
Bu Lela duduk dengan tenang di dalam rumahnya, ia tidak takut sama sekali karena sebelum-sebelumnya ia tidak pernah di ganggu oleh hantu, ia merupakan salah satu warga yang tidak di ganggu sama Sekar.
Selama ini bu Lela tidak pernah mengusik hidup Sekar, ia tidak ada beban sama sekali, walaupun ia mendengar bahwa banyak warga-warga yang di ganggu oleh hantu, hanya dia seorang yang aman berada di dalam rumah meski sendirian.
Bu Lela menonton televisi, sementara suaminya berada di kamar tengah tidur karena tidak enak badan, ia tidak merasa takut sama sekali, ia malah ketawa renyah di sana.
"Kata warga-warga setiap malam ada aja warga yang di ganggu sama hantu, tapi kok aku gak pernah ya" ujar bu Lela tak pernah tau seperti apa hantu yang mengganggu warga-warga selama ini.
"Kayak apa sih hantu Sekar yang katanya serem itu, kok aku penasaran, apa yang dia beneran serem, tapi semasa hidup kan dia anaknya polos banget, kenapa kok orang-orang bilang kalau Sekar itu jahat dan sering ganggu warga-warga setiap malam" bu Lela yang hanya mendengar sepatah dua patah kata mulai penasaran akan sosok Sekar yang terkenal serem tersebut.
"Kalau memang bener Sekar itu gentayangan dan bikin ulah terus menerus di desa ini, kok aku gak pernah di ganggu ya, apa karena aku memang selama ini gak ikut campur masalah apapun yang terjadi di desa?" pikir bu Lela.
Bu Lela memang tidak suka mengganggu orang-orang, ia tak suka mengusik hidup orang, selagi orang itu tidak mengganggu kehidupannya, maka ia tidak akan mengganggu hidupnya.
"Tapi aku penasaran sekali kayak apa Sekar itu, ku rasa dia gak akan seseram apa yang mereka semua bilang pada ku" tambah bu Lela yang masih yakin bahwa hantu yang katanya serem itu tidak benar-benar seram.
Bu Lela masih diam di tempat, ia terus fokus menonton televisi dengan tenang, ia tidak takut berada di ruang tamu sendirian karena malam-malam sebelumnya ia tidak pernah di ganggu sama hantu yang sedang trend.
Bahkan rumor hantu Sekar sudah terdengar sampai ke luar desa ini, warga-warga yang rumahnya berdekatan dengan desa anggrek menjadi takut tanpa sebab meskipun di antara mereka tidak ada yang di ganggu sama hantu, tapi rasa takut itu tetap saja ada.
"Hiks hiks hiks hiks hiks"
Tiba-tiba bu Lela mendengar suara tangisan seseorang yang begitu dekat, suara tangisan itu begitu menyayat hati.
Seketika dunia bu Lela teralihkan, ia mencari keberadaan suara tangisan yang terdengar di telinganya.
"Kok kayak ada orang nangis, tapi siapa yang nangis malam-malam begini, apa mungkin ada orang yang berada di luar?" pikir bu Lela.
Bu Lela yakin bahwa suara tangisan itu bukan berasal dari rumahnya.
"Tapi siapa yang nangis malam-malam begini, apa di luar ada orang yang mau minta tolong sama aku" bu Lela bertanya-tanya siapa yang sudah menangis tersebut.
"Hiks hiks hiks hiks hiks"
__ADS_1
Suara itu kembali, bu Lela begitu penasaran dengan suara yang semakin lama semakin membuatnya tak fokus menonton televisi lagi.
Suara itu begitu dekat, ia ingin tau siapa yang menangis malam-malam begini dan menghancurkan waktu tenangnya.
"Tuh kan suaranya kembali lagi, ku rasa memang ada suara orang yang nangis, tapi di mana, masa bapak yang nangis?" dugaan bu Lela.
Bu Lela masih belum yakin siapa yang menangis di tengah malam seperti ini.
"Aku harus cek, aku harus lihat apakah itu suara bapak atau bukan"
Bu Lela untuk memastikan hal itu mendatangi kamarnya, ia mendapati bahwa suaminya tengah terlelap dalam tidur nyenyaknya, tak ada tanda-tanda bahwa suaminya akan bangun.
"Kalau bukan bapak yang nangis, lalu siapa yang nangis malam-malam begini, di rumah ini cuman ada aku sama bapak aja, Dimas lagi ada di luar kota, gak mungkin dia pulang, dia bilang akan pulang pas taun baru" ujar bu Lela bertanya-tanya siapa pemilik suara tangisan yang mengganggu ketenangannya.
Dimas adalah anak tunggal di keluarga bu Lela dan suaminya pak Anang, dia bekerja di luar kota sehingga ia tidak berada di rumah ini, dia merantau untuk mencari uang, setiap bulan biasanya Dimas mengirimkan uang untuk bu Lela yang berada di kampung.
"Ku rasa suara tangisnya itu bukan berasal dari rumah ini, aku rasa pemiliknya ada di luar rumah" feeling kuat bu Lela.
Bu Lela kembali mendekati ruang tamu, ia kembali duduk dengan tenang sambil memakan keripik, ia tidak menganggapi serius tangisan seseorang yang tadi ia dengar.
"Hiks hiks hiks hiks hiks"
Rasa penasaran semakin mendatangi bu Lela, ia ingin tau siapa yang malam-malam begini nangis dan mengganggu waktu tenangnya.
Bu Lela ingin istirahat dengan tenang, namun suara tangisan itu sedikit mengganggunya.
"Siapa sih yang nangis, ku rasa dia gak jauh dari sini, apa mungkin dia ada di luar ya, di dalam rumah ini gak ada yang nangis, kayaknya suara itu memang berasal dari luar" keyakinan bu Lela.
Menurut bu Lela tidak mungkin suara tangisan itu berasal dari dalam rumah, di rumah ini hanya ada dia dan suaminya, tak ada orang lain lagi.
"Coba deh aku akan cek keluar, aku yakin di luar pasti ada dia" bu Lela bangkit dari duduk, ia melangkah mendekati pintu.
Bu Lela ingin meriksa, biar rasa penasarannya terbayarkan, ia tak bisa hanya duduk diam begitu saja seperti ini.
__ADS_1
Tanpa rasa takut sedikitpun bu Lela membuka pintu, ia menatap sekelilingnya mencari pemilik suara tangisan yang terus mengganggunya
"Kok gak ada ya, tadi suaranya dekat banget, tapi kenapa pas aku berada di dalam rumah masa iya gak ada, gak mungkin, dia pasti ada di sekitar sini"
Bu Lela tak yakin bahwa di luar tidak di temukan pemilik suara tangisan itu, ia yakin bahwa pemilik suara itu ada di luar tidak mungkin di dalam rumahnya.
"Gak mungkin gak ada, dia pasti ada di dekat sini" bu Lela terus mencari-cari, ia ingin berjumpa dengan orang yang menangis di area rumah tersebut.
Setelah sekian lama mencari tetap saja tidak di temukan, jalanan rumah bu Lela kosong, tanda-tanda akan ada orang benar-benar tidak di temukan.
Jalanan desa sepi seperti tak berpenghuni, satupun warga tak terlihat sama sekali di mata bu Lela.
"Kayaknya suara tangisan itu bukan berasal dari sini, aku lebih baik masuk aja ke dalam, lama-lama berada di luar dingin, lagian suara tangisan itu juga sudah gak ada"
Bu Lela yang tidak menemukan apapun masuk kembali ke dalam rumah dan menutup pintu, ia tidak mau kedinginan di luar hanya karena ingin menemukan pemilik suara tangisan yang mengganggu ketenangannya
Saat pintu sudah di tutup dengan rapat tiba-tiba.
"Hiks hiks hiks hiks hiks"
Suara tangisan itu kembali, bu Jamilah semakin penasaran dengan pemilik suara tangisan yang begitu dekat itu.
Bu Lela pun kembali membuka pintu mengecek apakah di luar ada pemilik suara itu, ia masih yakin suara itu berada di dekatnya.
"Gak ada apapun loh, kenapa kok bisa ada suara tangisan di malam hari seperti ini, gak mungkin aku salah dengar" mulai gedeg bu Lela karena tak kunjung menemukan suara tangisan yang ia cari-cari.
"Halo kamu di mana, apa ada orang di sini" teriak bu Lela agar pemilik suara itu keluar, ia tak tahan mendengar suara tangisannya meskipun dia bukan siapa-siapanya.
Senyap, tak ada sahutan sama sekali, seketika lingkungan rumah bu Lela berubah menjadi sunyi, tak ada suara langkah kaki orang sama sekali, tawa anak-anak maupun orang dewasa.
Semua orang memilih untuk mengurung diri di dalam rumah, mereka masih takut untuk beraktivitas di luar rumah lantaran hantu yang mengancam desa ini masih belum di basmi secara sempurna.
"Tuh kan gak ada, kenapa pas aku cari malah gak ada, apa mungkin ada orang yang iseng gangguin aku malam-malam begini, siapa sih yang seiseng itu, masa gangguin orang-orang malam-malam begini, gak ngerti apa kalau orang mau istirahat!" mulai geram bu Lela yang terus menerus mendapatkan teror dari orang misterius.
__ADS_1
Bu Lela yang tidak menemukan siapapun masuk kembali ke dalam rumah, ia tidak mau berada di luar lebih lama lagi, walaupun tidak ada apapun yang ia temukan, ia hanya takut masuk angin saja dan akan membuatnya jatuh sakit.