
Bu Maimun berlari dengan kencang tanpa henti.
"Sekar kamu jangan ganggu saya lagi, saya tidak pernah mengganggu kamu, kamu jangan ganggu saya, ganggu saja bu Jamilah yang sudah jelas-jelas bunuh kamu habis-habisan, mengapa mesti saya yang harus kamu ganggu" heran bu Maimun dengan kaki masih sibuk berlari.
"Apa anda bilang? anda tidak mengganggu saya?" terial Sekar keras saat mendengar apa yang barusan bu Maimun ucapakan.
"Wahai bu Maimun yang terhormat, anda merupakan salah satu ibu-ibu rempong yang selama ini suka ganggu saya, anda harus saya basmi biar mulut anda yang busuk dan menyakitkan itu hilang, anda kita perkataan yang anda layangkan selama ini tidak terdengar di telinga saya?"
"Anda salah besar, saya mendengar setiap kalimat kebencian yang keluar dari hati busuk anda, jangan salahkan saya kalau saya melakukan ini pada anda, karena saya begini lantaran anda duluan yang memulainya!" tutur Sekar dengan suara yang benar-benar tegas dan serius.
Mulut bu Maimun terbuka dengan lebar, ia tidak pernah menyangka bahwa Sekar
ternyata mendengar apa yang dalam ini ia bicarakan.
"Apa maksud mu, aku tidak mengerti" ujar bu Maimun pura-pura tak tau.
"Janha pura-pura bodoh, kau yang memulai perang, kau harus ku basmi, jangan harap kau hidup dengan tenang, kau dan teman-teman mu itu sama saja, sama-sama ibu-ibu rempong yang selalu mengurus kehidupan orang, tak bisakah kalian jangan mengganggu kehidupan ku, aku ini lelah, aku ingin hidup damai juga, bukan kalian saja" teriak keras Sekar.
Sekar semakin ilfeel dengan bu Maimun yang masih pura-pura tidak tau atas apa yang sudah dia lakukan selama ini.
"Sekar ibu minta maaf sama kamu, ibu tidak akan mengulangi kesalahan ibu lagi, sungguh ibu tidak mengusik hidup kamu lagi, asalkan kamu jangan ganggu ibu, ya" bu Maimun minta belas kasihan Sekar agar dirinya bisa bebas.
"Maaf mu basi, aku benci dengan kata maaf palsu yang keluar dari bibir busuk mu itu, sampai kapanpun aku tidak akan pernah memaafkan mu, aku benci pada mu, akan ku buat kau menderita" jerit Sekar yang benar-benar mengeluarkan segala amarahnya.
Bu Maimun menoleh ke belakang, Sekar masih terus mengejarnya.
"Huaaaaaaaaa"
"Jangan kejar aku, aku mohon berhentilah Sekar, jangan ganggu aku, aku ingin hidup, aku tidak mau mati, aku mohon berhentilah mengganggu ku, aku tidak akan mengganggu mu lagi" teriak histeris bu Maimun yang tidak akan bisa membayangkan bagaimana jadinya kalau Sekar membalas apa yang selama ini ia lakukan padanya.
"TIDAK, aku tidak akan pernah berhenti!" pertegas Sekar tak main-main.
Bu Maimun yang merasa bahwa Sekar telah dendam berat langsung berlari secepat kilat, ia tidak akan pernah mau berhenti gitu aja, ia tidak mau mati karena di bunuh oleh orang yang paling dia benci di dunia ini.
"Toloooong!"
"Tolooong aku, dia terus mengejar ku, dia tidak mau berhenti, bagaimana ini, tolong bantu aku, aku mohon bantulah aku, aku takut" teriak bu Maimun dengan menahan tangisnya.
"Hihihihihihihi"
"Hihihihihihihi"
"Hihihihihihihi"
__ADS_1
Untuk menakut-nakuti bu Maimun Sekar terus mengeluarkan tawa seramnya biar bu Maimun pingsan di tempat.
Bu Maimun yang terus mendengar suara tawa itu berlari dengan kencang, ia yakin bahwa dirinya bisa terlepas dari Sekar yang jahat itu.
"Sedikit lagi aku akan bertemu dengan akhir jakana ini, aku yakin Sekar akan berhenti
mengejar ku setelah ini" batin bu Maimun merasa yakin.
Bu Maimun dengan sekeras mungkin berlari, ia ingin jalanan ini segera usai.
"Hihihihihihihi"
"Hihihihihihihi"
"Hihihihihihihi"
Sekar tidak ada henti-hentinya mengejar dan tertawa cekikikan terus menerus, ia merasa bahwa mangsanya sudah mulai tak tahan dengan gangguannya.
Setelah keluar dari jalanan itu bu Maimun tercekat, bagaimana tidak sosok hantu yang wajahnya rata berdiri menghadang jalan, ia tak menyangka bahwa akan ada hantu lain yang bakal menghadang jalannya dan menghentikan niatnya.
Bu Maimun mengira setelah keluar dari sana ia akan terlepas dari Sekar.
"Gawat, ada hantu lagi, aku harus pergi kemana ini, aku harus pergi kemana" panik bu Maimun di tengah jalan.
"Aku harus pergi kemana, berlari ke sebelah barat dan bertemu dengan hantu itu atau kembali ke selekah timur yang ada Sekar?" bimbang bu Maimun di tengah jalan.
"Aku tidak mau Sekar mengganggu ku, dia pasti akan mengambil nyawa ku, aku tidak mau dia membuat ku sepertinya" ketakutan bu Maimun membayangkan jika nyawanya benar-benar melayang.
"Bagaimana ini, apa yang harus aku lakukan, sebentar lagi Sekar akan mendekati ku, aku tidak bisa diam aja, aku tidak mau mati di sini" panik bu Maimun yang bingung harus mengambil keputusan apa.
"Mau pergi kemana kau bu Maimun, menyerahlah pada ku, aku akan buat kau sama seperti ku biar kau bisa merasakan bagaimana menjadi diri ku" tutur Sekar yang berhasil membuat bu Maimun bergidik ngeri.
Bibir bu Maimun bergetar karena takut, ia tidak bisa diam begitu saja di saat dua hantu yang sama-sama seram itu bergerak mendekatinya.
Sekar tersenyum puas, sebentar lagi dia akan membuat bu Maimun yang ia benci bernasib sama sepertinya.
Sekar terbang dengan cepat mendekati bu Maimun, belum sempat bu Maimun ia tangkap, bu Maimun malah berlari dengan cepat ke sebelah Selatan.
Mata Sekar melotot tajam karena mangsanya lolos."Sialan dia, kejar dia, jangan biarkan dia lari, dia tidak boleh lolos gitu aja"
Kiki mengangguk patuh, ia dan Sekar terbang mengejar bu Maimun dari belakang.
"Jangan pergi, berhentilah, menyerahlah pada kami" teriak Sekar yang membuat jantung bu Maimun rasanya mau copot.
__ADS_1
"Berhentilah ibu-ibu rempong, menyerahlah pada kami, jangan pergi dari kami" teriak Kiki membantu Sekar untuk menangkap mangsanya.
Di kejar oleh dua hantu yang begitu menyeramkan membuat bu Maimun ketar-ketir.
Bu Maimun semakin takut, ia menerobos semak-semak belukar yang ada di sebelah selatan, ia tidak peduli berapa banyak tanaman berduri yang menusuk tubuhnya, yang ia pikirkan saat ini hanya 1 yaitu terlepas dari mereka berdua.
"Woy mau pergi kemana kau, biarkan kami membunuh mu, jangan pergi kau!" teriak Sekar.
Tubuh bu Maimun bergetar karena takut, Sekar benar-benar keterlaluan menurutnya, ia dengan ketakutan terus berlari.
Akhir semak-semak itu adalah sebuah jembatan, sebenarnya jembatan itu bisa di lalui dengan jalan yang berada di belakang rumah bu Lela, namun tadi bu Maimun tidak melintasi jalanan itu, sehingga ia melewati jalanan singkat untuk bisa mendatangi jembatan tersebut.
"Berhenti jangan lariiiii!" teriak Sekar dan Kiki kompak.
Bu Maimun yang melihat mereka terus mengejarnya panik, ia yang tidak memiliki cara apapun melompat dari jembatan yang kebetulan di bawahnya ada sungai.
Buuuur!
Tubuh bu Maimun masuk ke dalam sungai, ia kehabisan akal, ia tidak memuki cara apapun selain mencebur dirinya ke dalam sungai.
Sekar dan kini tercekat, mereka tidak menyangka bahwa bu minum akan segila itu.
"Benar-benar gila, Sekar dia melompat ke dalam sungai" shock berat Kiki yang melihat tindakan gila bu Maimun.
"Biarkan saja, ayo kita tinggalkan dia, dia pasti akan mati!" jawab Sekar.
Kiki hanya membalas dengan anggukan, mereka kemudian pergi dari sana, mereka yakin bahwa bu Maimun tidak akan selamat.
Bu Maimun keluar dari dalam sungai, ia lega saat dua hantu itu telah pergi.
Bu Maimun berenang mendekati daratan, ia sungguh lega saat tak ada lagi hantu yang akan mengganggunya.
"Mereka benar-benar gila, mereka sampai segitunya mengejar ku, mereka sungguh tega!" tutur bu Maimun yang dendam pada mereka.
"Aku tidak habis pikir mereka akan seperti ini, mereka benar-benar harus di waspadai" perasaan bu Maimun masih berdebar-debar, ia tidak bisa tenang saat ini.
Bu Maimun menatap sekitarnya yang sepi, hanya ada di seorang yang berada di sana.
"Kayaknya tempat ini aman deh, aku akan berada di sini sampai pagi, kalaupun aku pergi dari sini, aku takut akan bertemu lagi dengan mereka, lebih baik aku di sini saja menunggu matahari terbit, baru aku akan pulang"
Bu Maimun telah mengambil keputusan bahwa dirinya akan tetap berada di sana untuk mencari rasa aman, ia akan pergi setelah matahari terbit.
Bu Maimun trauma dengan ulah mereka berdua yang hampir saja membuat nyawanya melayang, ia tidak mau mengambil resiko lagi, ia tidak mau mati di tangan mereka.
__ADS_1