
Sekar pulang ke rumahnya, ia ingin bilang semuanya pada ibunya yang ada di rumah, ibunya harus tau apa yang juragan Doni bilang padanya.
Dengan terburu-buru Sekar pulang ke rumahnya, ia tidak peduli lagi sama orang-orang yang menatapnya dengan tatapan tak suka.
Ketika sampai di rumah Sekar langsung mendatangi kamar ibunya.
"Ibu, ibu" panggil Sekar.
"Sekar, kenapa kamu pulang ndok, kamu gak kerja!" kaget Mirna saat putrinya kembali pulang ke rumah.
"Enggak bu, Sekar ingin bicara sesuatu sama ibu"
"Bicara apa ndok?"
"Juragan Doni mau nikahin Sekar bu"
"APA! NIKAHIN KAMU" kaget Mirna, mana mungkin juragan Doni akan menikahi putrinya dalam keadaan dia yang sudah punya istri.
"Iya bu, juragan Doni akan nikahin Sekar, dia tadi bilang sama Sekar kalau dia mau nikahin Sekar"
"Sekar juragan Doni itu sudah punya istri, kenapa dia masih mau nikahin kamu!" tak habis pikir Mirna.
Sekar tertunduk sedih."Sekar punya hutang sama juragan Doni ibu, Sekar gak punya uang untuk bayar hutang itu, alhasil Sekar harus mau nikah sama juragan Doni agar semua hutang-hutang itu lunas"
"Hutang? kamu punya hutang apa ndok, kenapa kamu gak bilang-bilang sama ibu!" kaget Mirna karena sebelumnya Sekar tidak pernah bilang apapun padanya, ia tidak tau sama sekali tentang hutang itu.
"Waktu itu biaya tahlilan bapak selama 7 hari 7 malam itu kurang bu, terpaksa Sekar minjam ke bu Sinab, tapi pinjam uang ke bu Sinab itu berbunga, Sekar tidak mau bunganya semakin banyak, Sekar minta bantuan juragan Doni untuk bayar hutang itu, tapi sekarang juragan Doni mau nikahin Sekar, kalau Sekar gak mau nikah sama dia, Sekar harus ganti semua uang itu hari ini juga, Sekar mana punya uang bu, Sekar terpaksa harus mau nikah sama juragan Doni"
__ADS_1
Mirna terdiam sedih, tak ia sangka ia harus merelakan putri tercintanya pada laki-laki yang sudah memiliki istri, ia tidak ingin Sekar menjadi yang kedua, karena ia takut Sekar tidak kuat hidup bersama pria seperti juragan Doni.
"Kapan juragan Doni akan nikahin kamu ndok?" penasaran Mirna.
"Malam ini juga bu, Sekar sama juragan Doni akan nikah malam ini, juragan Doni ingin secepatnya nikahin Sekar"
"Siapa yang akan jadi wali nikah kamu nak, bapak kamu sudah meninggal, siapa lagi yang akan jadi wali?" kaget Mirna karena tidak ada wali nikah untuk putrinya setelah suaminya meninggal.
"Om Arman bu, hanya dia yang bisa jadi wali nikah Sekar"
"Tapi Arman ada di negara M, bagaimana mungkin dia bisa datang kemari, dia pasti tidak mau datang, dia ada di sana sudah hampir 10 tahun, dia tidak pernah pulang sejak pertama kali merantau ke sana"
"Tapi tadi Sekar minta bantuan pak Anton untuk hubungi om Arman dan om Arman setuju karena segala biaya di tanggung oleh juragan Doni"
Mirna menatap Sekar dengan perasaan sedih, ia sebagai ibu tidak bisa apa-apa, ia tidak punya uang sama sekali agar putrinya terlepas dari jerat juragan Doni.
Sekar langsung menghambur ke dalam pelukan sang ibu, mereka berdua menangis, Mirna merasa sangat bersalah karena harus menjual Sekar demi melunasi hutang-hutang itu.
"Gak apa-apa bu, Sekar terima, mungkin dengan ini Sekar tidak akan punya beban lagi, Sekar pasti gak akan mikirin bagaimana caranya ngembaliin uang itu lagi meski Sekar harus rela nikah sama juragan Doni hiks hiks hiks"
"Maafin ibu ndok, maaf ibu gak bisa bantu kamu apa-apa, jika bapak kamu masih ada mungkin bapak kamu yang akan bayar semua hutang itu"
Sekar semakin mengeraskan tangisannya, ia merindukan sang bapak yang sudah beristirahat dengan tenang di alam sana, seandainya bapak Sekar masih ada, mungkin mereka tidak akan sehancur ini.
Mereka berdua masih terus menangis, Sekar meluapkan segala air matanya hari ini, ia memendam semua luka sudah lumayan lama dan baru kali ini pertahanannya runtuh.
Mirna mengusap wajah Sekar."Nak maafin ibu, ibu gak bisa apa-apa"
__ADS_1
"Gak apa-apa bu, ibu gak usah merasa bersalah, Sekar tidak apa-apa" Sekar mencoba menebarkan senyuman meskipun hatinya rasanya teriris-iris.
Mirna semakin mengeraskan tangisnya, ia merasa bersalah karena tidak bisa membantu Sekar untuk terlepas dari juragan Doni.
"Ibu jangan nangis, Sekar gak apa-apa kok bu, ibu tidak perlu merasa bersalah"
Mirna menyeka air matanya."Sekar juragan Doni itu sudah punya istri, bagaimana kalau istrinya tau kalau kamu akan nikah sama juragan Doni, kamu tau kan bu Jamilah itu seperti apa?"
"Sekar tau bu, tapi kata juragan Doni kita nikahnya diam-diam, yang akan hadir di acara akad nikah Sekar nanti malam cuman beberapa orang saja, tidak banyak yang di undang sama juragan Doni, ibu tolong jangan bilang sama warga-warga karena takut di antara mereka bocorin ini semua pada bu Jamilah"
"Iya, ibu gak akan bilang sama siapa-siapa, ibu akan tutup mulut"
"Terima kasih bu sudah mau nyembunyiin ini semua, semoga dengan cara Sekar nikah sama juragan Doni, Sekar tidak akan pusing-pusing lagi masalah hutang itu"
Mirna mengangguk sedih, ia sangat tak rela putrinya menikah dengan pria yang sudah beristri.
"Ibu nanti malam datang ke rumah juragan Doni sama Sekar, sekarang ibu istirahat saja, ibu tidak usah merasa bersalah, ini sudah menjadi jalannya, Sekar terima hal ini, ibu tidak perlu khawatir, semuanya akan baik-baik"
Mirna mengangguk, ia kembali beristirahat di kamarnya.
Sekar kemudian keluar dari kamar ibunya, ia masuk ke dalam kamarnya dan menangis di sana, ia tidak mau menikah dengan juragan Doni, namun demi melunasi semua hutangnya ia terpaksa harus mau.
"Ya Allah tolong Sekar, Sekar tidak mau nikah sama juragan Doni, tolong berilah keajaiban agar pernikahan Sekar yang akan di mulai beberapa jam lagi batal, sungguh Sekar tidak ingin sama sekali nikah sama juragan Doni, Sekar mohon ya Allah, tolong berilah Sekar bantuan" batin Sekar.
Sekar menangis di kamarnya, ia menangis tanpa suara agar ibunya tidak mendengarnya, ia tidak ingin kondisi ibunya semakin memburuk karena terus mikirin nasibnya yang harus terpaksa menikah dengan juragan Doni.
Sekar yang terus menerus menangis tanpa suara masuk ke dalam mimpi, ia masih berharap ketika ia membuka mata semuanya akan kembali seperti yang dia inginkan, ia berharap apa yang ia alami saat ini adalah palsu.
__ADS_1