
Bintang dan Langit sudah duduk didalam gedung bioskop. Keduanya duduk bersebelahan sambil menunggu film siap diputar.
Bintang menoleh, menatap Langit yang terlihat tidak tenang. Sangat berbeda dengan saat mereka baru saja sampai di mall tersebut.
Lebih tepatnya, sebelum Langit bertemu dengan lelaki bernama Dion itu.
"Lang.." Panggil Bintang, namun sepertinya Langit tidak mendengar. Atau mungkin pemuda itu tengah melamun? Entahlah.
"Langit!!". Panggil Bintang lagi, namun masih sama saja seperti sebelumnya. Langit tak bergeming dan menatap lurus ke depan.
"Hish!". Kesal sendiri jadinya karena Langit malah melamun.
"Lang!!". Bintang berseru sambil menggoyang lengan Langit.
Dan berhasil, Langit seolah baru kembali ke kesadarannya. Laki-laki itu menatap Bintang yang juga tengah menatapnya dengan tatapan curiga.
"Apa? Kenapa? Lo butuh sesuatu?". Tanya Langit beruntun. Membuat Bintang semakin menatapnya curiga.
"Lo kenapa? Nggak enak badan?". Seperti biasanya, Bintang menjawab sebuah pertanyaan dengan pertanyaan.
"Hah? Kenapa? Gw??". Langit menunjuk wajahnya sendiri, dan Bintang mengangguk.
"Dari tadi pas masuk sini lo bengong mulu. Kenapa? Kalo nggak enak badan kita pulang aja". Langit langsung menggeleng cepat.
"Gw..gw lagi mikirin pelajaran tadi, tiba-tiba keinget". Bintang mencebik mendengar alasan Langit.
"Orang boong juga harusnya sambil dipikirin Lang". Cibir Bintang membuat Langit salah tingkah.
"Itu Bin, gw--"
"Sssttt..film nya mau mulai". Bintang sudah fokus pada layar besar didepan sana. Ia tidak akan memaksa Langit mengatakan apa yang sebenarnya terjadi.
Keduanya fokus pada layar besar didepan mereka yang belum menampakkan sesuatu hal yang menyeramkan. Karena Bintang memilih film bergenre horor saat Langit menanyakan perihal film apa yang ingin gadis itu tonton tadi.
"Kenapa sih sukanya nonton film horor begini. Yang romantis-romantis gitu kek, biar bisa kiss kiss". Gumam Langit yang berulang kali melirik Bintang yang fokus menatap layar.
"Mana nggak ada takut-takutnya gitu lagi. Kan nggak akan peluk-peluk gw jadinya". Masih terus bergumam sambil menatap wajah Bintang yang terlihat semakin bersinar karena terkena cahaya dari layar.
"Bin.." Bisik Langit yang sudah merapatkan tubuhnya. Ia sedikit mencondongkan tubuhnya ke arah Bintang.
"Hem.." Bintang hanya berdehem karena matanya fokus menatap layar.
"Bin.." Kembali Langit berbisik membuat Bintang berdecak. Namun meski begitu, ia tetap menjawab meski hanya berupa deheman.
"Bintang.." Memejamkan mata sesaat guna meredam kekesalannya pada Langit yang seperti sengaja mengganggunya yang sedang fokus pada film.
Bintang langsung menoleh, bersiap mengomel pada Langit. Namun semua yang sudah ada diujung lidahnya menguar begitu saja saat wajah Langit sudah berada tepat didepan wajahnya.
Hanya satu jengkal saja jarak diantara wajah mereka. Membuat Bintang kaget dan segera memundurkan wajahnya yang pasti sudah memerah saat ini.
__ADS_1
"Woi jangan mesum! Film kaya gini juga masih aja mesum!". Tiba-tiba terdengar suara dari bangku yang letaknya ada dibelakang Bintang.
Bintang panik, mencari sumber suara yang membuat penonton lainnya ikut bersuara hingga membuat ruangan menjadi sedikit gaduh.
"Pesen kamar sana kalo mau mesum!".
"Film horor kaya gini juga masih aja main sosor-sosoran".
Makin panik saja Bintang, ia melotot galak pada Langit dan siap berdiri karena merasa malu menjadi bahan pembicaraan penonton lain.
"Tau nih, bikin orang mau nonton risih!".
Eh tunggu, kenapa penonton yang ada dibangku depannya juga mengatakan hal demikian? Apa tadi dia menoleh ke belakang? Bintang berpikir sejenak.
"Huuuuu..." Sorakan terdengar saat dua pasang remaja dibangku depan berdiri dan berlari keluar gedung bioskop.
"Huft.." Bintang menghela nafas lega. Rupanya bukan dirinya yang menjadi bulan-bulanan penonton lain barusan. Tapi sepasang remaja yang duduk dibangku depan sana.
"Kenapa? Lo pikir kita ya?". Goda Langit dengan wajah tengilnya.
Bintang melirik Langit dengan tatapan mata tajam. Terlihat lebih menakutkan daripada film yang mulai menampakkan sosok-sosok menyeramkan didepan sana.
Langit membuat gerakan menutup mulut dan menguncinya, kemudian pemuda itu menatap lurus ke depan tanpa punya niatan untuk menggoda Bintang lagi.
"Aaah, kenapa serem banget sih kalo ngelirik gitu". Batin Langit yang masih saja gugup jika Bintang melirik atau menatapnya dengan tatapan tajam.
Suasana kembali hening setelah pasangan mesum itu keluar. Semua penonton kembali fokus pada film yang mereka tonton, termasuk Bintang dan Langit.
"Bisa kaget juga ni cewek liat setan". Gumam Langit yang melihat reaksi kaget Bintang saat tiba-tiba di layar menampakkan sosok menyeramkan.
Langit senyum-senyum sendiri sambil terus menatap wajah Bintang, jika ada yang tengah memperhatikannya, sudah pasti orang yang melihat akan mengira Langit kurang waras. Bagaimana bisa seseorang menonton film horor dengan wajah sesenang itu, bahkan senyumannya hampir tidak luntur dari wajah tampannya.
Dua jam berlalu, lampu bioskop menyala sempurna menandakan film usai.
Langit melihat Bintang menghela nafas panjang kemudian menghembuskannya perlahan. Membuat Langit kembali tersenyum.
"Serem ya, tapi kasian juga sih yang jadi setannya. Padahal cantik ya". Ucap Bintang yang tengah membicarakan film yang baru mereka tonton.
"Iya, cantik". Sahut Langit. Yang Langit maksud cantik adalah Bintang.
Dia mana tahu jalan ceritanya. Sepanjang cerita, Langit hanya fokus pada wajah Bintang saja. Jadi jika Bintang bertanya ini itu, Langit tidak akan bisa menjawabnya.
Bintang bicara panjang lebar, dan Langit hanya iya-iya saja sambil tidak mengalihkan pandangannya dari wajah Bintang.
Hanya mendengar jawaban iya-iya saja membuat kesal Bintang. Ia berdecak kesal karena sepertinya Langit tidak mengerti yang ia bicarakan.
"Ck! Lo ngerti nggak sih?". Tanya Bintang kesal.
"Iya, ngerti". Semakin kesal saja Bintang. Rasanya ingin menempeleng kepala Langit.
__ADS_1
"Awas. Lo mau ngerem disini? Tuh, orang-orang udah pada keluar". Bintang melirik pintu keluar, orang-orang sudah mengantri untuk keluar.
"Disini terus juga nggak apa-apa sih, Bin. Asalkan ama elo". Bintang memutar bola matanya mendengar gombalan Langit.
"Ck, awas-awas. Gw mau keluar! Lo aja sendiri ngerem disini, siapa tau bertelur emas lo entar". Bukannya marah, Langit justru tergelak mendengar ucapan Bintang yang ia anggap tengah membuat lelucon.
Akhirnya keduanya keluar dari gedung bioskop dengan raut wajah berbeda. Bintang dengan wajah masamnya, dan Langit dengan senyumannya.
Langit meraih tangan Bintang dan menggenggamnya. Sementara Bintang yang sudah terbiasa membiarkan Langit menggenggam tangannya.
"Kita makan dulu ya". Bahkan sebelum Bintang menjawab, Langit sudah lebih dulu menariknya menuju sebuah restoran western.
"Kenapa?". Tanya Langit saat Bintang menahan tangannya.
"Gw nggak mau makan disini. Mahal doang, kenyang kagak". Langit tertawa mendengar alasan Bintang menolak makan ditempat yang ia pilih. Memang dasar Bintang gadis yang unik.
"Terus mau makan apa?". Tanya Langit membuat Bintang berpikir sejenak sebelum memutuskan apa yang ingin ia makan.
Dan disinilah mereka saat ini, disebuah warung tenda yang pernah mereka kunjungi sebelumnya.
Langit menggelengkan kepalanya. Padahal dirinya mengajak makan direstoran yang cukup mewah. Tapi Bintang lebih memilih warung tenda untuk makan malam mereka.
"Nggak makan kalo belom makan nasi. Gw mana kenyang makan secuil daging". Ucapnya saat Langit menanyakan keseriusannya makan di tempat ini.
"Si eneng makin cantik aja". Puji si penjual saat Bintang menyapa sambil memesan.
"Mang Encep bisa aja. Mamang juga tambah ganteng". Keduanya lalu tertawa sebelum akhirnya Bintang kembali duduk disamping Langit.
Bintang menoleh kekiri dan kanan, kemudian menghela nafas panjang saat beberapa pasang mata terfokus pada seseorang yang tengah sibuk dengan ponselnya.
"Emang susah kalo jalan ama orang ganteng. Gantengnya suka nggak liat kondisi sama tempat. Nggak ditempat mewah, nggak pinggir jalan. Mukanya bikin orang lain gagal fokus". batin Bintang yang melihat beberapa pengunjung wanita tampak menatap kagum pada Langit.
Bintang melirik topi Langit yang diletakkan diatas meja. Diraihnya topi itu, kemudian tanpa berkata apapun, Bintang memakaikannya pada Langit. Membuat Langit yang tengah fokus berbalas pesan dengan Sam dan Roman tampak terkejut.
"Kenapa?". Tanya Langit bingung sambil menatap Bintang.
"Pake aja". Bintang tak mau menjelaskan apa alasannya meminta Langit memakai topi.
"Kan mau makan, kenapa pake topi?". Langit terus bertanya, tak melihat ada kilat yang siap menyambarnya dibalik punggung gadis itu.
"Pake aja nggak usah banyak nanya". Langit mengerjap, membiarkan topinya tetap dikepala saat melihat tatapan menusuk Bintang.
Sampai makanan yang mereka pesan datang, Langit tetap memakai topinya. Bahkan saat makan pun ia tetap memakai topinya karena Bintang tidak membiarkan dirinya melepas topinya.
"Besok lagi gw bawain topeng lo kalo jalan ama gw". Batin Bintang yang masih kesal. Apalagi melihat masih banyak pengunjung yang mayoritas wanita masih curi-curi pandang ke arah Langit yang tengah menikmati makanannya.
...¥¥¥•••¥¥¥...
...Dikasih kreji up langsyuuuung🤭☺️☺️☺️🥰...
__ADS_1
...Semoga readers suka ya☺️☺️...
...terimakasih buat dukungannya, sarangheo semua♥️😘😘😘☺️🥰💐♥️💋...