
"Aunty.." Teriakan melengking keponakan tercintanya sudah menghiasi paginya.
Ditambah gedoran pintu khas Revan. Bintang yang kembali terlelap setelah shalat subuh terlihat masih melilit tubuhnya dengan selimut.
"Astaga, Revan.. kenapa sih pagi-pagi ydah heboh". Gumam Bintang yang berusaha mengumpulkan kesadarannya yang masih tercecer.
"Aunty banguuuun!!". Kembali berteriak karena tantenya tak kunjung merespon.
"Kalo nggak dibuka, Revan dobrak nih pintunya". Ancaman yang terdengar lucu ditelinga Bintang. Lagipula darimana keponakannya itu mengenal istilah 'dobrak'.
Terkekeh geli mendengar ancaman keponakannya. Bintang masih menggelung tubuhnya dengan selimut tebal.
"Aah, kenapa dingin banget sih pagi ini". Masih bergumam dengan tubuh berbalut selimut.
Tak terdengar lagi gedoran dan teriakan keponakannya. Sepertinya bocah itu sudah lelah mengganggunya tidur.
"Aaah, damainya.." Kembali memejamkan matanya saat keheningan kembali menyergap.
Tapi rupanya hanya sesaat saja ketenangan itu Bintang rasakan. Karena selang lima menit kemudian, suara keponakannya sudah kembali terdengar.
Bahkan kini gedoran di pintu kamarnya terdengar lebih keras dari sebelumnya.
"Aunty...bangun!!!". Teriakan maut keponakannya mampu membuat telinganya berdengung.
"Aaaaah.." Berteriak sambil mengacak rambutnya yang memang masih berantakan.
"Ni anak ya bener-bener. Bisa-bisanya dirumah kelakuan kaya tarzan gitu. Giliran di sekolahnya udah kaya batu bata berjalan". Menggerutu namun tetap menurunkan kakinya ke lantai.
"Aunty...." Masih terus berteriak saja keponakannya itu. Dan Bintang tahu apa yang diinginkan keponakannya itu.
"Astaga Revan..ini masih pagi. Main basketnya nanti dong". Begitu pintu ia buka, mulutnya langsung merepet.
"Aunty pemalas.." Ledek Revan yang membuat Bintang membuka lebar matanya seketika.
"Waah, bener-bener nih keponakan satu biji".
"Neneeeek, aunty marah". Berlari menuruni tangga sambil mencari nenek tersayangnya untuk berlindung dari amukan tantenya.
"Aduh, jangan lari Revan". Bunda berteriak saat melihat Revan berlari menuruni tangga. Jantungnya seperti diremas melihat cucunya itu. Takut jika cucunya sampai terjatuh.
"Tolong Revan nenek.." Begitu sampai, Revan langsung bersembunyi dibelakang tubuh bunda.
"Kamu ganggu aunty lagi?", Bukan bunda, namun Naura yang bertanya pada putranya.
"Revan cuma bangunin aunty, ma". Pintar sekali bocah itu berkilah.
Naura hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan Revan dan Bintang. Revan selalu mengganggunya jika ada Bintang, namun menangis saat tante tersayangnya itu jauh dari rumah.
"Kak, liat tuh anaknya. Masa aku digangguin lagi tidur". Mengadu pada wanita yang melahirkan Revan.
"Kamu juga kenapa baru bangun udah jam segini? Orang lain sudah selesai sarapan, kamu baru bangun nak.." Revan menunjukkan wajah menyebalkan karena selalu dibela oleh neneknya.
__ADS_1
"Bintang capek, bun. Semalem lembur.." Beralasan saja supaya tidak diomeli.
"Capek maraton nontonin drama nggak jelas paling juga". Mendesah kesal saat mendengar Revan versi dewasa ikut bersuara.
"Sirik aja kak Juna". Cibir Bintang.
"Ini kok malah ribut sih, sudah-sudah". Lerai bunda sebelum anak-anaknya kembali berdebat. Perdebatan yang sebenarnya selalu ia rindukan dari anak-anaknya itu.
"Mandi sana, anak gadis kedul amat sih". Dewa datang dan menutup hidungnya, seolah Bintang bau.
"Bunda.." Merengek pada sang bunda yang hanya tersenyum tipis.
"Bersih-bersih dulu sana, nanti makan setelahnya". Bibirnya mengerucut karena bunda tidak membelanya.
"Tahta tertinggi itu udah berpindah ke tangan anak aku, dek". Bangga sekali kakaknya itu.
Karena memang benar adanya. Jika dulu Bintang adalah pemilik kasta tertinggi didalam rumah. Maka kedudukannya kini sudah tergeser dengan keberadaan Revan.
Tanpa membalas ledekan kedua kakaknya, Bintang berlalu ke kamarnya sambil terus menggerutu.
"Kalo nggak ada suruh pulang. Udah dirumah malah dibully terus". Gerutuannya masih didengar oleh yang lain.
Selesai membersihkan diri dan sarapan, Bintang sudah ditarik oleh keponakannya ke lapangan basket yang ada ditaman sekitar kompleknya.
Sebenarnya dirumah ada, namun Revan bersikeras ingin diajari ditempat yang lebih terbuka dan memiliki sirkulasi udara yang baik.
Pukul 10.15, saat matahari sudah terasa menyengat dikulit, Bintang dan Revan baru kembali dari taman.
"Rahasia kita ya.." Bintang mengacungkan kelingkingnya yang langsung disambut Revan.
"Aunty jangan bilang mama.." Bintang mengangguk menyetujui.
Dan mereka benar-benar bungkam tentang semua jajanan yang masuk kedalam perut mereka. Rahasia yang mereka simpan rapat dari bunda serta Naura yang jika tahu pasti akan mengomeli mereka sepanjang hari.
"Kalian baru pulang?". Naura bertanya saat melihat anak dan adik iparnya memasuki rumah.
"Iya kak.." Sahut Bintang tenang.
"Revan, bersihkan badan ya nak. Setelah itu istirahat, mama buatkan jus". Revan mengangguk patuh dan segera kekamarnya setelah saling mengedipkan mata dengan aunty nya.
"Kamu mau makan dek?". Tanya Naura dijawab gelengan kepala oleh Bintang.
"Mau jus aja sama kaya Revan kak.." Tersenyum menatap kakak iparnya yang selalu menyayangi dirinya.
"Yaudah, bersih-bersih dulu sana". Seperti Revan, Bintang mengangguk patuh dan segera menuju kamarnya.
"Kak Alva?". Gumam Bintang saat dirinya keluar dari ruang ganti pakaiannya. Ia baru saja selesai mandi.
Ada beberapa pesan dan panggilan tidak terjawab dari Alva dan nomor tidak dikenal.
Bintang tidak mempedulikan nomor asing yang masuk. Yang ia buka hanya pesan dari Alva.
__ADS_1
Pesan yang berisi beberapa foto jas dengan warna dan model berbeda. Membuat Bintang menyunggingkan senyum saat membaca pesan dibawahnya.
"Nanti malem aku pakai yang mana? Bagus yang mana?". Bintang tertawa membacanya.
Memang Alva pikir mereka mau pergi ke acara apa? Sampai deretan jas itu di foto dan dikirimkan pada Bintang.
"Kakak mau pakai jas?". Bintang membalas pesan Alva. Dan hanya butuh waktu beberapa detik untuk ponselnya berdering. Panggilan video dari Alva.
Terlihat jika Alva tengah bingung memilih beberapa jas yang digantung dilemari. Tawa Bintang pecah melihat bagaimana wajah Alva.
"Pilihin dong, kok malah ketawa sih". Wajah Alva terlihat lucu karena kebingungan.
"Kak..kita tuh mau ke acara reuni. Bukan mau ke acara award apa meeting ama klien". Bintang masih tertawa. Fokus dengan Alva membuat Bintang tidak menyadari keberadaan bunda yang sudah berdiri didepan pintu.
Melihat putrinya tertawa dengan laki-laki lain membuat bunda senang sekaligus khawatir disaat yang bersamaan.
"Ya tapi aku harus rapi kan?", Bintang menggeleng pelan melihat Alva yang masih bersikukuh ingin memakai jas.
"Rapi kan nggak harus pakai jas, kak".
"Kakak bisa pakai pakaian yang bisa bikin kakak nyaman aja..ini bukan acara resmi kok.." Acara reuni kali ini memang semua teman satu angkatannya di undang.
"Nggak akan bikin kamu malu emangnya?". Tawa Bintang kembali pecah.
"Ya enggak dong, kak. Santai aja kakak.." Berusaha menenangkan Alva. Bintang tidak mau Alva terbebani.
"Nanti aku jemput dimana?". Alva bertanya setelah sebelumnya sempat meributkan pakaian yang akan ia kenakan.
"Jemput dirumah ayah bunda aku aja..aku lagi pulang kerumah mereka". Wajah Alva terlihat senang sekaligus panik.
"Kenapa lagi kak?". Tanya Bintang yang bisa menangkap raut wajah khawatir Alva.
"Deg-deg an mau ketemu calon mertua". Kelakar Alva diikuti tawanya dan Bintang yang pecah bersamaan.
"Kenapa? Takut?? Berubah pikiran nggak? Apa mau ketemu di tempat acara aja?", Tanya Bintang beruntun membuat Alva langsung gelagapan.
"Enak aja..nanti aku jemput dirumah ayah bunda kamu. Kapan lagi dikenalin sama keluarga calon istri". Kembali tertawa saat keduanya membicarakan hal konyol itu.
Berbincang sebentar setelah membicarakan persiapan reuni, Alva mengakhiri panggilan teleponnya.
Bintang menatap layar ponselnya yang menghitam, kemudian tersenyum saat mengingat bagaimana hebohnya Alva yang sibuk memilih outfit yang akan dikenakannya malam nanti.
"Ngalah-ngalahin perempuan aja persiapannya". Gumam Bintang yang kembali meletakkan ponselnya diatas kasur miliknya setelah mengirimkan alamat rumah kedua orang tuanya pada Alva.
...¥¥¥•••¥¥¥...
...Hayoloh Lang..Bintang nya mau move on katanya😱 Panik nggak? Panik nggak?? Ya panik lah😅😅😂...
...segini dulu ya, semoga bisa kreji up lagi hari ini😊😊...
...Happy reading😊 sarangheo readers🥰🥰😘😘😘♥️💐💋...
__ADS_1