
Karan tiba di rumah bu Jamilah, ia menatap rumah tersebut dengan seksama, Karan menarik nafas terlebih dahulu sebelum berjumpa langsung dengan bu Jamilah, ia memantapkan hatinya dan berdoa semoga segalanya di lancarkan.
"Bismillah semoga bu Jamilah izinin aku berhenti kerja"
Karan melangkah mendekati pintu, ia mengetuk pintu terlebih dahulu, hatinya berdebar-debar, ia sangat khawatir nyonya besar akan melarang keras maksud dan tujuannya yang hendak resign.
tok
tok
tok
Tak ada tanggapan, Karan mengetuk pintu dengan sedikit keras.
tok
tok
tok
"Sebentar"
Seorang art yang tak lain adalah Mala ternganga menatap siapa yang ada di depannya.
"Pak Karan!" kaget Mala sebab sudah lama ia tidak melihat Karan lagi.
"Bi di mana bu Jamilah, apa dia ada di sini?" Karan mengutarakan maksudnya yang ingin berjumpa dengan bu Jamilah.
"Ada pak, ibu ada di rumah, mari pak masuk, ibu memang lagi nyariin bapak" ajak Mala dengan sopan.
Karan melangkah masuk ke dalam rumah bu Jamilah mengikuti Mala dari belakang.
"Di mana bu Jamilah bi, kok gak ada di ruang tamu?" Karan menjumpai ruang tamu yang kosong, biasanya bu Jamilah mengerjakan sesuatu di sana.
__ADS_1
"Ibu ada di kamarnya pak, dia gak mau keluar kamar" jelas Mala dengan memelankan suaranya khawatir bu Jamilah mendengarnya.
Karan mengernyitkan dahi."Kenapa, kok tumben bu Jamilah betah di dalam kamar?"
Karan merasa ada yang aneh, tak biasanya majikannya berdiam diri terlalu lama di dalam kamar, biasa bu Jamilah akan mengajaknya shopping-shopping dan jalan-jalan, dia pernah bilang kalau dia bosan berada di dalam kamar, ia lebih suka berada di luar.
"Anu pak, tadi malam bu Jamilah di datangin sama non Sekar, bu Jamilah bilang non Sekar cekik dia sampai dia kehabisan nafas dan jatuh pingsan, untung aja dia gak meninggal dunia" penjelasan Mala berhasil membuat Karan ternganga, jantungnya seakan meloncat saat di dalam cerita itu terdapat nama seseorang yang tak asing di telinganya.
"Di ganggu Sekar!" kaget Karan, Karan tidak tau kalau Sekar tengah meneror penduduk sekitar setiap malam.
"Iya pak, Sekar datangin bu Jamilah, ini bukan kali pertama, tapi hampir setiap malam Sekar selalu mendatangi bu Jamilah dan ganggu bu Jamilah habis-habisan" Karan semakin terkejut, tak pernah ia duga kalau Sekar ternyata gentayangan dan membuat onar di desa ini.
"Gak mungkin bi Sekar gentayangan, bibi pasti bohong" bantah Karan yang yakin kalau Sekar tak mungkin gentayangan.
"Beneran pak, Sekar memang gentayangan, bu Jamilah terus menerus di ganggu sama Sekar, jangankan bu Jamilah, warga sekitar aja tiap malam di ganggu sama Sekar, setiap pagi pasti ada aja berita terbaru dan terhot di desa ini, kalau bapak gak percaya, bapak tanyakan saja sama warga sekitar, mereka pasti akan jelaskan semuanya sampai ke akar-akarnya"
Karan diam, ia mencerna baik-baik ucapan Mala, di hatinya masih belum yakin sepenuhnya kalau Sekar gentayangan.
"Apa iya Sekar gentayangan, aku harus cari tau sama orang lain, biar makin jelas" batin Karan.
"Ayo bi temani saya berjumpa dengan bu Jamilah, saya ingin melihat keadaannya" Karan mengalihkan pembicaraan biar tidak terlalu mendalam membahas Sekar.
"Mari pak" Mala membawa Karan ke kamar bu Jamilah, Karan mengikutinya dari belakang, ia penasaran dengan keadaan bu Jamilah yang di kabarkan di ganggu habis-habisan oleh Sekar, bahkan Sekar hampir saja membunuhnya.
tok
tok
tok
"Permisi bu, ini saya" Mala mengetuk pintu terlebih dahulu sebelum masuk ke dalam kamar nyonya besar.
"Masuk aja Mala, pintunya gak di kunci kok" teriak bu Jamilah dari dalam kamar.
__ADS_1
Mala membuka pintu, ia dan Karan mendekati bu Jamilah yang berbaring di tempat tidur.
"Ada apa Mala, kenapa kamu masuk ke sini, apa mas Doni sudah pulang?" penasaran bu Jamilah dengan mata yang tertutup rapat, ia tidak mau membuka mata, ia masih takut membuka mata, itu semua terjadi gara-gara Sekar.
"Ibu ini ada pak Karan, pak Karan ingin bertemu dengan ibu" seketika mata bu Jamilah terbuka dengan lebarnya, ia langsung duduk dari tidurnya dan menatap Karan dengan terkejut.
"Karan, kamu kemana aja, kenapa kamu tiba-tiba menghilang dari sini!" bu Jamilah langsung mengintrogasi Karan, sudah lama Karan pergi tanpa kabar, ia sudah takut Karan tidak kembali lagi kemari.
"Maaf bu, saya kemarin-kemarin pulang ke kampung halaman saya, saya sudah lama tidak pulang ke sana" jelas Karan.
"Kalau kamu mau balik kampung, kamu bilang pada saya, jangan pada orang lain!" perintah bu Jamilah.
"Baik bu, lain kali saya tidak akan mengulangi kesalahan saya lagi"
"Terus bagaimana dengan surat pengunduran diri kamu, surat itu salah kan?" bu Jamilah ingin memastikan langsung terkait kebenaran surat yang waktu itu pak satpam berikan padanya.
"Itu benar bu, saya ingin berhenti kerja" jawab Karan yang membuat bu Jamilah dan Mala terkejut.
"Kenapa kamu mau berhenti kerja, apa alasan kamu mau resign?" terkesiap bu Jamilah dengan penuturan Karan.
"Saya ingin menikah bu, saya mau mencari pekerjaan yang dekat dari kampung halaman saya, karena saat ini kedua orang tua saya lagi sakit-sakitan, saya harus menjaga beliau, saya tidak bisa meninggalkan beliau" Karan mengutarakan alasan mengapa dia ingin resign.
Bu Jamilah tampak menghela nafas berat, Karan merupakan karyawan yang sudah pas di hatinya, ia berat melepaskan Karan yang selama ini jujur dalam bekerja, tidak neko-neko seperti yang lain.
"Ya sudah kalau itu keputusan kamu, saya izinkan, tapi kalau kamu mau balik ke sini lagi silahkan, pintu rumah ini masih terbuka buat kamu" Karan lega, ia sedari tadi khawatir kalau bu Jamilah tidak akan mengizinkan dia berhenti kerja.
"Terima kasih bu, saya minta restu ibu, 2 bulan lagi saya akan menikah"
"Saya akan restui kamu, saya doakan semoga kamu bahagia sama pasangan kamu"
"Terima kasih bu, maaf saya gak bisa lama-lama ada di sini, saya masih ada urusan, saya pergi dulu bu" pamit Karan.
"Iya silahkan" Karan keluar dari dalam kamar bu Jamilah, ia bergegas pergi dari sana, ia masih belum yakin sepenuhnya kalau Sekar gentayangan.
__ADS_1
"Masa iya Sekar gentayangan, gak mungkin dia gentayangan, aku gak percaya, aku harus cari tau kebenarannya dulu, baru aku percaya"
Karan berjalan di jalanan yang tidak terlalu ramai, ia berniat akan mencari tau kebenaran tentang berita yang Mala sampaikan.