Langit Untuk Bintang

Langit Untuk Bintang
olahraga


__ADS_3

Roman masih terus tertawa sepanjang perjalanan menuju lapang dimana mereka akan berolahraga.


Bagaimana tidak tertawa, melihat tingkah konyol kedua sahabatnya adalah sesuatu yang sangat menghibur.


"Diem lo!". Kesal Langit yang lama-lama tak tahan juga terus ditertawakan. Ia sudah malu dan semakin malu karena sahabatnya menertawakan dirinya.


"Kapan lagi gue liat tingkah konyol lo berdua". Roman menimpali ucapan Langit masih dengan gelak tawa.


Sementara Bulan dan Bintang sudah lebih dulu sampai di lapang. Hari ini akan ada penilaian lari jarak pendek 200m.


Hal pertama yang menyambut Bintang adalah tatapan permusuhan seorang gadis yang tak lain adalah Catherine.


Ya, hari ini pak Budi memang mencampur kelas Bintang dan Catherine karena guru yang mengampu kelas Catherine sedang ijin. Sementara nilai harus masuk hari ini.


Berbeda dengan Catherine yang menatapnya tajam. Bintang tampak acuh saja dan mencari bangku yang kosong di sekeliling lapang.


"Liatin Bin, matanya udah kaya mau copot". Bulan berbisik sambil melirik Catherine yang terus menatap Bintang dengan tajam.


"Cari wadah, siapa tau beneran copot terus ngegelinding kesini. Lumayan buat kasih makan kucing". Keduanya tergelak sendiri dengan obrolan mereka.


Tak lama Bintang mendengar teman-temannya bersorak bahkan ada yang memekik. Bintang mengikuti kemana fokus teman-temannya, dan dirinya hanya bisa mendengus saat Langit dan kedua antek-anteknya masuk ke lapangan.


"Calon pacar lo tuh Bin". Goda Bulan yang langsung mendapat sorotan tajam sahabat baiknya itu.


Di lapang, pak Budi sudah mulai penilaian, dua orang dari kelas Cath dan dua orang dari kelas Bintang, hingga tiba giliran Bintang yang sangat bertepatan dengan Catherine yang mendapat giliran.


"Ati-ati Bin. Takut-takut nyakar tu kucing". Peringat Bulan disertai kekehan kecil yang dibalas Bintang dengan tertawa.


"Pak. Saya nggak mau sebelahan sama yang nggak selevel". Tiba-tiba Catherine bersuara membuat semua mata menatapnya. Sedangkan Bintang tetap terlihat tenang.


"Kamu mau dapat nilai atau tidak?". Pak Budi ganti bertanya, diantara beberapa guru yang tak terpengaruh dengan status Catherine, pak Budi salah satu orangnya.


"Tapi saya nggak mau. Nggak level banget sebelahan sama dia". Sinis Catherine memandang remeh Bintang.


"Iyalah. Level kita beda jauh. Otak gue cemerlang, kalo elo pas-pasan. Pas lagi nggak bisa ngerjain, pas gurunya takut ama bokap lo". Balas Bintang telak membuat Catherine mendelik kesal. Sementara yang lainnya memalingkan wajah untuk menyembunyikan senyum mereka.


Pak Budi mengulum bibirnya menahan senyum. Meskipun yang dikatakan Bintang adalah benar, ia tak bisa menunjukkan dukungannya pada salah satunya.


"Lo---" Catherine sudah berteriak.


"Kamu kalo nggak mau dapat nilai, silahkan keluar". Tegas pak Budi yang tak ingin sampai ada keributan.


Menghentakkan kakinya beberapa kali karena kesal keinginannya tak dituruti oleh sang guru. Catherine hanya bisa menggerutu sambil bersiap untuk berlari.


"Mulut si Bintang emang kaga ada obat. Berani banget bikin anak kepsek ngamuk". Roman sampai geleng-geleng kepala dibuatnya.


Sementara Langit, kekagumannya pada Bintang semakin menjadi. Rasa ingin memiliki Bintang semakin besar saja. Berbeda rasanya saat dirinya ingin menakhlukkan gadis yang menurutnya menarik. Kali ini ada desakan rasa lain yang membuat Langit begitu ingin memiliki Bintang.


Tanpa ada seorang pun menyadari, sosok lelaki penuh wibawa yang memegang tahta tertinggi di sekolah itu baru saja melintas. Dia adalah Henry Laksmana, ayah Bintang.


Dengan alasan inspeksi mendadak, ia datang ke sekolah putrinya. Selain karena memang ingin melihat kinerja kepala sekolah dan jajarannya, ayah Henry juga ingin memastikan sendiri putrinya baik-baik saja.

__ADS_1


"Mulutnya memang benar-benar pedas seperti ibunya". Ucap Ayah Henry sambil tersenyum menatap putrinya.


Sikap keras kepala dan pemberaninya memang turunan darinya. Namun lidah tajam bak pedang itu jelas milik ibunya.


"Apa dia?". Seseorang yang berjalan dibelakang ayah Henry mengangguk membenarkan.


"Namanya Catherine, tuan. Dia adalah putri pak Baskoro, kepala sekolah". Jelas lelaki yang berstatus asisten ayah Henry itu.


"Alex masih mengawasinya kan?", Kembali kepala pria di belakang ayah mengangguk. Alex adalah sosok lelaki yang dipilih ayah untuk menjaga Bintang. Meski hanya sebatas bayangan, namun selama ini Alex selalu menjaga Bintang. Hanya satu kejadian yang lolos dari penjagaannya, saat Bintang membantu Langit melawan Arsen dan teman-temannya.


"Arman.."


"Ya tuan.." Lelaki yang ayah panggil Arman segera mendekat.


"Perintahkan Alex untuk memperketat penjagaannya diluar sekolah". Entah kenapa, ayah memiliki firasat kurang baik menyangkut putrinya. Ia takut gadis bernama Catherine itu nekat melukai putrinya ketika diluar sekolah.


"Siap tuan". Arman menundukkan kepalanya sekilas.


Tak lama ayah melihat seorang pria dengan perut buncit berlari menghampiri dirinya dengan beberapa orang dibelakangnya. Ayah tersenyum miring meski tak terlalu nampak.


"Selamat pagi pak Henry. Senang bertemu anda.." Sekedar berbasa-basi, lelaki itu menyapa ayah Henry dengan sangat sopan.


"Apa kabar pak Baskoro?". Ayah Henry membalas uluran tangan kepala sekolah.


"Ah, baik. Sangat baik pak Henry.." Baskoro tersenyum lebar membuat ayah ikut tersenyum. Namun senyuman keduanya memiliki makna yang jauh berbeda.


"Jelas saja kabarmu sangat baik. Setiap bulan kau mendapat banyak uang dari kecuranganmu memimpin sekolah ini". Batin ayah.


Kembali pada Bintang, meskipun Catherine berusaha curang dan menjatuhkannya. Namun Bintang tetap memimpin dan jelas Catherine kalah telak.


"Mau lo jungkir balik juga, lo nggak akan bisa semudah itu jatuhin gue, kucing garong". Ucap Bintang tenang. Sebenarnya ia sangat kesal dengan kelakuan Catherine dan ingin memberinya pelajaran, namun sebisa mungkin ia mencoba menghindari masalah.


Ancaman sang bunda masih terngiang jelas ditelinga dan otaknya. Jika sampai ia kembali bermasalah apalagi terluka, maka penyamarannya selama ini akan berakhir. Dan hidup damainya akan benar-benar sirna.


Bintang berjalan tenang meninggalkan Catherine yang memaki dan mengumpatnya. Sementara Bulan, gadis itu terlihat bertepuk tangan sambil mengacungkan jempolnya pada Bintang.


"Sohib gue emang paling the best lah". Bulan merangkul Bintang yang baru saja duduk disampingnya.


"Sinting kayanya tu kucing. Kaki gue sakit banget". Bintang mengangkat celana panjangnya, melihat kakinya yang membiru tepat di tulang keringnya.


Entah bagaimana bisa si kucing melukai Bintang di tempat itu. Yang jelas Bintang sangat kesal.


"Kalo nggak inget anceman bunda waktu itu. Udah gue pepes tuh anaknya si botak". Gerutu Bintang sambil menatap Catherine yang tengah mencari perhatian Langit. Melihatnya saja sudah mampu membuat Bintang muak.


"Sabar..masih pengen hidup jadi rakyat jelata kan?". Tanya Bulan membuat Bintang mengangguk. Jelas saja, kehidupan sederhananya saat ini sudah sangat sempurna. Tak ada teman yang bermuka dua, semua temannya tulus berteman dengannya, dengan seorang Bintang. Bukan dengan gadis yang memiliki status sebagai anak pemilik sekolah.


"Yaudah. Terimain aja diganggu si kucing mulu. Ntar kalo udah nggak kuat diganggu ama tu kucing, lambaikan tanganmu pada Bunda". Ucap Bulan mendramatisir keadaan Bintang.


"Sahabat kaga ada akhlaknya ya elo ini. Amit-amit kenapa gue bisa temenan ama orang modelan elo coba". Bintang geleng-geleng kepala.


Kadang berpikir bagaimana bisa mereka berdua betah berteman dengan sikap dan sifat mereka yang kadang bertolak belakang.

__ADS_1


Jika biasanya Langit senang saat dikerubungi banyak gadis, lain hal nya dengan sekarang. Langit terlihat sangat tidak nyaman dan beberapa kali menatap ke arah Bintang.


Entah mengapa ia berharap Bintang juga menatap dirinya. Namun sepertinya Bintang tengah sibuk bersenda gurau dengan Bulan.


Hingga saat Bintang mengangkat celananya, Langit dapat melihat luka memar di tulang kering Bintang. Langit tahu pasti itu sangat sakit.


"Awas lo". Langit melepaskan paksa tangan Catherine yang bergelayut dilengannya.


Langit terus berjalan tanpa peduli dengan teriakan Catherine yang memanggil namanya berulang kali.


"Mau kemana temen lo?". Tanya Roman, dan Sam hanya mengendikkan bahunya saja.


Tak lama Langit kembali, namun bukannya kembali kepada dua antek-anteknya, Langit justru mendekati Bintang yang duduk bersama Bulan.


"L-lo ng-ngapain woi". Bintang terkejut saat tiba-tiba Langit berjongkok didepannya dan mengangkat sebelah kakinya.


Diletakkannya kaki Bintang dipangkuan Langit, kemudian Langit menarik ke atas celana Bintang hingga luka di kakinya terlihat.


"L-Lang..lo ng-ngapain sih". Bintang coba menarik kakinya dari pangkuan Langit. Namun ternyata Langit menahan kaki Bintang dengan kuat.


Tanpa banyak berbicara, Langit mengoleskan salep yang ia bawa dari ruang kesehatan. Entah mengapa, melihat Bintang terluka membuatnya tak bisa tinggal diam.


"Jangan banyak gerak". Hanya itu kata yang terucap dari bibir Langit.


Bintang mengangkat wajahnya, menatap ke sekeliling dan rupanya apa yang Langit lakukan cukup menyita perhatian. Terlebih seorang gadis yang kini menatap tajam pada Bintang saat tanpa sengaja pandangan mata keduanya bertemu.


Bintang mengerjap sesaat. Melihat si kucing yang siap murka yang mencakar dirinya lagi. Namun seulas senyum jahil tersungging dibibir Bintang.


"Kaga usah aneh-aneh ya Bin.." Bisik Bulan memperingatkan. Melihat cara Bintang tersenyum saja, Bulan yakin sahabatnya itu memiliki ide untuk membuat kucing semakin murka.


Bintang angkat tangannya, kemudian perlahan semakin menurunkannya dan..Bintang meletakkan tangannya di pundak Langit yang langsung menatap Bintang.


Bintang meringis. Jelas itu hanya aktingnya saja, namun siapa sangka Langit benar-benar mengkhawatirkannya.


"Sakit banget ya?". Bintang mengangguk pelan sambil matanya melirik kedepan sana untuk melihat reaksi Cath.


Dan sesuai harapannya, Catherine tampak marah dan wajahnya memerah dengan sorot matanya yang tajam.


"Tahan ya, gue pelan-pelan". Kembali Bintang menganggukkan kepalanya pelan. Tangannya masih ada di pundak Langit, sementara tangan lainnya ia gunakan untuk melambai pada Catherine.


Wajahnya? Jangan ditanyakan lagi seperti apa tengilnya wajah Bintang. Bintang tersenyum penuh kemenangan dan kemudian menjulurkan lidahnya pada Catherine yang langsung meneriakkan namanya dengan lantang.


"Anak sultan mah bebas. Penyakit juga dicari". Batin Bulan menggeleng pelan melihat kelakuan Bintang yang sengaja memancing emosi Catherine.


...¥¥¥¥•••¥¥¥¥...


...Yuhuuuu...double up nih sayangkuh😘😘...


...Like nya juga double dong ya...iya dong. Masa engga🤭😅...


...Insyaallah mau kreji up lagi biar kalian juga kreji like ah🥰😘😘😘...

__ADS_1


...dada byebye, lopelope sekebon readers😘😘😘🥰💐💐💐♥️💋💋...


__ADS_2