Kuntilanak

Kuntilanak
Pecahnya tangisan


__ADS_3

Hari sudah berganti menjadi gelap, matahari sudah terbenam sejak tadi, jam kini sudah menunjukkan pukul 00.


Karan masuk ke dalam kamar pak Anton, dia melihat dengan mata kepalanya sendiri betapa terpukulnya pak Anton sampai pak Anton lupa waktu hanya karena memikirkan sang istri yang masih belum di makamkan.


"Anton ini sudah waktunya kita ke sana, aku yakin di sana gak akan ada yang jaga, mereka pasti pada pulang ke rumah masing-masing, gak mungkin mereka masih berada di sana" ajak Karan agar persoalan ini cepat selesai.


"Jam berapa ini?" dengan mata sembab pak Anton menatap ke arah Karan.


"Jam 12, ayo kita ke sana, kita harus keluarkan Sekar dari dalam sumur itu, ini adalah waktu yang tepat, aku yakin gak bakal ada yang tau kita beraksi hari ini"


Pak Anton bangkit dari duduk, dia berangkat ke rumah Sekar bersama Karan dengan menggunakan mobil Karan, malam ini mereka akan mengevakuasi jenazah Sekar.


Mobil hitam itu berhenti tepat di depan rumah Sekar, terbesit rasa sesak di dada pak Anton ketika teringat momen-momen penting yang terlewati bersama Sekar.


Pak Anton berusaha mengendalikan dirinya, belum waktunya dia lemah seperti ini, pak Anton menyeka sedikit air mata yang mengalir secara tiba-tiba.


"Ayo kita ke lokasi itu, kita harus segera keluarkan Sekar dari dalam sumur sebelum ada warga yang melihat kita" ajak Karan.


Pak Anton mengangguk, Karan dan pak Anton berjalan ke belakang rumah Sekar yang di sana ada sebuah sumur tua yang selalu Sekar gunakan selama ini.


Lokasi di mana Sekar menghembuskan nafas terakhirnya sepi, tidak ada satupun orang yang berada di sana, mereka berdua bisa menggunakan kesempatan ini untuk mengevakuasi jenazah Sekar.


"Sekar ada di dalam sumur ini" tunjuk Karan ke dalam sumur tua yang gelap.

__ADS_1


Pak Anton melihat ke bawah, dia menggunakan senter untuk mengetahui apakah di dalam beneran ada jenazah istrinya atau tidak.


Tangan pak Anton langsung terasa lemas saat melihat ada seseorang yang berada di dalam sumur itu.


"Sekaaar!" teriak pak Anton histeris.


"Bro tenanglah, kita pasti bisa keluarin dia dari sana, gunakan ini dan turunlah, aku akan jaga di atas" Karan memberikan tangga yang terbuat dari tali khusus untuk sumur.


Karan mengikatkan tali itu ke tiang sumur, pak Anton turun ke bawah dengan hati-hati, Karan menyeter pak Anton dari atas.


Ketika sampai di bawah pak Anton langsung memeluk erat tubuh Sekar, dia dengan menahan tangisnya menggendong tubuh istrinya untuk naik ke atas.


Karan membantu pak Anton yang akan naik ke atas lagi.


"Sekaaaar" teriak pak Anton memeluk erat tubuh Sekar yang dingin.


Sekar tidak bergerak, walaupun kini orang yang dia nanti-nanti telah datang tapi sayangnya dia keburu pergi.


"Sekar jangan tinggalin aku, kenapa kamu pergi" tangis pak Anton pecah ketika melihat jenazah istrinya yang sudah dingin seperti es batu, banyak luka yang terdapat di tubuh Sekar, itu yang membuat pak Anton semakin merasa bersalah, di saat Sekar di pukuli habis-habisan oleh bu Jamilah pak Anton tidak bisa berbuat apa-apa, tak sedikitpun dia menolong istrinya.


Karan yang melihat itu semua mengalihkan pandangannya, dia takut terbawa suasana, di sini dia harus kuat agar sahabatnya tidak semakin rapuh.


Pak Anton dengan tangan yang bergetar meraba wajah Sekar yang banyak luka lebam, pakaian Sekar yang berwana putih kini berganti menjadi merah, itu semua karena darah terus saja mengalir tanpa henti, luka-luka yang menganga itu terus menerus mengeluarkan darah.

__ADS_1


Pak Anton menciumi wajah istrinya yang begitu dia cintai.


"Sekar buka mata kamu, katakan apanya yang sakit, di namanya yang sakit, bilang sama aku, aku akan obati kamu, asalkan kamu buka mata mu"


Karan menjauh sedikit dari sana, dia memegangi dadanya yang terasa sesak, selain pak Anton dia juga sangat merasa bersalah karena tidak bisa menolong istri dari sahabatnya yang di fitnah dan di aniaya habis-habisan oleh bu Jamilah.


"Sekar kenapa kamu ninggalin aku, anak kita akan segera lahir, kenapa kamu malah bawa dia pergi bersama mu, aku di sini bagaimana, aku gak bisa hidup tanpa ada kamu di samping aku, aku mohon jangan pergi, buka mata kamu, kamu mau minta apa aja aku akan kabulin yang penting kamu jangan pergi ninggalin aku, aku gak tau apakah aku bisa menjalani hidup ku saat kamu pergi"


Pak Anton terus memohon pada Sekar agar dia membuka matanya kembali, sementara Sekar tidak sekalipun bergerak, tubuhnya dingin, banyak luka di sekujur tubuh Sekar.


"Sekar badan kamu di dingin banget, kamu kedinginan di dalam sana hmm, maaf aku baru kembali, maafin aku yang gak bisa nolongin kamu, aku gak bisa bantu kamu, kamu boleh marah, kamu juga boleh hukum aku, tapi jangan hukum aku seperti ini, aku gak kuat"


Di balik sumur Karan terisak, dia tak tahan lagi mendengar itu semua, sekuat apapun dia mencoba untuk tegar pada akhirnya pendiriannya pun runtuh.


Karan yang sudah kenal baik dengan pak Anton merasa sangat prihatin padanya, sejak kecil pak Anton kekurangan kasih sayang dari kedua orang tuanya, di hari ulang tahunnya pak Anton harus mendengar kenyataan pahit kalau kedua orang tuanya meninggal dalam kecelakaan, ketika pak Anton beranjak dewasa dia harus menelan pil pahit bahwa kakek dan neneknya meninggalkannya, kali ini kenyataan pahit kembali terjadi saat istrinya pergi meninggalkannya untuk selamanya.


"Sekar aku mohon buka mata kamu, jangan tinggalin aku, aku gak mau hidup sendiri tanpa kamu, aku mohon bukalah mata mu, aku akan nurutin apa yang kamu inginkan" titah pak Anton yang sangat kehilangan istrinya.


Tidak ada pergerakan, mata Sekar masih terpejam kuat, pak Anton terus menangisinya, dia membawa Sekar yang tubuhnya dingin ke dalam pelukan hangatnya.


Pak Anton terus terisak, suami mana yang terima jika istrinya di buat seperti ini oleh orang-orang jahat.


"Sekar aku janji, aku akan balas mereka semua, aku tidak akan tinggal diam, mereka harus merasakan apa yang kamu rasakan, aku tidak akan biarkan mereka hidup tenang!" janji pak Anton dengan air mata yang terus saja mengalir.

__ADS_1


Dengan bertubi-tubi pak Anton menciumi wajah Sekar, dia sangat mencintai gadis itu namun mengapa sekali lagi semesta mengambil orang yang paling berarti di hidupnya.


__ADS_2