
Ruang rawat Bintang dipenuhi isak tangis bunda dan Kiran yang belum lama datang. Kedua wanita itu menangisi kondisi Bintang yang sebenarnya sudah lebih baik dibandingkan saat pertama masuk ke rumah sakit tadi.
Juna dan Dewa saling melirik. Saat ini kedua lelaki itu tengah berhadapan dengan sang ayah yang sejak tadi masih diam.
Namun diamnya sang ayah itulah yang membuat kakak beradik itu justru was-was. Takut jika tiba-tiba amarah ayah mereke meledak tak terkendali.
"Siapa pelakunya?".
"Dewa belum mencari tahu identitas lengkapnya yah. Yang pasti dia sudah di amankan pihak kepolisian". Sahut Dewa cepat.
Suhu ruangan yang tadinya dingin itu kini terasa panas bagi Dewa. Karena dirinya lah yang pertama mengetahui penculikan ini. Maka sudah pasti sang ayah akan mencecarnya dengan berbagai pertanyaan.
Ayah menghela nafas panjang. Dewa sudah menceritakan semuanya. Tapi ayah masih belum puas dengan jawabannya.
Ayah melirik putri kecilnya yang kini terlihat tengah menenangkan ibu dan kakak iparnya yang masih menangis. Tak pernah ia bayangkan hal ini akan menimpa putri kecilnya.
Ayah membayangkan betapa takutnya sang putri tadi saat diculik. Dan itu benar-benar membuat amarahnya ingin meledak saja saat ini.
"Bagimana kondisi Langit saat ini?". Tanya ayah yang mengingat cerita Dewa tentang keadaan Langit.
"Cukup parah". Ucap Dewa, mengingat banyaknya luka di wajah dan tubuh Langit. Bahkan pemuda itu kesulitan berjalan karena luka di kakinya. Entah diapakan kaki Langit oleh orang-orang yang menculik Bintang tadi.
"Bintang nggak apa-apa, bun. Udah dong, jangan nangis". Bintang mengelus lengan bunda.
Untung luka di wajahnya tidaklah serius, hanya luka kecil disudut bibirnya dan pipi yang sedikit memerah . Entah akan se histeris apa kakak ipar dan ibunda nya itu jika sampai wajah Bintang babak belur.
"Kenapa bisa sampai seperti ini sayang?", Tangis bunda masih belum reda. Ia benar-benar menyesali keputusannya membiarkan Bintang ke sekolah naik motor seorang diri.
"Harusnya tadi bunda melarang kamu naik motor. Ini salah bunda". Bintang menghela nafas sebelum bersuara.
"Ini musibah bunda. Memang harus seperti ini, mau seperti apapun kita mencoba menghentikan, kalau memang takdirnya Bintang harus mengalami ini, ya pasti akan mengalami bunda.." Bukannya mereda, tangis Bunda justru semakin keras.
"Sudah lah, bun. Jika kamu menangis seperti ini, lalu bagaimana anakmu itu istirahat? Yang ada malah kamu dikira pasiennya". Melihat wajah Bintang yang masih sedikit pucat membuat ayah kasian. Hingga mencoba membantu menghentikan tangisan bunda.
"Ish! Ayah masih bisa bercanda". Bunda mencebik kesal karena suaminya menggodanya.
"Maafkan bunda, nak". Bunda mengelus rambut Bintang kemudian mengecup kening putrinya.
"Bunda nggak salah..Bintang juga udah baik-baik saja". Bintang menggenggam tangan bunda guna meyakinkan sang ibu jika dirinya baik-baik saja.
"Orang mana yang berani nyakitin kamu dek? Mbak bener-bener pengen ngehajar tu orang". Melihat Kiran sudah mencak-mencek, Bintang justru terkekeh geli.
Setelah bunda sudah mampu meredakan tangisannya, kini justru kakak iparnya itu yang terlihat sewot.
__ADS_1
"Mbak Kiran nggak cocok marah-marah gitu". Kiran mendelik, memang dasar adik iparnya itu.
Sementara di kamar sebelah, Langit tengah menerima amukan sang ayah. Daddy Prabu benar-benar marah dan kecewa dengan adanya kejadian hari ini. Apalagi sampai melibatkan Bintang, hingga gadis itu terluka.
"Sejak dulu daddy sudah bilang, tinggalkan teman-teman mu itu dan pergaulan gila kalian! Lihat sekarang hasilnya!!". Bentak daddy Prabu
Langit yang sebenarnya masih harus istirahat memaksakan diri untuk duduk. Melihat amarah dan kekecewaan daddynya sudah menambah rasa penyesalannya.
"Maaf dad. Langit tahu, Langit salah". Langit menunduk.
"Dad..sudahlah". Mommy Sekar tidak tega melihat suaminya memarahi putra bungsunya.
"Ini karena mommy juga terlalu memanjakan Langit. Lihat dia sekarang!". Gantian mommy yang kena omel daddy.
"Ini salah Langit, dad. Jangan salahin mommy". Langit tidak bisa tinggal diam jika sang ibu ikut dilibatkan apalagi disalahkan.
Ini semua murni kesalahannya. Kenakalannya dulu lah yang membuat semua kejadian ini terjadi.
"Sekarang ceritakan bagaimana semua ini bisa terjadi?". Rupanya daddy Prabu belum tahu cerita lengkapnya. Ia hanya mendengar garis besar ceritanya saja dari asistennya.
Langit mulai menceritakan semuanya. Dimulai dari dirinya yang mendapat kiriman foto sampai pesan ancaman dari Dion.
Menceritakan semuanya tanpa ada yang terlewat, bahkan sampai saat Bintang melindungi dirinya dan akhirnya jatuh pingsan, dan..
plakkk!!!!
Langit hanya menoleh sekilas pada Bintang yang terlihat sangat terkejut melihat daddy Prabu menampar Langit begitu keras.
"Daddy apa-apaan sih! Luka di wajah Langit bahkan belum pulih". Mommy Sekar menatap tak suka pada suaminya.
Ia tahu, masalah ini terjadi karena kenakalan Langit dimasa lalu. Tapi Langit sudah sadar dan mengakui kesalahannya. Lantas mengapa masih diberi tamparan.
"Bahkan seharusnya aku menghajar anak ini!". Kilatan amarah terlihat jelas di mata daddy Prabu.
"Ayah.." Bintang mendongak menatap ayahnya yang mendorong kursi rodanya.
Ayah yang mengerti apa yang diinginkan Bintang kembali mendorong kursi roda anaknya agar lebih dekat dengan ranjang Langit.
"Kamu benar-benar membuat daddy malu!". Ucap daddy membuat Langit semakin tertunduk malu.
"Jangan dad, Langit nggak salah". Bintang segera membuka mulutnya saat melihat daddy Prabu terus menyudutkan Langit.
"Ini tidak akan terjadi padamu kalau dia mendengarkan daddy, Bintang". Daddy melirik sinis putranya.
__ADS_1
"Tapi Langit sudah menyelamatkan Bintang, dad. Langit juga sudah melindungi Bintang.." Bintang tahu pasti bagaimana perjuangan Langit tadi. Ia tak mungkin tinggal diam saat Langit terus disalahkan.
"Dewa yang menyelamatkan kamu. Dia tidak melakukan apapun. Tidak bisa diandalkan!". Sinis Prabu membuat mommy Sekar mendengus kesal. Ia sudah benar-benar kesal sekarang pada suaminya.
"Daddy kan nggak lihat gimana tadi Langit berusaha! Nggak usah terus-terusan disudutin juga dong!". Bunda yang juga ikut ke ruangan Langit mengelus lengan mommy Sekar yang terlihat ikut terbawa emosi.
"Buktinya Bintang terluka. Bahkan Bintang yang melindungi Langit. Apa---"
"Sudah cukup. Ayo bicara di luar". Ayah menepuk pundak daddy Prabu. Mencegah sahabatnya itu untuk meneruskan apa yang ingin dikatakan pada anak lelakinya itu.
"Ayo jeng..kita biarkan mereka dulu". Bunda menepuk lembut lengan mommy Sekar.
Dan akhirnya kini hanya tinggal Bintang dan Langit diruangan itu. Sementara para orang tua tengah berbicara diluar ruang rawat. Entah apa yang mereka bicarakan. Bintang tidak peduli.
"Lo mau apa?". Langit segera turun dari ranjang saat melihat Bintang berdiri dari kursi rodanya.
"Lo duduk aja.." Langit kembali meminta Bintang duduk, kemudian ia berjongkok didepan Bintang dengan bertumpu pada kursi roda.
"Sakit ya?". Langit seolah kehilangan kata saat tangan lembut Bintang mengelus pipinya. Tepat dimana daddy menamparnya.
"Pasti sakit banget ya.." Tangan Bintang terus mengelus pipi Langit yang masih terlihat memerah.
Bintang tidak mengerti, mengapa daddy Prabu tega menampar Langit. Padahal pipi dan hampir seluruh wajah Langit sudah dipenuhi luka.
Langit tersenyum melihat raut wajah khawatir yang ditunjukkan Bintang. Jika dengan terluka seperti ini dirinya bisa mendapat perhatian Bintang, maka Langit rela jika harus terluka.
Digenggamnya tangan Bintang yang masih ada dipipinya. Mata gadisnya itu sudah memerah, pun dengan pucuk hidungnya. Terlihat sangat menggemaskan.
"Gw nggak apa-apa, Bin. Wajar kalo daddy marah dan kecewa sama gw". Ucap Langit yang kemudian membawa tangan Bintang ke bibirnya untuk ia kecup.
"Lo terluka gara-gara gw. Harusnya gw dipukul, bukan cuma ditamp--" Bintang menempelkan jari telunjuknya dibibir Langit. Ia tidak suka Langit menyalahkan dirinya atas apa yang menimpanya kini.
Baginya, Langit sudah berjuang untuk dirinya. Bahkan tidak peduli dengan keselamatannya sendiri hanya untuk menyelamatkan Bintang. Itu yang Bintang yakini.
"Lo udah nolongin gw. Itu yang gw tau, Lang.." Keduanya saling menatap dengan sorot mata yang sama.
Langit tersenyum meskipun merasa sakit saat ia menarik dua sudut bibirnya. Ia mengusap pucuk kepala Bintang penuh kelembutan. Membuat Bintang ikut tersenyum.
"Lihat, aku rasa kita tidak perlu menjalankan ide mu itu". Diluar ruangan, daddy dan ayah tengah menatap kedua anak muda itu lewat kaca pintu.
"Tidak Hen. Aku akan tetap melakukan apa yang sudah aku katakan". Terlihat kukuh dengan keputusannya. Entah keputusan apa yang dimaksud daddy Prabu. Karena ayah hanya bisa menghela nafas panjang setelahnya.
...¥¥¥•••¥¥¥...
__ADS_1
...Satu dulu ya manteman🙏🏻 Incess nya othor lagi sakit..doakan mudah-mudahan anaknya othor cepet sembuh ya, biar othornya bisa kasih kreji up lagi buat readers☺️🙏🏻🥰...
...Oke, happy reading semua😘😘😊 Sarangheo banyakbanyak♥️💋💐🥰😘😘...