
Kehebohan karena ceo baru tak berhenti hanya dalam satu hari. Bahkan kini para karyawati di kantornya sengaja membuat grup khusus pengagum ceo Anggara.
Ya, tidak ada yang memanggil ceo mereka dengan nama Langit. Karena sejak awal dikenalkan, nama nya adalah Anggara.
Hampir setiap hari semua orang membicarakan ceo baru mereka. Tentang kepribadiannya yang terkesan dingin justu membuat para pengagumnya semakin menggilainya.
Awalnya Bintang mencoba acuh, bahkan tidak pernah membuka grup khusus itu. Namun lama-lama penasaran juga rasanya dengan apa yang dibicarakan oleh teman-teman kantornya tentang Langit.
Bintang dibuat terperangah dengan isi didalam grup. Semua foto candid yang diambil secara diam-diam dari segala penjuru.
Dan s*alnya, Langit tetap terlihat tampan dan menawan dari sisi manapun fotonya diambil. Jangan tanyakan bagaimana komentar yang ada saat seseorang meng upload foto Langit. Jelas hanya ada pujian dan pujian saja yang ada didalam grup.
Gatal sekali rasanya jemari Bintang. Ingin mengetikkan sesuatu tentang si mantan biawak itu. Namun ia masih sayang pada pekerjaannya. Ia tak ingin dihajar ramai-ramai oleh para pengagum Langit.
"Nggak dulu, nggak sekarang..dimana-mana sukanya tebar pesona". Mencibir dan menggerutu saat membaca komentar orang-orang tentang penampilan Langit hari ini. Penampilan yang tidak pernah gagal membuat kaum hawa menjerit tertahan.
Bintang pun tidak munafik, ia pun mengakui ketampanan dan pesona Langit yang semakin menonjol dengan semakin bertambahnya usia.
Jika dulu wajah tampan Langit masih terlihat sedikit imut, kini ketampanannya berkali lipat lebih mempesona lebih pada kharismanya yang semakin menonjol.
Ini sudah berjalan satu minggu semenjak Langit menjabat sebagai ceo. Dan selama satu minggu ini pula Bintang berhasil menghindar dan tidak pernah bertemu Langit.
Namun sepertinya pagi ini nasib baik sedang tidak berpihak padanya. Karena saat Bintang sampai diruang kerja nya, ceo dan direkturnya tengah berada didekat meja kerja nya.
Ingin kabur, namun sayang..Alva lebih dulu melihatnya dan memanggil dirinya. Hingga mau tidak mau dirinya harus mendekat.
"Bintang.." Gadis itu memejamkan matanya. Padahal hanya tinggal sedikit lagi bisa kabur. Tapi Alva malah memanggilnya.
"Kak Alva.." Geram Bintang dengan suara lirih rendah.
Perlahan membalikkan tubuhnya dan memberikan senyum bisnis pada semua orang yang ada disana.
"Ini dia Bintang. Designer yang pernah saya ceritakan sebelumnya". Direktur memperkenalkan Bintang pada ceo baru mereka.
"Nggak usah dikenalin juga udah tau, pak. Nggak liat tuh, senyumnya udah ngeselin gitu". Mencibir Langit yang terlihat menyunggingkan senyum penuh makna.
"Bintang, beliau ini tuan Anggara. Ceo baru perusahaan kita, kamu sudah tahu kan?", Kini beralih menatap Bintang yang langsung mengangguk.
"Tentu saja saya sudah tahu, pak". Tersenyum meski jelas nampak dipaksakan senyumnya.
"Selamat pagi tuan Anggara". Menyapa Langit yang terlihat mengulum bibirnya saat melihat Bintang memaksakan diri menyapanya.
"Selamat pagi, nona Bintang". Melirik cepat saat Langit menyahutinya dengan memanggilnya nona.
"Permainan apalagi yang mau kamu buat hah?!", Ingin melontarkan pertanyaan itu, namun takut jika seluruh isi ruangan pingsan karena pertanyaannya yang terlampau berani. Ah bukan, lebih pada kurangajar.
Akhirnya hanya menelan bulat-bulat semua tanya juga makian yang sudah ada di ujung lidahnya.
"Tuan Anggara merasa terkesan dengan design perhiasan yang kamu buat. Beliau secara khusus meminta kamu dan Alvaro untuk mendesign perhiasan untuk seseorang".
__ADS_1
bla..bla..bla..
Bintang tidak fokus pada semua yang dibicarakan oleh direkturnya. Ia ingin segera enyah dari tempat dimana ada Langit.
"Nggak bisa apa ngomong sendiri. Kenapa harus direktur yang jadi juru bicaranya sih". Malah menggerutu sambil terus mencibir Langit.
"Ini permintaan khusus beliau.."
"Bagaimana Bintang?". Tergagap saat direktur bertanya padanya.
"Bagaimana? Memang apanya yang bagaimana??", Bertanya pada dirinya sendiri.
Merutuki dirinya sendiri yang tidak fokus dan malah sibuk mencibir Langit yang sejak tadi tak lepas menatap dirinya.
"Kami akan mendiskusikannya dulu, pak. Kami akan segera mengabari saat sudah memiliki keputusan". Bernafas lega saat dewa penolongnya langsung angkat bicara.
"Bagaimana tuan?". Tanya direktur pada Langit yang langsung merubah ekspresi wajahnya saat Alva yang berbicara.
"Saya tunggu keputusannya siang ini.." Langsung pergi setelah mengatakannya. Membuat Bintang bisa bernafas lega.
"Aw..aw.." Lepas dari Langit, Bintang dihadapkan dengan Alva yang menarik telinganya.
"Kakak, sakit.." Masih mengaduh karena Alva belum melepaskan tangannya dari telinga Bintang.
"Nakal ya, mau main kabur-kaburan lagi. Terus biarin aku sendiri yang ngadepin ceo baru sama direktur rese". Meski tak benar-benar menjewer telinga Bintang, namun melihat Bintang meringis membuatnya langsung melepaskan tangannya dari telinga Bintang.
"Lagian kenapa nggak fokus sih". Bintang menghela nafas panjang dan meminta maaf pada Alvaro.
"Tapi kak, ngomong-ngomong ngapain itu ceo baru tadi berdiri didekat meja kerja aku?", Tanya Bintang yang sejujurnya penasaran.
"Oooh, tadi itu liat beberapa hasil design kamu". Menjawab sambil melirik meja kerja Bintang yang berantakan dengan kertas berserakan diatasnya.
"Makanya kalo pulang itu meja diberesin dulu, cantik.." Segera menyela saat Bintang hendak protes.
Bintang duduk di kursi kerja nya. Jantungnya masih berdetak cepat setelah bertemu Langit. Masih saja berdebar padahal dirinya ingin membenci Langit.
"Kakak.." Alva yang sudah duduk dikursi kerja nya menoleh menatap gadis yang baru saja memanggilnya.
"Tadi direktur ngomong apa sih kak?". Alva membawa kursi kerja nya merapat ke meja kerja Bintang.
Tangannya terulur menoyor pelan kepala gadis yang sampai saat ini masih ia sukai, bahkan mungkin ia cintai.
"Aw, kenapa sih?". Tanya Bintang dengan wajah polosnya. Membuat Alva kesal sekaligus gemas pada gadis itu.
"Makanya jangan mikirin dia mulu.." Mencibir Bintang yang langsung mendengus kesal.
"Ceo baru kita mengapresiasi hasil design kita selama ini,--"
"Itu sih aku udah denger kak". Potong Bintang membuat Alva gemas bukan main.
__ADS_1
"Yang abis itu aku nggak denger". Kembali nyengir menampakkan deretan giginya pada Alva yang langsung menggeleng pelan.
"Intinya, kita disuruh bikin design satu set perhiasan buat seseorang". Terang Alva yang langsung bisa melihat dahi Bintang berkerut.
"Seseorang?", Bergumam sendiri dengan pikiran berkelana entah kemana.
"Satu minggu.." Bintang menatap Alva saat pria itu kembali berbicara.
"Apanya??". Bertanya dengan wajah bingung yang membuat Alva menepuk keningnya. Sepertinya gadis didepannya ini benar-benar tidak mendengarkan apapun yang dikatakan oleh direktur mereka tadi.
"Kamu bener-bener nggak dengerin direktur ngomong tadi?". Menggeleng polos hingga membuat Alva rasanya ingin berteriak sambil menggigit kepala Bintang.
"Astaga, boleh nggak sih gigit kepala kamu?". Bertanya juga akhirnya karena terlalu gemas.
Dan jelas saja Bintang menggeleng sambil menutupi kepalanya dengan kedua tangannya saat Alva terlihat benar-benar gemas bercampur kesal padanya.
"Aaa, ampun kak..ampun". Berteriak meski tidak terlalu keras saat Alva memegangi kepalanya dengan kedua telapak tangannya yang besar.
"Gemes banget pengen gigit kamu". Hanya bercanda, Alva tak akan tega benar-benar menggigit Bintang.
"Aaa, iya-iya ampun..." Memohon ampun karena sadar jika dirinya bersalah. Bersalah karena tidak fokus mendengarkan arahan direkturnya dan justru sibuk memaki dan mencibir Langit dihatinya.
"Besok-besok nggak akan diulangin lagi deh, janji". Berjanji sambil terus menutupi kepalanya yang masih dipegangi oleh Alva.
Sibuk dengan dunia mereka, Alva dan Bintang tidak menyadari jika direktur dan ceo mereka kembali ke ruangan mereka untuk memberi pengarahan yang belum sempat tersampaikan.
"M-maaf tuan, saya akan menegur mereka". Melihat aura membunuh di wajah ceo nya. Direktur berniat menegur Bintang dan Alva. Meski tak tahu mengapa tiba-tiba wajah ceo nya berubah mengerikan setelah melihat kedekatan Alva dan Bintang.
"Tidak perlu.." Cegah Langit yang sekuat tenaga menahan kaki nya untuk tidak melangkah mendekati Bintang.
"Ah, b-baik tuan". Direktur yang sudah melangkah mendekat mengurungkan niatannya.
"Apa mereka memang selalu sedekat itu?". Bertanya dengan mata yang masih terus fokus pada Bintang dan Alva yang terlihat sangat dekat. Membuat hatinya panas terbakar api cemburu.
"M-mereka berada di satu tim unggulan tuan. Mereka selalu menghasilkan product yang diminati konsumen jika bekerjasama. Mungkin karena itulah mereka selalu dekat, karena pekerjaan yang mengharuskan mereka selalu berkomunikasi.." Menjelaskan meski bingung mengapa ceo baru nya begitu penasaran dengan karyawan biasa seperti Bintang dan Alva.
"Sampaikan saja apa yang belum sempat aku sampaikan tadi". Berbalik dan melangkah menjauh dari ruangan dimana Bintang dan Alva masih terdengar tertawa bersama.
Direktur kembali mengangguk sambil mengiyakan. Menatap punggung Langit yang menjauh kemudian menatap Alva dan Bintang yang masih asyik dengan dunia mereka sendiri.
"Ah bikin pusing saja.." Gerutunya sambil berlalu dan kembali ke ruang kerja nya.
"Tidak akan aku lepaskan..!".
...¥¥¥•••¥¥¥...
...Panasnya nyampe situ nggak readers?? Aku ikut kepanasan nih loh😂😂...
...sabar-sabarin aja pokoknya mah Lang, namanya juga nggak sadar kalo diliatin🤭 coba kalo tau kamu liatin, auto ngibrit si Bintang😂😂🤣...
__ADS_1
...Happy reading semua🥰 satu dulu ya, otak udah ngebul aja😂😂🙏🏻...
...Sarangheo😘😘🥰♥️💐💐💐🤲🏻...