
Bu Jamilah melirik ke kanan dan kirinya yang sepi, di ruang tamu ini kini hanya ada dia seorang, ia mulai tak nyaman berada di ruang tamu sendirian.
Wussshhhh
Hembusan angin kembali menerpa, entah mengapa angin itu membuat tubuh bu Jamilah bergetar, padahal tak ada apapun yang terjadi.
Bu Jamilah melirik ke kanan dan kirinya dengan menelan ludah pahit, berada di ruang tamu sendirian berhasil membangkitkan rasa takutnya kembali, ia pikir dirinya sanggup berada di ruang tamu sendirian, namun ternyata ia tidak sekuat itu.
"Kok aku merinding ya, tapi itu kan cuman angin, gak akan ada yang terjadi kok sana aku, aku yakin itu" ujar bu Jamilah positif thinking dengan angin yang tadi datang menerpanya.
Bu Jamilah menoleh kembali ke sebelah timur, ia tadi merasa ada seseorang yang berdiri di sana dengan mengenakan pakaian putih panjang sampai ke mata kaki.
"Loh tadi kayaknya di sana ada orang, tapi kenapa pas aku balik malah gak ada?" heran bu Jamilah, ia tadi melihat ada sosok yang berdiri di sana namun ketika ia liat kembali sosok itu malah pergi entah kemana dan membuat bu Jamilah merasa aneh.
"Apa aku cuman salah liat ya!" bu Jamilah belum bisa memastikan secara pasti apa yang tadi ia lihat itu benar atau tidak.
"Ku rasa aku memang salah lihat, lagain siapa lagi yang ada di sini selain aku sendiri, Mala dan satpam gak ada di sini, mereka lagi tidur, gak mungkin yang tadi aku liat itu salah satu di antara mereka"
Dalam keadaan seperti ini bu Jamilah tiba-tiba merasakan merinding, namun ia berusaha untuk terlihat tegar dan seperti tidak apa-apa yang terjadi, ia tidak bisa menunjukkan bahwa dirinya tengah ketakutan.
"Sial, kenapa aku makin sial saat gak ada Mala, tadi ada dia aman-aman aja, kenapa sekarang ruang tamu ini berubah jadi angker gini, haruskah aku panggil dia lagi kemari, tapi dia pasti sudah tidur, aku malas buat bangunin dia lagi" batin bu Jamilah di ambang kebingungan.
Keseraman ruang tamu terus terasa di dirinya, dan yang bisa ia lakukan hanya waspada takut ada bahaya yang mengancamnya.
"Aku akan coba hadapi ini sendiri, aku harus bisa melawan rasa takut ku sendiri, aku yakin aku bisa" batin bu Jamilah membulatkan tekad agar dirinya bisa mengusir ketakutannya sendiri.
Bu Jamilah merasa bahwa dengan rasa takut tidak akan bisa menyelesaikan masalah, ia harus bergerak sendiri untuk melakukannya, karena saat ini tidak ada orang yang bisa ia mintai tolong, satupun tak ada yang bisa ia perintahkan untuk mengusir Sekar dari kampung ini.
__ADS_1
Bu Jamilah diam di tempat, kata melihat ke sekeliling terus menerus, ia berjaga-jaga khawatir ada sosok yang datang dan mengganggunya.
Lama kelamaan hawa tak nyaman semakin mendatangi bu Jamilah, bu Jamilah mulai tidak tenang, ia yang tadinya ingin mengusir rasa takutnya tetapi rasa takut itu malah semakin mendatanginya, ia mulai bimbang harus melakukan apa.
"Kenapa makin serem aja, aku kira ruang tamu akan aman-aman aja untuk di tempati, tapi mengapa sama aja, kalau kayak gini lebih baik aku ada di dalam kamar aja, gak guna juga aku berada di sini, tidak akan bisa nyelesain masalah juga" batin bu Jamilah yang sudah tak tahan berada di sana sendirian dalam keadaan tubuh yang di selimuti rasa takut.
"Tapi bagaimana kalau saat aku kembali ke kamar di sana aku malah di ganggu sama Sekar, aku harus kabur kemana lagi, kalau di sini aku bisa minta tolong sama satpam, bodyguard dan juga asisten rumah tangga, mereka pasti akan dengar teriakan ku kok" batin bu Jamilah yang belum yakin untuk meninggalkan ruang tamu.
Untuk kembali ke dalam kamarnya sendiri bu Jamilah merasa takut, ia khawatir Sekar mengganggunya habis-habisan di sana seperti malam-malam sebelumnya.
Bu Jamilah menoleh ke sebelah barat lalu ke sebelah utara, namun tiba-tiba ia kembali menoleh ke sebelah barat dengan ekspresi terkejut.
"T-tadi di sana kayak ada orang, kenapa pas aku lihat malah gak ada, apa ini cuman perasaan aku aja, tapi masa sejelas ini, gak mungkin ini cuma perasaan aku aja!" bu Jamilah yakin dengan apa yang dia lihat barusan.
Bu Jamilah melihat sekeliling ruangan yang benar-benar membuatnya ketakutan.
Bu Jamilah yang sudah tidak tahan dengan rasa takut yang semakin lama semakin membesar berdiri dari duduknya, ia hendak pergi dari sana dan mencari tempat lain yang lebih aman.
Bugh!
Seseorang menarik kaki bu Jamilah saat bu Jamilah berjalan, naasnya bu Jamilah jatuh, kepalanya terbentur pada meja dan membuat jidatnya sobek serta mengeluarkan darah.
Bu Jamilah menyentuh jidatnya yang terluka, seketika tangannya langsung penuh dengan darah, mulut bu Jamilah ternganga, melihat darah yang memenuhi tangannya berhasil membuat jantungnya berhenti berdetak.
"Darah? sebanyak ini!" tercekat bu Jamilah dengan darahnya yang super banyak itu.
"Aku harus mengobatinya, eh tunggu-tunggu, tadi aku merasa ada orang yang narik kaki aku sehingga aku bisa jatuh" bu Jamilah teringat alasan mengapa dia bisa jatuh dan berhasil membuat kepalanya terluka.
__ADS_1
Bu Jamilah menelan ludah pahit, ia dengan ragu-ragu melirik ke bawa sofa yang seperti ada mata yang menatapnya.
Mulut bu Jamilah langsung bergetar, tubuhnya langsung dingin saat melihat sosok makhluk halus yang wajahnya di penuhi darah bersembunyi di bawah sofa dengan sorot mata yang benar-benar tajam.
"S-sekar" tercekat bu Jamilah yang mengenali bahwa sosok itu adalah Sekar, orang yang sudah ia bunuh dengan sadis dan hebatnya.
Sosok itu langsung memegangi erat kaki bu Jamilah, bu Jamilah langsung histeria, di pegang erat seperti itu oleh Sekar membuat jantungnya terasa copot.
"Lepaskan, lepaskan kaki ku, lepaskan, jangan pegang kaki ku, toloooong, tolong aku dari dia" jerit bu Jamilah memberontak agar Sekar melepaskan kakinya.
Sekar bukannya malah melepaskan kakinya dia malah semakin memegangi erat kaki bu Jamilah.
Bu Jamilah yang kakinya di pegang kuat-kuat oleh Sekar menjerit histeris, air mata berjatuhan, ia yang sedari tadi berusaha agar tidak ada makhluk halus yang mengganggunya namun segala perjuangannya gagal total.
"Lepasin, lepaskan kaki ku, jangan sentuh kaki ku, lepaaaaaas!" teriak bu Jamilah yang terus menerus memberontak dan menjerit-jerit.
"Kau telah membunuh ku, namun kau masih saja menghina-hina ku dan juga anak ku, kau harus di beri pelajaran!" ujar Sekar dengan sorot mata penuh kebencian.
Bu Jamilah semakin gila, ia menjerit tanpa henti, ia benar-benar menyesali perbuatannya, namun nasi sudah menjadi bubur, waktu sudah tidak bisa di putar kembali, apa yang terlewati tidak bisa di perbaiki.
"Lepaaaaaas, lepaskan kaki ku!" teriak bu Jamilah histeris.
Sekar tidak mau melepaskan kaki bu Jamilah, ia malah menindih tubuh bu Jamilah sehingga bu Jamilah kehabisan nafas dan jatuh pingsan.
"Rasakan itu, suruh siapa kau mau bermain-main dengan ku!" tutur Sekar yang melihat tubuh bu Jamilah yang sudah tak bertenaga.
Sekar yang telah berhasil membuat mangsanya tumbang menghilang dari sana.
__ADS_1