
Sementara seorang gadis yang duduk diluar ruang kesehatan tampak tidak nyaman dengan tatapan tiga pasang mata tajam yang menyorotnya.
"Pada ngapain sih?!". Ketus Bulan, sengaja menatap galak tiga lelaki yang sejak tadi menatapnya penuh intimidasi. Ia tidak boleh terlihat gugup atau ketiganya akan semakin menyudutkannya.
"Siapa Bintang sebenarnya?". Sam lebih dulu bersuara.
"Apa hubungannya sama bu Ratih?". Kini Langit yang angkat suara.
"Gue nggak yakin kalo elo nggak tahu semua tentang Bintang". Roman menimpali tanpa memberi kesempatan pada Bulan untuk sekedar menghirup udara dengan benar.
"Apaan sih lo pada. Kan tadi lo udah denger sendiri penjelasan bu Ratih". Kilah Bulan tanpa mau menatap salah satunya, takut ketiganya bisa membaca sorot matanya yang terlihat jelas tengah gugup karena kebohongannya.
Bukannya percaya, tiga pemuda itu justru semakin menatap Bulan lebih dalam lagi. Membuat Bulan semakin tak nyaman dan takut.
"Temen-temennya Bintang.." Semua menoleh saat mendengar seseorang memanggil mereka. Membuat Bulan bisa bernafas lega.
"Kalian disuruh masuk". Rupanya perawat yang tadi membantu dokter yang memanggil mereka.
Bulan berjalan paling depan, diikuti Langit dan kedua antek-anteknya.
Sampai didalam, keempatnya sudah disambut senyum ramah bunda Ratih yang kini berdiri disamping ranjang Bintang.
"Bulan.." Bulan segera mendekat. Ia bahkan lupa menyalami ibu dari sahabatnya itu saking paniknya.
"Iya bu.." Bulan sengaja merubah panggilannya. Jika biasanya ia akan memanggil bunda juga, kini ia ubah karena tak mau tiga sekawan yang masih terus mengawasinya itu semakin curiga.
Bunda Ratih hanya tersenyum samar mendengar panggilan Bulan. Solidaritas gadis itu pada putrinya memang tak perlu diragukan.
"Saya titip Bintang dulu ya..mungkin beberapa hari akan merepotkan Bulan dan ibu". Meskipun suaranya sangat lembut. tapi mampu membuat lutut Bulan lemas. Jika tidak mengingat ada tiga sekawan yang tengah mengawasi mereka, saat ini Bulan sudah bersimpuh memohon ampun didepan Bunda.
"I-iya bu..saya akan menjaga Bintang". Ucap Bulan sedikit terbata.
"Maaf ya kalau merepotkan.." Bulan langsung menggeleng cepat.
Bunda alihkan pandangannya pada tiga pemuda tampan dibelakang Bulan. Ada satu sosok yang terlihat lebih menonjol dibanding yang lain. Apalagi dengan pakaian olahraganya yang terkena darah. Bunda bisa menyimpulkan sendiri jika pemuda itu pastilah salah satu orang yang menolong putrinya.
"Mereka teman kamu?". Bintang mengangguk pada Bunda.
"Kenalkan bu, nama saya Langit. Ini teman-teman saya, Roman dan Sam". Ketiganya memperkenalkan diri sambil mencium punggung tangan bunda.
"Langit.." Gumam Bunda dengan tatapan berbeda.
"Langit.." Merasa namanya disebut, Langit langsung menatap bunda yang juga tengah menatapnya.
"Ya, bu.." Sahut Langit sopan. Bintang hampir tak mengenali sosok Langit saat ini. Namun begitu, Bintang kagum karena dibalik sikap Langit yang seenaknya, ternyata pemuda itu sosok yang sopan pada orang yang lebih tua.
__ADS_1
"Terimakasih banyak ya.." Alis Langit berkerut, bingung mengapa bu Ratih berterimakasih pada dirinya.
"Terimakasih sudah membantu dan menolong Bintang.." Memahami kebingungan Langit, bunda pun menjelaskan maksudnya berterimakasih.
"Maaf ya, seragam kamu jadi kena darah juga". Langit melirik bajunya, ia bahkan baru sadar jika bajunya terkena darah milik Bintang.
"Sudah seharusnya bu. Bintang teman kami, bukannya teman harus saling membantu.." Bunda mengangguk pelan. Tapi ada sesuatu yang bunda tangkap dari tatapan Langit pada putri bungsunya itu.
"Apa boleh saya merepotkan sekali lagi?", Langit langsung mengangguk, baginya selagi ia bisa, maka ia akan bantu.
"Selagi saya bisa. Pasti saya bantu bu.." Bunda kembali tersenyum penuh maksud. Dan Bintang sangat paham arti senyuman ibundanya.
"Jangan bun. Plisss jangan nyuruh dia..Bintang mending naik angkot bun..." Terus memprotes meski hanya bisa ia teriakkan dalam batin.
"Nanti tolong antarkan Bintang ke rumah Bulan. Bisa?". Langit langsung mengangguk cepat. Bahkan tanpa disuruh siapapun, ia akan mengantarkan Bintang.
"Bun.." Bintang kembali menelan mentah-mentah semua kata yang baru akan ia rangkai saat melihat tatapan bunda.
'turuti perintah bunda, atau seisi sekolah akan tahu siapa itu Bintang' Mungkin itulah arti tatapan mata Bunda yang bisa Bintang pahami.
"Tolong pastikan Bintang sampai dengan aman ya.." Kembali kepala Langit mengangguk cepat. Baginya, menjaga Bintang dan memastikan keamanan Bintang sudah menjadi prioritasnya kini.
"Jangan manggut-manggut aja lo Biawak!!!". Sungguh Bintang ingin protes, namun tak berani bersuara.
Pak Budi kembali masuk, entah darimana lelaki itu. Namun saat kembali, pak Budi sudah membawa sebuah kertas yang ternyata surat izin untuk Bintang pulang lebih awal.
"Istirahat saja dulu sampai benar-benar pulih. Tidak perlu memaksakan diri untuk sekolah". Bintang mengangguk patuh mendengar petuah pak Budi.
"Ehm..pak.." Lirih Bintang terlihat ragu.
"Ada apa? Bilang saja.." Pak Budi paham Bintang ingin menyampaikan sesuatu.
"Soal kedatangan bu Ratih..saya mohon dirahasiakan ya pak. Apalagi tentang ibu saya yang bekerja pada keluarga Laksmana". Bintang menatap pak Budi penuh permohonan. Sementara bunda tersenyum melihat betapa gigihnya si bungsu ingin menutupi statusnya yang sebenarnya.
Bintang menatap Langit dan Sam serta Roman. Menatap penuh permohonan yang sama pada ketiganya yang justru saling menatap.
"Sesuai permintaan kamu. Saya akan rahasiakan ini". Bintang bernafas lega, hanya tinggal tiga orang yang sepertinya belum mempercayainya dan jelas enggan menuruti permintaannya.
Bintang menunjukkan sorot mata penuh permohonannya pada Langit dan teman-temannya. Berharap itu akan berhasil.
"Sayang.." Bintang menoleh menatap bunda.
"Bunda harus menyusul ayah". Bintang mengangguk paham. Akan lebih memusingkan jika sampai ayah yang mencari keberadaan bunda. Bisa ketahuan nanti dirinya.
"Saya titip Bintang ya..saya harus pergi dulu". Semua mengangguk, dan bunda mencium lembut kening Bintang sebelum pergi menyusul ayah walau terpaksa meninggalkan Bintang.
__ADS_1
"Bunda titip Bintang ya.." Bisik bunda saat memeluk Bulan sekilas. Bulan langsung mengangguk cepat.
"Disini dulu sebentar lagi, paling tidak sampai jam istirahat berakhir agar tidak terlihat siswa lain saat kalian pergi". Bintang mengangguk menyetujui ucapan pak Budi.
"Bapak tidak bisa menunggu. Masih ada jadwal mengajar".
"Terimakasih banyak pak. Maaf sudah merepotkan". Ucap Bintang sungkan. Pak Budi mengangguk sebelum akhirnya keluar dari ruang kesehatan. Meninggalkan lima remaja yang tiba-tiba menjadi tunawicara semua.
"Sebenernya apa hubungan lo sama istrinya tuan Laksmana, Bin??". Suara Roman memecah kesunyian. Rupanya pemuda itu masih keukeuh dengan pemikirannya jika Bintang ada hubungan dekat dengan pengusaha kaya raya itu.
"Ya, kelihatannya kalian deket banget deh. Rasanya nggak mungkin cuma sekedar majikan sama anak asisten rumah tangga". Sam menimpali dengan sorot mata yang mampu membuat Bintang kesulitan menelan salivanya.
"Sorry gaes, ini cara paling ampuh bikin lo semua pada nggak banyak nanya. Buat sekarang ini, gue belom siap kalo kalian semua tau siapa gue". Batin Bintang yang sesaat kemudian memasang wajah kesakitan sambil memegang kepalanya.
Bukan sepenuhnya drama, karena kepalanya memang masih berdenyut. Juga luka bekas jahitan yang kini mulai terasa sakitnya karena efek obat bius yang perlahanmenghilang.
"Bintang.." Langit dan Bulan berseru bersamaan dan mendekati ranjang Bintang. Sam dan Roman pun terlihat sama terkejut dan khawatirnya melihat Bintang memegangi kepalanya.
"Tiduran, Bin.." Langit membantu Bintang merebahkan tubuhnya.
"Sakit banget ya Bin?". Tanya Bulan dengan wajah sedih, matanya juga berkaca-kaca setiap melihat perban yang menempel dipelipis sahabatnya itu.
"Gue panggilin dokter.." Baru Langit hendak beranjak, Bintang sudah mencekal lengannya.
"Nggak usah. Gue cuma butuh bentaran tidur aja". ucap Bintang pelan membuat Langit mengurungkan niatnya untuk memanggil dokter.
"Yaudah, lo istirahat aja. Ntar gue bangunin pas mau anter lo pulang". Bintang mengangguk samar dan memejamkan matanya.
"Seenggaknya gue aman untuk sekarang". Batin Bintang yang tengah memejamkan mata.
"Lang..kunci mobil lo dimana?". Suara Roman membuat Langit menoleh.
"Tas". Sahut Langit yang hanya menoleh sekilas lalu kembali fokus pada wajah Bintang yang beberapa kali terlihat meringis.
"Gue pindahin mobil lo ke belakang. Biar nggak banyak yang liat pas lo bawa Bintang pulang ntar". Langit mengangguk dan memberikan jempolnya pada Roman yang menurutnya sangat pengertian.
Langit tatapi wajah Bintang, sudah dua kali ini Catherine melukai Bintang. Dan dua kali pula Bintang membiarkannya. Itu yang membuat Langit justru curiga pada Bintang. Jika dibilang Bintang takut pada Catherine, jelas tidak. Lalu apa sebenarnya alasan Bintang membiarkan Catherine berbuat seenaknya.
"Gue harus cari tau". Batin Langit yang tak mengalihkan fokusnya dari wajah Bintang.
...¥¥¥•••¥¥¥...
...Pagi readers...apakabarnya? Semoga semua dalam keadaan sehat ya, aamiin🤲🏻🤲🏻...
...Jangan lupa dukungannya ya..biar othornya semangat nulisnya😊...
__ADS_1
...Happy reading semua, sarangheo sekebon🥰🥰😘😘😘💋💋💐💐💋...