
Langit bagai diatas awan. Semua yang ayah Henry ucapkan adalah kekuatan tersendiri untuknya.
Kini, meskipun Bintang memintanya pergi atau menjauh, Langit tak akan pernah menurutinya. Ia akan terus menjadi bayang-bayang gadis itu bahkan meski di kegelapan sekalipun.
"Sikap galaknya itu hanya untuk melindungi hatinya sendiri. Ia takut terlalu banyak orang yang ia sayangi, maka akan lebih besar peluang melihat orang-orang yang disayanginya terluka". Langit seperti seorang murid yang tengah mendengarkan penjelasan materi oleh gurunya. Tak sedikitpun menyela atau bertanya karena menunggu sang guru menyelesaikan penjelasannya.
"Lalu kenapa selama ini nama Bintang tidak di publish, yah?". Akhirnya pertanyaan itu keluar juga dari mulut Langit. Rasa penasaran Langit tentang alasan Bintang tak mau identitasnya diketahui banyak orang.
Ayah tersenyum mendengar pertanyaan Langit yang menurutnya sangat wajar ditanyakan. Karena putrinya memang aneh, disaat yang lain ingin menunjukkan kekuasaan orang tuanya, Bintang memilih menjadi orang biasa bahkan pernah mengaku sebagai anak asisten rumah tangganya.
"Ayah juga ingin semua orang tahu. Tapi apa daya..ancaman anak itu lebih mengerikan daripada kalah tender besar". Kelakar ayah disertai tawanya.
"Ayah pernah mengancamnya saat terluka, tapi anak itu malah balas mengancam ayah jika sampai ayah mengatakan siapa Bintang sebenarnya".
"Coba saja kalau ayah membuka identitas Bintang. Bintang bakal kabur nggak pulang-pulang". Ayah menirukan ucapan anaknya bertahun silam.
Sebagai ayah, tentu ayah Henry tahu betul bagaimana sikap putrinya. Bintang bukan sekedar mengancam, tapi pasti melakukannya.
"Tapi ayah bisa menemukannya". Langit masih tak habis pikir. Bukankah kekuasaan ayah Henry lebih dari cukup untuk bisa menemukan Bintang kalaupun gadis itu melarikan diri.
"Tidak semudah itu Lang. Bahkan dia pernah melarikan diri saat masih SMP. Dan kamu tahu?". Langit menggeleng
"Ayah tidak bisa menemukannya. Bahkan setelah semua anak buah dan orang kepercayaan ayah, ayah kerahkan untuk mencarinya". Lagi dan lagi, Langit dibuat tercengang dengan segala tentang Bintang.
"Sama seperti saat akan mempertemukan kalian. Dulu ayah pernah mau menjodohkan Bintang dengan seseorang.."
deg..
Langit membeku mendengar ucapan ayah Henry. Dan ayah bisa melihat wajah tegang Langit yang terlihat lucu dimatanya.
"Itu dulu..sekarang dia adalah calon istrimu". Perlahan ketegangan diwajah Langit memudar saat ayah kembali berbicara.
"Dulu ayah pernah mau menjodohkannya dengan seseorang yang sangat dekat dengannya".
"Bima?". Tebak Langit tepat sasaran. Dan ayah nampak kaget saat Langit mengenal Bima.
"Kamu mengenalnya?". Langit mengangguk.
"Bukan kenal sih. Cuma tau aja, males banget kenal sama saingan". Batin Langit yang masih kesal setiap ingat kedekatan Bintang dan Bima.
"Mereka bersahabat sejak kecil. Bahkan sejak bayi mungkin.."
"Kedua orang tua Bima adalah sahabat baik kami. Karena itulah ayah berpikir menjodohkan mereka.."
__ADS_1
"Tapi rupanya mereka memang hanya bersahabat tanpa bermain rasa didalam persahabatannya".
"Ayah kira hal seperti itu tidak ada. Bukankah banyak yang bilang 'tidak ada persahabatan yang murni antara laki-laki dan perempuan'. Tapi mereka mematahkan semua keyakinan itu. Mereka murni bersahabat, saling menyayangi sebagai seorang sahabat. Selayaknya kakak dan adik". Ayah kembali terkekeh saat mendengar Langit menghela nafas. Terdengar sangat lega saat mendengarkan penjelasan ayah mengenai Bintang dan Bima.
"Karena itu ayah menuruti keinginan Bintang untuk menutupi identitasnya?". Tebak Langit dan ayah mengangguk membenarkan.
"Ayah lebih takut kehilangan Bintang daripada memamerkan Bintang pada rekan bisnis ayah. Selama Bintang merasa nyaman dengan kondisinya saat ini, maka ayah akan mendukungnya. Ayah hanya akan menunjukkan diri saat Bintang yang sudah memintanya". Langit mengangguk. Kini ia paham mengapa keluarga Bintang mengikuti kemauan gadis itu untuk menutup rapat identitasnya.
"Lagipula akan lebih aman seperti ini. Banyak pesaing bisnis yang ingin menjatuhkan ayah dengan cara menyakiti orang-orang yang ayah cintai. Bintang pernah merasakannya saat masih kecil. Dia diculik oleh pengecut hanya karena sebuah tender yang tidak seberapa nilainya bagi ayah. Sangat tidak sebanding dengan keselamatan Bintang". Langit kembali dibuat terkejut. Banyak sekali kejutan tentang Bintang yang baru ia ketahui dari ayah.
"Untunglah Bintang bisa diselamatkan oleh orang-orang kepercayaan ayah".
"Dari sana ayah membiarkan Bintang melakukan apa yang membuatnya nyaman. Selagi dia senang". Ucap ayah dengan senyum teduh.
"Padahal semua akan lebih mudah kalo semua orang tahu identitas Bintang". Gumam Langit yang rupanya didengar oleh ayah Henry.
"Itu juga yang membuat anak itu tidak mau sampai ada yang tahu identitasnya. Dia selalu merasa jika semua orang mendekati karena pangkat dan jabatan serta kekuasaan dari nama besar keluarga kami. Bintang sangat tidak suka berurusan dengan orang-orang bermuka dua yang hanya mendekatinya karena status sosialnya saja".
"Kamu pasti sudah tahu seperti apa sifatnya yang satu itu. Ia akan lebih nyaman berteman dengan orang-orang yang tulus berteman dengan Bintang. Bukan dengan putri dari keluarga Laksmana". Langit mengangguk membenarkan ucapan ayah.
Langit bisa melihat jika Bintang memang nyaman dengan circle pertemanan yang sekarang. Tanpa menanyakan asal usul serta bibit bebet bobot atau lain hal nya.
"Ayah makan nggak ngajak aku?". Obrolan keduanya terhenti saat mendengar suara Bintang yang rupanya sudah menyusul mereka. Keduanya kompak menoleh ke asal suara.
Tidak hanya Bintang yang ada disana. Rupanya Sam dan Bulan juga ikut bersama Bintang. Mungkin mereka juga lapar.
Bintang menjatuhkan bobot tubuhnya tepat disebelah ayah. Sedangkan Sam duduk disamping Langit.
"Makanannya mana?". Tanya Bintang menatap meja yang hanya berisi dua gelas kopi hitam.
"Ayah belum makan?". Tanya Bintang membuat ayah menggeleng.
"Terus ngapain aja dari tadi?". Tanya Bintang dengan wajah bingung.
"Hanya mengobrol. Iya kan Lang?". Langit mengangguk membenarkan ucapan ayah.
"Ish, Bintang nyusul kesini kan pengen ikut makan. Aku laper yah.." Sam menatap Bintang dengan alis berkerut. Ia melihat sisi lain dari seorang Bintang saat bersama ayahnya.
"Nggak usah gitu juga ngeliatinnya. Jodoh gw itu". Langit menyenggol lengan Sam yang sejak tadi menatap Bintang.
Sam hanya memutar bola matanya jengah. Langit menunjukkan rasa cemburunya pada seseorang yang salah. Batin Sam.
"Lo masih punya hutang penjelasan sama gw". Langit menghela nafas panjang. Ia tahu Sam akan menuntut penjelasan darinya setelah kejadian hari ini. Namun sesaat kemudian Langit juga menatap Sam dan Bulan bergantian.
__ADS_1
"Lo juga sama!". Langit teringat ucapan mama Mira yang mengenalkan Bulan sebagai pacar Sam. Ia juga butuh penjelasan dari teman baiknya itu.
"Kalian berempat makan saja duluan. Ayah akan makan bersama bunda". Ayah bangkit dari duduknya setelah beberapa saat saling menyapa dengan Bulan dan meladeni omongan putrinya.
"Didepan sana ada tempat makan enak. Coba kesana, Bintang dan Bulan sudah tahu tempatnya". Bulan dan Bintang langsung mencibir.
"Mana mau mereka makan ditenda kaya begitu". Ayah tersenyum, kedua gadis itu memang terlalu kompak untuk seukuran sahabat. Bahkan saudara kembar pun tak begitu kompaknya.
"Coba saja dulu". Ayah mengelus pucuk kepala Bintang dan Bulan bergantian kemudian pamit pada Sam dan Langit.
"Lah, kita ditinggal". Ucap Langit menatap Bulan dan Bintang yang berjalan tanpa berniat mengajak mereka.
Akhirnya Langit dan Sam berjalan mengikuti kedua gadis yang saat ini tengah bersenda gurau dengan Bintang yang bergelayut dilengan Bulan.
"Jangan pikir lo udah lolos ya, Bul. Gw butuh penjelasan lengkap soal semua ini". Tawa yang tadinya memenuhi obrolan keduanya mendadak menjadi serius.
"Lo pikir, lo juga udah lolos. Jangan ngarep! Malem ini, lo harus jelasin semua ke gw ampe sejelas-jelasnya". Balas Bulan tak mau kalah.
Langit dan Sam hanya menghela nafas sambil menggeleng melihat dan mendengar apa yang kedua gadis itu lakukan saat ini.
"Mang..pecel ayam dua". Bintang berteriak pada penjual yang langsung mengacungkan jempolnya.
"Sambelnya kaya biasa ya mang". Bulan menimpali pesanan Bintang.
"Siap neng". Balas si penjual tak kalah keras.
Langit hanya menggeleng saat dirinya dan Sam tidak ditawari oleh kedua gadis didepannya.
"Lo mau apa?". Tanya nya pada Sam, karena yakin jika Bintang tidak akan memesankan makanan untuknya.
"Apa aja". Sahut Sam melihat sekeliling. Warung tenda sederhana yang penuh dengan pengunjung.
"Kalo nggak bisa makan ditempat begini nggak usah dipaksain". Sam menoleh saat Bulan bersuara.
"Lo berdua kira, kita nggak bisa makan diwarung tenda gini?". Langit yang baru kembali setelah memesan makanan menatap kedua gadis itu.
Baik Bintang maupun Bulan tak menjawab, hanya mengendikkan bahunya saja kemudian kembali bercakap tanpa mempedulikan keberadaan Sam dan Langit.
Kedua pemuda tampan itu seperti makhluk astral yang tak terlihat oleh Bulan dan Bintang. Padahal disekitarnya, kehadiran Langit dan Sam mampu membuat banyak pasang mata menatap mereka karena ketampanannya.
...¥¥¥•••¥¥¥...
...Kasian amat biawak ama temen biawak. Serasa makhluk tak kasat mata didepan si cantik Bulan dan Bintang🤦🏼♀️🤭😅...
__ADS_1
...Baekbaek lu berdua, Bubul ama Bibin. Awas jatuh cinta beneran ama yang pada ganteng-ganteng itu🥰🥰☺️...
...Sekian dulu mak othornya ngoceh-ngoceh kaga jelas. Selamat menikmati bacaannya, daaan..sarangheooo🥰🥰😘😘💋♥️💐...