Langit Untuk Bintang

Langit Untuk Bintang
kesurupan??


__ADS_3

Bintang terhenyak dan berhenti melangkah saat matanya bersitatap dengan sepasang mata tajam milik laki-laki yang siang tadi membuatnya menangis.


"Sejak kapan dia disini?". Batin Bintang yang benar-benar tidak menyadari keberadaan Langit.


Kembali melangkah saat sudah mampu menguasai diri dari keterkejutan. Bintang mendekat pada Bulan. Memastikan dulu sahabatnya baik-baik saja, padahal jelas terlihat jika dirinya yang perlu dikhawatirkan.


"Kamu nggak apa-apa kan?". Bulan menggeleng, bagaimana mungkin masih sempat mengkhawatirkan keadaannya yang jelas-jelas baik-baik saja.


"Harusnya aku yang nanya ke kamu". Menatap sedih wajah cantik yang sudah babak belur itu.


Entah sudah berapa kali hal seperti ini terjadi. Bulan merasa bersalah dan selalu merasa menjadi beban untuk Bintang.


"Aku nggak apa-apa. Muka nya nggak usah kaya gitu, jelek". Tersenyum tenang, karena memang merasa jika luka ditubuhnya tidak seberapa.


"Aku pamit pulang duluan", Bulan masih menggenggam tangan Bintang.


"Kita anterin aja ya.." Menatap Bintang penuh harap. Namun Bintang menggeleng.


Selain tidak ingin mengganggu waktu Bulan dan Samudra, Bintang juga tidak mau bertemu Langit lebih lama lagi. Lagipula ada Alva yang menunggu nya.


"Kak Alva udah nunggu.." Sahut Bintang tersenyum sambil menunjuk Alva yang berdiri tidak jauh dari mereka.


"Yakin nggak mau sama kita?". Bulan masih mencoba merayu.


"Iya, Bin. Bareng kita aja pake mobil". Sam yang biasanya acuh, bahkan kini ikut menawari.


"Makasih tawarannya tuan muda, tapi aku mau sama kak Alva aja. Kasian udah nunggu dari tadi.." Tetap teguh dengan pendiriannya yang ingin pulang bersama Alva.


"Daaa, duluan ya.." Melambaikan tangannya pada Bulan dan Sam. Mengabaikan Langit yang sejak tadi sudah menatap dirinya.


grepp..


Bintang langsung menoleh saat tangannya ditahan oleh seseorang. Dan jelas orang itu adalah Langit yang sudah tidak tahan lagi dengan sikap acuh Bintang.


"Kita perlu bicara, Bintang", Tatapan mata Langit tak berubah, namun saat ini Bintang melihat kilat kemarahan disorot mata itu.


"Maaf, saya tidak merasa ada hal yang perlu kita bicarakan..tu-an". Menegaskan kata tuan sambil berusaha melepaskan tangannya yang dicekal Langit.


"Berhenti bersikap seperti ini. Jangan kekanakan". Langit masih mempertahankan suaranya agar tetap lembut.


"Kekanakan? Jika seperti ini siapa yang kekanakan, tuan Anggara???", Menghempas kasar tangannya dan berhasil membuat cekalan ditangannya terlepas.


"Tapi kita perlu bicara". Mencoba meraih kembali tangan Bintang namun gadis itu cepat menjauhkannya.


Alva masih diam mengamati, ia ingin membiarkan Bintang berbicara dulu dengan masa lalunya. Bahkan jika Bintang memutuskan dan memilih pulang dengan Langit, Alva tidak akan mencegahnya. Selagi itu bukan sebuah paksaan.


"Tapi saya tidak mau berbicara dengan anda". Keduanya sama-sama kukuh dengan pendirian mereka.


Bulan dan Sam saling menatap bingung. Bingung mau berbuat apa.


"Aku kembali, dan itu cuma buat kamu--"

__ADS_1


"Bohong!!", Potong Bintang cepat sambil menatap Langit dengan tatapan kecewa.


"Aku nggak pernah bohong". Meraih tangan Bintang meski sedikit memaksa.


"Wah, seharian suruh liat drama.." Lirih Alva yang tersenyum masam. Ia duduk diatas motornya dengan posisi menyamping sambil terus memperhatikan Langit dan Bintang.


"Aku berusaha sekuat tenaga buat cepat selesaiin pendidikan aku dan jadi laki-laki yang pantas buat berdiri disamping kamu.." Jelas Langit yang justru membuat Bintang tersenyum miring.


"Aku nggak pernah nyuruh kamu pergi cuma buat jadi laki-laki kuat. Aku nggak butuh laki-laki kuat!". Keluar juga akhirnya uneg-uneg yang selama ini ia simpan.


"Tapi aku lakuin itu semua cuma buat kamu". Langit hampir frustasi, memang tidak ada yang berubah dari sosok Bintang. Ia masih gadis keras kepala seperti dulu.


"Bintang, Lang..kita bicarain ini ditempat lain yuk.." Bulan memberi saran.


"Ayo kita pindah. Kita obrolin di tempat yang lebih tenang". Sam menyetujui usul Bulan.


"Nggak perlu". Tegas Bintang.


"Aku mohon, kita perlu bicara berdua". Langit melirik Alva yang sejak tadi menatap mereka tanpa berpindah tempat.


"Aku nggak mau!".


"Bintang!!!". Bentak Langit yang membuat Alva langsung berdiri tegak saat mendengar bentakan Langit.


Sementara Bintang terhenyak mendengar Langit meninggikan suara pada dirinya. Hatinya semakin hancur karena merasa Langit sudah berubah. Ia tidak menyadari jika Langit juga terluka karena kedekatannya dengan Alva.


"Tolong lepaskan dia, tuan". Alva sudah berdiri diantara Langit dan Bintang.


Membuat kedua orang yang bersitegang itu menoleh menatap dirinya.


"Saya juga tidak ingin ikut campur. Apa anda melihat saya ikut campur sejak tadi?". Bertanya dengan seulas senyum miring.


"Kalau begitu lanjutkan, dan duduk saja. Jangan mendekat". Bintang seolah melihat kilat yang saling menyambar dari tatapan mata kedua lelaki itu.


"Apa anda tidak dengar? Bintang tidak mau berbicara dengan anda. Jadi, tolong hargai keputusannya.." Mempertahankan intonasi suaranya agar tidak terlihat kemarahannya.


"Ayo kak.." Langsung meraih tangan Alva dan menariknya setelah berhasil menghempas tangan Langit.


"Bintang!! Kamu benar-benar lupain aku?? Apa ini balasannya untuk perasaan yang aku pertahankan selama ini untuk kamu???!!". Teriakan Langit membuat langkah Bintang terhenti.


"Apa??". Bertanya dengan sebelah alis terangkat. Menatap Langit dengan tatapan tidak percaya.


"Apa kamu nggak tahu, hati aku sakit melihat kamu bersama laki-laki lain. Semudah itukah??", Bertanya dengan gusar.


"Lalu kamu??". Balas bertanya yang Bintang lakukan.


Memang apa-apaan manusia itu. Dia bicara apa?? Menjaga hati? Lalu siapa wanita tadi!? Dasar gila. Mengumpat dan mengumpat lagi didalam hatinya.


"Aku?? Aku kenapa?? Bahkan aku tidak pernah melupakan kamu walau sedeti---"


"Pembohong!!!". Cepat Bintang menyambar.

__ADS_1


"Lebih baik urus saja kehidupan mu dan calon istrimu! Aku akan mengurus sendiri hidupku!!", Kembali menarik Alva yang tetap diam mengikuti Bintang.


Sementara Langit terlihat kebingungan dengan ucapan Bintang. Pun Bulan dan Sam yang langsung menatap Langit dengan tatapan galak.


"Apa-apaan manusia itu. Dasar biawak gila". Memaki lagi, hingga membuat Alva yang tengah memakaikan helm dikepalanya tersenyum geli.


Langit masih diam mematung ditempatnya. Menatap Bintang yang dibonceng Alva sudah melesat pergi.


"Jelasin ke kita?!". Suara Bulan membuat atensi nya beralih.


"Apa? Jelasin apa?". Tanya Langit bingung.


"Apa yang harus dijelaskan???", Tanya nya lagi dengan wajah lebih bingung. Namun sesaat kemudian ia tersenyum, dan kemudian tertawa senang.


"Temen kamu gila". Bisik Bulan pada Sam yang mengangguk menyetujui ucapan calon istrinya.


"Hahaha, kamu cemburu Bintang..." Tertawa lagi saat menyadari sesuatu dari ucapan Bintang.


"Wah, dia bener-bener gila, sayang". Kini Sam yang begidik ngeri melihat temannya tertawa kegirangan.


"Bintang cemburu Sam. Dia cemburu!! Dia masih cinta sama gw Sam.." Memegang kedua bahu Sam dan mengguncangnya.


"Maksudnya apa sih, Lang?". Bulan yang bertanya sambil coba melepaskan tangan Langit yang masih bergerak mengguncang bahu calon suaminya.


"Ih lepasin dulu, Sam kesakitan!". Tak terima melihat calon suaminya tersakiti. Padahal tidak sebegitu sakitnya.


"Dia cemburu, Bul. Sahabat lo masih cinta sama gw.." Masih terus berbicara yang tidak dimengerti Bulan dan Sam.


Baru datang sudah dibuat bingung oleh kelakuan Langit. Arsen dan Roman yang baru saja selesai memberi pelajaran pada wanita yang berniat buruk pada Bulan tampak heran sekaligus ngeri melihat Langit tertawa.


"Kenapa temen lo?". Tanya Arsen pada Roman yang langsung mengendikkan bahunya.


"Kenapa ni bocah?", Tanya Roman begitu sampai didekat Sam dan Bulan.


"Tau nih si Langit, ditanya malah ketawa-ketawa sendiri". Kesal Bulan yang sejujurnya penasaran dengan alasan Langit tertawa senang seperti saat ini.


"Bawa pulang. Jangan-jangan kesambet setan penunggu ini club". Ucapan Roman membuat semua menatap Langit dengan tatapan ngeri sekaligus takut.


"Jangan macem-macem kalo ngomong". Sam melotot menatap Roman.


Namun melihat gelagat Langit, tidak menutup kemungkinan jika temannya itu kesurupan. Tanpa ada alasan jelas tiba-tiba tertawa. Siapa yang tidak takut coba??


"Aaah, kamu masih cinta sama aku ternyata. Senangnya..."


Semua hanya saling menatap dengan tatapan ngeri melihat Langit yang terus menggumamkan kata yang sama.


"Wah, kayanya dia beneran kesurupan".


...¥¥¥•••¥¥¥...


...Langsung double up buat temen setianya Bintang sama Langit🥰😘☺️...

__ADS_1


...Langit ada masalah apa?? Sini cerita sama othor, jangan ketawa-ketawa sendiri..kan jadi dikira kesurupan ama yang lain🥺...


...Sini-sini, othor siap menampung curahan hati kamu kok Lang🤭😅😅...


__ADS_2