Langit Untuk Bintang

Langit Untuk Bintang
nggak gratis


__ADS_3

"Masih berani kamu menemui anak saya!!! Dasar tidak tahu malu!!!", Bulan menutup rapat matanya saat melihat ibunda Rehan hendak memukulnya.


Namun hingga beberapa detik, Bulan tak kunjung merasakan tamparan di wajahnya. Dengan memberanikan diri, Bulan membuka matanya.


Ia melihat punggung kokoh didepannya. Ia mendongak untuk melihat siapa pemilik punggung itu, namun masih belum mengetahui karna posisinya membelakangi dirinya kini.


"Lepaskan!!". Bulan tersadar saat mendengar teriakan mama Rehan.


"Ma, sudah. Jangan seperti ini, lagipula aku yang meminta Bulan untuk menemuiku". Bulan mendengar Rehan membelanya. Meski begitu, sakit di hatinya tak akan semudah itu terobati. Segala ucapan dan cacian dari mama Rehan sudah terlalu dalam menggores hatinya.


"Untuk apa kamu membela anak pegawai rendahan seperti dia?". Rupanya mama Rehan masih belum puas menghina Bulan.


Sedikit banyak Bulan menyesal telah menuruti permintaan Rehan untuk bertemu. Ia bahkan berbohong pada bapak dan Ibu dengan mengatakan ingin bertemu dengan Bintang.


"Dosanya boongin orang tua kali ya..." Gumam Bulan sambil meremas tangannya satu sama lain dengan kepala tertunduk dalam.


"Maafin Bulan, pak, bu.." Lirih Bulan dengan mata berkaca-kaca.


"Ma, cukup!". Suara Rehan meninggi pada sang mama.


"Kamu?!! Kamu berani bentak mama demi perempuan nggak tahu diri itu?!". Semakin tidak suka saja mama Rehan terhadap Bulan.


"Anda berdua bisa melanjutkan drama keluarga ini saat sudah sampai dirumah". Bulan yang tadinya sudah kembali menunduk langsung mengangkat wajahnya begitu mendengar suara dari pemilik punggung kokoh itu.


"S-Sam.." Lirih Bulan yang sangat tahu jika itu suara Samudra.


"Anak kurangajar! Nggak punya sopan santun kamu!". Mama Rehan semakin murka mendengar ucapan Sam.


"Siapa yang anda sebut kurangajar?". Mama Rehan diam dengan wajah kesal.


"Tolong dengarkan saya tante..saya hanya akan menjelaskan satu kali.." Sam menoleh ke belakang, menarik tangan Bulan hingga kini gadis itu berdiri tepat disampingnya.


"Gadis yang sejak tadi anda hina ini adalah kekasih saya.." Bulan langsung menoleh dengan mata melebar. Bagaimana bisa Sam mengakuinya sebagai kekasih.


"Dan saya sangat tidak suka ada orang yang menghina pacar saya". Bulan menoleh saat tangan Sam merangkul mesra pundaknya. Ia tatapi tangan Sam yang dipundaknya, kemudian menatap wajah tampan Sam yang terlihat santai namun serius.


"Satu lagi, bukan pacar saya yang mengganggu anak manja ini". Sam melirik Rehan yang terlihat tak percaya dengan apa yang ada didepannya.


"Tapi anak anda ini yang terus menghubungi pacar saya dan meminta bertemu". Wajah mama Rehan semakin merah, antara malu dan marah.


"Omong kosong.." Sengit mama Rehan dengan suara pelan.


"Aku kan udah bilang sama kamu. Jangan ditemui, dia hanya akan membawa masalah untukmu". Bulan mengerjap beberapa kali saat Sam berkata lembut padanya.


"Ini beneran si Samudra? Samudra si kulkas dua pintu?". Batin Bulan yang seakan tak percaya dengan apa yang Sam lakukan saat ini.


"Bulan.." Suara lirih Rehan membuat Bulan menatapnya. Rehan menggeleng, seolah meminta Bulan berkata jika apa yang Sam ucapkan tidaklah benar.

__ADS_1


"Hebat juga kamu. Pakai ilmu apa kamu sampai bisa merayu laki-laki lain selain anak saya?!". Sengit mama Rehan yang membuat Sam tersenyum miring.


Bulan merasa jantungnya ditikam ribuan pisau. Sakit sekali rasanya. Memang apa salahnya menjadi orang biasa.. lagipula bapak bekerja keras mencari nafkah yang halal untuknya dan ibu. Lalu mengapa selalu harta yang membuatnya dihina?


"Memang se kaya apa anda sampai menganggap pacar saya ini tidak pantas untuk anak anda??". Mama Rehan bungkam, pertanyaan sederhana yang mempu membuat wanita menor itu tergagap saat ingin menjawab.


"Apa memang urusanmu!". Sentak mama Rehan. Saat ini, mereka sudah menjadi tontonan banyak orang.


"Jelas ini urusan saya. Karena yang anda hina sejak tadi adalah pacar saya!". Balas Sam tegas.


"Ma, cukup ma". Rehan menahan ibunya yang hendak merangsek maju.


"Kita bicarain lain waktu. Aku harap semua ini nggak bener". Rehan memaksa sang mama pergi dari keramaian itu. Meninggalkan Bulan yang mematung menatap punggung Rehan dan mamanya yang menjauh.


"Ayo!". Bulan kembali tersadar saat tangannya digenggam Sam dan dibawa pergi dari sana.


Disinilah mereka saat ini, di sebuah taman yang dihiasi lampu malam yang indah.


Bulan hanya diam tanpa sedikitpun bersuara. Malu sekali rasanya saat ada temannya yang melihat dan mendengar bagaimana dirinya dihina habis-habisan.


Bulan mendongak saat Sam mengulurkan sebotol air minum untuknya. Perlahan tangannya terulur menerimanya sambil mengucapkan terimakasih.


Keduanya duduk berdampingan dalam senyap. Tak ada yang bersuara, hanya suara hewan-hewan malam yang mengisi kesunyian yang tercipta diantara keduanya.


"Makasih Sam.." Sam menoleh, menatap Bulan yang kini tengah menatap lurus kedepan dengan tatapan kosongnya.


Bulan tersenyum tulus. Jika bukan karena Sam menolongnya, entah akan seperti apa lagi hinaan yang diterimanya dari mama Rehan.


"Pertolongan gue nggak gratis, Bulan". Bulan menatap Sam yang juga tengah menatapnya.


"Maksud lo?". Tanya Bulan dengan alis berkerut. Sedangkan Sam hanya tersenyum tipis tanpa mau menjelaskan apa maksudnya.


"Udah malem. Ayo gue anterin pulang". Sam kembali menggandeng tangan Bulan tanpa penolakan.


Sam mengantarkan Bulan sampai rumah dengan selamat. Sejak saat itulah hubungan keduanya semakin dekat, hingga kini.


---


Waktu berlalu tanpa terasa, hubungan Langit dan Bintang kembali seperti saat pertama kali mereka bertemu dulu.


Keduanya menjadi sosok asing yang tak lagi saling menyapa. Banyak yang berpikir jika renggangnya hubungan Langit dan Bintang karena kehadiran Bima diantara keduanya.


Bintang menjalani hari-harinya seperti dulu meski merasa ada sesuatu yang hilang, namun Bintang mencoba acuh saja.


Kini justru Bulan dan Sam yang terlihat lebih dekat hingga membuat Bintang menyangka jika keduanya berpacaran.


"Nggak berasa ya, bentar lagi libur sekolah. Terus pas masuk udah kelas 12". Ucap Bulan yang saat ini tengah duduk dikantin bersama Bintang.

__ADS_1


"Gue kangen ama si bisul.." Gumam Bintang.


"Kita pisah lagi ama dia.." Timpal Bulan.


Bintang hanya tersenyum tipis. Sudah beberapa hari ini Bima tidak datang ke sekolah. Selain karena memang sudah tidak ada pelajaran lagi setelah dinyatakan lulus, Bima sibuk mencari kampus atau lebih tepatnya kembali menebar pesona setelah dirinya dinyatakan lulus.


Langit menjadi sosok yang berbeda, laki-laki itu lebih pendiam dibandingkan sebelumnya. Langit juga sudah tidak lagi meladeni gadis-gadis yang coba mendekatinya. Bahkan lebih terlihat seperti Langit coba menghindari para gadis itu.


Beberapa kali berpapasan dengan Langit, Bintang lebih memilih membuang muka. Menjadi orang asing seperti ini akan lebih baik untuk kehidupannya.


Bulan dan Bintang kembali diam dengan pemikiran mereka masing-masing. Sebelum Bintang kembali bersuara.


"Bul.." Bulan segera menoleh saat Bintang memanggilnya.


"Lo pacaran ya sama si Sam?". Wajah Bulan langsung memerah ditodong pertanyaan blak-blakan seperti itu.


Ia dan Sam memang dekat, tapi belum sampai pada komitmen untuk menjalin hubungan percintaan.


"Muka lo udah ngejawab sih.." Ucap Bintang tanpa menunggu jawaban Bulan.


"Enggak lah. Yang bener aja, gue pacaran ama dia". Bulan langsung mengalihkan pandangannya agar tidak sampai bertemu dengan mata Bintang.


"Heuh.." Bintang menghela nafas panjang. Apa Bulan jadi amnesia karena jatuh cinta? Pikir Bintang.


"Tapi sayangnya gue berkali-kali liat lo balik bareng tu kulkas". Mata Bulan melebar. Ia bahkan sering pulang terakhir agar tidak ada yang melihat dirinya dan Sam.


"Gue juga udah beberapa kali liat lo berdua nonton bareng atau sekedar jalan berdua". Mata Bulan semakin melebar sempurna.


Ia menghela nafas panjang. Percuma membohongi Bintang tentang kedekatannya dengan Sam. Ia lupa siapa Bintang yang sebenarnya.


"Lo salah kalo mau boongin gue". Bintang menoyor kepala Bulan yang langsung berbalik dan kembali menatapnya.


"Tapi beneran, gue nggak pacaran sama dia kok. Dia juga nggak pernah nembak gue". Bulan menjawab jujur, karena meski sudah dekat, Sam belum pernah manyatakan perasaannya pada Bulan.


Bintang terkekeh melihat wajah panik sahabatnya.


"Biasa aja kali, emang segitu ngarepnya ditembak ama kulkas dua pintu?". Wajah Bulan kian memerah digoda oleh Bintang.


"Apaan sih lo, rese deh". Bulan memalingkan wajahnya yang memerah. Dan s*alnya, matanya justru bersirobok dengan mata tajam milik Sam yang juga tengah menatap dirinya.


Bintang hanya menggeleng dengan seulas senyum tipis melihat Bulan dan Sam yang diam dengan mata saling terpaut.


Namun senyumnya redup seketika saat dirinya bersitatap dengan Langit yang duduk tepat disebelah Sam.


...¥¥¥••¥¥¥...


...Selamat menikmati readers🥰🥰😊 semoga suka ya..insyaallah nanti ditambah kalo othornya nggak oleng tapi ya😅😅🤭...

__ADS_1


...Sarangbeo banyakbanyak kalian semua🥰🥰💋💋♥️💐💐♥️😘😘...


__ADS_2