Langit Untuk Bintang

Langit Untuk Bintang
tatapan permusuhan


__ADS_3

Bintang belum bergerak dari tempatnya duduk. Bahkan sekedar memutar tubuhnya untuk melihat sosok Langit saja tak mampu tubuhnya lakukan.


Tubuhnya benar-benar kaku. Bahkan kini kakinya terasa lemas tak mampu menopang berat tubuhnya.


"Ng-nggak mungkin. Dia nggak mungkin disini". Bintang berperang dengan batinnya.


Ia bingung apa yang harus dilakukannya sekarang. Ia ingin memeluk Langit, menumpahkan kerinduannya. Namun ia juga sangat ingin menghajar Langit hingga babak belur.


Bahkan kini Bintang tidak menyadari jika Langit sudah lebih dulu menyapa teman-temannya yang berada satu meja dengannya.


Nafas Bintang berkejaran. Matanya terasa panas dan mungkin sebentar lagi akan ada cairan bening yang keluar dari sana.


"Aku harus apa? Sekarang aku harus gimana??". Bintang benar-benar tak bisa mengendalikan dirinya saat ini.


Ponsel ditangannya ia genggam begitu erat. Memejamkan mata sejenak untuk mengumpulkan kewarasannya.


Setelah meyakinkan dirinya baik-baik saja. Bintang mengangkat wajahnya. Namun bukan Langit orang yang ia cari.


Ia mencari Alva yang tak kunjung kembali dari kamar mandi. Ia ingin segera pergi dari tempat itu.


Mata Bintang menangkap sosok Alva yang berjalan ke arahnya. Dan itu membuat Bintang bisa sedikit bernafas lega.


Bintang berdiri dan langsung meraih tasnya. Membuat semua orang penghuni meja tempatnya duduk langsung menatap ke arahnya, termasuk Langit yang menatap Bintang penuh kerinduan.


Ingin sekali Langit memeluk Bintang. Namun melihat Bintang yang mematung membuatnya mengurungkan niat.


Bintang berjalan cepat meninggalkan meja dan menghampiri Alva yang terlihat mengernyitkan dahi saat Bintang berjalan cepat ke arahnya.


"Kenapa?". Tanya Alva saat melihat wajah pucat Bintang.


"Kamu sakit?". Tanya Alva panik sambil menempelkan punggung tangannya di kening Bintang.


"K-kita pulang kak. Ayo pulang.." Ajak Bintang pada Alva yang semakin kebingungan.


"Pulang?". Bintang mengangguk saat Alva membeo ucapannya.


"Tapi acaranya belum di mulai". Ucap Alva sambil menatap sekeliling.


"A-aku mau pulang aja kak.." Bintang memegang lengan Alva dengan erat.


"Bawa aku pergi sekarang kak". Terlihat jelas kesedihan dimata Bintang yang kini kian memerah.


Alva mencoba mencari alasan dibalik perubahan sikap Bintang yang tiba-tiba ini. Dan sepertinya ia bisa menemukannya dengan cepat.


"Apa laki-laki itu?". Batin Alva yang melihat sosok asing yang belum ia temui sebelumnya.


"Ya! Dia orangnya". Batinnya lagi saat melihat hanya laki-laki itu yang bereaksi lain saat melihat Bintang memegang lengannya.


Alva kembali menatap Bintang. Wajah gadis itu masih terlihat pucat, tangannya yang memegangi lengannya pun terlihat bergetar.


"Seberapa berharga nya laki-laki itu? Seberapa besar artinya untuk kamu, Bintang". Ingin sekali Alva menanyakan hal itu pada Bintang. Namun ia telan kembali pertanyaan itu untuk dirinya.


Langit berjalan cepat menghampiri Bintang dan Alva karena tidak kuat lagi melihat Bintang menyentuh laki-laki lain didepan matanya.


Pergerakan Langit yang tiba-tiba tidak dapat dicegah oleh Sam dan yang lain. Mereka menahan nafas sejenak saat melihat Langit sudah ada diantara Bintang dan Alva.


"Ikut aku.." Langit memegang pergelangan tangan Bintang. Dan hal itu berhasil membuat Bintang terkejut setengah mati.


"Lepaskan tangan anda!". Kini gantian Alva yang mencekal pergelangan tangan Langit yang memegangi tangan Bintang.

__ADS_1


Benar-benar seperti adegan di sinetron. Ketiganya tampak seperti pemeran sinetron bergenre cinta segitiga.


"Oh--my--god..." Gumam Nindy yang justru salah fokus dengan pakaian yang dikenakan Langit.


Entah sebuah kebetulan atau memang takdir mereka saling berkait. Setelah Nindy memperhatikan, baju yang Langit kenakan pun warna nya sama seperti gaun yang Bintang pakai.


Benar-benar drama yang tak pernah terbayangkan sebelumnya dibenak Nindy atau yang lainnya.


Bintang yang sebelumnya terkejut karena apa yang Langit lakukan, kini tersadar. Menatap Langit dan Alva bergantian.


Sementara dua lelaki itu tampak saling menghunuskan tatapan tajam satu sama lain. Memberikan tatapan permusuhan satu sama lain.


"Sebaiknya anda yang melepaskan tangan anda". Desis Langit dengan suara rendah.


"Lepaskan dulu tangan anda dari tangan kekasih saya. Maka saya akan melepaskan tangan anda". Alva menjawab tenang. Bahkan laki-laki itu sempat memberikan senyum tipisnya pada Langit yang terlihat menggemerutukkan giginya menahan gejolak amarah yang siap meledak ketika laki-laki didepannya mengakui Bintangnya sebagai kekasih.


Logika menampar kesadaran Bintang yang langsung tersadar dari keterkejutan.


"K-kak.." Lirih Bintang menatap Alva penuh permohonan.


Langit langsung menatap Bintang saat mendengar gadis itu memanggil lelaki didepannya dengan panggilan 'kak'. Panggilan yang sangat biasa namun terdengar lain ditelinga Langit saat Bintang yang mengucapkannya untuk laki-laki lain.


"Kita pergi sekarang, sayang". Mata Langit melebar saat mendengar panggilan Alva untuk Bintang.


Tanpa sadar cekalan tangannya di lengan Bintang mengencang hingga membuat Bintang meringis merasakan lengannya sedikit nyeri.


Alva yang melihatnya langsung melakukan gerakan cepat melepaskan paksa tangan Langit yang masih mencekal lengan Bintang.


"Are you okay?". Tanya Alva pada Bintang yang mengelus lengannya yang sedikit memerah. Alva juga ikut mengelus lengan Bintang. Hal spontan yang ia lakukan karena melihat Bintang sempat meringis kesakitan.


Bintang mengangguk pelan. Ia sengaja terus menatap Alva karena tahu saat ini Langit tengah menatap dirinya. Seolah ingin menelan dirinya utuh.


"Aaah!! Kenapa jadi kaya aku ketahuan selingkuh gini sih!". Batinnya memaki dirinya sendiri yang ragu untuk meraih tangan Alva hanya karena yakin jika Langit tengah menatap dirinya.


Namun segera ia menepisnya, dan meraih uluran tangan Alva hingga kini tangan keduanya kembali bertaut.


Rahang Langit kian mengeras. Matanya memerah dengan tangan terkepal kuat. Siap menghantam apapun yang ada didepannya.


"Kami permisi sebentar, tuan". Pamit Alva memberikan senyum tipisnya sebelum menarik Bintang keluar dari restoran mewah itu.


"Lang!! Tahan Lang!!". Arsen bergerak cepat menahan lengan Langit saat laki-laki itu hendak menyusul Bintang dan Alva yang keluar ruangan.


"Lepasin gw, Sen. Gw harus nyusul Bintang". Langit coba lepaskan cekalan tangan Arsen.


"Ikut gw!". Arsen menarik paksa Langit. Membawa Langit ke salah satu ruang VIP yang dibatasi dengan kaca tebal.


Entah apa yang keduanya bicarakan. Hanya terlihat jika keduanya terlibat perdebatan sengit.


Lain Langit, lain lagi dengan Bintang. Alva tidak membawa Bintang pulang seperti permintaan gadis itu. Alva membawa Bintang keluar dari gedung. Membawa Bintang duduk ditaman yang ada disamping hotel.


Membiarkan Bintang tenang sebelum nanti ia akan bertanya.


"Minum dulu.." Alva menyodorkan sebotol air mineral yang sempat ia beli setelah tadi sampai ditaman ini.


"Makasih kak.." Lirih Bintang menerima botol yang disodorkan Alva.


Bintang menghela nafas panjang. Ia tidak menyangka jika Langit akan ada diacara kali ini. Ia pikir Langit tidak akan pernah kembali lagi, tapi rupanya dirinya salah.


"Sudah lebih tenang?". Tanya Alva yang membuat Bintang langsung menoleh menatap Alva kemudian mengangguk pelan.

__ADS_1


"Apa itu dia?". tanya Alva menatap lurus ke depan. Membuat Bintang kembali menghela nafas panjang.


"Ya.." Singkat Bintang menjawab.


Hening beberapa saat. Keduanya larut dengan pikiran mereka masing-masing. Hingga suara Alva membuat Bintang tersadar.


"Pantes aja susah move on ya. Ganteng sih". Menoleh dengan mata melotot lebar dan membuat Alva tergelak.


"Kakak". Galak Bintang bersuara membuat tawa Alva pecah.


"Kamu masih cinta?". Tanya Alva lagi membuat Bintang menunduk lesu.


"Ayo kita pulang, kak". Ajak Bintang yang sudah malas dan enggan kembali ke acara reuni didalam sana.


"Kamu mau kabur?". Tanya Alva membuat Bintang kembali menolehkan kepalanya menatap Alva.


"Mau nunjukin sama dia kalau kamu gagal lupain dia dan masih cinta sama dia?". Tanya Alva lagi saat Bintang bungkam.


"Ayo masuk lagi. Tunjukin sama dia kalau kamu bisa hidup bahagia sekalipun tanpa dia". Alva berdiri, mengulurkan tangannya pada Bintang yang tengah duduk.


"T-tapi kak.." Lirih Bintang ragu.


Ia takut tidak bisa menahan dirinya untuk mendekat pda Langit dan memeluknya. Atau mungkin melakukan hal memalukan didepan Langit dan teman-temannya yang lain.


"Ada aku, Bintang. Kamu percaya kan sama aku?". Bintang mendongak, menatap Alva yang masih mengulurkan tangan padanya.


"Aku takut kak.." Bintang meremas tangan satu sama lain.


Alva berjongkok didepan Bintang. Menggenggam kedua tangan Bintang yang terlihat sedikit bergetar.


"Percayalah, semua akan baik-baik saja". Alva meyakinkan Bintang.


Bintang berpikir sejenak. Dan otaknya menginstruksikan dirinya untuk mengikuti ucapan Alva.


Karena apa yang Alva katakan adalah benar. Dirinya hanya akan menunjukkan pada semua orang jika dirinya gagal melupakan Langit jika dirinya melarikan diri. Dan dirinya tidak mau hal itu terjadi.


Ia memang masih menyimpan rasanya untuk Langit. Namun Bintang tidak mau menunjukkan pada siapapun. Ia tidak ingin Langit merasa dirinya mudah didapatkan kembali setelah apa yang Langit lakukan pada dirinya enam tahun ini. Malam ini, ia akan mempercayakan semuanya pada Alva. Menunjukkan pada Langit bahwa dirinya baik-baik saja bahkan setelah Langit pergi dari hidupnya.


"Tolong cegah aku kalau aku mau berbuat hal yang akan aku sesali nantinya kak". Pinta Bintang sambil menerima uluran tangan Alva.


Alva mengangguk dan menggenggam tangan Bintang. Entah hal apa yang mendasari Alva melakukan semua ini. Untuk Bintang kah? Atau justru untuk dirinya sendiri. Hanya Alva yang tahu tujuannya.


Didalam restoran tempat diadakannya acara reuni nampak heboh setelah kedatangan Langit. Ditambah drama yang tercipta sesaat setelah kedatangan Langit tadi.


Acara belum dimulai entah karena apa.


"Kamu kemana, Bin". Lirih Langit yang sejak tadi terus menatap pintu masuk restoran.


...¥¥¥•••¥¥¥...


...Hiya hiya hiya..rame nggak tuh? Ya rame lah ya..nggak kebayang kalo beneran ada didunia nyata😂😂😂 auto heboh sekecamatan kan ya🤣🤭...


...Pliiis tulung banget jangan di bully Bintang nya🙏🏻🙏🏻 Kebayang kan ya jadi Bintang? Ditinggal bertahun-tahun tanpa kabar berita🥺🥺...


...Kalo mak othor yang digituin mah udah dipukul bolakbalik si Langit pake panci yang pantatnya gosong😡😠😤😭...


...Wes sudah cukup mak othornya ngamok-ngamok Langit. Kita lanjut ya readers🥰🥰...


...Happy reading kalian😘😘 sarangheo🥰🥰🥰😘😘😘♥️💋💐💐💐...

__ADS_1


__ADS_2