
"Gimana kabarnya lo?". Arsen membuka pembicaraan, bertanya pada Langit.
"Nggak baik". Lesu menjawab sambil menyeruput jus jambu yang kini juga menjadi minuman kesukaannya.
"Minuman favorit juga ternyata bisa nular ya". Kelakar Roman yang melihat Langit memilih jus jambu daripada kopi atau minuman lain.
"Kenapa?". Tanya Sam yang melihat kesedihan di raut wajah Langit.
"Hah.." Menghela nafas panjang sebelum menjawab pertanyaan Samudra.
"Jelas soal si Bintang lah". Menebak yang sudah pasti benar jawabannya. Dan jawaban Arsen mendapat tatapan tajam dari Langit.
"Bukannya lo udah jadi ceo ditempat dia kerja?". Roman yang kini kembali bertanya. Karena setelah acara reuni malam itu, baru ini mereka kembali berkumpul.
"Gw nggak tau.." Lirih Langit lesu.
"Cowok yang waktu itu dibawa sama Bintang bener pacarnya??", Pertanyaan Roman membuat semua menatap Langit menunggu jawaban.
"Dia kerja di perusahaan itu juga kan?". Kembali bertanya dan dijawab anggukan kepala oleh Langit.
"Lo ngangguk-ngangguk aja. Ngangguk lo jawaban yang mana nih?". Kesal Roman karena Langit tak kunjung menjelaskan.
"Gw nggak tau mereka beneran pacaran apa enggak..tapi--"
"Tapi apa??", Sahut Roman tak sabar membuatnya pundaknya digeplak oleh Arsen.
"Sakit anj*r. Lo juga pada penasaran kan". Meskipun benar, tapi tetap saja mereka menghargai Langit.
"Tapi mereka deket banget di kantor juga. Kata direkturnya juga mereka emang deket.." Menjawab lesu kemudian menjatuhkan kepalanya diatas meja.
"Sabar bro..." Arsen yang duduk disampingnya menepuk pelan pundak Langit.
Ditengah obrolan mereka, ponsel Sam berbunyi. Alis lelaki itu berkerut melihat siapa yang menelpon dirinya.
"Ya, halo. Ada apa?". Tanya Sam setelah menempelkan benda pipih itu ke telinganya.
"Dia lagi ada acara sama temen kantornya". Menjawab saat diseberang sana menanyakan keberadaan Bulan.
"Enggak. Nanti baru mau gw jemput. Ada apa?". Tanya Sam lagi yang mulai curiga saat mendengar diseberang sana terdengar panik.
"Katanya di club xx, jl. xxx" Menjawab lagi
"Sebenernya ada apa Bin?". Tanya Sam curiga saat Bintang terus bertanya.
"Halo, halo.."
"Bintang? Halo??". Sam menatap layar ponselnya yang sudah menggelap karena smabungan sudah terputus.
Bintang?". Tanya Langit saat mendengar Sam menyebut nama Bintang.
Sam mengangguk menjawab pertanyaan Langit yang terlihat mengembangkan senyum hanya karena mendengar nama Bintang.
"Kenapa?". Tanya Arsen
"Nanyain dimana Bulan". Sahut Sam yang kemudian fokus lagi dengan ponselnya.
Wajahnya yang sejak tadi terlihat datar seperti biasanya itu kini berubah. Dahinya berkerut dengan alis menukik tajam.
__ADS_1
"Kenapa?". Tanya Roman saat melihat perubahan raut wajah Samudra.
Saat ini Sam tengah berkumpul dengan teman-temannya, termasuk Langit dan juga Arsen.
"Gw harus pergi dulu.." Sam memasukkan ponsel yang baru saja dilihatnya kedalam saku celananya dan langsung berdiri.
"Ada apa? Lo mau kemana?". Tanya Langit yang ikut bangkit dari duduknya.
"Ada yang nggak beres sama Bulan". Kekhawatiran jelas terpancar dari raut wajah Sam.
"Gw cabut dulu.." Sam langsung berlalu meninggalkan teman-temannya yang terlihat saling menatap satu sama lain sebelum akhirnya berlari keluar menyusul Samudra setelah meninggalkan beberapa lembar uang seratus ribuan diatas meja.
Saat mereka keluar, Sam sudah lebih dulu melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Membuat ketiganya semakin yakin jika ada yang tidak beres.
"Dasar bodoh!!!". Memaki dirinya sendiri sambil mencengkeram kemudi mobil.
Sam menginjak pedal gas mobilnya semakin dalam, berharap bisa cepat sampai ditempat kekasih hatinya berada.
"Bodoh!! Bodoh!! Bodoh!!", Memukul stir mobilnya sambil terus berusaha fokus pada jalanan yang masih padat padahal jam sudah menunjukkan pukul 9.
Sementara itu didalam club, terlihat Bulan tengah beradu argumen dengan seorang wanita yang selama ini memang tidak menyukai dirinya.
Posisi Bulan tersudut karena wanita yang berdiri didepannya tidak sendiri. Ia terus mendorong tubuh Bulan mundur dan semakin mundur hingga hampir terjatuh karena tersandung sesuatu.
"Harusnya kamu berterimakasih dong sama aku..aku sengaja loh siapin acara ini khusus buat kamu". Menyeringai licik sambil menatap Bulan dari ujung kepala hingga kaki.
"Lihat kan mereka..mereka siap nemenin kamu sampai besok". Berbisik sambil kemudian mengedipkan sebelah matanya dengan gaya yang terlihat sangat menyebalkan.
"Jaga bicara kamu". Sentak Bulan yang sebenarnya takut jika apa yang dikatakan wanita didepannya itu benar-benar dilakukan wanita gila itu.
"Tenang Bulan. Tenang..Sam pasti datang. Bintang juga..mereka pasti datang". Meyakinkan diri jika semua akan baik-baik saja saat ketakutan mulai menderanya.
"Lancang!". Tangannya terayun dan mendarat sempurna di pipi wanita rekan kerja nya itu.
Membuat wanita itu membeliak dengan kilat amarah di matanya. Wanita itu mendorong Bulan dengan kuat hingga Bulan jatuh terduduk dilantai.
Sebelum wanita itu berjalan mendekat, bahunya disenggol dengan kuat oleh seseorang yang membuatnya berteriak marah.
"Yaaaaa!!!!". Teriaknya pada orang yang menabraknya.
"Ooops,, sorryz Gw sengaja.." Terlihat seringai mengerikan dari wanita yang baru saja menabrak dirinya.
"Kamu nggak apa-apa?". Bulan mendongak, bibirnya menerbitkan senyum lega saat melihat siapa yang tengah berjongkok didepannya.
"Bintang.." Bibirnya bergetar saat memyebut nama sahabat baiknya.
Ketakutan yang sejak tadi coba disembunyikan oleh Bulan kini terlihat jelas dimata Bintang.
"Ayo.." Membantu Bulan berdiri.
"Aku udah bilang kan. Jangan lemah.." Mengomeli Bulan yang hanya bisa tersenyum miris.
"Siapa kamu?!". Bertanya dengan nada galak dan meremehkan.
"Gw?". Bintang berdiri dihadapan Bulan sebagai perisai. Sama seperti saat mereka masih duduk dibangku sekolah menengah. Tak ada yang berubah dari persahabatan mereka. Masih sama saling melengkapi dan menyayangi.
"Gw sahabat dari orang yang mau lo bikin celaka". Tatapan mata tajam Bintang mampu membuat wanita didepannya mundur sedikit.
__ADS_1
Apalagi saat Bintang menarik sebelah sudut bibirnya hingga membentuk senyum miring yang terlihat menyeramkan.
"Aku nggak ada urusan ya sama kamu. Jadi minggir!". Mempertahankan harga dirinya dengan memasang wajah pongah membuat Bintang ingin sekali tertawa.
"Sayangnya, siapapun yang ganggu sahabat gw bakal berurusan sama gw". Menegaskan posisinya sebagai pengganti Bulan.
Bintang maju mendekat, menuding pundak wanita yang membenci Bulan dengan telunjuknya.
"Mending lo berhenti ganggu dia. Atau hidup lo nggak akan baik-baik aja", Berbicara santai, namun jelas sekali terselip ancaman yang nyata dalam setiap ucapannya.
"Siapa kamu berani ngancem aku hah?". Menepis kasar tangan Bintang kemudian mendorongnya dengan kasar.
"Kamu nggak kenal siapa aku!". Bintang masih terlihat tenang, menghadapi wanita seperti yang saat ini ia hadapi adalah hal sepele baginya.
"Emang lo siapa?". Bertanya dengan sebelah alis terangkat. Seperti tengah mengejek lawan bicaranya yang mulai tersulut emosi dengan semua sikap Bintang.
"Kita pergi aja yuk.." Bulan tahu jika tidak segera ditarik keluar, maka akan ada keributan lebih besar. Ia sangat mengetahui sifat Bintang jika terus diprovokasi.
"Udah ayo.." Menarik tangan Bintang saat Bintang menatapnya.
Memasang wajah memohon pasti akan berhasil membuat Bintang menuruti dirinya. Dan benar saja, Bintang mengangguk menyetujui.
Namun sepertinya orang yang berniat buruk pada Bulan tidak ingin lolos dengan mudah. Wanita itu mencegat langkah Bulan dan Bintang kemudian tanpa aba-aba menampar Bintang dengan keras.
Bulan terkejut dan menutup mulutnya. Ia menatap Bintang yang justru tersenyum kemudian menatap wanita rekan kerjanya yang terlihat marah.
"Kamu lagi gali kuburan kamu sendiri, Sandrina". Ucap Bulan sambil menggeleng pelan. Kini ia pun tidak akan bisa mencegah apa yang akan Bintang lakukan pada gadis bernama Sandrina itu.
"Kebetulan yang bagus..aku emang perlu sesuatu buat ngilangin kesel aku". Batin Bintang yang kembali mendekati Sandrina.
"Lo yang mulai, bit*h". Bisik Bintang yang kemudian langsung membalas tamparan yang tadi ia terima berkali lipat lebih keras.
Tak terima dengan yang Bintang lakukan, gadis bernama Sandrina itu langsung menyerang Bintang dengan membabi buta. Sementara yang lain mundur dan memberi ruang yang cukup untuk kedua gadis itu bertarung.
Bintang tidak benar-benar menggunakan kekuatannya. Ia hanya bersenang-senang dengan membalas cakaran dan juga menarik rambut lawannya. Hanya untuk sekedar melepas rasa kesalnya saja. Karena kalau Bintang benar-benar menggunakan kekuatannya, sudah bisa dipastikan gadis itu masuk rumah sakit.
Jika lawannya sudah berteriak kesakitan, ekspresi wajah Bintang masih sama. Bahkan Bulan menangkap senyum miring Bintang ditengah pertarungannya.
Alva yang melihat Bintang segera mendekat. Posisinya Bintang ada dibawah dan Sandrina tengah menampar wajah Bintang.
Alva terpaku sesaat ketika Bintang membalikkan keadaan dan kini berbalik menghajar wajah Sandrina.
Namun cepat Alva mengembalikan kesadarannya dan menarik tubuh Bintang menjauh dari gadis yang tak ia tahu namanya.
Sorakan penonton semakin menambah kacau suasana. Situasi baru terkendali setelah petugas keamanan mendekat dan membubarkan kerumunan.
"Kamu nggak apa-apa?". Tanya Alva khawatir sambil menatap wajah Bintang dan merapikan rambutnya yang acak-acakan.
"Aku baik-baik aja, kak". Masih bisa tesenyum padahal sudut bibirnya terluka, wajahnya serta lehernya pun tak kalah terkena banyak cakaran.
...¥¥¥•••¥¥¥...
...Othor mah paling suka part Bintang gelut begini😂😂😂...
...Gemes-gemes gimana gitu pokoknya kalo Bintang lagi gelut tuh🤭😅...
...Tapi jangan pada ditiru ya readers, itu nggak baik😁😁 Happy reading semuanya🥰🥰😘😘...
__ADS_1
...Sarangheo♥️🤣💋😘😘😘🥰💐...