Kuntilanak

Kuntilanak
Duka kembali menyelimuti kehidupan Sekar


__ADS_3

Mirna tidak bergerak sama sekali walaupun Sekar terus berusaha untuk membangunkannya.


"Bu, ibu bangun" Sekar terus menggoyangkan tubuh Mirna dengan panik.


Sekar tak sengaja bersentuhan langsung dengan tangan Mirna yang dingin seperti es.


Seketika air mata langsung membanjir wajah Sekar, pikiran-pikiran buruk berdatangan dengan bertubi-tubi.


"Ibu, ibu bangun, ibu jangan tinggalin Sekar" teriak Sekar dengan menangis hebat.


"Ibu huhu" Sekar memeluk tubuh ibunya yang sudah dingin, air mata bagaikan air hujan saat tidak ada pergerakan dari ibunya sama sekali walaupun Sekar terus berusaha untuk membangunkannya.


Pak Anton yang mendengar teriakan Sekar dengan panik langsung masuk ke dalam kamar Mirna.


"Ada apa Sekar, ada apa dengan ibu kamu?"


"Pak Anton ibu pak, dia gak bergerak"


DEG!


Pak Anton langsung terdiam, terguncang rasanya tubuhnya saat mendengar hal itu.


"Pak Anton lakuin sesuatu pak, tolong ibu saya, saya mohon pak"


Dengan tatapan kosong pak Anton mendekati Mirna, dia memeriksa denyut nadi dan pernafasan Mirna.


"Innalilahi wa innailaihi rojiun"


Kalimat itu menghancurkan Sekar hingga ke dasar laut.


"Ibuuu" Sekar memeluk erat tubuh ibunya, dia tidak pernah berpikir kalau ibunya akan ikut pergi meninggalkannya seperti bapaknya.


"Ibu, ibu jangan pergi bu, Sekar akan tinggal sama siapa bu, Sekar sudah cukup kehilangan bapak, kenapa ibu ikut ninggalin Sekar, Sekar gak bisa hidup sendiri tanpa kalian, ibu Sekar mohon, ibu jangan pergi huhu" tangis Sekar dengan terus memeluk erat ibunya yang sudah tiada.

__ADS_1


"Ibu bangun, ibu jangan pergi, Sekar masih belum bisa jadi apa-apa, kenapa ibu malah pergi, Sekar mohon bu tetaplah di sini hiks hiks hiks"


Pak Anton hanya bisa menyeka air matanya, dia tidak pernah membayangkan kalau Sekar akan berada di titik ini, di usianya yang masih berusia 21 tahun, dia harus kehilangan kedua orang tuanya dalam waktu yang hanya berjarak beberapa hari saja.


"Ibu, ibu Sekar mohon ibu bangun, ibu jangan tinggalin Sekar, Sekar takut di sini sendirian, siapa lagi yang akan jaga Sekar ibu, ibu Sekar mohon bangunlah" dengan terus menangis Sekar sesekali memohon agar sang ibu bisa kembali meskipun dia tau itu tidak mungkin.


Pak Anton yang sudah tidak kuat keluar dari dalam kamar itu, dia menyeka sedikit air mata yang mengalir tanpa aba-aba.


"Pak Anton ada apa, kenapa Sekar nangis dan teriak-teriak?" ibu-ibu yang merupakan tetangga Sekar mendengar teriakan itu langsung mendatangi rumah Sekar.


Selain ibu-ibu itu, banyak warga-warga lainnya yang mendatangi rumah Sekar karena penasaran pada apa yang sudah terjadi pada Sekar.


"Bu Mirna meninggal bu"


"Innalilahi wa innailaihi rojiun" kaget mereka mendengar penuturan pak Anton.


Di dalam Sekar terus menangis, dia memeluk erat tubuh ibunya yang sudah tidak bernyawa, dia sungguh sangat kehilangan ibunya yang amat ia sayangi melebihi apapun.


"Ibu jangan pergi, Sekar akan tinggal sama siapa bu, dunia ini gelap, banyak orang jahat, Sekar butuh bapak sama ibu, kenapa kalian malah ninggalin Sekar, kenapa kalian gak bawa Sekar juga" tangis Sekar yang sangat kehilangan ibunya.


Orang-orang bahu membahu dalam membantu keluarga Sekar yang tengah tertimpa musibah, mereka mulai menggali kuburan untuk Mirna yang baru saja meninggal, mereka membuka tanah itu di dekat makam Tono, biar makam Mirna dan Tono bersebelahan.


Saat jenazah Mirna akan di kuburkan Sekar tidak mengizinkan, dia tidak mau ibunya pergi, dia bilang pada semua orang kalau ibunya masih hidup, dia tidak menerima kenyataan pahit yang mengatakan kalau ibunya sudah meninggal dunia.


Orang-orang di sana berusaha menenangkan Sekar yang terpukul karena kehilangan ibunya, namun Sekar tidak bisa diam, dia terus menangis dan berteriak-teriak.


"Tidak, jangan bawa ibu ku pergi, dia masih hidup dia tidak mati" teriak Sekar menghentikan mereka semua yang hendak membawa jenazah Mirna ke pemakaman umum.


"Sekar, sadar ndok, sadar" bu Robi'ah terus menenangkan Sekar, Sekar tidak bisa diam, dia tidak ingin kehilangan ibunya, dia berusaha menghentikan mereka yang akan membawa ibunya kepengistirahatan terakhirnya.


"Ibuuu" teriak panjang Sekar saat mereka membawa pergi ibunya.


"Sekar!" teriak mereka semua saat Sekar tiba-tiba pingsan ketika para warga-warga laki-laki membawa jenazah Mirna ke kuburan.

__ADS_1


"Pak, tolong pak" titah bu Robi'ah yang khawatir pada Sekar yang tiba-tiba jatuh pingsan.


Pak Anton langsung mendekati mereka dengan panik.


"Pak tolong bawa Sekar masuk!"


Pak Anton langsung membawa Sekar masuk ke dalam, bu Robi'ah mengoleskan minyak kayu putih di kaki dan tangan Sekar.


"Ya Allah Sekar kenapa cobaan kamu besar banget" bu Robi'ah mengoleskan minyak kayu putih itu dengan air mata yang sesekali mengalir, dia tidak kuasa menahan air mata kala anak yang baru berusia 21 tahun ini akan hidup sebatang kara mulai hari ini.


Pak Anton tidak tahan berada di dalam kamar itu yang penuh dengan air mata, dia keluar untuk menyejukkan pikirannya.


Pak Anton menghubungi juragan Doni selaku orang yang kini berstatus sebagai suami Sekar, bagaimana pun juragan Doni harus tau kalau Mirna meninggal dunia meskipun saat ini dia ada di luar kota.


"Ada apa Anton, apa ada masalah di ladang, kepada kamu hubungan aku?" penasaran juragan Doni ketika panggilan tersambung.


"Juragan, bu Mirna meninggal dunia hari ini"


"Innalilahi wa innailaihi rojiun, kenapa bisa meninggal?" kaget juragan Doni di seberang telpon padahal kemarin malam Mirna baik-baik saja.


"Saya kurang tau juga juragan, saya dan Sekar sudah menemukan bu Mirna dalam keadaan tidak bernyawa, menurut warga-warga setempat bu Mirna memang sakit-sakitan, dia sudah sakit selama kurang lebih 2 bulanan"


"Bagaimana dengan Sekar, kamu berikan hp itu padanya, saya ingin bicara padanya?"


"Sekar pingsan juragan, dia ada di dalam masih belum sadar, dia pasti sangat sedih karena kehilangan ibunya, bapaknya juga sudah meninggal beberapa hari yang lalu"


"Anton saya tidak bisa pulang, saya mohon kamu urus semuanya, kalau masalah biaya saya yang akan tanggung"


"Baik juragan, saya akan urus semuanya di sini"


"Anton saya tutup dulu, saya harus meeting sama klien, nanti kalau Sekar sudah sadar kamu beri tau saya"


"Baik juragan"

__ADS_1


Juragan Doni memutuskan sambungan, dia tidak bisa pulang meskipun tau kalau mertuanya meninggal dunia.


__ADS_2