Kuntilanak

Kuntilanak
Kenyataan pahit


__ADS_3

Plakk!


Bu Salamah yang tidak terima di katain seperti itu langsung menampar keras wajah bu Nilem hingga membuat pipi bu Nilem terasa panas.


"Berani ya kamu!" tak terima bu Nilem.


"Kenapa hah, kenapa aku harus takut pada mu, kamu itu tidak lebih dari seorang ******!"


Bu Nilem mengepal kuat tangannya, kobaran api kemarahan terpancar jelas di matanya.


"Banyak omong kamu ya, sini kamu" bu Nilem yang sudah geram menjambak keras rambut bu Salamah.


Bu Salamah membalas, mereka berdua berkelahi karena saking memperebutkan pak Anton yang hatinya tidak sama sekali tertuju pada anak mereka.


Mereka berdua saling menjebak rambut, rambut mereka yang tadinya di ikat dengan rapih kini berantakan.


"Eh sudah-sudah, kalian jangan pada berantem, kalian itu sudah berumur, masa masih kayak anak-anak" lerai bu Toya yang sedari tadi melihat percekcokan mereka berdua tepat di hadapannya.


"Habisnya dia duluan yang mulai!" mereka berdua saling menunjuk, di antara mereka tidak ada yang mau mengalah.


"Sudah-sudah, jangan bertengkar di sini, lebih baik kalian pulang ke rumah masing-masing, jangan jadi pengacau di sini, sana balik ke rumah kalian masing-masing" suruh bu Toya yang tidak mau mendengar perkelahian mereka lagi.


Mereka berdua saling menatap sambil mengeluarkan tatapan mautnya habis itu mereka pulang ke rumah masing-masing.


Bu Toya tidak mengerti dengan jalan pikiran kedua sahabatnya yang malah memperebutkan pak Anton, dia kembali ke rumahnya karena masih banyak pekerjaan rumah yang belum di selesaikan.


Bu Salamah pulang ke rumahnya dengan wajah kesal.


"Ibu, mana nasi pecelnya, kenapa lama banget belinya!" Shila sedari tadi menunggu ibunya yang pergi untuk membeli makanan di warung bu Nurma.


"Gak ada, pecelnya sudah habis, kamu makan apa yang ada, ibu lagi malas!" setelah mengatakan itu bu Salamah masuk ke dalam kamarnya.


"Kenapa ibu jadi marah-marah, apa yang sudah terjadi sama ibu, kenapa ibu malah pulang-pulang dengan wajah yang kusut seperti itu, heran aku!" tak habis pikir Shila.


Shila yang lapar berangkat ke desa sebelah yang di sana ada orang yang juga berjualan nasi ketika di pagi hari.


...•••...


Hari-hari terus berlalu, kini sudah hampir 2 bulan juragan Doni pergi meninggalkan Sekar, Sekar tidak kesepian malahan dia senang karena juragan Doni yang pergi dari desa ini, dia menghabiskan waktu bersama pak Anton, orang baik yang selalu berusaha membuatnya tersenyum.


Pak Anton sering membawa Sekar ke tempat-tempat yang indah yang tidak pernah Sekar kunjungi sebelumnya, pak Anton dan Sekar menjadi dekat selama hampir 2 bulan ini, namun pak Anton tidak bilang apa-apa tentang perasaannya karena pak Anton ingin memendamnya terlebih dahulu.

__ADS_1


Sekar bekerja di ladang juragan Doni di tengah teriknya sinar matahari.


Di tengah panas yang membara, Sekar mendadak memegangi kepalanya.


"Kenapa kepala aku pusing banget" Sekar merasakan kepalanya berputar-putar tiada henti, semua benda yang ada di dekatnya terasa berputar-putar dengan sendirinya.


Pak Anton yang melihat Sekar hampir pingsan dengan cepat langsung menangkapnya.


"Sekar, Sekar kamu kenapa, Sekar buka mata kamu" panik pak Anton saat Sekar tiba-tiba pingsan di ladang.


"Sekar, Sekar bangun"


Tidak ada pergerakan, Sekar memejamkan kuat matanya, pak Anton yang panik membawa Sekar ke klinik terdekat agar Sekar bisa di tangani dengan cepat.


Pak Anton menunggu di luar dengan tidak tenang, dia mondar-mandir ke sana kemari memikirkan kejadian buruk yang akan menimpa Sekar.


Seorang bidan keluar dari dalam ruangan itu, pak Anton langsung mendekatinya.


"Bu bidan bagaimana dengan keadaan Sekar, dia baik-baik saja kan?" khawatir pak Anton.


"Pasien baik-baik saja"


"Alhamdulillah, bu bidan kenapa Sekar bisa pingsan, apa yang menyebabkan dia bisa jatuh pingsan"


"Pasien hamil muda, dalam masa kehamilan ini pasien jangan melakukan pekerjaan yang berat-berat harus di jaga ya pak, jangan sampai pasien jatuh pingsan lagi"


Pak Anton tidak menjawab, dia diam seribu bahasa, tatapan matanya kosong, jawaban dokter itu membuat pak Anton terguncang hebat.


"Pak, kenapa bapak diam" bu bidan itu heran kenapa pak Anton tiba-tiba diam.


"Tidak apa-apa bu, apakah saya boleh menemui pasien?"


"Silahkan, pasien ada di dalam, dia juga sudah sadar"


Pak Anton masuk ke dalam menemui Sekar, dia melihat Sekar yang berlinangan air mata.


"Pak Anton" lirih Sekar yang air matanya langsung berjatuhan.


Pak Anton dengan cepat langsung membawa Sekar ke dalam pelukannya, Sekar dengan histeris menangis di dalam pelukan pak Anton.


"Pak saya gak mau hamil, saya gak mau punya anak dari juragan Doni hiks hiks hiks"

__ADS_1


Pak Anton tidak bisa berkata apa-apa, dia hanya bisa menenangkan Sekar yang lagi-lagi menelan kenyataan pahit tentang dirinya.


"Saya tau kamu tidak mau, tapi Allah menitipin anak itu di rahim kamu, kamu harus terima"


Sekar semakin mengeraskan tangisannya, pak Anton terus menenangkan Sekar yang down kala tau kalau dia hamil anak dari orang yang paling dia benci.


"Saya tidak mau pak, saya tidak mau, saya tidak mau" Sekar terus mengulangi kalimat itu, dia tidak mau hamil anak juragan Doni.


"Sekar kamu jangan nangis lagi, sudah terima saja, saya akan bilang sama juragan Doni tentang hal ini"


"Jangan pak!" cegah Sekar cepat.


"Kenapa, dia suami kamu, dia berhak tau kalau kamu lagi hamil anaknya"


"Saya gak mau juragan Doni tau dulu, saya yang akan bilang sendiri kalau saya hamil anaknya ketika dia pulang"


"Terserah kamu, ayo kita pulang, kamu jangan kerja terlalu berat, itu akan berbahaya bagi janin kamu"


Sekar mengangguk, dia dengan di bantu pak masuk ke dalam mobil, pak Anton membawa Sekar pulang ke rumah juragan Doni.


Sepanjang perjalanan tidak ada percakapan yang terjadi di antara mereka berdua, keduanya larut dalam pikiran masing-masing, sesekali air mata mengalir di pipi Sekar, dia rasanya tidak mau hamil dan melahirkan anak dari orang yang paling dia benci di dunia ini.


Saat sampai di rumah juragan Doni, pak Anton membawa Sekar ke dalam kamar, keadaan Sekar yang lemas membuat Sekar tidak bisa berjalan sendiri, harus di bantu oleh orang lain.


Sekar merebahkan tubuhnya di kasur dengan air mata yang sesekali mengalir.


"Jangan nangis lagi, ini semua pemberian yang di atas, kamu harus terima, anak itu adalah anak kalian"


"Tapi pak saya tidak mau punya anak dari dia, saya tidak mau pak"


"Sudah, kamu jangan nangis lagi" pak Anton menghapus air mata Sekar yang akan jatuh.


"Kamu sekarang istirahat, saya tau kamu tidak mau nerima kehadiran anak itu, tapi mau tidak mau kamu harus terima"


Sekar diam, di sini dia adalah seorang wanita yang akan segera menjadi ibu, dia tidak mungkin melakukan tindakan keji agar anak yang ada di dalam kandungannya meninggal meskipun dia tidak suka pada ayah dari anak itu.


"Istirahatlah, jangan terlalu mikirin hal itu, beberapa hari lagi juragan Doni pasti akan pulang ke sini lagi, kamu bisa beri tau hal itu padanya"


Sekar mengangguk dengan wajah yang tampak sedih."Saya tinggal dulu, kalau kamu butuh apa-apa panggil saya saja, saya ada di depan"


Lagi-lagi Sekar mengangguk, dia tidak banyak bicara saat di kabarkan kalau dia tengah hamil.

__ADS_1


__ADS_2