
Di rumah bu Jamilah.
Semua orang sudah mengurung diri di dalam kamar tapi tidak dengan bu Jamilah, ia duduk di teras rumah dalam keadaan tubuh yang ketakutan, sesekali ia menoleh ke kanan dan kirinya untuk memastikan bahwa dia lagi sendirian di sana.
"Bu, ibu" art mendekati bu Jamilah yang duduk di teras rumah sendirian.
"Ada apa, kenapa kamu datang kemari!" sinis bu Jamilah.
"Gak ada apa-apa bu, ibu ngapain di sini, di sini dingin bu, lebih baik ibu masuk saja ke dalam"
"Saya gak mau, kamu sana balik ke kamar mu, jangan urusi hidup saya!" tegas bu Jamilah tak main-main.
"Baik bu"
Art itu tak berani memerintah bu Jamilah, ia hendak masuk kembali ke dalam rumah.
"Ingat jangan kunci pintunya, saya masih ada di luar!" suruh bu Jamilah.
Art itu mengangguk, dia masuk ke dalam dan membiarkan bu Jamilah berada di luar sendirian.
Bu Jamilah celingukan, ia trauma berat dengan hantu Sekar yang tadi malam dia temui.
"Dia akan balik lagi gak ya, kenapa aku takut banget ketemu sama dia lagi, kenapa dia harus gentayangan segala, seharusnya dia itu langsung pergi dari muka bumi ini, gak usah pake acara balas dendam biar aku gak kena masalah begini"
Angin sepoi-sepoi tiba-tiba datang dengan membawa bau kembang, bu Jamilah langsung menahan nafas tak mau mencium bau itu lagi.
"Kok bau kembang ya" bu Jamilah mulai merasa merinding, perasaannya sudah tidak enak saat hidungnya mencium bau kembang.
"Apa aku masuk aja ke dalam?" bu Jamilah menatap sekelilingnya yang kosong, hanya ada dia seorang di sana.
"Tapi bagaimana kalau hantu itu muncul di kamar aku, aku mau lari kemana, aku gak mau ketemu sama dia, aku mohon jangan ganggu aku, aku minta maaf yang sebesar-besarnya pada mu, ku mohon maafkan aku" gemetaran bu Jamilah, ia menyesali perbuatannya, dia kira dengan melenyapkan Sekar dia akan hidup bebas tapi nyatanya dia semakin menderita.
Wussshhhh
Kelebat bayangan berwarna putih tertangkap di mata bu Jamilah, sontak bu Jamilah langsung bangun, bayangan itu membuatnya terkejut.
"K-ku rasa dia ada di sekitar sini, dia pasti mau gangguin aku lagi, aku harus masuk ke dalam, aku gak boleh ada di sini"
Dengan ketakutan bu Jamilah berlari mendekati pintu, ia membuka pintu namun sayangnya pintu itu tak kunjung mau terbuka.
"Kenapa gak bisa di buka, siapa yang sudah ngunci pintu ini, apa jangan-jangan pembantu sialan itu, aku kan sudah bilang jangan di kunci, kenapa dia malah gak dengarin!" geram bu Jamilah dengan terus berusaha membuka pintu.
"Sialan dia memang, aku akan beri dia pelajaran!"
__ADS_1
Bu Jamilah menatap sekelilingnya, tak ada siapapun namun entah kenapa dia merasa merinding.
"Mala, buka pintunya, aku mau masuk!" teriak bu Jamilah dengan menggedor-gedor pintu.
"Mala, buka pintunya, mau aku pecat kamu hah!" bu Jamilah yang panik tak henti-hentinya menggedor-gedor pintu.
tok
tok
tok
Berulang kali bu Jamilah berteriak sambil mengetuk pintu namun tak ada satupun orang yang membukanya.
"Di mana mereka semua, kenapa gak ada yang bukain aku pintu, apa mereka semua tuli sampai gak dengar teriakan ku!" heran bu Jamilah, di keadaan yang di selimuti rasa takut satupun orang tak ada yang membantunya, ia was-was tanpa sebab.
Bu Jamilah dengan takut menatap sekelilingnya yang semakin lama semakin bertambah mencekam.
"Gimana ini, aku ingin masuk ke dalam, kenapa mereka gak ada yang bukain aku pintu" gelisah bu Jamilah, ia terus memperhatikan sekelilingnya takut ada hantu yang berada di dekatnya.
"Kenapa Sekar pake dendam segala sama aku, seharusnya dia gak usah dendam sama aku, biar aku bisa hidup bebas!"
tap
tap
tap
"Gak ada siapapun, tapi kenapa kayak ada suara orang jalan?"
Bu Jamilah masih terus mengamati dengan teliti, dia yakin kalau ada orang di sekitarnya.
"Kayaknya orang itu ada di depan, aku harus lihat ke depan"
Bu Jamilah melangkah mendekati gerbang, dia melihat ke kanan dan kiri gerbang.
"Gak ada siapa-siapa, kenapa kayak ada suara orang jalan, apa telinga aku aja yang salah dengar" pikir bu Jamilah namun hatinya masih yakin kalau ada orang yang jalan di sana.
Bu Jamilah masih mencari pemilik langkah kaki yang barusan di tangkap oleh telinganya, namun hasilnya nihil, pemilik langkah kaki itu tak ia temukan.
Bu Jamilah kembali menutup gerbang, ia tak mau ada maling maupun hantu yang masuk ke dalam area rumahnya.
Bu Jamilah membalikkan badan menghadap ke belakang, sontak bu Jamilah langsung terkejut, ia memegangi dadanya shock.
__ADS_1
"K-kenapa lantai rumah ku ada jejak kaki berlumuran darah" tercekat bu Jamilah saat lantai putih dan bersih itu kini banyak jejak kaki yang penuh dengan darah.
Jejak kaki itu tak hanya ada di lantai tapi juga di tembok, jejak kaki itu mengarah ke atas, secara logika tidak mungkin ada manusia yang bisa berjalan di atas tembok.
"Kok perasaan aku makin gak enak aja ya" mulai resah bu Jamilah saat teror semakin menjadi-jadi.
"Aku harus masuk ke dalam, aku gak mau ada di sini lagi, di sini sudah gak aman"
Bu Jamilah mendekati pintu kembali, dia ingin membuka pintu agar bisa masuk ke dalam rumah kembali.
Belum sempat dia menyentuh gagang pintu, pintu malah terbuka dengan sendirinya.
Tangan bu Jamilah gemetaran, bagaimana mungkin pintu yang sudah jelas-jelas susah untuk di buka bisa terbuka dengan sendirinya, padahal tidak ada satupun orang yang berada di dekatnya.
"M-mengapa semuanya jadi begini, kenapa rumah ku jadi kayak rumah hantu" batin bu Jamilah ketakutan hebat, ia tampak ragu untuk masuk ke dalam rumahnya.
Bau kembang yang harum tiba-tiba datang, bu Jamilah semakin bertambah ketakutan, berada di luar rumah di jam segini bukanlah hal yang baik, bau kembang itu bukan bau kembang pada umumnya, siapapun yang mencium bau kembang di tengah malam dia pasti akan ketakutan.
"Dari pada aku di luar, lebih baik aku masuk ke dalam saja, di sini makin lama makin gak aman aja, aku gak mau di ganggu sama hantu, aku harus masuk ke dalam" batin bu Jamilah yang sudah tak tahan berada di luar.
Bu Jamilah dengan tergesa-gesa masuk ke dalam rumah, dia langsung menutup pintu rapat-rapat agar tidak ada yang masuk ke dalam.
Bu Jamilah lega, akhirnya setelah sekian lama dia berada di dalam rumah juga.
"Huft aman, gak akan ada hantu yang ganggu aku kalau kayak gini" lega bu Jamilah.
Bu Jamilah melangkahkan kakinya menuju kamar, dia berjalan hendak melewati lemari kaca yang besar dan tinggi.
Craaaaangggg!
Tiba-tiba vas bunga yang ada di lemari terlempar dan pecah berkeping-keping tepat di hadapan bu Jamilah, bu Jamilah terkejut, ia langsung menatap dengan kaget ke arah vas bunga itu.
"K-kenapa vas bunga ini bisa pecah" kaget bu Jamilah pasalnya tidak ada satupun orang di dekatnya, tapi mengapa vas bunga itu bisa pecah, bu Jamilah yakin kalau ini bukan sebuah kebetulan, ini pasti ada sesuatu yang tidak beres.
"Gak beres ini, makin ke sini makin aneh aja rumah ku, aku harus kemana kalau di dalam rumah tak mendapatkan keamanan" batin bu Jamilah yang gelisah, cemas, takut, semuanya bercampur aduk.
Bu Jamilah menatap ke arah kaca lemari, ia menangkap seorang wanita yang pakaiannya serba putih dan tengah berdiri di belakangnya dengan mengepak-ngepakkan tangannya.
"Huaaaaaaaaa" histeris bu Jamilah yang langsung jatuh pingsan ketika matanya menatap dengan jelas mata seram hantu yang ada di belakangnya.
Sekar menghentikan aktivitasnya, ia menatap bu Jamilah yang tergeletak tak sadarkan diri di lantai.
"Rasakan itu, aku akan buat hidup mu di selimuti rasa takut, tunggu pembalasan ku, aku akan beri hadiah untuk mu setiap hari!" Sekar tersenyum sinis, ia tak main-main dengan ucapannya.
__ADS_1