Langit Untuk Bintang

Langit Untuk Bintang
Doa sahabat


__ADS_3

"Sudah sayang.." Bunda memeluk tubuh Bintang.


"Langit jahat, bunda..dia pergi tinggalin Bintang". Suara Bintang terdengar parau akibat diselingi tangis.


"Dia tidak jahat..Langit sedang berjuang untukmu nak". Bunda terus mencoba menenangkan putrinya yang masih menangis.


Bunda menatap ayah dan juga daddy serta mommy yang berdiri mengelilingi mereka. Ayah memejamkan sejenak matanya dan menganggukkan kepalanya perlahan. Memberi isyarat agar bunda membiarkan saja Bintang menangis.


Tadi, sebelum Langit benar-benar pergi. Langit sempatkan menghubungi ayah, memberitahu posisi Bintang dan kondisinya. Bahkan Langit memantau dari jauh sampai kedua orang tua Bintang sampai. Ia baru benar-benar pergi setelah ada yang menjaga Bintang.


Bukan hanya Bintang, Langit pun tak kuasa menahan tangisnya. Bahkan selama berada didalam ruang tunggu air matanya tak henti mengalir.


Hingga kini dirinya sudah ada didalam pesawat pun air mata itu tak kunjung surut. Ini bukan hal yang mudah. Namun Langit memantapkan diri dan hatinya.


Setelah cukup lama membiarkan Bintang menangis. Ayah dan bunda pamit pada kedua orang tua Langit untuk membawa Bintang pulang.


Dan disinilah Bintang sekarang, didalam kamarnya. Gadis itu tertidur begitu lelap. Terlalu lelah menangis membuatnya jatuh tertidur.


"Pasti sulit sekali dilewati". Gumam Naura yang masih didengar anggota keluarga yang lain.


"Kasian Bintang.." Kiran menimpali. Membayangkan berada diposisi adik iparnya saja sudah mampu membuatnya menangis.


Ditinggalkan saat sudah saling mencintai. Meskipun alasannya demi kebaikan bersama, tetap saja rasanya menyakitkan sekali.


Semua tampak diam termenung dengan segala isi pikiran mereka masing-masing. Hanya satu yang pasti, nama Bintang lah yang menjadi inti pemikiran mereka.


----


Sore itu Bulan datang ke rumah Bintang. Perihal kepergian Langit, Bulan sudah tahu dari Samudra. Bahkan saat ini pun Sam lah yang mengantar Bulan kerumah Bintang.


"Gw pulang dulu ya.." Pamit Sam yang dijawab anggukan kepala oleh Bulan.


Pikiran Bulan sudah tidak fokus. Yang ia pikirkan saat ini adalah kondisi sahabatnya.


Baru beberapa hari lalu gadis itu bercerita pada Bulan tentang perasaannya pada Langit dan rencananya untuk jujur dan membalas perasaan Langit.


Dan kini?? Bahkan bunga cinta mereka belum sempat bermekaran. Tapi sudah layu bahkan gugur.


Tak bisa Bulan bayangkan seperti apa hancurnya hati gadis cantik itu.


"Hati-hati dijalan, Sam". Sam mengangguk


"Masuk dulu sana". Melambaikan tangannya pada Sam lalu masuk kedalam rumah Bintang.


Sam baru meninggalkan rumah Bintang setelah memastikan Bulan masuk ke dalam rumah.

__ADS_1


Tak berbeda jauh seperti Bintang yang terkejut dengan kepergian Langit, Sam dan Roman maupun Arsen pun sama terkejutnya saat Langit mengatakan dirinya akan pergi.


Ketiganya sempat tidak menyetujui, namun mendengar alasan Langit, akhirnya yang bisa mereka lakukan hanya mendukung Langit.


"Lo yakin mau pergi? Masih ada gw disini Lang, jadi jangan salahin gw kalo gw rebut Bintang". Ucapan Arsen masih terngiang dikepala Sam hingga kini.


Sam tahu, Arsen tidak benar-benar serius dengan ucapannya. Sepertinya pemuda itu hanya ingin menggoyahkan keinginan Langit untuk pergi. Namun jawaban Langit justru membuat semua tak bisa berkata-kata.


"Gw lebih tenang kalo lo mau deketin Bintang. Tapi jangan salahin gw juga kalo sepulangnya gw nanti, gw bakal rebut balik Bintang dari elo". Meskipun terdengar bercanda, namun ketiganya yakin jika Langit serius dengan semua ucapannya.


Sam menggelengkan kepalanya dan kembali fokus pada kemudinya.


"Rumit banget urusan cinta elo, Lang", Gumam Sam yang melajukan kendaraannya menjauh dari kediaman Laksmana.


Sementara itu, kedatangan Bulan sudah dinantikan oleh Bunda. Saat Bulan masuk, bunda sudah menunggunya.


"Ah..akhirnya kamu datang nak.." Bulan tersenyum sedih, terlihat jelas kekhawatiran dimata bunda.


"Bintang dimana bunda?". Tanya Bulan


"Dikamar. Sejak pagi dia hanya di kamar, bahkan tidak mau makan". Lirih bunda sedih.


"Masih nangis bun?". Tanya Bulan khawatir.


"Sudah enggak. Tapi justru itu yang bikin bunda khawatir, Bulan. Bunda lebih tenang kalau melihat Bintang menangis dan meluapkan perasaannya". Menghela nafas panjang, seolah ada yang mengganjal di hati bunda.


"Tentu saja..cepat temui Bintang, nak. Tolong bujuk dia supaya mau makan juga ya.." Pinta bunda penuh harap dimatanya. Membuat Bulan mengangguk meski sedikit ragu.


Bulan meninggalkan bunda yang masih menatapnya menaiki anak tangga satu persatu untuk membawanya ke kamar sahabatnya.


Beberapa kali Bulan menoleh pada bunda, dan wanita paruh baya itu hanya memberi senyum tipisnya sambil mengangguk.


Bulan menghela nafas panjang saat sudah berdiri didepan pintu kamar Bintang. Ia bingung sendiri harus bagaimana.


"Ketuk dulu apa langsung masuk??". Gumam Bulan


"Kalo nggak lagi kaya begini sih langsung masuk. Tapi kan hatinya Bintang lagi potek, nggak apa-apa gitu kalo gw ujug-ujug masuk". Masih bergumam sendiri hingga tidak menyadari pintu kamar terbuka dan menampakkan Bintang yang terlihat sangat berantakan.


"YAAAAKKK!!!!", Keduanya sama-sama berteriak dan mundur beberapa langkah karena sama-sama terkejut.


"Bikin gw kaget lo!". Ucap keduanya kompak.


"Lo yang bikin gw kaget!", Lagi, kalimat yang sama meluncur dari bibir keduanya.


"Hish.." Mendesis pun bisa kompak. Memang sepertinya keduanya lebih cocok menjadi anak kembar sih.

__ADS_1


"Bin, are you okay??", Tanya Bulan setelah melihat jelas penampilan sahabatnya.


"No..gw nggak baik-baik aja, Bul", Air mata yang sejak tadi Bintang tahan kini kembali keluar setelah melihat keberadaan Bulan.


"It's oke, lo boleh nangis..sekarang ada gw". Bulan menarik Bintang ke dalam pelukannya. Berpelukan didepan pintu hingga seluruh anggota keluarga yang lain bisa melihat.


Awalnya mereka ingin melihat Bintang dan Bulan setelah mendengar teriakan keduanya. Namun melihat Bintang menangis dalam pelukan Bulan, ayah meminta semua kembali turun.


"Sudah ada Bulan. Kita percayakan padanya sekali lagi". Mungkin itu arti tatapan ayah yang bisa ditangkap anggota keluarga yang lain.


"Bin, sorry. Bukan gw mau ngerusak moment sedih elo nih, tapi gw pegel woi ngomong-ngomong berdiri gini". Bintang yang tengah menghayati kesedihannya langsung melepaskan pelukan. Menatap sebal sahabatnya sesaat lalu kemudian keduanya tertawa, meski air mata mereka tetap mengalir.


Entah berapa lama Bintang menangisi Langit. Bahkan Bulan ikut menangis karena tidak tega melihat kesedihan mendalam di mata sahabatnya.


"Gw bakal lupain Langit mulai sekarang!". Ucap Bintang berapi-api. Gadis itu mengusap kasar air matanya, meski sia-sia karena semakin diusap air matanya semakin deras mengalir.


"Bin..."


"Jangan belain Langit, Bul! Gw benci banget sama dia!". Lain di mulut lain pula di hati. Mulutnya bisa mengatakan kebencian, namun hatinya begitu merindu sosok yang sudah memporak porandakan hatinya.


"Huaaaa..gw benci sama Langit Bul". Bintang menangis keras, dan Bulan membiarkannya tanpa berniat menyuruh Bintang berhenti. Karena Bulan tahu, betapa sakitnya terpisah dari orang yang dicintai.


"Lo boleh nangis sepuas yang lo mau, Bin". Bulan memeluk Bintang, mengelus punggung sahabatnya.


Mulut Bintang terus meracau, mencaci dan memaki nama Langit. Namun sesaat kemudian menangisi dan mengungkapkan perasaan sakitnya karena ditinggalkan pergi saat dirinya sudah memberikan seluruh hatinya.


Bulan hanya mengangguk, mengatakan untuk bersabar dan kuat. Hanya sebatas itu, tidak sedikitpun memberi saran atau berusaha menggurui. Karena yang Bintang butuhkan saat ini hanyalah seorang pendengar yang mau mendengar semua keluh kesahnya, serta kerisauan hatinya.


"Lo capek ya Bin? Pasti capek banget.." Bulan merapikan beberapa helai rambut yang menutupi wajah Bintang yang kini tertidur.


Sepertinya gadis itu lelah menangis. Bulan melirik jam diatas nakas. Pantas saja jika Bintang lelah, gadis itu menangis lebih dari dua jam.


Bulan melirik piring kosong. Ia berhasil membuat Bintang makan tanpa disadari oleh gadis itu. Karena saat Bintang memaki Langit dengan penuh emosi, Bulan memanfaatkan kesempatan itu untuk menyuapkan makanan ke dalam mulut Bintang dan berhasil.


"Langit emang pernah jadi laki-laki breng sek Bin. Tapi kali ini gw percaya sama dia. Gw yakin dia bakal balik secepatnya. Dan itu buat lo". Entah keyakinan dari mana, namun Bulan meyakininya. Ia percaya jika suatu saat Langit akan kembali sebagai sosok baru dan membahagiakan sahabatnya kelak.


"Jangan pergi, Lang". Bulan tersenyum mendengar gumaman yang keluar dari mulut Bintang.


"Gw tau lo juga cinta banget sama Langit, Bin. Gw cuma bisa berdoa buat kebahagiaan elo..siapapun, selagi itu bisa bikin lo bahagia. Gw akan selalu dukung". Bulan menatap wajah sahabatnya, mata bengkak wajah sembab, jejak air mata yang masih jelas nampak, sudah bisa menggambarkan betapa hancur sahabatnya saat ini.


...¥¥¥¥•••¥¥¥¥...


...Sedih, Bintangnya kasian🥺🥺 tapi enggak apa-apa ya readers, nanti kembali kok babang Langitnya🥰🥰...


...Ditunggu kelanjutannya ya readers😊😊...

__ADS_1


...Terimakasih dukungannya🙏🏻🙏🏻, sayang readers banyakbanyak ♥️♥️♥️sarangheo😘😘💋♥️🥰💐...


__ADS_2