilanak yang berada di jalan dan tengah tertawa cekikikan itu Sekar, di hatinya terbesit kalau sosok itu bukan Sekar.


Suara telpon rumah berbunyi dengan nyaring, bu Hamiddeh bangkit dari duduk, ia berjalan mendekati pintu rumah.


"Halo ini siapa dan mau apa?" tak tanggung-tanggung, bu Hamiddeh langsung menanyakan siapa yang sudah menelponnya.


Tak ada jawaban yang keluar.


"Halo dengan siapa ini?" sekali lagi bu Hamiddeh bertanya pada orang yang berada di seberang telpon.


"Misterius sekali panggilan ini, kayaknya ada orang iseng yang mau ganggu aku" bu Hamiddeh meletakkan kembali telpon rumah itu di tempatnya.


Kaki bu Hamiddeh melangkah meninggalkan tempat itu, ia ingin mengambil minum di dapur.

__ADS_1


Suara telpon yang nyaring kembali terdengar di telinga bu Hamiddeh, dengan langkah santai bu Hamiddeh berjalan mendekati telpon rumah kembali.


"Halo dengan siapa ini?"


"Bu Hamiddeh saya ada di depan rumah ibu, ibu keluarlah, saya ingin ketemu sama ibu" titah orang di seberang telpon.


"Kamu siapa, saya gak kenal kamu!" bu Hamiddeh merasa asing pada orang yang menghubunginya itu.


"Masa ibu gak kenal saya, ibu biasanya selalu maki-maki saya, kenapa sekarang ibu lupa sama saya, apa perlu saya ingetin ibu siapa saya sebenarnya hmmm?"


Tangan bu Hamiddeh tremor, telpon rumah itu jatuh ke bawah, wajah bu Hamiddeh tercekat.


"Sekar, jadi dia yang hubungi aku?" kaget bu Hamiddeh.


"Bagaimana mungkin, bagaimana mungkin Sekar yang sudah meninggal bisa lakuin ini semua, ini pasti orang lain, gak mungkin dia Sekar, dia kan udah meninggal, gak mungkin dia lakuin ini semua, pasti yang nelpon aku barusan orang lain!"


Bu Hamiddeh membatah semua pikiran-pikiran yang tertuju pada Sekar, Sekar dan Sekar.


"Dia tadi bilang kalau dia ada di depan, coba aku periksa saja ke depan, aku harus lihat dengan mata kepala ku sendiri siapa yang ada di depan rumah, aku yakin 100% dia bukan Sekar"


Kaki bu Hamiddeh melangkah mendekati pintu, jiwanya yakin kalau orang yang barusan menelponnya orang lain bukan Sekar.


Bu Hamiddeh tanpa aba-aba langsung membuka pintu rumahnya dengan selebar mungkin.


Sekar yang berwajah seram, matanya melotot, bajunya penuh dengan darah menatap ke bu Hamiddeh yang berdiri tepat di hadapannya.


"Hihihihihihihi" tawa seram itu meluncur keluar dari bibir Sekar.


"Aaaaaaaaaahhhh!"


Bu Hamiddeh langsung jatuh pingsan kita melihat dengan jelas bagaimana seramnya Sekar.


"Hihihihihihihi" Sekar tertawa puas ketika melihat bu Hamiddeh jatuh pingsan.


"Syukurin itu, suruh siapa jadi orang jahat banget, sekarang kena batunya bukan!"

__ADS_1


__ADS_2