
Bulan dan Catherine terus beradu argumen, Keadaan kian memanas karena Catherine yang terus mengolok Bintang dan memprovokasi murid lain untuk membenci Bintang.
"Kasian banget sih lo, Cath. Rela ngelakuin apa aja demi ngejatuhin Bintang". Sinis Bulan membuat Catherine meradang.
"Lo itu kan temennya Bintang. Jadi pasti lo belain dia! Atau jangan-jangan lo sama aja kaya dia? Jadi simpenan pria beristri buat ngeruk duitnya?", Tawa mengejek Catherine benar-benar seperti bensin yang dituangkan diatas api.
"Jaga mulut lo ya!!". Bulan mendorong tubuh Catherine karena sudah terlampau kesal sejak tadi Catherine menghina sahabat baiknya.
"Apa?! Lo nggak terima?!", Catherine balas mendorong Bulan dengan keras.
Hingga akhirnya aksi dorong-dorongan itu berlanjut dengan saling menarik rambut lawannya.
"Udah Bulan..udah cukup". Nindi yang ada disana coba menarik mundur Bulan.
"Dasar orang-orang miskin nggak tahu diri!!!", Catherine mendorong keras Bulan hingga gadis itu limbung dan akhirnya kakinya terkilir karena tubuhnya tidak seimbang.
"Dasar nggak guna!". Sinis Catherine yang merapikan rambutnya dan melenggang pergi, meninggalkan Bulan yang merintih kesakitan karena kakinya yang terkilir.
"Lo masuk duluan ya, gw mau ke depan dulu". Pamit Langit pada Bintang. Keduanya baru saja sampai disekolah.
Bintang mengangguk dan membiarkan Langit pergi keluar gerbang sekolah. Entah mau apa pemuda itu, Bintang tidak tahu dan tidak ingin tahu.
Bintang berjalan tenang seperti biasanya. Hanya pandangan mata dari beberapa siswa yang berkumpul didepan kelasnya masing-masing serta beberapa yang berpapasan terasa aneh bagi Bintang. Mereka menatap Bintang dengan tatapan yang, entah Bintang tidak paham. Benci kah? Atau jijik kah arti pandangan itu? Bintang tidak tahu. Yang pasti tidak ada tatapan bersahabat yang ditujukan untuk Bintang.
Bintang yang memang tidak terlalu peduli pandangan orang lain memilih acuh saja dan terus berjalan menuju kelasnya.
Namun saat melihat kerumunan didepan mading, membuat Bintang mengurungkan niatnya untuk langsung pergi ke kelasnya.
"Bulan!!". Teriak Bintang yang melihat Bulan duduk dilantai sambil memegangi pergelangan kakinya.
Bintang berjalan cepat menghampiri Bulan yang terlihat kesakitan. Tak peduli beberapa irang berbisik membicarakan dirinya.
"Lo kenapa?". Tanya Bintang panik melihat pergelangan kaki Bulan bengkak dan memerah.
"Kaki lo kenapa?". Tanya Bintang karena Bulan masih diam saja.
"Nin.. Kenapa Bulan bisa kaya gini?". Tanya Bintang pada Nindi yang juga berjongkok disamping Bulan.
"Itu Bin..ehm.." Nindi ragu memberitahu Bintang tentang masalah yang baru saja menimpa Bulan dan apa alasan dibaliknya.
"Foto-foto ini beneran elo Bin?". Seorang siswi bertanya sambil menunjuk mading yang saat ini terpajang foto-fotonya dan Dewa. Foto hari kemarin saat dirinya menemani sang kakak membelikan hadiah untuk istrinya.
Bintang berdiri, melihat foto-foto dirinya. Lalu kenapa? Memang apa salahnya pergi bersama kakaknya?
Sepertinya dia lupa jika tak seorangpun tahu jika dirinya adalah putri seorang Laksmana.
__ADS_1
"Jadi beneran ini elo?". Tanya yang lain tak percaya. Awalnya mereka mengira ini hanya ulah Catherine yang memang membenci Bintang, namun diamnya Bintang kini membuat mereka mau tak mau mempercayai foto yang ada didepan mereka.
Bintang tidak memperdulikan foto-foto itu. Yang jadi fokusnya adalah Bulan yang tengah terluka.
"Lo kenapa sih bisa kaya gini". Bintang membantu Nindi memapah Bulan untuk dibawa ke ruang kesehatan.
"Si kucing bikin gw emosi. Bisa-bisanya dia pajang foto-foto elo". Bulan akhirnya bersuara. Setelah sadar, ia langsung menutup raat mulutnya. Apalagi saat melihat awan gelap sudah mengelilingi Bintang.
"Jadi ini ulah Catherine?". Bintang melepaskan rangkulannya. Berdiri didepan Bulan dan bertanya dengan wajah yang sudah menjelma menjadi seperti pemburu.
"Ng-nggak, gw tadi--itu gw tadi". Bulan tergagap sendiri. Takut melihat wajah Bintang yang terlihat sangat marah.
"Bodoh..bodoh..bodoh!!! Lo gimana sih Bul, ini bakal kaya kejadian pas lo SMP lagi". Batin Bulan yang merutuki bibirnya sendiri yang kelepasan memberitahu Bintang tentang penyebab lukanya.
"Bintang!!! Lo mau kemana?!!". Bintang sudah melepaskan tas miliknya, membiarkannya tergeletak di lantai. Bahkan tak mendengarkan teriakan Bulan yang memanggil namanya.
"Aduh bahaya.." Bulan jadi panik sendiri. Membuat Nindi yang tengah memapahnya ikut panik.
"Bahaya kenapa Bul??", Tanya Nindi
"Bintang!!! Gw tadi jatoh sendiri!!", Bulan masih coba berteriak, bahkan ia yakin Bintang masih mendengarnya. Namun sepertinya Bintang tak percaya.
"Lo jangan bikin gw panik juga dong". Nindi jadi ngomel sendiri karena Bulan membuatnya benar-benar panik sekarang.
"Tapi lo gimana??", Nindi bingung sendiri, tak mungkin ia meninggalkan Bulan sendirian.
Sementara para siswa yang lain hanya menyaksikan tanpa ada niatan untuk membantu kesusahan mereka.
"Lo kenapa?". Tanya Sam yang kini sudah ada didepan Bulan.
Kehadiran Sam benar-benar menjadi penolong bagi Bulan. Tak banyak waktu sebelum Bintang menggila dan membuat gempar seisi sekolah.
"Dimana Langit??". Tanya Bulan yang membuat Sam menatapnya tak suka.
"Buruan mana Langit?!!". Suara Bulan meninggi, apalagi sosok Bintang sudah tak terlihat oleh matanya.
"Didepan". Sahut Sam ketus, perhatiannya hanya tertuju pada kaki Bulan yang terlihat memerah dan sedikit bengkak.
"Cepet Nin!! Susulin Langit, gw nggak bisa bayangin apa yang bakal kejadian kalo Bintang nemuin si kucing duluan", Bulan benar-benar panik kini. Membayangkan kegilaan seperti apa yang akan Bintang lakukan.
"Tapi lo gimana?". Nindi serba salah, jika melepaskan Bulan, sudah pasti temannya itu akan jatuh.
"Biar dia sama gw". Sam sudah merangkul pundak Bulan. Membuat Nindi mengangguk dan bergegas lari untuk mencari Langit yang kata Sam ada didepan.
Sambil berlari, Nindi berfikir. Kenapa harus dirinya yang berlari begini?? Kenapa bukan Sam saja tadi yang mencari Langit dan dirinya menjaga Bulan?
__ADS_1
"Ah bodo amat lah.." Ucap Nindi mempercepat larinya.
Sementara Nindi berkejaran dengan waktu untuk mencari Langit. Bintang membawa langkah kakinya untuk mencari keberadaan Catherine.
Saat semua orang membicarakan tentang dirinya dan menyebutnya gadis murahan, Bintang tidak peduli. Yang jadi fokus nya adalah kenapa Bulan terluka. Dan Catherine lah alasan Bulan terluka.
"CATHERINE!!!!!". Teriak Bintang mengagetkan seisi kelas. Bintang berjalan cepat ke meja Catherine yang nampak terhenyak melihat wajah Bintang yang penuh amarah itu.
Jika saja boleh jujur, kini dirinya merasa takut dengan apa yang akan Bintang lakukan terhadap dirinya.
Braakkk!!!
Bintang menggeser meja yang ada didepan Catherine hingga membentur meja yang lain. Gadis yang tadi terlihat sangat sombong dan senang karena merasa berhasil membuka aib Bintang itu kini terlihat pucat pasi.
"Apa yang udah lo lakuin?!". Tanya Bintang masih mencoba mengontrol dirinya untuk tidak berbuat kasar.
"Apa? Emang apa yang gw lakuin?!". Bahkan saat takut pun, Catherine mencoba menantang.
"Lo apain Bulan?". Catherine sedikit terhenyak. Ia pikir Bintang marah karena foto-foto yang ia tempel, tapi rupanya ini tentang Bulan. Heuh, sesuatu yang menarik, bagi Catherine.
"Lo apain Bulan hah!!!!". Bentakan Bintang kembali membuat Cath berjingkat.
"Ikut gw!". Tangan Catherine sudah dicekal oleh Bintang.
"Lo apa-apaan sih!", Catherine menghempaskan tangannya, namun cekalan Bintang terlalu kuat.
"Ikut gw, atau gw seret lo!". Ancaman Bintang tidak main-main. Namun Catherine masih mencoba berontak.
"Gw nggak mau! Lo semua pada bantuin gw dong!". Teriak Catherine menatap teman-teman satu kelasnya yang hanya diam menyaksikan.
Mereka belum pernah melihat Bintang yang seperti saat ini. Terlihat penuh amarah dan mengerikan.
"Ikut gw! Lo harus minta maaf sama Bulan!". Bintang menarik Catherine, memaksanya untuk mengikuti Bintang.
"Gw nggak mau! Lepasin! Dasar cewek murahan!".
Bintang langsung menghentikan langkahnya saat Catherine mengatai dirinya.
"Lepasin gw!! Gw jijik dipegang sama sugar baby kaya elo!". Suara nyaring Catherine berhasil membuat semua orang memusatkan perhatian mereka pada Bintang.
"Gw nggak peduli. Lo harus minta maaf sama Bulan, atau lo juga harus ngerasain apa yang dirasain Bulan". Jujur Catherine sangat takut, apalagi melihat sorot mata Bintang saat ini.
"Nggak mau!!",
Plakkk!!!!!
__ADS_1