
Bunda sudah berjalan mondar-mandir didalam rumah. Berulang kali melirik layar ponselnya. Melihat jam yang ada dilayar ponselnya. Bukan tanpa alasan, dirinya tengah menunggu kabar dari putrinya.
"Mungkin Bintang lupa, bun.." Naura yang sejak tadi menemani bunda mengelus pundak ibu mertuanya itu.
"Tapi Bintang nggak pernah lupa ngabarin bunda, Naura". Sorot mata khawatir semakin jelas terlihat dimata Bunda.
"Atau mungkin, Bintang terjebak macet. Dan waktu sampai, sudah bel bun. Jadi mungkin belum sempat mengabari bunda.." Memikirkan segala hal positif adalah jalan terbaik menenangkan hati yang sedang risau.
"Nanti kita telpon kalau sudah waktunya istirahat saja ya.." Bunda menatap Naura yang tersenyum dan mengangguk padanya.
Bunda membalas senyuman Naura kemudian mengikuti saran menantunya itu. Ia akan menghubungi anaknya, nanti saat jam nya istirahat.
Tak jauh berbeda dengan bunda, Langit yang baru keluar dari kamar mandi kembali memeriksa ponselnya. Berharap ada pesan dari Bintang. Namun ternyata nihil.
"Lo kemana sih, Bin". Gumam Langit yang telrihat meniman ponselnya.
Jam sudah menunjukkan pukul 9, harusnya sudah sejak dua jam lalu Bintang sampai bukan? Lalu kenapa belum juga ada kabar.
Langit memutuskan untuk mengirim pesan pada Sam atau Roman. Namun notofikasi pesan di hp nya membuat nya mengurungkan niatannya.
"Bintang? Ngirim foto apa nih anak". Gumam Langit dengan senyuman lebar.
Namun hanya sesaat senyum itu terpatri di wajahnya. Karena setelahnya, hanya wajah tegang dan kaku yang ia tunjukkan.
Ia meremas ponselnya kuat-kuat saat melihat foto yang dikirimkan melalui ponsel Bintang. Tak lama sebuah panggilan video masuk kedalam ponselnya, dari Bintang.
Cepat-cepat Langit mengangkatnya. Namun bukan wajah Bintang yang ia lihat. Melainkan seorang laki-laki yang sangat Langit kenal.
"Lo apain Bintang anj*ng!!!!". Langit langsung berteriak. Membayangkan apa yang telah dilakukan laki-laki itu pada Bintang.
Terdengar suara tawa diseberang sana. Sepertinya laki-laki di seberang sana senang sekali melihat kemarahan Langit.
Layar berubah, menampakkan sosok Bintang yang sepertinya tidak sadarkan diri duduk disebuah kursi dengan tubuh terikat.
"Lo apain dia!!! Brengs*k lo!! Urusan lo sama gw s*alan!!!". Langit benar-benar kehilangan kendali dirinya. Ia terus memaki dan mengumpati laki-laki yang justru semakin keras tawanya.
Tiba-tiba panggilan terputus begitu saja. Langit mencoba menghubungi nomor Bintang namun panggilannya terus di tolak.
Tak lama, masuk sebuah pesan. Sebuah lokasi dikirimkan melalui pesan itu.
"Datang kesini sendiri kalo lo mau ni cewek selamat. Jangan coba macem-macem karna mata gw ada dimana-mana".
Pesan bernada ancaman Langit terima. Tanpa berpikir panjang, Langit segera mengganti pakaian santainya dengan celana panjang hitam serta kaos yang ia tutupi dengan hoodie hitam miliknya.
"Gw dateng, Bin. Lo harus baik-baik aja". Gumam Langit yang langsung menyambar kunci motornya diatas nakas.
"S*alan!! Harusnya tadi gw anterin Bintang!", Langit menyalahkan dirinya sendiri atas apa yang menimpa Bintang. Andai saja tadi ia memaksakan diri menjemput Bintang, pasti tidak akan seperti ini.
__ADS_1
Tubuhnya masih kurang sehat, kepalanya pun masih sedikit pusing. Tapi Langit bahkan tidak merasanya, yang ada dipikirannya hanya Bintang dan Bintang saja.
"Langit!! Mau kemana kamu??". Suara nyaring sang mommy membuat Langit menghentikan sejenak langkah kakinya.
"Ada perlu bentar, mom". Menjawab lalu segera melangkah kembali.
"Kamu lagi sakit! Jangan aneh-aneh deh". Mommy Sekar jelas khawatir melihat tampilan putranya yang seperti siap bepergian.
"Langit nggak akan lama, mom. Daaa mom, love u". Langit mencium pipi ibunya dan berlari keluar secepat mungkin sebelum kembali banyak pertanyaan yang dilontarkan sang mommy.
Sementara Langit sudah melesat pergi. Disekolah, Bulan tampak tidak tenang karena Bintang tidak bisa ia hubungi sejak tadi.
Padahal tadi pagi sebelum berangkat, mereka sempat berkirim pesan. Bintang bahkan mengatakan sudah akan berangkat ke sekolah. Lalu kemana temannya itu?
"Dimana Bintang??". Semua menatap pintu kelas. Arsen berdiri dengan wajah panik dan nafasnya terlihat baik turun. Speertinya ia baru saja berlari menuju kelas Bintang.
"Dimana Bintang, Bul?". Arsen berjalan mendekati meja Bulan dan segera menanyakan keberadaan Bintang.
"B-Bintang nggak ada. Dia nggak masuk". Sahut Bulan tergagap karena kaget tiba-tiba Arsen menanyakan sahabatnya itu.
"S*al!!!". Umpat Arsen yang langsung berlari keluar kelas setelah mendapat jawaban.
Sam dan Roman saling melirik. Melihat ada sesuatu yang tidak beres, kemudian segera mengejar Arsen, diikuti Bulan di belakang keduanya.
"Ada apa sama Bintang?!". Tanya Sam yang berhasil menyusul Arsen yang sepertinya akan pergi ke tempat parkiran. Menguatkan dugaan mereka jika ada sesuatu yang tidak beres.
"Dimana si Langit?!". Merasa akan percuma, akhirnya Arsen bertanya.
"Dia nggak masuk". Roman menjawab singkat.
"Dion s*alan!". Umpatnya lagi yang jelas terdengar oleh Sam dan Roman.
"Telpon Langit sekarang!". Ucap Arsen membuat Sam dan Roman saling melirik, namun kemudian mengeluarkan ponsel dan menghubungi Langit.
"Nggak diangkat". Ucap Roman membuat Arsen semakin yakin jika Dion juga mengirimkan foto Bintang pada Langit.
"Bintang di culik. Gw yakin Langit juga udah tau, jadi sekarang awas. Gw harus cepet pergi". Mata Bulan membelalak mendengar ucapan Arsen.
"Nggak mungkin. Bintang tadi pagi masih ngirim pesen ke gw kok". Mata Bulan sudah berkaca-kaca. Kini ia benar-benar takut jika apa yang Arsen katakan benar adanya.
"Bintang!!!". Pekik Bulan sambil membekap mulutnya saat Arsen menunjukkan foto yang dikirimkan Dion beserta pesan ancamannya.
"Kita ikut!". Seru Roman dan Sam bersamaan. Mereka tidak mungkin tinggal diam melihat teman-teman mereka dalam kesulitan seperti ini.
"Kita bakal hati-hati, biar nggak ketauan. Lo sama Langit nggak akan bisa kelarin ini berdua". Sam kembali bersuara sebelum Arsen menolak usulannya dan Roman.
"Gw juga ikut". Ucap Bulan yang juga ingin ikut menolong Bintang.
__ADS_1
"Jangan!". Seru Sam dan yang lainnya. Akan semakin sulit jika Bulan dilibatkan. Apalagi Bulan tidak memiliki skill beladiri.
"Kali ini nurut sama gw. Percaya sama kita, kita bakal bawa Bintang pulang". Sam memegang kedua pundak Bulan, mencoba meyakinkan Bulan agar menurut.
"Bawa Bintang balik. Kalian hati-hati". Ketiganya mengangguk dan segera menaiki kendaraan masing-masing menuju lokasi yang sudah dikirmkan penculik Bintang.
*flashback kejadian sebelum Bintang diculik dulu ah**🤭*
Bintang beberapa kali melirik spion motornya saat merasa ada yang tidak beres. Ada sebuah mobil yang terus mengikutinya sejak ia keluar dari komplek perumahannya.
"Ada yang kaga beres nih". Gumam Bintang sambil menambah laju kendaraannya.
"S*al!! Apaan lagi nih". Gerutu Bintang yang terpaksa harus menghentikan laju kendaraannya karena ada beberapa motor yang mencegatnya.
"Halo Bintang..kita ketemu lagi". Bintang menyipitkan matany. Menatap laki-laki yang tengah tersenyum padanya.
Bintang mencoba mengingat sosok yang kini menghadangnya. Sesaat kemudian ia mengingat wajah itu. Ia pernah melihatnya saat sedang menonton dengan Langit. Tapi siapa namanya? Ah, Bintang lupa.
"Bisa tolong minggir? Gw mau lewat". Ucap Bintang berusaha tetap tenang meski sudah melihat sinyal bahaya. Apalagi mobil yang tadi sempat mengikutinya ikut berhenti tak jauh dari tempatnya berhenti.
"Mau kemana cantik? Jangan buru-buru". Bintang semakin merasa terancam saat laki-laki itu berjalan mendekatinya.
"Lo nggak inget gw?", Tanya si lelaki, namun Bintang memilih diam tak menjawab.
"Oke, gw kenalin diri gw dulu". Laki-laki itu mengulurkan tangannya pada Bintang. Dan jelas bukan, Bintang tidak akan menerima uluran tangan itu.
"Dion". Bintang langsung teringat lelaki didepannya ini.
"Kayanya elo nggak suka kenalan". Dion menarik kembali tangannya karena Bintang tidak menerimanya.
"Gw nggak punya urusan sama lo. Jadi bisa minggir? Gw udah telat". Ucap Bintang yang masih duduk diatas motornya.
"Satu, dua, tiga...Empat orang. Harusnya gw masih bisa bertahan lawan mereka". Batin Bintang yang sudah memprediksi kemungkinan terburuk jika harus bentrok.
"Tapi gw ada urusan sama lo, cantik". Dion mengedipkan sebelah matanya. Membuat Bintang menatapnya jengah sekaligus kesal.
"Ayo ikut gw.." Dion berjalan cepat dan menggenggam pergelangan tangan Bintang. Jelas Bintang langsung menepisnya.
"Gw nggak mau!". Ketus Bintang yang sudah turun dari motornya. Bersiap dengan kemungkinan terburuk.
"Jangan sampe gw maksa, Bintang". Ucap Dion dengan senyum penuh arti.
...¥¥¥•••¥¥¥...
...Wes segini dulu, dilanjut ke bab selanjutnya ya😊😊...
...Happy reading☺️☺️🥰...
__ADS_1