Kuntilanak

Kuntilanak
Keanehan dari diri bu Nilem


__ADS_3

"Ada apa bu kok diam?" bu Nilem menatap bu Salamah yang tiba-tiba menjadi diam.


"Gak ada apa-apa kok bu, gak ada apapun" bu Salamah tidak mau bu Nilem tau kalau ia curiga padanya.


"Kakek dan neneknya Mela sehat gak bu soalnya saya sudah lama juga gak dengar kabar tentang mereka" basa nasi bu Salamah yang ingin tau lebih dalam prihal keanehan ini, ia ingin memastikan terlebih dahulu apakah benar orang yang duduk di sampingnya merupakan sahabatnya atau bukan.


"Sehat kok bu, sekitar 2 bulan yang lalu kakek Mela datang ke rumah bawa singkong, dia bilang kalau singkong itu habis di cabut dari sawah, kalau mereka sakit gak mungkin mereka jauh-jauh datang kemari" jelas bu Nilem dengan semangat.


Bu Salamah hanya tersenyum getir, fakta dan apa yang ia dengar dari bu Nilem benar-benar bertolak belakang.


"Fixs ini aneh, kakek dan nenek Mela udah meninggal, tapi kenapa bu Nilem bilang kalau kakek dan nenek Mela masih hidup, aku rasa orang yang berada di dekat ku saat ini bukan bu Nilem yang asli" batin bu Salamah yang merasa curiga berat pada bu Nilem.


"Tapi siapa lagi kalau dia bukan bu Nilem, setau aku bu Nilem gak punya kembaran, kenapa kok bisa ada orang yang sama persis seperti dia" batin bu Salamah semakin merasa aneh, hatinya menjadi tidak tenang tanpa sebab.


"Apa jangan-jangan dia Sekar, kemarin malam Sekar menyerupai Shila, bisa jadi dia nyerupain bu Nilem, dia kan hantu, dia bisa saja merubah dirinya menjadi orang lain dan berusaha buat nakut-nakutin aku, aku gak boleh tertipu lagi, aku harus cari cara untuk bisa usir dia" batin bu Salamah yang tak mau di ganggu sama Sekar lagi.


"Kapan anak dan suami ibu akan pulang, apakah masih lama lagi?" penasaran bu Salamah.


"Palingan besok atau enggak lusa" ekspresi wajah bu Nilem tampak tenang, tidak menunjukkan sesuatu yang aneh walau sedikitpun.


"Oh ya kenapa ibu nginap di rumah saya yang jauh, di belakang rumah ibu kan rumahnya bu Robi'ah, kenapa ibu gak nginap saja di sana?" heran bu Salamah.


"Saya gak mau nginap di rumah bu Robi'ah, di sana banyak kucingnya, saya phobia sama kucing" jelas bu Nilem yang alergi pada bulu kucing.


"Phobia kucing? sejak kapan bu Nilem phobia sama kucing, setau aku dia phobia sama tikus bukan sama kucing, ini makin gak bener, dia sudah jelas-jelas bukan bu Nilem yang aku kenal, dia orang lain!" batin bu Salamah yang semakin yakin kalau bu Nilem di sampingnya bukan orang yang dia kenal, banyak keanehan yang ada di diri bu Nilem sehingga membuat bu Salamah merasa curiga.

__ADS_1


"Ibu saat jalan kemari gak ketemu sama hantu kan?"


"Enggak tuh bu, saya gak ketemu sama hantu, kayaknya hantu yang neror desa ini udah pergi deh, buktinya saya sampai di mari dengan selamat"


"Moga aja gitu bu, desa ini gak damai kalau banyak gangguan dari makhluk halus, semoga saja kedepannya desa ini makin tentram seperti dulu lagi, banyak warga yang sudah gak betah hidup dengan suasana seperti ini" bu Salamah merupakan salah satu orang yang tidak suka dengan suasana desa yang mengerikan, ia ingin masalah ini segera cepat selesai.


Bu Nilem tampak diam, bu Salamah mengamati gerak gerik bu Nilem dengan teliti, ia tidak akan biarkan bu Nilem mencelakainya.


"Jalanan sepi gak bu saat ibu menuju kemari?"


"Enggak tuh bu, jalanan ramai, banyak orang yang keluar rumah, kayaknya mereka sudah gak takut lagi sama hantu, ibu kalau mau keluar rumah silahkan, saya jamin gak akan ada hantu yang bakal gangguin ibu, ibu gak usah khawatir" saran bu Nilem agar bu Salamah bisa beraktivitas seperti dulu lagi.


"Gitu ya bu, kapan-kapan saya akan coba buat keluar rumah, kalau sekarang saya masih gak berani, saya masih takut" terus terang bu Salamah, ia masih tidak memiliki keberanian untuk beraktivitas di luar rumah ketika di malam hari.


"Mana mau aku keluar rumah, aku gak mau terjebak dalam permainannya, dia kira aku sebodoh itu, aku gak akan mau termakan sama omongannya, cukup sekali saja aku di ganggu sama Sekar, aku gak mau di ganggu lagi" batin bu Salamah yang mengumbar senyuman agar bu Nilem tidak curiga.


"Ibu gak mau tidur, ini sudah malam, di sana ada kamar kosong, ibu bisa tempati kamar itu" tunjuk bu Salamah ke arah kamar yang berada di sebelah kiri.


"Nanti aja bu, saya gak mau tidur sekarang, saya masih belum ngantuk"


"Terserah ibu, saya mau ke dapur dulu bu, saya belum cuci piring" alasan bu Salamah, ia tidak mau berlama-lama berada di dekat bu Nilem, sedari tadi ia menahan bau kembang kuburan yang terus saja ia dengar.


"Jangan napa bu, mending ibu cuci piring besok aja, kayak gak ada hari esok aja" larang bu Nilem yang pengen bu Salamah berada di dekatnya.


"Gak bisa bu, saya harus cuci piring sekarang, saya gak bisa cuci piring besok, saya cuman cuci piring sebentar kok bu, ibu tunggulah di sini, bentar lagi saya akan kembali!" bu Salamah tidak sebodoh itu, ia tidak mau berlama-lama berada di dekat bu Nilem yang terus mengeluarkan bau kembang kuburan yang bisa membangkitkan semua bulu kuduknya.

__ADS_1


"SAYA BILANG TETAP DI SINI YA DI SINI!" ngegas bu Nilem merasa kalau bu Salamah berusaha untuk pergi darinya.


"Kok ibu marah, saya cuman mau cuci piring, itu pun gak lama!" bu Salamah semakin yakin kalau orang yang berada di dekatnya ini bukanlah orang yang dia kenal.


"Gak boleh, ibu harus tetap di sini!" titah bu Nilem tegas, ia tidak mau bu Salamah pergi kemanapun.


"Saya gak bisa bu, saya harus pergi, saya masih ada banyak pekerjaan, ibu bisa tunggu di sini, 15-20 menit lagi saya akan kembali!"


Mata bu Nilem melotot tajam, bu Salamah menelan ludah pahit.


"Kenapa ibu mau pergi dari sini, apa ibu sudah tau siapa saya?" curiga bu Nilem menatap tajam ke arah bu Salamah yang mulai pucat.


"J-jelas saya tau bu, ibu kan bu Nilem, masa saya gak tau" bu Salamah berpura-pura tidak tau, ia akui mata bu Nilem benar-benar seram saat melotot tajam seperti itu.


"Tidak, ibu sudah tau siapa saya, saya tidak sebodoh itu bu sehingga ibu bisa bohongi saya" tatapan tajam terus di keluarkan oleh bu Nilem.


Bu Salamah tercekat menatap mata bu Nilem yang makin lama makin serem, tiba-tiba wajah bu Nilem yang ia kenal berubah menjadi buruk rupa, wajahnya hancur, darah yang amis tercium menyeruak.


"Aaaaaaaaaahhhh!" jerit bu Salamah langsung jatuh pingsan saat kepala hantu seram itu terbang.


Sekar kembali menyatukan kepalanya, ia tertawa terbahak-bahak melihat bu Salamah yang jatuh pingsan.


"Rasain itu, besok aku akan bikin kau tambah menderita lagi!" senyuman sinis terukir di wajah Sekar.


Sekar yang puas mengganggu bu Salamah menghilang dari sana, ia akan mencari mangsa lagi untuk ia ganggu.

__ADS_1


__ADS_2