
Pagi harinya, setelah sekian lama akhirnya pagi yang di tunggu-tunggu pun datang, mereka semua semakin di kejutkan dengan ragam berita-berita baru tentang hantu Sekar dan orang-orang yang sudah di ganggu olehnya tadi malam.
Mereka semua kini berkumpul di rumah bu Toya yang di kabarkan di ganggu habis-habisan oleh Sekar, berita itu langsung terbesar luaskan di kalangan masyarakat.
Bu Toya berada di tengah-tengah mereka, terlihat wajahnya yang masih ketakutan akibat kejadian mengerikan yang sudah ia alami tadi malam.
"Gimana ceritanya bu kok bisa di ganggu sama Sekar?" penasaran bu Nining, selama ini dia hanya mendengar cerita dari mulut ke mulut, dia begitu penasaran dengan hantu Sekar yang katanya sangat menyeramkan.
"Sekar itu tadi malam gangguin saya ibu-ibu, dia bikin saya ketakutan sampai jatuh pingsan, benar kata bu Nilem wajah Sekar memang seram abis, apalagi matanya, beeeeh serem!" bu Toya menceritakan kejadian yang tadi malam dia alami dengan bergidik ngeri.
"Iiih kenapa hantu Sekar itu makin jadi-jadi aja, lama-lama kita akan hidup dalam ketakutan kalau dia masih terus gentayangan di sini" begidik bu Hamiddeh.
"Kalian tau tidak tadi malam semua air di rumah saya berubah jadi merah, kayak warna darah gitu, saya bingung kenapa air di rumah saya bisa berubah jadi darah, apakah di rumah-rumah kalian pada gitu gak?"
"Enggak tuh, di rumah saya airnya masih jernih, gak ada pencemaran sama sekali" jawab bu Naima.
"Tapi di rumah saya tadi malam airnya berubah jadi merah darah, saya heran kenapa itu semua bisa terjadi, apa gara-gara sumber air itu dari sumur yang di dalamnya ada jasad Sekar ya" pikir bu Toya.
"Pasti itu, Sekar kan masih ada di dalam sumur itu, kayaknya air di sana sudah tercemar" jawab bu Nilem.
"Kalau kayak gitu nanti saya akan nyalur air di sumurnya bu Rohani"
"Iya pasang aja di sana, lebih dekat juga" sahut bu Rohani.
"Selain bu Toya saya dengar kalau bu Maimun juga di ganggu sama hantu Sekar" tutur bu Siti.
Seketika pandangan semua orang langsung tertuju ke arah bu Siti.
__ADS_1
"Yang benar aja bu, masa Sekar ganggu bu Maimun juga" kaget bu Nining yang baru dengar berita itu.
"Iya bu, bu Maimun sampai lari terbirit-birit karena takut, saya tadi dengar langsung dari warga-warga lainnya kalau bu Maimun juga di ganggu sama hantu Sekar" jelas bu Siti.
"Kalau kayak gitu ayo kita datangin rumah bu Maimun, kita pastikan kalau dia di ganggu sama Sekar apa enggak" ajak bu Nilem.
Mereka semua setuju, dengan berbondong-bondong mereka berangkat ke rumah bu Maimun yang terletak di dekat sungai.
"Masa iya bu Maimun di ganggu sama hantu Sekar juga" tak percaya bu Nining.
"Saya dengarnya gitu bu, selain bu Toya tadi malam bu Maimun juga di ganggu sama Sekar sampai pulang-pulang ketakutan" sahut bu Siti terus berusaha menyakinkan mereka semua agar mau percaya dengan ucapannya.
"Bu Maimun emangnya mau kemana, kok keluar dari rumah?" penasaran bu Hamiddeh.
"Gak tau juga, mending kita langsung datangin rumahnya, kita tanyain langsung sama dia" usul bu Nilem.
Setibanya di sana mereka langsung mendekati bu Maimun yang duduk di teras rumah tak berani masuk ke dalam rumahnya karena takut di datangin sama Sekar lagi.
"Bu Maimun" panggil mereka mendekati bu Maimun yang ketakutan ketika teringat kejadian tadi malam.
Bu Maimun langsung merasa tenang, rasa takutnya menyingkir untuk sesaat.
"Bu Maimun apa benar ibu di ganggu sama Sekar?" bu Nining langsung menanyakan perihal itu semua.
"Iya bu, tadi malam saya di ganggu sama Sekar, dia sereeeem banget" begidik ngeri bu Maimun, ia kini mengakui kalau Sekar benar-benar gentayangan.
"Ibu di ganggu di dalam rumah?" penasaran bu Toya.
__ADS_1
"Enggak, Sekar gak ganggu saya di dalam rumah, tapi di persimpangan jalan, saya takut banget ketika teringat sama kejadian tadi malam" jawab bu Maimun.
"Ibu ngapain ke sana malam-malam, ibu kan sudah tau kalau Sekar gentayangan, kenapa ibu pake acara keluar dari rumah segala!" tak habis pikir bu Nilem.
"Saya awalnya meragukan kalau Sekar beneran gentayangan, saya itu keluar rumah karena laper, ceritanya saya mau beli makanan di luar, setelah nyari-nyari pedagang keliling, saya ketemu sama mang Karyo, saya pesan sate satu prodi, awalnya gak ada masalah tapi saya ngerasa ada yang aneh sama mang Karyo, dia gak kayak mang Karyo pada umumnya" jelas bu Maimun yang berhasil membuat mereka semua penasaran.
"Terus-terus gimana bu" suruh mereka yang sudah tak sabar menunggu kelanjutan dari cerita bu Maimun.
"Kalian tau tidak di sate mang Karyo banyak ulatnya, saya sempat marah-marah karena kecewa dengan mang Karyo, dia hanya natap tajam ke arah sana lalu dengan tanpa aba-aba dia berubah jadi hantu, rambutnya panjaaang, pakaiannya putih tapi berlumuran darah, matanya itu sereeeem abis" jelas bu Maimun dengan sangat menghayati.
"Terus apa yang ibu lakukan" penasaran bu Nilem.
"Apalagi kalau bukan lari dari sana, untung dia gak ngejar saya sampai ke rumah" jawab bu Maimun.
"Kok bisa ya Sekar menyerupai mang Karyo" takjub bu Hamiddeh.
"Bisa aja bu, dia kan hantu, bisa aja dia nyerupain mang Karyo ataupun warga-warga lainnya" sahut bu Rohani.
"Duh makin seram aja Sekar itu, saya kok jadi merinding ya dengarnya, apalagi ngalamin sendiri" gelisah bu Herlin.
"Kalian semua jangan pada keluar rumah malam-malam, hantu Sekar itu seramnya gak ada obat, kalian jangan sampai di ganggu sama dia, dia itu sekarang gak sama kayak Sekar yang dulu, dia saat ini dendam sama kita, kalian jangan sampai jadi sasaran berikutnya" peringatan bu Maimun agar tidak terjadi lagi kejadian mistis yang menimpa warga-warga lainnya.
"Jangankan di luar, tadi malam saya ada di rumah di gangguin sama Sekar, saya sampai jatuh pingsan gara-gara dia" sahut bu Toya yang masih ingat betul kejadian tadi malam.
"Duh gimana ini, saya gak mau di ganggu sama hantu Sekar, tapi gimana caranya" gelisah bu Hamiddeh yang sudah takut duluan.
"Kalau kalian gak mau di ganggu sama hantu Sekar, kalian jangan berani nantangin dia kayak saya, saya sudah merasakan bagaimana di ganggu sama Sekar yang sereeeem abiiis" saran bu Maimun yang menyesali perbuatannya.
__ADS_1