
Hal pertama yang keduanya lakukan adalah pergi ke pusat perbelanjaan. Berkeliling ke banyak toko meski hanya membeli beberapa benda saja.
Langit juga membelikan Bintang beberapa dress yang lucu, ada juga gaun pesta yang terlihat indah dengan beberapa bagian yang sengaja diberi payet berkilauan, menambah kesan mewah dan elegan pada gaun itu.
"Lo, ah maksud gw...ah maksud aku.."
"Susah Lang..udah biasa lo gw lo gw". Bintang tampak kaku hanya sekedar memanggil aku kamu pada Langit.
"Harus dibiasain dong.." Langit menoel gemas hidung Bintang.
"Ini nggak berlebihan? Banyak banget beliinnya?". Bintang melirik tangan Langit yang menenteng beberapa tas belanja, dan semua isinya adalah barang untuknya.
"Kamu harus sering-sering pake semua ini. Ngerti?". Langit mengedipkan sebelah matanya kemudian kembali menggandeng tangan Bintang.
"Mau kemana lagi?". Tanya Langit karena Bintang diam saja.
"Ehm.."
"Nonton mau?". Tanya Langit saat melihat Bintang terlihat kesulitan menentukan tujuan mereka selanjutnya.
"Masih lumayan pagi kali, Lang. Nonton jam segini nggak seru, masih sepi". Ucap Bintang saat membayangkan didalam gedung bioskop tidak banyak orang.
"Ini kan weekend, pasti banyak juga yang mau nonton. Lagian bagus kalo sepi tau.." Langit kembali mengedipkan sebelah matanya dengan genit, membuat Bintang melotot kemudian mencubit perut Langit.
"Dasar.." Gerutu Bintang membuat Langit terkekeh.
"Nonton apa ya..ehm..." Bintang tampak sedang berpikir tentang film apa yang akan mereka tonton.
"Hah, film---"
"Nggak ada film horor sama film action ya, Bintang.." Potong Langit cepat membuat Bintang mencebik karena Langit sudah bisa menebak genre film apa yang ingin ia tonton.
"Ikut sama aku. Hari ini kamu harus nurut sama aku". Meskipun terdengar dengusan, namun Bintang tetap menurut dan mengikuti Langit.
Dan disinilah mereka kini berada, didalam gedung bioskop.
"Waah, udah rame aja". Gumam Bintang yang tidak menyangka jika akan banyak yang menonton di jam yang terbilang masih cukup pagi itu.
Bintang edarkan pandangannya, menatap seluruh ruang didalam bioskop. Mungkin karena weekend, makanya banyak pasangan muda yang sudah memenuhi hampir seluruh kursi didalam bioskop.
"Kenapa?". Tanya Langit saat melihat Bintang terus mengedarkan pandangannya.
"Nggak nyangka udah serame ini". Jawab Bintang apa adanya.
"Mereka juga sama kaya kita, lagi pacaran". Bisik Langit sambil tersenyum jahil.
Bintang hanya melirik sekilas, tersenyum tipis namun Langit tetap bisa melihatnya.
"Cantik.." Gumam Langit sangat pelan hingga Bintang tidak mendengarnya.
__ADS_1
Lampu dipadamkan, pertanda film akan dimulai. Membuat semua orang fokus menatap layar besar didepan sana. Tapi tidak dengan Langit, pemuda itu lebih senang menatap Bintang.
"Wah, ternyata film kaya gini seru juga ya Lang.." Ucap Bintang pelan, takut mengganggu penonton yang lain.
Berbagai perubahan reaksi diwajah Bintang bisa Langit tangkap dengan jelas meskipun dalam gelap. Dari mulai tertawa, marah, kesal dan bahkan menangis lalu kemudian tertawa lagi.
Wajah itu akan selalu ia ingat, wajah yang akan menjadi penyemangat saat nanti dirinya mengejar mimpinya menjadi orang sukses dan berhasil.
Bahkan didalam ponselnya sudah penuh dengan foto-foto Bintang. Dari yang ia curi diam-diam, sampai foto yang ia minta langsung dari Bintang. Foto keduanya pun tak kalah memenuhi memori diponselnya.
Saat Bintang fokus pada film yang diputar, Langit tengah memikirkan cara terbaik menyampaikan alasan kepergiannya pada Bintang. Karena hari ini, dirinya harus benar-benar menyampaikan itu pada Bintang.
"Aaah..so sweet". Bukan hanya Bintang, sepertinya hampir semua wanita seisi bioskop menggumamkan hal yang sama.
"Lang..liat deh it---"
Suara Bintang menghilang tak bersisa saat bibirnya dibungkam oleh bibir Langit. Matanya mengerjap beberapa kali mendapat hal tak terduga dari Langit.
Bintang coba menarik mundur kepalanya, namun Langit menahan tengkuknya hingga ia tidak bisa melepaskan ciuman itu.
Kali ini Langit tidak hanya menempelkan bibir keduanya saja. Untuk kedua kalinya, Langit menciumnya. Benar-benar mencium Bintang layaknya seorang laki-laki pada wanitanya.
Entah semerah apa wajah Bintang saat ini. Tapi pada akhirnya Bintang memilih pasrah dan memejamkan matanya. Menerima kehangatan Langit yang mengalir dibibirnya.
Langit melepaskan tautan bibir keduanya saat merasa mereka hampir kehabisan oksigen. Ditempelkan dahinya dan dahi Bintang, kemudian ibu jarinya mengusap bibir Bintang yang sedikit basah karena ulahnya barusan.
"Ish.." Pelan Bintang memukul dada Langit.
"Besok lagi jangan kaya gitu. Malu kalo ada yang lihat.." Lirih Bintang sambil menundukkan wajahnya.
"Ngapain malu? Lagian siapa yang mau liatin kita? Mereka juga sibuk sama urusan mereka sendiri sayang.." Bisik Langit membuat Bintang berjingkat.
"Coba liat sekitar kamu.." Bintang yang baru mau menoleh kesekelilingnya ditahan oleh Langit dan diingatkan.
"Tapi jangan kaget ya.. cup". Satu kecupan lagi dibibirnya.
Wajah Bintang tidak bisa berbohong. Saat ini dirinya benar-benar terkejut saat menyisir seluruh ruang bioskop. Hampir semua isinya melakukan apa yang dilakukan Langit dan dirinya.
Jadi inikah tujuan orang-orang itu datang disaat seperti ini? Inikah tujuan orang-orang itu memilih genre film ini?? Wah..Bintang benar-benar baru tahu.
"Jadi nggak usah khawatir ada yang perhatiin kita, mereka terlalu sibuk sama urusan mereka". Langit mengedipkan matanya ketika Bintang menatap dirinya.
Tak lama lampu bioskop menyala. Membuat semua penonton mengantre untuk keluar dari gedung bioskop.
Bintang keluar dari bioskop dengan segala hal dipikirannya. Kenapa baru sekarang ia tahu? Padahal dirinya cukup sering menonton bersama Bulan.
Ah, memang siapa yang akan berciuman ketika hanya sosok menyeramkan dan adegan mengerikan yang ada dilayar besar itu. Dalam hati Bintang tertawa. Tak menyangka jika apa yang sering dibicarakan teman-temannya memang benar. Gedung bioskop adalah tempat paling baik untuk berciuman. Bintang baru saja mengalaminya.
"Kita makan dulu ya.." Bintang mengangguki ajakan Langit. Perutnya memang sudah lapar.
__ADS_1
Memilih restoran sunda yang masih ada didalam gedung mall, Langit dan Bintang memilih memesan ayam bakar dengan sambal pedas. Keduanya bahkan makan tanpa sendok garpu, mereka memilih makan dengan tangan langsung.
----
Selesai makan, Langit memutuskan membawa Bintang pergi ke taman di pinggiran kota yang memang sedang banyak dibicarakan kalangan muda karena tempatnya yang bagus dan juga bersih. Ditambah danau buatan yang semakin membuat lokasi itu menjadi destinasi banyak orang untuk sekedar melepas penat di akhir pekan.
"Indah.." Gumam Bintang saat melihat pantulan matahari sore mengenai air danau.
Udara sejuk yang membuat siapapun tenang saat menikmatinya. Dan sepertinya tempat ini yang dipilih Langit untuk berpamitan pada pemilik hatinya.
"Oh iya.." Bintang seperti teringat sesuatu. Ia membuka tasnya dan mengeluarkan sebuah benda.
"Buat kamu.." Bintang menyodorkan sebuah gelang dengan inisial B. Kemudian ia mengeluarkan lagi gelang dengan inisial L.
"Apa ini?". Tanya Langit
"Hadiah.." Bintang tersenyum, menarik tangan Langit dan memasangkan gelang yang berinisial B ditangan pemuda itu.
"Karna kamu udah beliin aku banyak baju sama hadiah, jadi aku juga harus beliin kamu hadiah. Tapi aku bingung, cuma ini yang tadi aku liat terus kayanya cocok sama kamu". Sambil terus mengoceh, Bintang memasangkan gelang di tangan Langit.
"Wah bagus.." Gumam Bintang tersenyum bangga saat pilihannya terlihat cocok ditangan Langit.
"Kenapa B?". Tanya Langit menggoda, padahal ia tahu jika B adalah untuk Bintang.
"Karna kamu udah punya nya Bintang. Jadi, jangan coba macem-macem karna kamu udah nyuri hati aku". Langit terhenyak, apakah ini pernyataan cinta Bintang pdanya?? Inikah balasan perasaannya selama ini?
"Bin..." Lirih Langit yang seolah masih tak percaya.
"Hem, aku cinta sama kamu. Sama kaya kamu cinta sama aku..jadi jangan pernah kecewain aku. Ngerti?". Spontan Langit mengangguk, pemuda itu bahkan lupa jika beberapa saat kedepan dirinya akan menjadi orang yang membuat Bintang kecewa.
"Sekarang pasangin". Bintang menyodorkan gelang dengan inisial L pada Langit.
Dengan senang hari Langit memasangkan gelang itu ditangan Bintang.
Langit kemudian berjalan dan berdiri dibelakang Bintang. Kemudian pemuda jangkung itu memeluk Bintang dari belakang. Menjatuhkan dagunya diatas kepala Bintang.
"Lang..." Lirih Bintang yang tidak nyaman di peluk Langit. Bukan karena tidak menyukainya, hanya saja saat ini mereka berada ditempat umum terbuka.
"Maafin gw Bin..tapi kayanya aku bakal ngecewain kamu.." Ucap Langit penuh kesedihan. Membuat Bintang langsung terdiam berpikir.
"Kamu baru aja janji Lang.." Lirih Bintang.
"Aku tau..maafin aku". Langit semakin mengeratkan pelukannya. Pelukan yang kini justru membuat Bintang was-was dan takut.
...¥¥¥•••¥¥¥ ...
...Double up temanteman semuaaa🥰🥰...
...Makasih readers, sayang readers banyakbanyak😘😘🥰 Sarangheo♥️♥️🥰🥰😘😘🥰💐♥️💋...
__ADS_1