Langit Untuk Bintang

Langit Untuk Bintang
ide


__ADS_3

Langit tampak mengepalkan tangannya diatas meja. Sejak tadi fokusnya tak beralih sedikitpun dari Bintang yang masih mengobrol seru dengan sosok pria yang baru pertama kali Langit lihat.


Rahangnya tampak mengeras melihat interaksi Bintang dengan lelaki itu. Jelas terlihat jika keduanya memang dekat. Terbukti dari cara lelaki itu mengusap kepala Bintang dan beberapa kali terlihat mengacak gemas rambut Bintang. Dan yang membuat Langit semakin meradang adalah karena Bintang tampak nyaman dan biasa saja dengan sentuhan fisik yang dilakukan lelaki itu.


Bintang menoleh saat merasa ada yang mengawasinya sejak tadi. Buru-buru ia memalingkan wajahnya saat matanya kembali bersitatap dengan mata tajam seorang pemuda yang saat ini tengah duduk di pojokan bersama dua temannya yang lain.


"Ni hiasan bumi kenapa bengong mulu?". Lelaki yang Bulan panggil dengan nama Bima itu bertanya dengan sebelah alis terangkat.


"Kaga kesurupan kan ni bocah?". Bima kembali bersuara dan itu berhasil membuatnya mendapat pukulan cukup keras dilengannya.


"Sakit woy. Gila tenaga ni bocah kaga ngurangin". Bima mengelus lengannya yang baru saja dipukul oleh Bintang.


Bintang mencebik, merasa Bima telalu berlebihan dalam mengekspresikan sakit akibat pukulannya. Namun tiba-tiba fokus Bintang beralih pada pakaian yang dipakai Bima.


"Tunggu dulu.." Bintang menelisik penampilan Bima dari atas hingga ujung kaki.


Terlalu senang bertemu Bima membuat Bintang dan Bulan tidak menyadari pakaian yang dikenakan Bima.


"Lo sekolah disini???". Tanya Bintang sedikit keras.


"Hah?? Beneran lo Bim?". Bulan ikut berseru heboh hingga kembali menjadi pusat perhatian orang-orang disekeliling mereka.


"Lah..kemana aja lo berdua". Bintang dan Bulan saling menatap. Bagaimana bisa? Harusnya Bima sudah lulus tahun kemarin, lalu bagaimana bisa pemuda itu masih duduk di bangku SMA??


"Jangan bilang lo belom berubah, Bim". Bima hanya nyengir, menampakkan deretan giginya pada Bintang dan Bulan yang langsung menghela nafas panjang.


Mereka pikir setelah lebih dari tiga tahun tak bertemu, pemuda itu sudah berubah dan dewasa. Rupanya harapan mereka terlalu tinggi pada makhluk bernama Bima itu.


Bima tidak jauh berbeda dengan Langit, hobinya membuat ribut dan membolos hingga membuat kedua orang tuanya pusing karena harus memindahkan sekolah anaknya berulang kali.


"Insaf lo, Bim. Insaf!!". Bintang menoyor kepala Bima


"Eh nggak boleh..nggak boleh ya sama kakak senior nggak sopan begitu". Bintang mencebik, memiliki senior seperti Bima hanya akan membuat kepalanya berasap dan berakhir darah tinggi.


Bulan dan Bintang masih tidak habis pikir dengan kelakuan Bima. Wajah sempurna yang didukung kekayaan yang tak perlu diragukan, dan bahkan sebenarnya otaknya bisa dibilang cerdas. Sayang sekali pemuda itu senang membuat onar hingga berulang kali dikeluarkan dari sekolah atau bahkan tinggal kelas karena kenakalan nya.


Saat tengah asyik mengobrol, datang beberapa gadis membawakan berbagai macam makanan dan minuman untuk Bima. Bintang melirik sinis pada Bima yang benar-benar tak berubah. Senang mengumbar kata-kata manis pada semua gadis, sama seperti seseorang yang sejak tadi tak melepaskan tatapan matanya dari Bintang.


Tiba-tiba Bintang tersenyum. Bulan yang melihatnya sudah tahu apa yang dipikirkan sahabatnya itu. Ia hanya menganggukkan kepalanya pertanda setuju dan itu membuat senyum Bintang semakin lebar.


"Bima..ini buat kamu". Dengan wajah malu-malu, seorang siswi mendekat dan memberikan sebotol minuman serta sebatang coklat pada Bima.

__ADS_1


"Duh makasih banyak ya kak, tau aja kalo kita-kita lagi haus". Dengan santainya, Bintang mengambil botol minum yang baru saja diletakkan gadis itu dan meneguknya hingga memyisakan hanya setengahnya saja.


"Makasih ya, udah perhatian banget sama pacar gue". Bintang masih menebar senyum ramah, berbeda dengan Bima yang langsung melotot.


Rupanya bukan hanya dirinya yang tidak berubah seiring berjalannya waktu. Bintang juga sama, seenaknya mengklaim dirinya sebagai pacarnya dan membuat dirinya dalam masalah karena dicecar banyak pertanyaan oleh para gadis yang ia dekati.


"P-pacar?". Wajah gadis yang merupakan kakak kelasnya itu mendadak pias mendengar pengakuan Bintang. Bagaimana mungkin, Bima baru mulai bersekolah hari ini sebagai murid baru. Lalu bagaimana bisa Bintang mengatakan jika Bima adalah kekasihnya.


"Iya kan sayang.." Menampakkan senyum semanis mungkin sambil menyandarkan kepalanya dipundak kokoh Bima. Bulan hanya bisa menggeleng pelan sambil menghela nafas. Dua mahkluk itu jika sudah disatukan sudah lebih cocok disebut gila.


"Ih, iya dong pacar. Jadi pengen nyium deh.." Bima meladeni kegilaan teman lamanya itu dengan memonyongkan bibirnya. Gadis yang tadi tampak berbinar mendekati Bima itu kini mundur teratur dan segera menjauh. Pun dengan gadis lain yang tadinya juga ingin memberi Bima makanan atau sekedar minuman.


"Nggak usah ngadi-ngadi!". Bima mengaduh saat telapak tangan Bintang mendarat mulus di bibir seksinya setelah beberapa gadis yang tadi mendekat kini telah menjauh dari meja mereka.


Gadis yang tadi mendatangi Bima dengan penuh percaya diri sudah mundur saat melihat Bintang dengan santainya menyandarkan kepalanya di pundak lelaki incarannya.


"Kebiasaan lo. Main ngaku-ngaku aja". Omel Bima yang tidak didengarkan oleh Bintang. Ia lebih tertarik dengan coklat yang ada ditangan Bima.


Dengan santainya ia mengambil coklat yang terbungkus rapi itu dan membukanya. Ia menawarkan pada Bulan yang langsung menerimanya dengan suka cita. Bima hanya bisa menggeleng melihat Bintang dan Bulan yang sama sekali tidak berubah.


"Lo tuh ya, anak kong---eehmmm". Bima tak bisa melanjutkan ucapannya karena Bintang sudah membekap mulutnya. Bukan hanya Bintang, Bulan bahkan sampai mencondongkan tubuhnya dan meletakkan jari telunjuknya diatas tangan Bintang yang masih membekap mulut Bima.


"Ssssst..." Bima menatap mata Bintang. Mendengar kedua gadis didepannya mendesis saja ia sudah paham. Ia lupa jika Bintang tak pernah mau jati dirinya diketahui banyak orang.


"Masih aja seneng jadi rakyat jelata". Gumam Bima yang hanya bisa didengar Bintang dan Bulan.


"Ini kenikmatan tau.." Balas Bintang dengan suara pelan.


"Orang tu dimana-mana seneng kalo dilahirin jadi kaya. Lah elo aneh.." Cibir Bima membuat Bintang memutar bola matanya.


"Ntar kalo pada tau, endingnya cuma kaya elo. Pada dideketin soalnya banyak duit". Balas Bintang membuat Bima mendengus dan Bulan tertawa senang melihat perdebatan keduanya.


"Udah-udah, ribut mulu lo berdua". Bulan menengahi


"Makanan mana ini? Gue laper". Bulan kembali bersuara. Dan ketiganya baru sadar jika mereka belum memesan makanan. Terlalu senang bertemu kembali setelah lama berpisah membuat mereka melupakan urusan perut.


"Kaga makan dong kita, Bul". Bulan hanya mengendikkan bahu.


"Elo sih Bim. Tadi harusnya elo panggil gue kalo gue udah pesen". Bintang jadi mengomeli Bima yang hanya bisa melongo karena Bintang menyalahkan dirinya.


"Salah gue apaan Bul?". Bulan tertawa melihat wajah Bima yang menatap dirinya. Terlihat lucu bagi Bulan.

__ADS_1


"Salah elo, ketemu si Bibin di saat dia belom dikasih makan". Bulan tertawa senang.


"Gue pesenin dulu deh". Bima bangkit dari duduknya, ia melirik arlogi dipergelangan tangannya. Masih ada cukup waktu untuk mereka makan sebelum bel kembali berbunyi.


"Lo mau apa Bul?". Tanya Bima


"Samain aja kaya elo". Bima mengangguk.


"Heh, gue kaga lo tawarin?". Bima menatap Bintang yang tengah melotot padanya.


"Elo kan apa-apa doyan, dikasih makanan kucing juga mau asal minumnya jus jambu". Bulan kembali tertawa mendengar ucapan Bima.


"Lo kira gue ucing". Sungut Bintang namun Bima tampak acuh dan berjalan untuk memesan makanan.


"Bin.." Bintang yang tengah menunduk menatap layar ponselnya segera mengangkat wajahnya saat Bulan memanggilnya. Ia angkat sebelah alisnya seolah bertanya 'ada apa?'.


"Liat deh, dari tadi ada yang liatin elo". Bintang mengikuti arah pandang Bulan dan melihat jika Langit masih menatapnya.


Disisi lain, ada Catherine yang sejak tadi juga menatap Langit yang terus mengawasi Bintang.


Bintang kembali menatap Bulan, sebuah ide terbesit dibenaknya untuk membuat Langit menjauh darinya dan Catherine tak lagi mengusiknya.


Karena Bintang yakin, jika Langit tidak mendekatinya, maka Catherine tidak akan lagi mengganggu dirinya apalagi melukainya.


"Bin!!". Bintang sedikit berjingkat saat Bulan menggoyang tangannya.


"Malah bengong sih". Bintang hanya tersenyum canggung.


"Lo ama si Langit kenapa? Tumben banget dia nggak deket-deket ama lo?". Tanya Bulan penasaran.


"Ya mana gue tau Bul. Bagus lah tapi, jadi si kucing nggak gangguin gue juga". Ucap Bintang senang.


"Silahkan pacarku tersayang.." Tiba-tiba Bima sudah datang membawa makanan serta minuman untuk mereka.


"Makasih pacar.." Bulan bergidik ngeri mendengar percakapan kedua teman didepannya itu.


"Edan!". Ucap Bulan yang justru dibalas tawa keras Bima dan Bintang.


...¥¥¥••¥¥¥...


...Aku kembali dengan cerita yang agak gaje😂😂😂🙏🏻 Abis liburan bukannya fresh ini kepala, malah susyah mikir alur cerita😅😅🤦🏼‍♀️ piye ini othornya🤣 maafkan🙏🏻🙏🏻...

__ADS_1


...Semoga masih bisa dinikmati ya bacaannya..happy reading readers🥰🥰😘...


...sarangheo sekebon🥰🥰😘😘😘♥️💐...


__ADS_2