Langit Untuk Bintang

Langit Untuk Bintang
masa percobaan


__ADS_3

"S-saya bisa menjelaskan pak Dewa, pak Juna..sa-saya---"


Pak Baskoro bingung sendiri. Harus bagaimana menjelaskannya jika tangannya spontan bergerak menampar Bintang karena melihat putrinya babak belur.


"Apa benar yang dikatakan Bulan tadi?". Tanpa menanggapi pak Baskoro, Dewa lebih memilih bertanya pada Bintang.


"Jawab dek". Desak Juna yang kini juga menatap Bintang.


Wajah pak Budi dan bu Ety bertambah panik saja. Akan jadi seperti apa masalah ini nantinya.


"Ini! Ini ulah laki-laki itu?". Tanya Kiran mengelus pipi Bintang kemudian melirik galak pak Baskoro.


"I-itu tidak benar pak, sa-saya..."


"Banyak kok saksinya. Langit sama Samudra di luar juga saksi. Pak Budi juga tadi melihat sendiri kan pak? Siswa lain juga banyak yang lihat tadi". Untuk kali ini, Bulan tidak akan membiarkan pak Baskoro dan putri manjanya lolos begitu saja.


"Iya kan?? Pak Budi tadi lihat kan?". Tanya Bulan membuat semua mata menatap pak Budi menunggu jawaban.


"B-benar pak, saya memang melihatnya". Meskipun ragu akhirnya pak Budi menjawab jujur.


Brakk!!!!


Semua terlonjak kaget saat Dewa menggebrak meja hingga terdengar sampai diluar ruangan.


Sam dan Langit yang ada diluar ruangan pun ikut terlonjak karena kerasnya suara yang tercipta karena gebrakan Dewa.


Kedua pemuda itu segera menerobos masuk meski pak Budi belum memanggil mereka untuk masuk.


"Serem Lang.." Keduanya berdiam diri didepan pintu saat sudah masuk. Merasakan aura mengerikan yang tercipta karena Dewa dan Juna.


Meskipun sedikit ragu, keduanya tetap melanjutkan langkahnya dan masuk kedalam ruang BK.


"Anda sudah tidak waras?". Suara Dewa terdengar biasa. Namun bagi pak Baskoro, suara itu bagaikan pisau yang memutus urat nadinya.


"S-saya.."


"Tutup mulut anda!!". Bentak Juna yang matanya sudah memerah.


"Kami masih bisa menerima jika ini hanya perkelahian antar remaja! Tapi anda?!". Terlihat jelas Juna menahan emosinya.


"Sabar dulu pak..kita bisa selesaikan ini dengan kekeluargaan". Meskipun tahu pak Baskoro salah, tapi pak Budi masih coba menjadi penengah.


"Tidak untuk kali ini pak. Melukai adik kami adalah kesalahan terbesar yang anda lakukan.." Dewa menatap galak pak Baskoro yang bungkam tak bisa berkata-kata.


"Kesalahan anda sebelumnya, bahkan anda korupsi pun tidak menjadi masalah besar bagi kami. Tapi melukai adik kami, anda benar-benar menggali kubur anda sendiri!". Sinis Juna ikut menimpali.

__ADS_1


Pak Baskoro semakin kesulitan bahkan untuk sekedar bernafas. Dirinya terlalu menyepelekan selama ini. Pak Baskoro pikir tidak ada yang tahu tentang korupsinya, tapi rupanya mereka hanya berpura-pura diam.


"Saya mohon bersabar, pak Dewa, pak Juna.."


"Untuk hukuman adik saya dan gadis itu, saya serahkan sepenuhnya pada pihak sekolah. Tapi untuk kasus pemukulan pak Baskoro pada Bintang, kami akan ambil alih sendiri bu. Kami permisi, dan maaf jika kami dianggap tidak sopan. Kami tidak ingin lepas kendali disini". Dewa bangkit dari duduknya diikuti Kiran dan Juna serta yang lain.


"Pak Dewa..saya mohon beri saya kesempatan". Pak Baskoro bahkan tanpa ragu berlutut dihadapan Juna dan Dewa.


Lebih baik kehilangan harga dirinya dibandingkan jabatan yang ia miliki saat ini.


"Saya siap menerima hukuman apapun, tapi beri saya kesempatan". Pak Baskoro terus memohon membuat Dewa dan Juna jengah.


"Lakukan apapun pak, tapi berikan saya kesempatan untuk memperbaiki kesalahan saya". Bintang tersenyum miring, sementara para guru yang melihat hanya bisa menatap tak percaya pada apa yang dilakukan pak Baskoro.


"Bangun pak. Anda tidak perlu berlutut sepeerti ini, apalagi didepan putri anda". Sinis Dewa melirik Catherine yang wajahnya memerah karena malu.


"Tolong beri saya kesempatan.." Masih dengan suara memohon, pak Baskoro akhirnya bangkit.


"Apa yang akan anda lakukan untuk menebus kesalahan anda?". Kini Juna bersuara.


"Apa saja. Saya akan melakukan apapun asalkan saya diberi kesempatan". Wajah pak Baskoro menunjukkan sedikit harapan.


"Kalau begitu, biarkan saya menampar putri anda, seperti anda menampar adik saya". Ucapan Dewa membuat semua terkejut, tak terkecuali Bintang dan Bulan.


"Mas.." Seru Kiran dan Bintang serta Bulan kompak. Mereka tidak setuju dengan ide gila Dewa.


"Bagaimana pak Baskoro?". Tanya Dewa lagi yang melihat pak Baskoro berpikir keras.


Pak Baskoro melirik putrinya yang terlihat menggeleng keras. Catherine tidak bisa membayangkan seperti apa sakitnya ditampar oleh seorang lelaki. Apalagi jika sampai membekas dan membuat sudut bibirnya terluka seperti Bintang.


"Baik pak. Silahkan lakukan jika itu bisa membuat saya diberi kesempatan". Semua sudah terkejut dengan permintaan Dewa, kini semakin dibuat terkejut dengan apa keputusan pak Baskoro.


Laki-laki itu benar-benar gila! Bahkan rela membiarkan putrinya menerima tamparan asal dirinya mendapat kesempatan.


"Heuh, saya semakin yakin untuk meminta ayah melengserkan anda pak. Bagaimana bisa anda membiarkan putri anda menerima semua itu". Dewa menggeleng tak percaya.


Ucapannya untuk menampar Catherine tidaklah sungguh-sungguh. Ia hanya ingin melihat bagaimana sikap laki-laki serakah itu, dan ternyata seperti dugaannya.


"Saya akan menunggu surat keputusan dari pihak sekolah mengenai hukuman adik kami. Kami permisi dulu bu, pak. Selamat pagi". Dewa menarik tangan adiknya, diikuti Juna dan Kiran.


"T-tapi pak.." bu Ety tidak bisa mencegah kepergian Dewa dan yang lain.


"Baik pak. Kami akan segera memberitahukan hukuman Bintang dan Catherine, kami berlaku adil. Jadi semoga pak Dewa dan keluarga bisa menerimanya dengan lapan dada juga". Pak Budi yang melihat bu Ety sudah kehabisan kata-kata berinisiatif membantu.


"Kami tunggu pak. Anda memang bisa diandalkan. Terimakasih". Dewa menepuk pundak pak Budi kemudian benar-benar menarik adiknya.

__ADS_1


"Bulan mas..kaki dia sakit". Dewa menghela nafas, terlalu emosi menghadapi pak Baskoro membuatnya lupa pada keadaan kaki Bulan. Untung Bintang mengingatkannya.


"Kamu, tolong bantu Bulan ya". Dewa menunjuk Sam, karena tidak mungkin ia menyuruh Langit. Sam mengangguk patuh dan segera menghampiri Bulan.


"Kita pulang sekarang! Bulan, kamu ikut pulang kerumah". Dewa kembali menarik tangan adiknya setelah melihat Bulan mengangguk patuh, Bitang beberapa kali menoleh ke belakang untuk memastikan keadaan Bulan.


Bulan mengatakan dirinya baik-baik saja melalui gerakan bibir dan tangannya. Membuat Bintang bisa bernafas lega.


"Tas aku mas.."


"Haish..masih mikirin tas. Ntar sama mas Dewa dibeliin yang baru". Ucap Dewa yang enggan berlama-lama berada disekolah. Apalagi pak Baskoro masih mengikuti dirinya.


"Pak, maafkan saya. Tolong beri saya kesempatan". Pak Baskoro masih mengekori rombongan Dewa.


"Urusan kita memang belum selesai pak. Kita bisa menyelesaikannya di kantor polisi nanti". Ucapan Juna membuat langkah pak Baskoro terhenti.


Ia tidak menyangka, perilakunya akan menyeretnya sejauh ini. Ia benar-benar menyesali segala sikapnya pada Bintang.


Tentu bukan karena benar-benar menyesal. Ia hanya takut kehilangan jabatannya kini. Ia berdiam diri ditempatnya berpijak. Menatap punggung orang-orang yang kian menjauh dengan tatapan nanar.


Sementara banyak siswa yang melihat keluar jendela kelas saat melihat tangan Bintang digenggam oleh Dewa sepanjang lorong kelas. Membuat banyak orang bertanya-tanya tentang hubungan mereka.


"Kakak langsung ke kantor ya". Juna langsung pamit saat sampai di parkiran, karena memang banyak pekerjaan yang menunggu nya di kantor. Urusan dengan pak Baskoro akan ia bicarakan dengan pengacara keluarga nya saja nanti.


Bintang mengangguk dan meminta maaf karena ulahnya membuat sang kakak harus datang ke sekolah. Juna mengatakan tidak apa, karena memang itu kewajibannya sebagai seorang kakak.


"Mas Dewa lanjut aja acaranya sama mbak Kiran. Bintang pulang sama Langit aja.." Ucapan Bintang membuat Kiran tersipu.


"Iya kan biawak? Gw pulang bareng elo aja?". Langit melotot karena Bintang memanggilnya biawak didepan kedua kakaknya yang langsung tergelak keras.


"Iya mas. Bintang sama Langit aja.." Dewa dan Kiran berembug sebentar sebelum akhirnya menyetujui ide Bintang.


"Pastikan mereka sampai rumah Lang. Jangan mampir kemana-mana, karena selain dihukum oleh pihak sekolah, calon istrimu ini juga sedang aku hukum". Langit langsung mengangguk patuh.


"Kamu juga, diam dirumah. Mas Dewa yang akan meneppon ibu dan bapak". Kini Dewa beralih pada Bulan yang juga mengangguk patuh.


"Dokter akan kerumah, kakak sudah menelponnya tadi". Ucap Juna sebelum benar-benar pergi.


"Jangan coba-coba kabur. Kamu lagi dalam masa percobaan ya, Bintang". Peringat Dewa sebelum ia juga pergi meninggalkan empat remaja yang berdiri mematung melihat kedua mobil kakak Bintang menjauh.


...¥¥¥•••¥¥¥...


...Udah dulu ya, pegel ternyata tangan othornya😂😂 Abis ide sih ya yang pasti🤣🤣🤣🤦🏼‍♀️...


...Happy reading..kita lanjut besok ya☺️☺️ sarangheo banyakbanyak🥰🥰😘💐💋♥️...

__ADS_1


__ADS_2