
Kali ini Langit bukan hanya menempelkan bibirnya, ia me lum*t lembut bibir Bintang yang hanya diam saja. Ia tahu Bintang masih terkejut dengan apa yang dirinya lakukan.
Langit pun tak mengerti mengapa nekat melakukan hal yang mungkin saja akan membuat Bintang semakin menjauhinya.
Perlahan Langit melepaskan pagutan bibirnya. Ia usap bibir Bintang yang basah dengan ibu jarinya.
"Sorry, Bin..tapi gw---"
plakk!!!
Tamparan keras mendarat tepat dipipi Langit. Bintang menatap Langit dengan tatapan sengit. Wajahnya memerah, antara malu dan juga marah.
Tanpa sepatah katapun terucap, Bintang berjalan meninggalkan Langit yang mematung dengan memegang pipinya.
Sakit dan perih di wajahnya tak sesakit hatinya saat melihat tatapan benci Bintang pada dirinya. Menyesal pun tak akan membuat keadaan berubah.
Langit hanya bisa menghela nafas panjang. Sedikit banyak ia menyesali perbuatan nekadnya yang mencium bibir Bintang.
"Bagus. Dia bakal tambah benci sama lo sekarang". Gumam Langit sambil tersenyum miris.
Bintang berjalan cepat, namun bukan kelas tujuannya. Melainkan kamar mandi.
Bintang masuk kedalam salah satu bilik di toilet. Ia duduk diatas closet yang tertutup. Nafasnya masih terlihat tak beraturan.
Sebelah tangannya meraba bibir yang baru saja dicium oleh Langit, sementara tangan lainnya meremas baju dibagian dadanya.
Hingga saat ini, dadanya masih berdebar hebat. Bahkan tak berkurang sedikitpun meski dirinya sudah berada jauh dari Langit.
Ciuman tadi, terasa sangat berbeda dengan beberapa waktu lalu saat bibir keduanya bertemu dan menempel.
Entah semerah apa tadi wajahnya. Dan apa maksud Langit melakukan hal itu pada dirinya?? Bintang masih diam dan berperang dengan pikirannya sendiri hingga suara beberapa gadis mengalihkan perhatiannya.
"Ntar malem lo ikut Cath?". Bintang menajamkan pendengarannya.
"Ikut lah. Itu semua ide dari gue, ya kali gue lewatin kesempatan deket-deket sama Langit".
"Catherine?". Gumam Bintang.
"Tapi kaya nya Langit makin jauh aja dari lo". Bintang yakin, yang ada diluar adalah Catherine dan para dayangnya.
"Iya. Kayanya Langit lebih tertarik sama Bintang deh". Timpal yang lain.
Bintang kian menajamkan pendengarannya saat namanya sudah disebut.
"Bintang? Si cewek kere itu?". Tawa Catherine meledak. Membuat Bintang mendengus.
"Kere..kere pala bapakmu". Gerutu Bintang dengan suara lirih hampir tak terdengar.
"Eh bener juga sih. Kan yang banyak duitnya ayah, bukan gue". Gumam Bintang lagi sambil nyengir.
"Dia bukan lawan gue". Sombong Catherine pada teman-temannya
"Lagian lo berdua nggak liat kalo Bintang deket sama kakak kelas kita yang namanya Bima itu?". Bintang masih menyimak tanpa ada niatan untuk keluar.
__ADS_1
"Iya sih. Mereka kaya orang pacaran sih". Bintang terkikik pelan mendengar percakapan mereka tentang dirinya dan Bima.
Ternyata rencananya selama ini berhasil dan membuat semua orang salah paham dengan kedekatannya dan Bima.
"Emang siapa yang nggak bakal salah paham". Gumam Bintang sambil nyengir sendiri.
"Jadi itu alesan elo nggak pernah ganggu Bintang lagi?". Tanya teman Catherine
"Ya iya lah. Ngapain gue ngurusin orang yang nggak selevel sama gue. Mending gue kejar Langit".
"Tapi si Bintang beruntung banget ya. Bima kan juga popular, ganteng sama tajir juga". Ketiganya terus membicarakan Bintang tanpa tahu jika orang yang mereka bicarakan ada disalah satu bilik toilet.
Bintang baru keluar saat yakin jika Catherine dan dua dayangnya sudah keluar dari toilet.
"Dasar! Udah kaya ibu-ibu komplek aja kalo ngumpul. Hobinya ngeghibah". Cibir Bintang yang tengah mencuci tangan.
---
Malam datang dengan cepat, Bima sudah tampil keren dengan tampilan casualnya. Laki-laki itu berdiri disamping mobilnya dengan gaya yang sangat keren.
"Kebanyakan gaya lo". Cibir Bintang yang baru saja keluar rumah.
"Sirik aja sih lo ama gue". Balas Bima tak ingin kalah.
Ayah dan bunda yang melihat hanya bisa menggeleng. Bagaimana bisa keduanya bersahabat begitu lama, jika setiap bertemu selalu memperdebatkan hal-hal sepele.
"Ayah titip Bintang ya, Bim". Pesan ayah saat Bima berpamitan.
"Lo beneran pake baju gituan? Pake gaun kek biar kaya perempuan dikit". Bintang mendengus, didalam rumah tadi penampilan nya sudah dikomentari oleh kedua kakak ipar dan bunda nya. Kini gantian Bima yang berkomentar.
"Emang kenapa? Masih sopan lah, cuma makan doang". Jawab Bintang santai.
"Lo kaya mau tawuran tau kaga". Bibir Bima teus mengomentari penampilan Bintang yang saat ini hanya mengenakan celana panjang berwarna biru langit dan kaos putih dibalut kemeja yang sedikit kebesaran.
"Banyak komentar lo ah. Jadi mau nganterin kaga?". Ketus Bintang membuat Bima berhenti berkomentar.
Bima menyalakan mesin mobilnya dan mulai melajukan mobilnya menjauh dari kediaman Laksmana.
Sepanjang perjalanan hanya diisi perdebatan keduanya yang membahas tentang penampilan Bintang.
"Gue turun disini kalo elo nggak berhenti ngoceh". Ancam Bintang membuat Bima tertawa.
"Yakin mau turun? Disini susah taksi sih, apalagi angkot". Bintang mendengus kesal. Karena apa yang Bima katakan memang benar. Akhirnya ia pasrah saja saat Bima terus meledek penampilannya.
Sampai direstoran yang sudah ditentukan, Bintang turun diikuti Bima yang juga ikut turun. Bima memutari mobilnya dan kini berdiri disamping Bintang.
"Ayo". Bima menggandeng tangan Bintang hingga membuat alis Bintang berkerut.
"Ayo kemana?". Tanya Bintang membuat Bima menghentikan langkahnya.
"Masuk lah. Emang mau kemana? Kayanya temen-temen lo udah ada didalem". Bima mengenali beberapa mobil yang terparkir di area restoran. Ia yakin itu kendaraan anak-anak Taruna Bangsa.
"Lo bukan anggota tim basket, terus ngapain masuk?". Bima yang gemas mengusak kepala Bintang hingga rambutnya sedikit berantakan.
__ADS_1
"Lo kira gue kaga laper. Sambil nungguin lo kelar, gue bisa nongkrong dulu". Bintang membulatkan bibirnya sambil mengangguk dan menurut saat Bima menariknya masuk kedalam restoran.
"Bintang!!". Masuk ke dalam restoran, Bintang disambut suara Bulan yang memanggil namanya sambil melambaikan tangan.
"Gue tunggu disana ya". Bintang menoleh pada Bima, lelaki itu menunjuk meja dipojok restoran.
"Nggak apa-apa nunggui gw?". Tanya Bintang yang sebenarnya merasa segan membuat Bima menunggunya.
"Santai aja". Bima mengedipkan sebelah matanya hingga membuat Bintang tersenyum.
"Gih sana, lo udah ditunggu". Bima mendorong punggung Bintang perlahan agar segera menghampiri teman-temannya.
Lagi dan lagi, Langit harus melihat interaksi Bintang dengan laki-laki lain. Dan itu mampu membuat hatinya merasakan perih.
Sementara Catherine tampak tersenyum puas. Apalagi saat Bintang membuang muka saat bersitatap dengan Langit.
Ia benar-benar merasa perlu berterimakasih pada Bima yang membuat dirinya mudah menjauhkan Bintang dan Langit.
"Ternyata nggak perlu gue turun tangan sendiri buat bikin Bintang jauh dari Langit". Batin Catherine yang sejak tadi duduk disamping Langit.
Bintang melirik sekilas pada Langit. Dan rupanya Langit masih terus menatap Bintang. Kejadian pagi tadi masih Bintang ingat dengan sangat jelas. Bagaimana Langit menciumnya. Dan itu berhasil membuat wajah Bintang merona merah.
"Bin lo nggak apa-apa?". Pertanyaan Bulan membuat semua orang menatap Bintang.
"G-gue kenapa emangnya?". Bintang balik bertanya dengan sedikit gugup karena kini semua mata menatap kearahnya termasuk Langit.
"Muka lo merah. Lo sakit?". Bulan bahkan menempelkan punggung tangannya dikening Bintang.
"Kaga lah..apaan sih". Bintang menyingkirkan tangan Bulan.
"Tapi muka lo merah". Ingin sekali rasanya Bintang membekap mulut Bulan yang terus saja bertanya tentang wajahnya yang memerah.
"Panas!". Jawab Bintang asal dan itu membuat Bulan semakin bingung. Dirinya saja merasa dingin, mengapa Bintang justru merasa kepanasan.
"Lo panas gara-gara liat si kucing nempelin biawak mulu kali ya?". Bintang menoleh sambil melotot saat Bulan membisikkan hal menyebalkan itu.
Aaahh, ingin sekali Bintang menceritakan tentang kejadian pagi tadi. Tapi akan seperti apa reaksi Bulan? Yang ada dirinya malah terus digoda tak ada habisnya.
"Ngga usah ngadi-ngadi, Bul". Bulan terkikik melihat kekesalan sahabatnya.
Sementara Langit tak sedikitpun mengalihkan fokus matanya dari wajah Bintang. Ia benar-benar mengagumi sosok Bintang. Tidak seperti gadis lain yang akan berdandan untuk acara seperti ini, Bintang justru nampak santai dengan pakaiannya saat ini.
"Cantik.." Puji Langit meski hanya dalam hatinya saja.
"Dasar bocah". Gumam Bima yang sejak tadi mengawasi pergerakan Langit dan Bintang. Kedua remaja itu terlihat menggemaskan di mata Bima.
Obrolan anak-anak itu terhenti saat kepala sekolah datang dan bergabung dengan mereka. Hingga acara makan malam pun berjalan lancar.
...¥¥¥•••¥¥¥...
...Double up manteman...maaf kalo kurang ngena ceritanya ya🙏🏻🙏🏻...
...Semoga bisa kasih kreji up buat kalian🥰🥰 happy reading, sarangbeo banyakbanyak😘😘😘😘💐💋♥️🥰...
__ADS_1