
Jantung Bintang berdebar jauh lebih kencang. Hatinya semakin tidak nyaman mendengar Langit mengatakan akan pergi darinya. Padahal dirinya baru saja bahagia karena hubungannya dan Langit sudah jauh lebih baik lagi kini.
"Maafin aku, Bintang.." Lirih Langit sambil mempererat pelukannya di tubuh Bintang.
"Maaf karena aku harus pergi buat sementara waktu". Dapat Langit rasakan jika tubuh Bintang menegang didalam dekapannya.
"Aku tau ini ngecewain kamu, Bin. Tapi---"
"Jangan pergi..apapun alasan kamu, jangan pergi Lang". Potong Bintang cepat bahkan sebelum Langit menyelesaikan apa yang ingin ia sampaikan.
"Dengerin aku dulu, Bin.." Langit membalikkan tubuh Bintang hingga kini keduanya berdiri berhadapan.
"Nggak mau. Aku nggak mau dengerin apapun alasan kamu. Aku nggak peduli alasan kamu..aku cuma mau kamu disini". Mata Bintang tampak berkaca-kaca. Dan itu semakin membuat Langit merasa hancur.
"Denger aku dulu.." Bintang menggeleng, bahkan menutup telinga dengan kedua tangannya.
Langit menghela nafas panjang. Rasanya semakin terasa sulit saja meninggalkan Bintang.
Perlahan tangan Langit meraih tangan Bintang. Digenggamnya kedua tangan Bintang agar Bintang tidak menutup lagi telinganya.
"Gw nggak mau Lang.." Bintang menggeleng dengan setetes cairan bening meluncur mengenai pipinya.
"Ini demi kita. Demi masa depan kita..demi keselamatan kamu, Bintang.." Tidak, Langit tidak bisa mundur sekarang. Jika dirinya mundur, maka ke depannya ia benar-benar tidak akan bisa diandalkan dalam melindungi dan menjaga Bintangnya.
Langit kemudian menceritakan alasannya pergi. Dan mengapa dirinya harus pergi.
"Bukan karna aku nggak sayang sama kamu..aku sayang banget sama kamu, Bin. Bahkan aku cinta banget sama kamu, aku---"
"BOHONG!!!". Potong Bintang lagi.
"Lo bohong! Kalo lo sayang sama gw, lo cinta sama gw, lo nggak akan ninggalin gw apapun alesannya". Bintang menghempaskan tangan Langit.
Langit menarik Bintang kedalam pelukannya, dan akhirnya tangis Bintang pecah didalam pelukan Langit.
"Maaf..maafin aku..tolong jangan nangis, Bin. Aku nggak bisa lihat kamu gini". Langit memeluk erat tubuh Bintang.
Kini hanya penyesalan yang ada. Jika saja dulu dirinya tidak terlibat dengan para berandalan itu, mungkin kini tidak akan seperti ini.
Kenapa harus sekarang? Kenapa saat dirinya sudah menemukan arti cinta dan pemilik hatinya. Apa dirinya harus mundur? Apa lebih baik dirinya tetap disini, mengandalkan ayah dan daddy untuk segala kemungkinan buruk yang akan datang di masa depan??
Tidak!!! Hatinya menampar kesadaran Langit. Bukankah dirinya tahu jika akan seperti ini? Bukankah ia tahu jika Bintang akan kecewa dan marah. Bukankah dia sudah menyiapkan dirinya untuk menerima semua ini? Lalu kenapa saat terjadi bisa sesakit ini??
__ADS_1
"Lo jahat Lang.." Lirih Bintang sambil memukul dada Langit.
"Iya, aku jahat. Maaf.. Tapi aku benar-benar harus lakuin ini demi kamu, sayang". Bintang tahu Langit tidak mudah melakukan ini, tapi tetap saja, ia benci ditinggalkan.
"Tolong maafin aku..aku janji..aku janji, aku pasti cepet kembali buat kamu.." Langit mengusap punggung Bintang yang masih bergetar. Menandakan gadis itu masih menangis.
"Maafin aku, sayang..." Lirih Langit kembali mengeratkan pelukannya.
"Aku akan maafin kamu, asalkan..."
"Asal apa?? Bilang sama aku..apa yang harus aku lakuin supaya kamu maafin aku". Ada secerca harapan dimata Langit saat mendengar ucapan Bintang.
Kini keduanya saling menatap dengan sorot mata yang sama. Sama-sama memancarkan harapan.
"Asal kamu batalin niat kamu pergi. Aku akan maafin kamu..dan lupain kalau kita pernah ngomongin soal ini". Ucap Bintang penuh harap. Ia benar-benar berharap Langit akan mau membatalkan niatannya.
"Bintang.." Lirih Langit yang terlihat lesu. Ia tidak menyangka jika ini syaratnya untuk bisa mendapat maaf dari gadisnya.
"Jawab iya..tolong jawab iya Lang". Bintang menatap Langit penuh permohonan.
"Aku nggak mau denger jawaban enggak, Lang". Tegas Bintang yang matanya sudah kembali berair.
"Kenapa kamu harus pergi? Kita bisa tetep bersama, kita bisa hadapi bareng Lang. Kamu nggak perlu pergi". Bujuk Bintang meraih kedua tangan Langit untuk ia genggam.
Benar, apa yang dikatakan Bintang benar. Langit pun membenarkannya, tapi tekadnya sudah bulat untuk menempa dirinya menjadi lelaki tangguh dan kuat untuk Bintang. Untuk menjaga Bintangnya tetap bersinar.
Perlahan Bintang melepaskan tangan Langit saat pemuda itu diam saja. Itu artinya Langit tidak mau mengubah keputusannya kan.
"Kamu bikin aku jatuh cinta sekaligus ngelukain aku diwaktu bersamaan Lang. Kamu jahat". Lirih Bintang membuat Langit yang menunduk mengangkat wajahnya.
Dimata itu, mata yang beberapa jam lalu memancarkan kebahagiaan itu, kini hanya terlihat kekecewaan dan juga kemarahan padanya. Tidak ada lagi tatapan cinta seperti yang tadi sempat ia lihat di mata itu.
"Bin.." Bintang menepis tangan Langit yang hendak meraih tangannya.
"Tolong jangan gini, aku mohon.." Pinta Langit.
"Harusnya gw tau kalo lo cuma mau nunjukin ke semua orang kalo lo bisa nakhlukin gw". Saking marahnya, tak ada lagi sapaan lembut seperti sebelumnya dari mulut Bintang.
"Kamu tau seberapa besar aku cinta sama kamu, Bintang", Langit tak terima, cinta dan kasih sayangnya diragukan oleh gadis yang sudah memiliki seluruh hatinya.
Bintang menggeleng, mundur beberapa langkah menjauh dari Langit. Kemudian berbalik dan siap berlari, namun Langit yang sudah membaca pergerakan Bintang segera mendekapnya kembali.
__ADS_1
"Lepas!". Bintang coba berontak, namu tenaga Langit jauh lebih besar.
"Kita bicara di mobil", Langit menggiring Bintang menuju mobilnya meskipun gadis itu memberontak.
Hanya suara nafas keduanya saja yang terdengar. Karena baik Bintang maupun Langit memilih diam. Diam yang berbeda, karena diamnya Bintang adalah marah, sementara Langit coba memikirkan kata yang tepat untuk bisa membuat Bintang mengerti dan melepasnya dengan senyuman.
"Bin.."
"Gw mau pulang, Lang". Potong Bintang bahkan saat Langit belum mengatakan apapun selain memanggilnya.
"Kita selesaikan dulu..aku mohon jangan kaya gini". Langit meraih tangan Bintang dan menggenggamnya.
"Aku pergi bukan karna nggak cinta sama kamu. Tapi--"
"Nggak ada yang perlu dibahas lagi". Sahut Bintang cepat membuat Langit menghela nafas panjang.
Dilepaskannya tangan Bintang meskipun rasanya berat. Ia duduk, menatap lurus ke depan dengan segala perasaan yang bergejolak didalam dadanya.
"Besok aku pergi..aku harap kamu ada di bandara buat anter aku". Bintang langsung menoleh.
"Meskipun mungkin kamu nggak mau, aku akan tetap kembali. Hanya buat kamu..aku akan kembali".
"Aku akan berusaha keras agar bisa cepat kembali..aku harap kamu mau nunggu aku dan jaga hati kamu buat aku, Bin. Karna aku akan lakuin hal yang sama". Bintang mengetatkan giginya, setengah mati ia menahan air matanya yang terus mendesak.
"Gw mau pulang". Lirih Bintang tanpa menatap Langit, ia memilih melihat rimbunnya pepohonan disekitar taman.
Langit menarik lengan Bintang, kembali meraup bibir Bintang dengan penuh perasaan. Bintang memberontak, memukul pundak Langit dengan keras, bersamaan dengan lelehan air mata yang kini mengalir dipipinya.
"Lemah!!", Maki Bintang pada dirinya sendiri.
Pukulan Bintang kian melemah, ciuman Langit semakin dalam ia rasakan. Akhirnya Bintang memilih diam, membiarkan Langit melakukan apa yang diinginkannya.
"Cuma aku, cuma aku yang akan jadi ciuman pertama, kedua dan seterusnya buat kamu". Lagi, Langit mengucapkannya sambil mengusap bibir Bintang yang basah dan sedikit bengkak karena ulahnya.
Bintang memalingkan wajahnya dari Langit. Malu sendiri dengan reaksi tubuhnya yang menerima ciuman Langit yang terasa memabukkan.
...¥¥¥•••¥¥¥...
...Satu dulu ya..doakan semoga bisa double up🥰🥰😘💐...
...Happy reading readers🥰🥰♥️ Sarangheo💋💋♥️💐😘🥰🥰🥰...
__ADS_1