
"Kak.." Panggil Bintang pada Alva yang tengah fokus pada stir mobilnya.
"hem?? Apa?". Tanya Alva
"Maafin ayah sama kakak-kakak aku, ya.." Bintang merasa tak enak pada Alva karena ulah ayah dan kedua kakaknya.
"Kenapa minta maaf?", Alva menoleh sekilas kemudian kembali fokus pada jalan yang ia lalui.
"Kak Alva pasti nggak nyaman ya tadi.." Ucap Bintang pelan sambil meremas tangannya satu sama lain.
"Nggak kok.." Bintang yang tertunduk langsung mengangkat wajahnya. Ia menoleh menatap Alva yang memasang senyum untuknya.
"Kenapa mukanya gitu?". Tanya Alva yang melihat wajah Bintang sedikit berbeda.
"Aku nggak apa-apa, Bintang. Mungkin mereka pikir aku tidak akan bisa menjagamu". Alva seolah tahu apa yang Bintang pikirkan.
"Maaf..udah bikin kakak nggak nyaman". Cicit Bintang.
Jujur dirinya sangat merasa sungkan pada Alva atas apa yang kedua kakaknya katakan, dan sikap ayah yang tidak ramah sama sekali.
"Kamu ini kenapa sih? Tadi itu nggak ada apa-apanya, Bin". Mengusap pelan kepala Bintang karena tak ingin merusak tatanan rambut Bintang.
"Tapi---"
"Nggak ada tapi-tapi, senyum dong. Masa mau ketemu temen sekolah dulu malah mukanya ditekuk gitu". Alva terus meyakinkan Bintang jika dirinya tidak apa-apa, tidak juga merasa tersinggung dengan ucapan ataupun sikap ayah dan kedua kakaknya.
Ia bahkan memaklumi sikap keluarga Bintang. Mengingat Bintang adalah anak perempuan satu-satunya, dan berasal dari keluarga kaya raya, Alva sangat memaklumi nya.
Setelah dibujuk Alva, akhirnya Bintang kembali dengan senyumannya. Membuat Alva ikut tersenyum senang karena Bintang mau menurutinya.
"Kakak benar-benar laki-laki baik dan pengertian. Mungkin memang aku harus kasih kesempatan buat kakak dan perasaan kakak". Batin Bintang yang masih terus coba meyakinkan dirinya yang terus meragu untuk membuka hatinya pada laki-laki lain.
Empat puluh lima menit keduanya berjibaku dengan kepadatan jalanan. Keduanya sampai di sebuah hotel mewah ditengah kota.
Acara reuni kali ini memang diadakan disebuah restoran yang ada hotel mewah itu.
Sampai di lobby hotel, seorang petugas pallet menghampiri mobil keduanya. Alva menyerahkan kunci mobilnya setelah tadi sempat berjalan memutari mobil dan membukakan pintu untuk Bintang.
"Ayo.." Alva menyodorkan lengannya pada Bintang yang diam sesaat kemudian tersenyum tipis dan mengalungkan tangannya di lengan Alva.
"Rileks, Bintang. Jangan tegang..ada kak Alva. Kamu nggak sendiri". Entah mengapa, tiba-tiba dirinya merasa tegang. Padahal sebelumnya ia tidak pernah tegang seperti ini.
Mungkin karena ini kali pertama diadakan reuni besar-besaran seperti ini. Biasanya reuni hanya akan dihadiri teman-teman satu jurusannya saja. Tapi kali ini, teman satu angkatannya akan ada disana.
"Kamu gugup?". Tanya Alva saat melihat wajah Bintang sekilas.
__ADS_1
"Iya kak.." Jawab Bintang tersenyum kaku.
"Heemmmh, pasti ada mantan pacar kamu ya didalem?" Goda Alva membuat Bintang menghentikan sejenak langkah kakinya.
"Pacar?". Gumam Bintang yang langsung mengingat Langit.
"Apa mungkin dia dateng?", Batin Bintang yang tiba-tiba takut.
"Bin..Bintang??". Alva mengibaskan tangannya didepan wajah Bintang yang justru melamun.
"Hei..kok malah bengong sih". Bintang tersentak saat Alva menepuk pelan punggung tangannya.
"Eh, eng-enggak kok kak.." Bintang tersenyum kaku menatap Alva.
"Tenang aja. Kan ada aku, jadi nggak usah takut kalo ada mantan pacar kamu". Ucap Alva menenangkan Bintang yang hanya bisa tertawa hambar.
"Dia nggak akan datang.." Meyakinkan dirinya jika Langit tidak akan datang seperti reuni sebelumnya.
"Udah ayo..aku udah nggak sabar mau nyicipin makanan didalem, pasti enak". Sengaja membuat guyonan agar Bintang benar-benar relaxs.
"Ayo kak..jangan sampai kehabisan makanan". Timpal Bintang membuat keduanya tertawa renyah kemudian kembali melanjutkan langkah memasuki hotel.
Salah satu hal yang membuat keduanya cepat dekat adalah makanan. Selera keduanya tentang makanan sama. Keduanya juga sama-sama suka jajanan kaki lima. Senang ngemil dan ngopi, selera keduanya benar-benar bisa dibilang sama. Karena hal itulah keduanya benar-benar mudah dekat dan mengerti satu sama lain.
Restoran tempat diadakannya reuni kali ini berada di lantai empat hotel itu. Satu lantai di lantai itu sengaja disewa panitia acara untuk malam ini.
"Reunian aja di resto hotel bintang lima begini". Masih berbisik pada Bintang yang kini tergelak.
Alva bukan dari keluarga biasa, dan Bintang tahu itu. Melihat dari brand pakaian yang dikenakan lelaki itu serta tunggangannya saja sudah cukup menjelaskan siapa Alva.
Mungkin Alva tidak berbeda jauh dari dirinya. Anak dari keluarga berada yang enggan meneruskan bisnis keluarganya dan memilih bekerja sebagai karyawan biasa diperusahaan orang lain.
Kedatangan Bintang bersama seorang pria cukup mampu menyita perhatian teman-temannya.
"I-itu be-beneran Bin-Bintang?". Nindy yang berkumpul bersama Ardi dan Iwan sampai tergagap melihat Bintang benar-benar datang dengan seorang pria.
"Hooh.." Sahut Ardi yang juga cengo melihat Bintang yang merangkul lengan seorang laki-laki. Dan laki-laki itu bukan Langit.
Sementara Bulan hanya menghela nafas panjang melihat Bintang benar-benar membawa Alva ke acara kali ini.
Ini bukan kali pertama Bulan bertemu dengan Alva. Mungkin sudah lebih dari tiga kali Bulan bertemu Alva.
"Kok pada liatin kita ya?". Bisik Alva membuat semua orang semakin melongo karena melihat Alva yang sedikit menundukkan kepalanya untuk berbisik.
"Waaah, kayanya aku sukses besar. Harus diadain perayaan". Batin Bintang takjub melihat reaksi semua orang.
__ADS_1
"Kakak nggak usah pura-pura amnesia deh. Kan kemarin udah aku ceritain". Bintang balas berbisik sambil mencubit kecil lengan Alva yang langsung mengaduh pelan.
"Waaah, jadi mereka bener-bener terpesona liat kamu bawa cowok lain ya". Kini Alva yang dibuat terheran dengan reaksi teman-teman Bintang.
Ia jadi penasaran seperti apa rupa lelaki itu hingga membuat semua orang merasa takjub saat Bintang bisa move on dan melupakan laki-laki itu. Alva sangat menantikan bisa melihat sosok lelaki yang membuat Bintang mengunci rapat hatinya. Bahkan setelah dua tahun ia mencoba saja masih gagal.
Ya, Bintang sudah menceritakan sedikit tentang sosok Langit. Tidak semua, hanya mengatakan jika dirinya selalu diledek tidak bisa move on dari seseorang setiap datang pada pertemuan seperti ini.
Alva juga sudah menyetujui permintaan Bintang untuk menjadi kekasih palsunya didepan teman-teman dan keluarganya. Dengan segenap hati dan tentu senang hati Alva melakukannya.
Ia berharap dengan yang awalnya hanya status palsu itu, lambat laun Bintang bisa benar-benar membuka hatinya.
"Kan pacar nih ceritanya, boleh dong ya cium dikit", Ucap Alva menggoda Bintang. Tentu ia tidak sungguh-sungguh mengucapkannya.
"Jangan ngadi-ngadi ya kak.." Lirikan maut Bintang membuat Alva hampir meledakkan tawanya.
"Gemes banget sih kalo ngamuk". Dicubitnya hidung mancung Bintang.
Dan percayalah, kehebohan semakin menjadi saja melihat interaksi kecil itu. Seolah semua yang terjadi harus diabadikan.
"Tapi pacarnya Bintang nggak kalah ganteng dari Langit loh. Tinggi nya juga kayanya samaan". Nindy yang sejak tadi mengamati memberikan komentarnya untuk Alva.
"Kayanya juga dewasa. Lebih tua dari kita kayanya". Seperti seorang ahli saja Nindy terus berkomentar.
Bintang melambaikan tangannya pada Bulan yang duduk disebuah meja bundar bersama Sam. Jangan lupakan dua lainnya, Roman dan Arsen yang pasti juga ada disana.
"Kita kesana kak". Ajak Bintang dijawab anggukan kepala oleh Alva.
Bintang sedikit tersentak kala tangannya dilepaskan oleh Alva. Dan lelaki itu menggenggam tangannya begitu hangat. Mengingatkan Bintang pada sosok lelaki yang selalu mampu mengalirkan kehangatan dihatinya setiap kali menggenggam tangannya.
"Ayo, kok malah bengong". Suara Alva menyadarkan Bintang dari lamunannya.
"Hah? Oh, iya kak..ayo". Bintang membiarkan tangannya digenggam oleh Alva. Untuk pertama kalinya, ia membiarkan laki-laki lain selain Langit dan ayah serta kedua kakaknya menggenggam tangannya seperti ini.
Semakin heboh saja yang berbisik tentang Bintang dan pacar barunya itu. Membuat Bintang mengulum bibirnya untuk sedikit menyembunyikan senyumannya.
Kedatangannya bersama Alva benar-benar mampu menggemparkan acara malam itu. Bintang benar-benar berhasil membuat semua orang mempercayai jika dirinya sudah melupakan Langit.
...¥¥¥•••¥¥¥...
...Eng..ing..eng...hiyaaaa, gonjang ganjing dunia persilatan dong ya ini🤭😱😂😂...
...Apakabar nanti kalo Langit liat nih?? Rame nih kayanya ya🧐😂...
...Ayo readers, siapin kamera kalian buat foto sama videoin Bintang. Terus laporin ama si biawak biar didatengin tuh😂😂 biar dapet berita penomenal😅🤣...
__ADS_1
...Happy reading kalian semuaa😘🥰 sarangheo banyakbanyak lah pokoknya buat yang selalu setia baca cerita aku ini💋💋♥️🥰😘😘😘💐💐💐'''...