Langit Untuk Bintang

Langit Untuk Bintang
Kemenangan


__ADS_3

Nafas Langit terengah. Melawan enam orang bukanlah perkara mudah. Sudah berulang kali wajah tampannya terkena bogem yang mengakibatkan luka robek disudut bibirnya.


"S*alan!". Umpat Langit menyeka sudut bibirnya dengan punggung tangan. Meskipun terluka, namun Langit masih bisa tersenyum miring. Sudah lama ia tak melakukan hal menyenangkan seperti ini.


"Brengs*k lo!!!". Teriak Langit yang langsung memukul keras wajah Dion. Sementara teman-teman Dion yang lain tampak sudah tergeletak ditanah. Mereka kehabisan tenaga dan tak sanggup lagi berkelahi.


Baik Langit maupun Dion sama-sama terkapar diatas tanah. Seragam sekolah keduanya sudah tak berbentuk lagi. Kotor dan ada percikan darah yang mengenai seragam mereka.


Langit mendongak, menatap uluran tangan seseorang yang menjadi musuhnya karena sebuah kesalahpahaman.


Sebelah bibir Langit terangkat dan menerima uluran tangan itu.


"Kondisi lo kacau". Cibir laki-laki yang tadi ditolong Langit.


"Cih. Ngaca lo, liat kondisi lo sendiri. Lebih kacau". Balas Langit dengan tatapan mengejek.


Keduanya tertawa bersama sambil menatap Dion yang mencoba bangkit meski terlihat kepayahan.


"Ini hadiah dari gue". Pukulan keras mendarat diperut Dion dengan bertubi-tubi.


"Cukup Sen. Kita nggak perlu ikutan jadi banci kaya dia yang nyerang orang udah nggak berdaya". Langit mencegah lelaki yang tak lain adalah Arsen. Keduanya lantas pergi dari taman.


---


"Kalian harus fokus, jangan sampai lengah". Pak Budi memberi pengarahan pada Bintang dan timnya.


Turnamen basket yang dibicarakan pak Budi sudah dimulai. Bahkan kini tim basket dari sekolah Bintang sudah masuk ke babak final. Hanya perlu kemenangan satu kali lagi untuk bisa menjadi juara.


Bukan hanya tim Bintang. Namun tim yang dipimpin Langit pun sama. Keduanya sama-sama bertanding hari ini, hanya berbeda jam nya saja.


Bintang melihat sekeliling, mungkin hampir seluruh siswa sekolahnya datang untuk memberikan semangat pada dirinya dan timnya. Itu membuat semangatnya dan timnya semakin berkobar karena mendapat dukungan dari semua orang.


Lawannya kali ini tidak bisa diremehkan, hanya saja Bintang yakin akan kemampuan dirinya dan timnya.


Peluit panjang dibunyikan, pertarungan sengit dimulai. Skor terus berkejaran sedangkan waktu tinggal sedikit lagi.


Tim basket yang Bintang pimpin tertinggal, tidak terlalu jauh skor nya. Namun hanya beberapa detik lagi waktu usai.


Bintang bisa melihat wajah putus asa teman-temannya.


"Kita udah usaha maksimal guys, jangan menyesali apapun. Selagi kita udah berusaha". Bintang coba membesarkan hati teman-temannya yang mengangguk lemah.

__ADS_1


"Ayo dong guys..kita masih punya waktu. Gue percaya sama kemampuan lo semua.." Teman satu timnya menatap Bintang yang masih memiliki keyakinan besar.. Membuat semangat yang sempat meredup kembali berkobar.


Semua mengambil posisinya masing-masing. Dalam hati Bintang bertekad untuk menang. Apalagi ada ayah dan bunda serta kedua kakak dan kakak iparnya yang saat ini tengah menonton. Tak mungkin ia mengalah semudah itu.


"Come on Bintang!!", Gumam Bintang memecut semangatnya sendiri.


Disisi lapang yang lain, tampak Langit dan teman-temannya yang juga ikut berdebar menantikan hasil akhir pertandingan.


"Lo pasti bisa, Bin. Gue yakin". Gumam Langit yang matanya terus fokus pada Bintang.


priiit..


Bola sudah dilempar, ditangkap oleh Bulan dan langsung dioper pada Bintang. Waktu hanya menyisakan 10detik, jika Bintang membawa bola ke depan sudah pasti waktunya tidak akan cukup.


Bermodalkan keyakinan dan kemampuan yang ia miliki, Bintang melemparkan bola sekuat tenaganya kemudian mengepalkan tangannya, berharap lemparannya masuk dan membuat timnya menang.


Bintang mematung, suara gemuruh yang mengisi aula pertandingan tak membuatnya bergerak.


Tembakannya masuk, tim nya menang dengan skor tipis. Dan Bintang bisa melakukannya. Teman-temannya menghambur memeluk Bintang dengan penuh suka cita.


Dibangku penonton ada bunda yang menangis haru melihat bagaimana bakat hebat putrinya.


Ayah terlihat sangat bangga, seandainya bisa. Maka sekarang ayah akan meneriakkan nama Bintang. Membanggakannya sebagai putri bungsunya. Namun ia hanya bisa tersenyum bangga saja karena Bintang yang tak ingin diketahui siapa jati dirinya.


Teman-teman yang lain juga memeluknya. Membuat Bintang balas memeluk mereka dan mereka melompat bersama merayakan kemenangan timnya.


Telat sedikit saja, maka bisa dipastikan timnya akan kalah. Beruntung tembakan jauh Bintang masuk dengan sempurna kedalam ring lawan.


Langit tersenyum bangga. Keahlian Bintang memang tak perlu diragukan lagi. Kini tinggal dirinya yang harus bisa membuktikan kemampuannya.


--


Euforia kemenangan sangat terasa di SMA Taruna Bangsa, tempat Bintang bersekolah. Bagaimana tidak, kedua tim basket unggulan sekolah berhasil membawa pulang piala juara pertama.


Kepala sekolah memanggil kedua tim basket untuk naik ke podium saat upacara bendera diadakan.


Meskipun enggan, Bintang tetap maju. Dan mau tak mau, dirinya harus berdiri bersisian dengan Langit.


Suara tepuk tangan menggema memenuhi lapangan yang digunakan untuk upacara pagi itu. Banyak yang mengelu-elukan nama Langit dan Bintang. Memuji kemampuan mereka yang membuat timnya berhasil membawa pulang piala juara 1.


Kepala sekolah berdiri ditengah-tengah antara dirinya dan Langit saat akan pengambilan foto untuk kenang-kenangan.

__ADS_1


Bintang menyunggingkan senyum manisnya saat jepretan kamera mengarah pada dirinya dan Langit.


Ia dan Langit kompak mengangkat tinggi piala yang telah mereka menangkan. Sebagai hadiah, kepala sekolah menjanjikan pada seluruh tim basket juga pelatihnya untuk makan malam bersama sebagai bentuk rasa syukur atas pencapaian mereka.


Apa yang disampaikan kepala sekolah disambut antusias oleh seluruh anggota tim. Tapi tidak dengan Bintang yang sebenarnya merasa malas untuk hadir.


Bintang dan Langit kembali ke barisan setelah kepala sekolah selesai memuji kinerja mereka berdua. Sejak tadi Langit tak sedikitpun mengalihkan tatapannya dari Bintang.


Dari kejauhan Bima tersenyum. Sebagai sesama lelaki, ia tahu jika Langit menyimpan rasa pada Bintang. Pun sepertinya Bintang memiliki ketertarikan pada Langit. Namun entah mengapa Bima merasa Bintang memang sengaja menghindar.


Bima merogoh saku celananya, mengetikkan sesuatu dan mengirimkannya pada Bintang.


Bintang celingukan setelah membaca pesan yang dikirimkan Bima. Ia tersenyum kemudian mengangguk saat matanya bersitatap dengan mata Bima.


"Jangan cemberut, masa timnya menang malah monyong itu bibir. Ntar malem gw anterin". Itulah isi pesan yang Bima kirimkan pada Bintang


Bima tahu jika Bintang memang tidak terlalu menyukai acara-acara seperti itu. Meski terkesan santai, namun acara dengan kepala sekolah tetap saja terasa kaku untuk Bintang.


Langit yang melihat Bintang tersenyum dan mengangguk segera mengikuti kemana Bintang memfokuskan matanya.


Langit berulang kali menghela nafas untuk menekan rasa kesalnya. Ia yang pernah merasa percaya diri bisa mendapatkan Bintang tiba-tiba merasa hilang rasa percaya dirinya.


Semakin hari, Bintang justru semakin jauh. Semakin tinggi dan sulit untuk Langit gapai. Bahkan ia sudah mempersilahkan Sam untuk mengambil motor kesayangannya karena mengakui kekalahannya tidak bisa meluluhkan Bintang.


Seluruh siswa berhamburan saat upacara selesai. Bintang berjalan sendirian karena Bulan pergi ke kantin untuk membeli minuman.


"Hah.." Bintang kembali menghela nafas. Meskipun Bima sudah bersedia mengantarkan dirinya, namun Bintang masih merasa enggan untuk datang.


Jika ia datang, itu artinya dirinya akan bertemu dengan Langit. Bukan hanya itu, jika ini adalah ide kepala sekolah, sudah pasti putri manjanya akan ikut juga. Yang berarti Bintang juga harus bertemu dengan Catherine.


"Ah, males banget.." Gerutu Bintang berjalan sambil menunduk.


"Eh..." Bintang terkejut saat tiba-tiba tangannya ditarik seseorang yang tubuhnya disudutkan disalah satu tembok.


"Ehm!!". Bintang ingin berteriak dan memaki, namun bibirnya dibekap oleh orang yang menariknya.


Mata Bintang melebar saat melihat siapa yang membawa dirinya. Hati berdebar tak menentu, memikirkan apa yang akan lelaki didepannya lakukan pada dirinya.


"Gw lepasin..tapi jangan teriak". Bintang mengerjap lucu, mencoba menelaah apa yang terjadi saat ini. Wajah keduanya yang sangat dekat membuat Bintang bisa melihat betapa sempurna nya pahatan yang maha kuasa itu.


"Gue bakal lepas, tapi plis jangan teriak". Bintang mengangguk saja, ia ingin segera bertanya apa maksud laki-laki didepannya berbiat demikian.

__ADS_1


"Sorry.." Lirih laki-laki yang tak lain adalah Langit.


"Lo mau ap---" Ucapan Bintang mengambang saat bibir Langit menempel dibibirnya. Otaknya seolah kosong, tak bisa memikirkan apapun lagi.


__ADS_2