
Dewa pamit meninggalkan Langit karena ia harus menghubungi Juna. Ia tidak mungkin bisa menghadapi ayah dan bundanya seorang diri. Belum lagi jika istrinya yang cantik dan super cerewet itu tahu, pusing lah Dewa.
Dan kini tinggalah Langit seorang diri menunggui Bintang. Karena Arsen, maupun Roman dan Sam juga memilih keluar. Keduanya yakin, Langit pasti ingin berdua dengan Bintang setelah apa yang mereka lalui hari ini.
"Maafin gw, Bin.. Maafin gw". Dengan lembut, Langit menggenggam tangan Bintang. Mengecupnya berulang kali hingga tak ia sadari air matanya luruh.
Air mata pertamanya untuk seorang perempuan yang ternyata begitu besar artinya bagi hidupnya.
"Maafin gw.." Berulang kali Langit mengucapkan permintaan maaf nya pada Bintang.
Penyesalan terbesarnya, menyebabkan Bintang mengalami hal mengerikan ini karena ulah di masa lalunya. Kenakalan remaja, tawuran dan menjadikan dirinya memiliki banyak musuh yang ternyata masih tetap membencinya bahkan saat dirinya sudah mencoba menjauhi masalah.
Sakit ditubuhnya tak seberapa, bahkan ia langsung bangkit setelah tadi sadarkan diri karena ingin cepat menemui Bintang nya.
Melihat keadaan Bintang yang terbaring diatas brangkar membuat penyesalan dan rasa bersalahnya kian besar.
Langit menangis tersedu, bahkan ia tidak peduli jika dua sahabatnya melihat dirinya menangis seperti saat ini. Ia sungguh menyesal dan membenci dirinya yang membuat Bintang terluka.
"Gw mohon maafin gw, Bin. Lo harus ngelewatin semua ini karna gw". Sementara Langit masih menangis sambil terus meminta maaf, Bintang sudah tersadar.
Bintang bahkan mendengar semua permintaan maaf Langit. Sudut bibirnya tertarik ke atas, melihat Langit menangis untuk pertama kalinya.
"Cengeng.." Langit yang sedari tadi menunduk segera mengangkat wajahnya, saat tangan lemah Bintang mengusap pipinya yang basah.
"Lo sadar? Lo udah sadar?". Langit tidak bisa menyembunyikan perasaan bahagianya melihat Bintang membuka matanya.
"Makasih, Bin. Makasih lo udah sadar.." Langit memeluk Bintang. Bukannya berhenti menangis, Langit justru semakin keras menangis. Membuat Bintang tidak bisa menahan senyumnya.
"Lo ngapain disini?". Tanya Bintang menatap wajah Langit yang babak belur dengan banyak luka dan perban di wajahnya.
"Istirahat sana.." Usir Bintang dan Langit langsung menggeleng cepat.
"Gw panggil dokter dulu ya. Lo harus diperiksa dulu". Bintang mencekal tangan Langit saat pemuda itu hendak bangkit.
"Balik ke kamar, Lang. Lo harus istirahat.." Langit menggenggam tangan Bintang. Baginya kesadaran Bintang sudah menjadi kesembuhan untuknya.
"Gw nggak apa-apa, tunggu gw panggilin dokter". Bintang tidak melepaskan tangan Langit. Mengingat bagaimana brutalnya orang-orang suruhan Dion tadi, sudah pasti Langit terluka parah bukan hanya wajahnya, namun juga tubuhnya.
Bintang meraih gagang telpon yang ada disebelahnya. Menyodorkannya pada Langit yang termangu sesaat sebelum akhirnya tersenyum malu.
Kenapa bisa ia tiba-tiba bodoh dan tidak menyadari fasilitas yang sudah disediakan pihak rumah sakit untuk mereka.
Bintang bukan tidak merasakan sakit, bahkan rasanya tulang punggungnya remuk setelah terhantam kursi tadi. Tapi melihat Langit ada disampingnya meskipun dengan wajah babak belur, membuat Bintang merasa lega.
__ADS_1
Tak lama dokter datang ke kamar Bintang, diikuti Dewa yang sudah berjalan berdampingan dengan Juna.
"Loh, kenapa pasiennya jalan-jalan?". Tanya dokter saat melihat Langit ada diruangan Bintang. Lengkap dengan tiang penyangga infus.
"Tolong periksa Bintang, dok". Ucap Langit tak peduli ucapan dokter.
Dokter hanya bisa geleng-geleng kepala melihat kelakuan Langit yang tidak mengindahkan perintahnya untuk tetap berbaring selama beberapa jam ke depan.
"Kembali ke kamar kamu". Perintah dokter, namun Langit tidak bergerak.
Juna menatap kakaknya, menanyakan mengapa Langit ada diruang rawat Bintang. Gelengan kepala Dewa sudah menjadi jawaban bagi Juna.
Dokter mendekati Bintang, ia akan memeriksa Bintang lebih dulu sebelum memaksa Langit kembali ke kamarnya dan beristirahat.
"Bintang?".
"Iya dok.." Sahut Bintang dengan suara pelan. Dokter tersenyum mendengar Bintang menyahut cepat.
Dari hasil pemeriksaan, tidak ada luka serius atau sampai patah tulang di tubuh Bintang maupun Langit. Hanya beberapa luka memar saja yang sedikit parah terutama bagian punggung Bintang.
"Semua hasilnya baik pak, Bintang hanya perlu beristirahat. Untuk luka di punggungnya, mungkin akan lebih lama sembuh. Karena memarnya memang paling parah". Jelas dokter menatap Juna dan Dewa yang langsung mengangguk.
"Tidak ada luka serius dok? Di kepala? atau bagian lain?". Tanya Juna yang sudah sejak tadi ingin bertanya.
Kini dokter beralih menatap Langit dengan galak. Bagaimana pasiennya yang lukanya jauh lebih parah itu bisa berjalan-jalan ke ruang perawatan pasien lain? Benar-benar mengherankan.
"Suster, tolong ambilkan kursi roda. Kita bawa kembali pasien yang kabur ini". Suster mengangguk lalu keluar, tak lama kembali dengan sebuah kursi roda.
"Langit, ayo kembali ke kamar. Disini kamu yang lebih membutuhkan penanganan". Jelas dokter membuat Bintang langsung menatap Langit yang sejak tadi juga menatapnya.
Ya, apa yang diucapkan oleh dokter sangat masuk akal. Dalam sekilas lihat saja orang akan tahu jika luka di tubuhnya jauh lebih parah dan jauh lebih membutuhkan penanganan intesif.
"Bagaimana bisa kamu berjalan kesini dengan kondisi kaki seperti itu". Dokter benar-benar tidak habis pikir dengan pasiennya yang satu ini. Kelewat unik, pikir dokter.
"Saya masih mau disini. Luka saya juga sudah sembuh, dok". Dewa dan Juna menggeleng pelan melihat sikap keras kepala Langit.
"Lang.." Ucap Bintang menggelengkan pelan kepalanya. Meminta Langit untuk tidak membantah ucapan dokter dan segera kembali ke kamarnya.
"Gw baik-baik aja. Gw mau nemenin elo disini". Terdengar helaan nafas hampir dari semua orang.
"Mungkin kamu merasa tubuhmu baik-baik saja. Tapi bagaimana jika lukanya infeksi? Atau otot kamu cidera nya semakin parah dan membuat kamu kesulitan berjalan nantinya?". Dokter coba menjelaskan namun sepertinya bagi Langit, obat terbaik untuk tubuhnya hanya dengan melihat Bintang.
"Jangan keras kepala Lang. Lo juga harus istirahat. Luka lo lebih parah dari gw. Gw juga udah baik-baik aja". Bujuk Bintang yang sebenarnya tidak tega melihat kondisi Langit.
__ADS_1
"Angkat aja! Lama". Bisik Roman pada Sam dan Arsen yang mengangguk menyetujui.
Bukan tidak mengerti perasaan Langit, tapi tubuh Langit juga butuh istirahat. Bahkan luka diwajahnya saja belum kering.
"Biar kami bantu dok". Arsen bersuara, mulai maju mendekati Langit diikuti Sam dan Roman.
"Nanti dikasih bius aja kalo udah sampai kamar dok. Biar nggak kabur lagi". Roman menimpali membuat Langit melotot meski tak lebar karena matanya yang sipit akibat luka pukul.
"Kalo perlu suntik bius yang bisa bikin tidur sampe besok, dok. Biar nyenyak tidurnya". Dewa dan Juna tersenyum tipis ketika mendengar ucapan Arsen.
"Lepasin. Mau gw hajar lo bertiga". Bahkan dalam kondisi lemahnya, Langit masih bisa mengancam tiga temannya yang kini tengah mengangkat tubuhnya.
"Heleh, gw tempeleng juga nih pala elo. Babak belur kaya gini masih ngancem-ngancem aja lo". Cibir Roman
"Gw lepasin juga nih lama-lama bocah". Arsen pun ikut menggerutu.
"Kita lemparin aja dari sini. Mumpung masih dirumah sakit sama masih ada dokter, sekalian dirawat lukanya". Tawa ketiga teman Langit pecah setelah Sam yang bersuara dan memberi ide gila itu.
"Emang temen-temen laknat lo bertiga". Sengit Langit yang akhirnya pasrah ketika tiga temannya mengangkat tubuhnya.
Langit menatap Bintang yang mengangguk pelan sambil melambaikan tangannya. Mengisyaratkan Langit untuk tenang dan beristirahat karena dirinya memang baik-baik saja.
Sepeninggal Langit dan teman-temannya. Bintang kini dihadapkan pada dua kakak posesifnya. Ia menghela nafas panjang dan bersiap menjawab semua pertanyaan kedua kakaknya.
"Masih sakit?". Tanya Dewa lembut. Ia mengusap kepala adiknya penuh kasih sayang.
"Lumayan kak.." Tak sepenuhnya jujur karena punggungnya masih terasa sangat sakit.
"Selain punggung, ada yang kerasa sakit?", Juna ikut bertanya membuat Bintang menggeleng. Lebih baik sedikit berbohong daripada urusannya menjadi panjang.
"Sekarang, jelaskan pada kami. Gimana kejadiannya?". Tanya Juna lembut. Namun Tatapan menuntut kedua kakaknya sudah menjelaskan bagaimana keingintahuan keduanya terhadap kasus ini.
Dan mengalirlah cerita Bintang, mulai dari pagi hari dirinya berangkat sekolah, hingga dicegat Dion dijalan dan dibius. Semua Bintang ceritakan tanpa sedikitpun terlewat. Bagaimana Langit dihajar tanpa ampun didepannya, semua..semua Bintang ceritakan.
Bahkan air matanya kembali menggenang saat teringat bagaimana Langit dihajar tanpa ampun tepat didepan matanya.
Pada intinya Bintang meyakinkan kedua kakaknya jika ini bukan kesalahan Langit. Tapi memang Dion yang sudah tidak waras dan memiliki otak kriminal padahal usianya masih belasan tahun. Bintang juga meyakinkan kedua kakaknya jika Langit sudah berusaha sekuat tenaga melindungi dirinya, bahkan tidak mempedulikan keselamatannya sendiri.
Dewa dan Juna percaya. Apalagi melihat bagaimana kondisi Langit tadi, itu sudah menjelaskan bagaimana pemuda itu berusaha melindungi adik mereka.
...¥¥¥•••¥¥¥...
...Satu lagiii😊😊🥰🥰🥰☺️...
__ADS_1
...Happy reading semuaaa🥰😊 Sarangheo😘😘😘🥰💋♥️💐💐💋🥰...