Langit Untuk Bintang

Langit Untuk Bintang
Aku menunggu jawabanmu


__ADS_3

Jantung Bintang berdebar keras saat pintu kamar nya diketuk. Apalagi suara yang mengiringinya. Bunda sudah memanggilnya, itu artinya memang benar jika suara mobil yang tadi ia dengar adalah suara mobil milik laki-laki yang akan dijodohkan dengannya.


Pintu berderit, perlahan terbuka dan menampakkan sosok bunda dengan senyum teduhnya. Tatapan penuh cinta kasih ia berikan pada putri yang sudah beranjak dewasa. Ia tumbuh menjadi wanita dewasa anggun yang sangat cantik.


"Kamu sudah siap sayang? ". Tetap mengagumi kecantikan Bintang, padahal bunda sudah sempat melihat Bintang tadi.


" Sudah bunda.. " Bintang ikut tersenyum senatural mungkin. Bintang tidak ingin bunda melihat keraguan dan kegelisahan yang tengah melanda dirinya saat ini.


"Anak bunda cantik sekali.. " memeluk Bintang dan kemudian mendaratkan kecupan lembut di kening putrinya.


"Bunda juga cantik.. " Bintang balas memuji, karena memang sang bunda tetap terlihat cantik meski diusianya kini.


"Baiklah.. sudah cukup saling memujinya. Ayo kita keluar.. " Bunda bisa melihat wajah tegang Bintang.


"Semua keputusan tetap milikmu sayang.. " Bunda mengelus lembut pipi Bintang. Menenangkan Bintang dengan segala ketakutannya.


"Tapi bun, ayah.. " Bunda kembali tersenyum lembut.


"Kebahagiaanmu adalah yang utama untuk kami, nak. Jadi apapun keputusan yang nanti akan kamu ambil, jangan terbebani karena kami.. " Akhirnya Bintang bisa tersenyum.


"Tapi, bagaimana dengan laki-laki yang dipilihkan ayah bun? ". Tiba-tiba terpikirkan bagaimana jika nanti dirinya menolak dan membuat hubungan ayah dengan keluarga laki-laki itu jadi terganggu.


" Semua sudah bunda dan ayah pikirkan. Laki-laki itu akan menerima segala keputusanmu nanti. Selagi itu membuat kamu bahagia, dia akan menerimanya dengan ikhlas". Pikiran Bintang langsung mengingat sosok Langit. Ia teringat ucapan Langit yang sama seperti apa yang bunda ucapkan.


Ia melirik ponselnya, sunyi dan tak ada notifikasi pesan ataupun panggilan dari laki-laki itu.


Apa mungkin dia sudah lelah? dia sudah menyerah? Pertanyaan itu bermunculan dipikiran Bintang. Membuat gadis itu kesal sendiri dengan dirinya sendiri. Dirinya yang mendorong Langit menjauh, namun tetap saja hatinya berharap lelaki itu akan terus memperjuangkan dirinya.


"Dasar gila". Bintang mengumpati dirinya sendiri.


" Ayo kita keluar nak.. " Ucap bunda yang dijawab anggukan kepala oleh Bintang.


Berulang kali menghela nafasnya, dan semakin intens helaan nafasnya saat langkah kaki dan bunda semakin dekat menuju ruang tamu.


Sejak tadi Bintang tak berani mengangkat wajahnya. Hanya melihat ujung sepatu yang tengah ia kenakan saat ini sambil memeluk lengan bunda.


"Duduk! Kamu ngapain berdiri segala, bikin malu! Duduk nggak.. mommy tabok nih". Mommy Sekar menarik lengan putranya agar kembali duduk.


Sementara ayah Henry dan dua kakak laki-laki Bintang tersenyum geli melihat reaksi Langit dengan keberadaan adik mereka.

__ADS_1


" Lang.. " Mommy memanggil nama putranya dengan suara sangat rendah. Namun sepertinya anak lelakinya itu sedikit kehilangan akal sehatnya setelah melihat Bintang yang bahkan belum mengangkat wajahnya sama sekali.


"AWWW..! " Suara Langit terdengar jelas di seluruh penjuru ruang tamu.


Membuat Bintang yang sejak tadi menundukkan wajahnya langsung mengangkat kepalanya karena mendengar suara yang sangat ia kenali itu.


"Mom.. sakit tau.. " Wajahnya merengut kesal sambil menatap sang mommy yang seenaknya menginjak kakinya dengan kuat.


Bahkan kini kakinya terasa berdenyut karena ulah wanita yang sangat ia sayangi itu.


Sementara itu Bintang tidak bisa menyembunyikan perasaan terkejutnya melihat Langit dan kedua orang tuanya berada di kediaman ayahnya.


Bintang yang masih kebingungan disadarkan oleh tepukan lembut di pundaknya. Saat menoleh, bunda hanya memberikan senyum teduhnya seperti biasa.


"Dari tadi udah mommy suruh duduk. Kamu ngapain berdiri dari tadi.. " Belum selesai juga perdebatan ibu dan anak itu. Membuat daddy hanya bisa menggelengkan kepala nya pelan sambil menghela nafas nya dalam-dalam.


"Ya kan Langit reflek tadi liat Bintang.. " Menjawab sang mommy dengan santai tanpa beban.


Bintang masih belum bersuara. Namun dari tatapan matanya saja semua orang bisa tahu jika gadis itu tengah dilanda kebingungan yang luar biasa.


"Duduk!! ". Memukul kaki anaknya yang masih saja berdiri. Padahal Bintang saat ini sudah duduk tenang diseberang mereka duduk saat ini.


Bintang menatap semua orang. Mencari jawaban atas segala kebingungan yang saat ini tengah melanda dirinya.


Apa maksud semua ini? Sedang apa Langit dan kedua orang tuanya ada dirumah ayah?? Meskipun sangat ingin, nyatanya lidahnya terasa kelu hanya untuk sekedar bertanya.


"Mungkinkah??? Nggak.. nggak mungkin". Meskipun belum yakin, namun Bintang tetap menebak tujuan kedatangan Langit dan keluarga nya kerumah kedua orang tuanya saat ini.


Nyatanya ada sesuatu yang meledak di dalam hatinya. Seperti pesta kembang api dimalam pergantian tahun. Bintang tiba-tiba merasa tenang dan bahagia hanya dengan membayangkan jika lelaki yang ayah nya pilihkan untuk menjadi jodohnya adalah Langit.


Semua ketakutan dan kekalutan yang sejak tadi membelenggu hati dan pikiran nya seolah sirna, musnah tak berbekas. Yang ada hanya perasaan tenang dan senang saja.


"Ehm... maaf sebelumnya.. " Semua kembali hening saat daddy Prabu berdehem dan bersuara dengan wajah serius nya. Membuat bukan hanya Bintang yang tegang, namun juga Langit.


Jika Bintang tegang menanti apa yang akan daddy Prabu sampaikan perihal alasan kedatangan mereka. Maka Langit tegang menantikan keputusan apa yang akan Bintang ambil. Menerima dirinya atau justru sebaliknya, mendorong dirinya hingga jauh dan tak pernah bisa lagi menggapai Bintang nya.


"Kenapa wajah mereka lucu sekali". Hampir semua orang membatin hal yang sama saat melihat wajah tegang Bintang dan Langit saat ini.


" Sebelumnya maaf jika kedatangan kami kemari mengganggu mu dan seluruh keluargamu, Hen". Jemari Bintang sudah saling bertaut dan bahkan saling meremas.

__ADS_1


"Tentu saja tidak.. kami senang dengan kedatangan kalian sekeluarga. Terimakasih atas kunjungannya". Ucap ayah menimpali kalimat pembuka dari daddy.


" Terimakasih atas sambutan hangat nya.. " Tersenyum lalu kemudian wajah daddy kembali serius.


"Seperti yang sudah kita sepakati sebelum nya. Kedatangan kami kesini untuk memperjelas perihal perjodohan putra putri kita. Langit dan Bintang.. " Menghela nafas sejenak sebelum melanjutkan apa yang ingin daddy sampaikan.


pyar...


Seperti ada jutaan kupu-kupu yang saat ini terbang mengisi seluruh tubuh Bintang. Segala ketakutan dan rasa bersalahnya benar-benar musnah tak bersisa saat mendengar alasan kedatangan Langit dan kedua orang tuanya.


"Jadi benar?? Jadi benar, Langit yang akan dijodohkan dengan ku?? Ini nyata? Bukan mimpi?? ". Masih berperang dengan pikirannya sendiri. Berpikir jika dirinya tidak lah jahat pada laki-laki yang akan dijodohkan dengan dirinya. Setidaknya diri nya akan lebih mudah belajar mencintai Langit, mengingat dulu dirinya pernah mencintai laki-laki itu.


Padahal hingga saat ini, nama Langit masih terpatri sempurna mengisi setiap ruang hatinya. Bintang hanya sedang menolak kebenaran yang ada pada diri dan hatinya saja.


Terlalu senang dan sibuk dengan pikirannya membuat Bintang tak menyadari jika kini semua orang menatap dirinya menunggu jawaban atas segala yang disampaikan daddy.


"Jadi bagaimana Bintang? ". Entah sudah ke berapa kali ayah bertanya pada Bintang yang tiba-tiba hilang fokus.


" Bintang.. " Masih tak bereaksi, membuat jantung Langit serasa diremas dan dimainkan saat menunggu reaksi Bintang.


"Sayang.. " Sentuhan lembut bunda membuat kesadaran Bintang kembali. Ia menatap bunda yang memberinya kode lewat lirikan matanya.


"Apa?? Ada apa ? Kenapa semua ngeliatin aku?? ". Jadi bingung dan gugup sendiri karena semua mata menatap dirinya saat ini.


" Mereka menunggu jawabanmu, nak". Bintang menatap ayahnya yang baru saja berbicara.


" Apapun keputusanmu, kami akan menerimanya dengan ikhlas sayang.. " Mommy Sekar menatap Bintang dengan sebuah senyum lembut.


"Tunggu! Memang mereka membicarakan apa? Apa yang mereka tanyakan sebelumnya? Memang apa yang mereka bicarakan dan membutuhkan jawabanku?? ". Berperang dengan segala pertanyaan yang semakin membuatnya bingung saja.


" Jadi.. apa kamu keberatan dengan perjodohan kita ini, Bintang". Bintang langsung menatap sumber suara yang berasal dari Langit.


Mata keduanya bertemu dan saling mengunci. Tatapan mata Langit sudah menjelaskan seluruh isi hati dan keinginan nya saat ini. Sedang kan Bintang, menatap tak percaya sosok laki-laki yang duduk di seberangnya itu. Bagaimana laki-laki itu tahu jika dirinya bingung dengan semua pertanyaan dan tatapan semua orang padanya hanya dari melihat bahasa tubuhnya saja.


"Aku menunggu jawabanmu.. " Ucapan yang sarat akan makna yang disertai dengan senyuman penuh harap dari Langit.


...**¥¥¥•••¥¥¥...


...Nggak usah ngadi-ngadi ya Bintang kalo nggak mau kena santet online reader semua ☝ Iyah, jawab Iyah aja pokoknya ya.. jangan sampe nolak. Takut-takut pancinya para reader mampir ke kepala entar🤣...

__ADS_1


...Happy reading semuaaa🥰🥰😘😘😘😍**...


__ADS_2