Kuntilanak

Kuntilanak
Berpamitan


__ADS_3

Sekar melihat ke depannya, ia berada di tempat yang aneh, tak pernah sekalipun ia mengunjungi tempat itu sebelumnya, Sekar penasaran ada di mana dia sehingga tempat itu begitu asing di matanya.


"Di mana ini, aku ada di mana?"


"Kenapa aku bisa berada di sini, apa yang sudah terjadi pada ku, kenapa aku bisa ada di sini?" mulai panik Sekar.


Sekar menatap sekeliling, tidak ada satupun orang yang ia kenali di sana, ia tidak tau saat ia berada di mana.


Tempat itu ramai, namun di tengah keramaian Sekar menjadi panik karena tidak ada satupun orang yang ia kenali di sana.


"Permisi pak, numpang tanya ini di mana?"


Seorang bapak-bapak paruh baya itu menatap sinis ke arah Sekar, wajahnya pucat seperti tidak teraliri darah, kemudian bapak-bapak itu meninggalkan Sekar tanpa menjawab pertanyaan Sekar.


Sekar semakin merasa aneh pada semua yang berada di tempat ini, mereka tidak ada yang berbicara, mereka hanya terus berlalu lalang di depan Sekar, tanpa Sekar ketahui mereka akan pergi kemana.


"Aneh, kenapa bapak-bapak itu pergi, sebenarnya ini di mana, kenapa aku bisa terjebak di sini, aku harus cari jalan keluarnya, aku gak mau berada di sini selamanya"


Sekar terus berjalan menjauhi keramaian, banyak sekali orang yang ada di sana, namun mereka semua sangat misterius.


Tiba-tiba Sekar melihat seorang laki-laki yang amat ia kenali.


Dengan air mata yang berlinang Sekar berlari mendekati laki-laki itu.


"Bapak" panggil Sekar yang begitu sangat merindukan sang ayah yang sudah berpulang beberapa hari yang lalu.


Tono menatap ke arah Sekar dengan wajah yang sedih.


"Bapak, bapak Sekar kangen sama bapak, kenapa bapak tega ninggalin Sekar sendirian hiks hiks hiks" tangis Sekar dengan memeluk erat tubuh Tono yang begitu ia rindukan selama ini.


"Maafin bapak Sekar, bapak harus pergi"


Sekar menangis dalam pelukan sang bapak, ia begitu merindukan sosok ayah yang selama ini sangat menyayanginya.

__ADS_1


"Sekar kamu jangan nikah sama juragan Doni, kamu tidak akan bisa hidup bahagia kalau nikah sama dia"


Sekar mendongak menatap wajah bapaknya dengan air mata yang terus mengalir.


"Tapi pak Sekar gak bisa nolak, juragan Doni tidak akan terima kalau Sekar nolak untuk nikah sama dia"


"Bapak tau, tapi Sekar kamu pasti tidak akan bahagia hidup sama dia, kamu jangan sampai nikah sama dia, bapak tidak akan bisa bayangin apa yang akan terjadi sama kamu"


Sekar terdiam, ia tidak bisa menolak hal itu karena pastinya juragan Doni akan minta uang itu kembali secepatnya.


"Sekar tidak bisa nolak pak, tapi Sekar janji nanti Sekar akan berusaha kumpulin uang yang banyak agar Sekar bisa lunasi hutang itu, baru setelah itu Sekar pasti akan terlepas dari juragan Doni"


"Sekar maafin bapak, karena bapak kamu harus begini" merasa bersalah Tono.


"Bapak tidak usah merasa bersalah, Sekar tidak apa-apa, bapak yang tenang di sana, di sini Sekar akan selalu kirim doa buat bapak, tolong restui pernikahan Sekar"


"Bapak pasti restui pernikahan kalian, kamu jaga diri baik-baik, jaga ibu kamu, maaf bapak gak bisa jaga kalian lagi"


Sekar mengangguk dengan air mata yang terus mengalir, ia memeluk erat tubuh bapaknya yang begitu ia rindukan, sejak kepergian bapaknya hidup Sekar bukannya tambah baik malah bertambah buruk.


"Sekar bapak pergi dulu, kamu jaga diri baik-baik, dunia luar itu kejam, kamu harus pintar-pintar jaga diri, jangan sampai kamu terluka karena bapak gak akan bisa bantuin kamu lagi, bapak hanya bisa jaga kamu dari alam bapak"


"Iya pak, Sekar akan jaga diri baik-baik, tidak akan ada yang terjadi sama Sekar, bapak tidak perlu khawatir, bapak yang tenang di sana, jangan pedulikan Sekar, Sekar baik-baik saja" Sekar menyunggingkan senyuman meski air mata sesekali mengalir.


"Bapak pergi dulu, jaga diri baik-baik"


Sekar mengangguk dengan linangan air mata, Tono kemudian menghilang dari hadapan Sekar.


"Bapak" teriak Sekar terjaga dari tidurnya.


Dengan keringat-keringat dingin yang membanjiri tubuhnya, Sekar menatap sekeliling yang merupakan kamarnya.


"Bapak, bapak kenapa pergi hiks hiks hiks" Sekar menangisi bapaknya karena bermimpi bertemu dengan bapaknya yang sudah meninggal dunia.

__ADS_1


Kini sosok yang paling kuat di dalam rumah ini telah pergi dengan tenang ke alamnya, Sekar sudah tidak bisa melihat bapaknya lagi.


"Kenapa bapak harus pergi, seandainya di sini masih ada bapak, mungkin aku gak akan sehancur ini" tangis Sekar begitu menyayat hati.


Tidak ada satupun seorang wanita yang akan bahagia menikah dengan orang yang tidak dia cintai, namun keadaan memaksanya untuk menerima walaupun berat hati.


Sekar menangis di dalam kamarnya saat bermimpi bapaknya berpamitan padanya, dia berat melepaskan bapaknya yang sudah pergi.


Puas menangis Sekar melihat ke arah jam yang menunjukkan pukul setengah 6, Sekar langsung panik karena beberapa menit lagi adzan magrib akan berkumandang sementara dia masih belum bersiap-siap.


"Gawat, aku masih belum apa-apa, aku harus bisa sampai di rumah juragan Doni secepatnya, sebelum juragan Doni marah dan berubah pikiran"


Dengan secepat kilat Sekar keluar untuk mandi, dia bersiap-siap dengan waktu yang sangat singkat.


Setelah dirinya selesai bersiap-siap, adzan magrib berkumandang, Sekar langsung mendekati kamar ibunya untuk mengajaknya ke rumah juragan Doni.


"Ibu, bu" Sekar memanggil ibunya dengan mengetuk pintu.


"Bu, ibu"


"Masuk aja ndok uhuk uhuk"


Sekar masuk ke dalam kamar ibunya."Bu ayo kita langsung ke rumah juragan Doni, kita harus sampai di sana sebelum juragan Doni marah"


"Iya ayo"


Sekar membantu ibunya untuk berangkat ke rumah juragan Doni yang tidak begitu jauh.


Dengan kaki yang tertatih-tatih Mirna berjalan, sesekali ia berhenti karena tidak bisa terlalu lama berjalan, tubuhnya semakin lama semakin lemas, rasanya dia tidak kuat untuk berjalan ke rumah juragan Doni yang hanya tinggal beberapa langkah lagi.


"Ayo bu kita harus segera sampai di sana, pelan-pelan aja yang penting jalan"


"Iya ndok uhuk uhuk"

__ADS_1


Mirna dan Sekar terus berjalan, jalanan desa sepi, tidak ada satu orang pun yang berkeliaran sehingga mereka aman untuk datang ke rumah juragan Doni tanpa harus di tanya ini itu oleh warga-warga sekitar.


__ADS_2