Kuntilanak

Kuntilanak
Tak bisa tenang


__ADS_3

Bu Naima menunggu suaminya pulang dengan tidak tenang, keadaan desa yang belum membaik membuatnya resah, ia saat ini menunggu suaminya di kamar bersama Mia anaknya.


Bu Naima tidak bisa tenang sama sekali, sejak magrib tadi ia yang menunggu suaminya pulang namun Samo detik ini suaminya tak kunjung pulang juga.


Kekhawatiran terpancar jelas di wajah bu Naima, yang ia lakukan saat ini hanya melirik jam yang terpampang di dinding.


"Ibu bapak pulang kapan, kenapa bapak belum pulang juga, ini kan udah malam?" Mia masih belum tidur, ia menunggu bapaknya pulang, ia ingin memastikan bahwa bapaknya baik-baik saja.


Mia menunggu bapaknya pulang bersama sang ibu, mereka berdua rela tidak tidur hanya karena ingin menunggu kedatangan pak Khoiron.


"Nanti bapak juga akan pulang, sekarang kamu lebih baik tidur aja, nanti kalau bapak kamu pulang, ibu akan bangunin kamu" suruh bu Naima untuk mengusir kecemasannya dan ia juga tidak mau putrinya cemas.


Mia menurut, Mia membaringkan tubuh dan mulai menutup mata, bu Naima masih resah, kegelisahan terus terpancar di wajah bu Naima, ia tak bisa tenang saat di rumah tidak ada suaminya, ia takut sewaktu-waktu Sekar datang dan membuatnya ketakutan.


Bu Naima terus berdoa semoga ada orang yang bisa membuatnya tidak takut lagi, semenjak Sekar jadi hantu, dia menjadi takut dan tak bisa setenang dulu kalau mendengar kata malam hari.


"Kemana bapak ini, kenapa gak pulang-pulang, gak pernah dia kayak gini, apa ada kendala di jalan sehingga jam segini bapak masih belum pulang" batin bu Naima yang gelisah lantaran suaminya tak kunjung pulang.


Rasa gelisah terus menghantui bu Naima, pikiran-pikiran buruk datang menyerang bu Naima, ia terus teringat dengan suami bu Toya yang meninggal dalam insiden kecelakaan.


"Coba aku tunggu aja di ruang tamu, palingan sebentar lagi bapak akan pulang"


Bu Naima meninggalkan anaknya yang tidur sendirian di kamar, ia tidak akan bisa tenang jika suaminya tidak kunjung pulang, ia ingin memastikan terlebih dahulu bahwa suaminya pulang dengan selamat tanpa ada lecet sedikitpun.


Di ruang tamu bu Naima mondar-mandir ke sana kemari menunggu pak Khoiron yang tak kunjung datang.


Waktu semakin lama semakin larut, namun pak Khoiron tak kunjung pulang juga, bu Naima semakin cemas, ia gelisah tak menentu.


"Kemana bapak ini, ini udah mau jam 3, kenapa jam segini bapak masih belum pulang juga, apa yang terjadi padanya, kenapa dia lama pulang ke rumah" bu Naima tidak bisa tenang, kerisauan terus terpancar jelas di wajahnya.

__ADS_1


Bu Naima menunggu dengan tidak tenang, ia bolak balik jendela untuk memeriksa apakah suaminya sudah pulang atau belum.


"Ku rasa ada sesuatu yang terjadi sama bapak di jalan, gak pernah dia pulang selarut ini, ini pasti ada sesuatu yang terjadi di jalan sehingga jam segini dia gak pulang-pulang" pikiran-pikiran buruk datang menghampiri bu Naima yang khawatir berat pada suaminya.


Bu Naima gelisah terus menerus, ia tak bisa diam sama sekali, pikirannya berkecamuk, ia tak akan bisa tenang sebelum suaminya pulang.


"Aku harus hubungi bapak, aku harus pastikan kalau bapak baik-baik saja, aku tidak akan bisa tinggal diam lagi, kalau aku diam terus kayak gini, aku gak akan bisa tenang" bu Naima yang cemas pada suaminya yang tidak tau berada di mana langsung menghubunginya.


Bu Naima ingin memastikan bahwa suaminya baik-baik saja atau tidak.


tutt


tutt


tutt


Bu Naima mondar-mandir ke sana kemari, pak Khoiron tak kunjung menjawab teleponnya, ia semakin gelisah, ia takut apa yang ia pikirkan benar-benar terjadi.


Bu Naima sudah tak bisa menunggu lebih lama lagi, ia tak bisa diam begitu saja.


"Tapi aku mau cari bapak di mana, dia kan kerja di kota, masa iya aku harus ke kota nyusul dia" tak masuk akal menurut bu Naima.


Walaupun ia khawatir pada suaminya ia tidak mungkin menyusul suaminya ke kota, selain jaraknya jauh, ia juga tak berani untuk keluaran rumah.


"Apa mungkin bapak lagi nongkrong ya sama teman-temannya, dia kan biasanya kalau pulang malam karena nongkrong sama teman-temannya, tapi yang jadi pertanyaannya apakah ada orang yang keluaran rumah, di desa ini ada banyak hantu yang berkeliaran, apa masih ada orang yang gak takut sama hantu"


Bu Naima takut yakin bahwa ada orang yang tidak takut pada hantu, ia saja sangat ketakutan jika di tinggal suaminya pergi seperti malam ini.


Bu Naima yakin bahwa warga-warga juga pasti merasakan takut yang sama dengannya, mereka juga sama-sama manusiawi, mereka tidak mungkin seberani itu.

__ADS_1


"Tapi tadi kan warga-warga udah pada lapor ke pak RT tentang masalah ini, pasti pak RT udah berantas masalah ini aku yakin 100 persen kalau Sekar udah gak gentayangan lagi di desa ini" yakin bu Naima padahal ia masih belum memastikan kebenarannya.


Tidak ada berita apapun tentang laporan yang tadi warga-warga ajukan kepala pak RT sama sekali.


"Coba deh aku keluar dan cari bapak di gazebo tempat biasa dia nongkrong, ku rasa di sana pasti ada dia, mengenai Sekar gak mungkin dia masih tinggal di kampung ini, dia pasti udah minggat, mana betah dia tinggal di sini kalau pak RT udah turun tangan, aku yakin pak RT udah kurung Sekar sehingga Sekar gak bisa keluar" penuh keyakinan bu Naima.


Bu Naima yakin bahwa Sekar sudah tidak lagi gentayangan di desa ini, ia merasa begitu yakin bahwa Sekar sudah pergi meninggalkan desa anggrek ini.


"Iya, aku harus cari bapak, dia harus ku ajak pulang, aku tidak mau mati kutu di sini, aku harus temukan dia" ujar bu Naima.


Bu Naima melangkah keluar dari rumahnya, ia akan berniat mencari keberadaan suaminya yang ia percaya ada di gazebo bersama warga-warga lainnya, ia sengaja meninggalkan anaknya Mia, ia tidak mungkin membawa anak kecil keluar rumah di tengah keruh-keruhnya keadaan desa seperti saat ini.


Saat kaki bu Naima keluar dari dalam rumah, tiba-tiba angin semilir datang menerpa tubuh bu Naima.


Angin itu membuat bu Naima berhenti, keinginannya yang ingin mencari suaminya tiba-tiba terhenti, ia menjadi bimbang saat ini, ia belum yakin sepenuhnya kalau desa sudah aman.


"Kok merinding ya, tapi masa iya Sekar belum pergi dari sini, masa pak RT gak bertindak, kalau dia gak bertindak warga-warga pasti akan demo dan minta ganti RT baru, aku yakin pak RT sudah bertindak, aku yakin itu" ujar bu Naima.


Seketika ketakutan bu Naima menghilang, ia sedikit merasa kuat saat ini, tujuannya begitu kuat, ia tidak mau tujuannya hancur begitu saja.


"Aku harus cari bapak, aku harus temukan dia, aku harus bawa dia pulang, dia gak boleh keluyuran di malam hari kayak gini" kaki bu Naima melangkah mencari keberadaan suaminya yang di rasa ada di tempat tongkrongannya.


Bu Naima terus merasa merinding, sebenarnya ia masih takut untuk keluaran rumah, namun karena darurat, mau tidak mau dia harus keluar rumah, tak bisa ia tinggal di rumah sendirian tanpa ada sosok pahlawan yakni suaminya sendiri.


Suasana desa benar-benar sepi, tak ada satupun orang yang terlihat, semua pintu-pintu rumah tertutup rapat, rasa bimbang tiba-tiba menghampiri bu Naima.


"Kok keadaan masih sepi dan sunyi kayak gini, masa keadaan masih kayak gini sih, warga-warga kan udah pada lapor sama pak RT, kenapa pak RT masih belum bisa balikin keadaan desa yang kayak dulu lagi, wah ini pak RT harus di hajar, kalau kayak gini terus aku jamin dia akan kehilangan jabatannya"


"Dia kira warga gak akan bisa nurunin jabatannya, warga itu bisa melakukannya, besok aku harus kasih tau semua orang kalau keadaan desa masih sama, warga-warga harus tau, mereka harus dengar jika desa ini masih di selimuti rasa takut yang tiada tanding"

__ADS_1


Bu Naima akan memberitahukan semua orang besok, ia tidak akan tinggal diam lagi, ia yakin bahwa mereka akan kembali melabrak pak RT sehingga pak RT tidak akan bisa berkutik.


__ADS_2