
Setibanya di pemakaman umum lagi-lagi pak Anton terduduk lemas, pemakaman umum itu kosong, pak Anton yang sudah lelah mencari Sekar berjongkok di dekat makam kedua orang tua Sekar, pak Anton bingung mau mencari Sekar di mana lagi.
"Sekar kamu kemana sayang, kamu pergi kemana, kenapa gak ada di rumah, apa yang sudah terjadi sama kamu, kamu baik-baik aja kan" pak Anton semakin khawatir, perasaannya tidak enak sejak kemarin malam.
Pak Anton menatap dengan gelisah ke arah makam kedua orang tua Sekar.
"Anton"
Pak Anton dengan lemas menoleh ke belakang menatap siapa yang memanggilnya.
"Karan" pak Anton bangkit dari duduk saat melihat Karan teman 1 desa dengannya, Karan juga bekerja di desa ini sama sepertinya.
"Anton ayo ikut dengan ku" ajak Karan, wajah Karan tampak serius, tidak ceria seperti sebelum-sebelumnya.
"Tidak bisa, aku tidak bisa ikut dengan mu, aku ingin mencari Sekar, dia sudah dari kemarin malam tidak bisa di hubungi, aku khawatir ada sesuatu yang terjadi padanya, aku mau mencarinya terlebih dahulu"
Karan langsung berubah menjadi sedih ketika sahabat karibnya menyebut nama Sekar, dia rasanya tidak tega mengatakan yang sebenarnya, dia sudah tau kalau pak Anton menikah dengan Sekar, dia satu-satunya orang yang pak Anton beri tau tentang hubungan mereka.
"Anton aku tau di mana Sekar berada"
Mata pak Anton langsung berbinar ketika Karan bilang kalau dia tau di mana Sekar berada.
"Di mana dia, aku ingin ketemu sama dia, aku ingin memastikan dia baik-baik saja, aku sangat risau dengannya"
"Ayo ikut dengan ku, akan aku tunjukkan di mana Sekar berada"
Pak Anton dengan semangat mengikuti Karan, dia sudah sangat merindukan istrinya, walaupun cuman 1 hari dia tidak bertemu dengan Sekar, namun rasa rindu itu seperti sudah 1 abad lamanya.
__ADS_1
Pak Anton merasa aneh saat Karan membawanya ke dalam hutan yang sepi, dia tidak mengerti mengapa Karan membawanya kemari, padahal dia hanya ingin bertemu dengan istri tercintanya.
"Karan kenapa kamu bawa aku ke sini, aku itu ingin ketemu sama Sekar, kenapa malah kamu bawa kemari, kamu sebenarnya tau apa enggak sih Sekar ada di mana" omel pak Anton yang emosi ketika harapan tak sesuai dengan ekspektasi.
Karan sulit untuk menjelaskan semuanya pada sahabatnya yang sangat mencintai Sekar, ia tak tega mengatakan hal yang sudah terjadi pada Sekar.
"Karan, kenapa kamu diam saja, di mana istri ku, aku ingin ketemu sama dia, bawa aku ke sana, aku ingin lihat dia" pak Anton sudah tak sabaran, dia ingin segera bertemu dengan orang yang paling dia rindukan saat ini.
"Anton kamu yang sabar ya"
"Apa maksud mu, kenapa aku harus sabar!" marah pak Anton, ucapan Karan membuatnya semakin bingung dengan apa yang sudah terjadi.
"Anton Sekar sudah meninggal, dia di bunuh sama bu Jamilah, bu Jamilah membunuh Sekar tadi malam saat bu Jamilah tau kalau Sekar hamil anak juragan Doni"
Jleb!
Pak Anton tak pernah membayangkan kalau terjadi sesuatu yang buruk pada istrinya kala ia tinggal pergi.
"Tidak mungkin, Sekar tidak mungkin meninggal, kamu pasti bohong, katakan yang sebenarnya di mana istri ku, aku ingin bertemu dengannya, kamu jangan mengarang cerita!"
Pak Anton membantah keras ucapan Karan, dia tidak percaya Sekar meninggal, kemarin sebelum dia pergi keluar kota Sekar baik-baik saja, tidak mungkin Sekar pergi meninggalkannya dalam waktu yang secepat ini.
"Aku mengatakan yang sebenarnya Anton, istri mu sudah meninggal, dia di bunuh dengan tragis oleh bu Jamilah"
Tangis pak Anton langsung pecah, perasaan yang tidak enak yang terus saja dia rasakan sejak kemarin malam kini terbukti, dia sebelumnya berpikir hal itu hanya perasaannya saja, dia tidak menyangka kalau istrinya terkena masalah besar sampai dirinya menghembuskan nafas terakhir.
"Anton kamu yang sabar, aku tau ini berat buat kamu, maaf tadi malam aku tidak bisa membantu istri mu, satupun warga tidak ada yang bisa membantunya, bu Jamilah sangat kejam membunuh istri mu sampai-sampai dia menghembuskan nafas terakhirnya"
__ADS_1
Pak Anton mengeraskan tangisannya, seorang wanita polos yang begitu menggemaskan yang paling dia cintai di dunia ini di kabarkan meninggal adalah hal paling menyakitkan yang ia terima, dia berjuang sebisa mungkin agar wanita yang kesepian itu bisa merasakan indahnya dunia, namun kenapa semuanya berakhir seperti ini.
Karan terus menenangkan pak Anton, dia tau pasti pak Anton sangat terpukul atas meninggalnya Sekar, dia tau seperti apa pak Anton menyayangi Sekar, pak Anton selalu menjaga dan melindungi Sekar dari orang-orang jahat selama ini.
"Karan Sekar tidak mungkin meninggal kan, kamu pasti bohong bukan" pak Anton masih berharap apa yang barusan dia dengar hanya sebuah kebohongan saja.
Karan menggeleng, dia melihat langsung bagaimana Sekar meninggal, tidak mungkin dia berbohong pada sahabatnya sendiri.
"Aku tidak bohong Anton, Sekar memang sudah meninggal"
Dunia pak Anton seakan berhenti berputar, segala warna yang selama ini menghiasi hidupnya langsung menghilang dan berubah menjadi gelap.
Karan berusaha tegar saat melihat sahabatnya yang berduka, ia berusaha untuk tetap menjadi orang kuat di sisi pak Anton yang tengah rapuh.
"Anton maafkan aku, aku tidak bisa menyelamatkan istri mu" batin Karan merasa bersalah atas kematian Sekar.
Karan membiarkan pak Anton yang terus menangis, ia tidak melakukan apapun dan hanya diam di tempat.
"Di mana jenazah Sekar, aku ingin melihatnya, apa dia sudah di makamkan?" dengan deraian air mata pak Anton bertanya pada Karan yang masih diam di tempat.
Karan begitu sulit mengatakan hal ini, dadanya sesak, dia tidak sanggup bilang letak jenazah Sekar saat ini.
"Karan jawab, di mana jasad istri ku, aku ingin melihatnya!" teriak pak Anton yang ingin melihat secara langsung jenazah Sekar.
"D-dia ada di dalam sumur tua yang berada di belakang rumah Sekar, bu Jamilah memasukkan Sekar ke dalam sumur tua itu di saat dia tengah sekaratul maut" dengan terbata-bata Karan menjelaskan segalanya, meskipun ini berat pak Anton harus tau karena ini menyangkut tentang istrinya.
Tangis pak Anton semakin menjadi-jadi, dia tidak kuasa hanya untuk membayangkan bagaimana rasa sakit yang di derita Sekar, dia sebagai seorang suami merasa gagal menolong Sekar, sungguh apa yang dia takutkan selama ini kini terjadi dan dia tidak bisa berbuat apa-apa.
__ADS_1