
Sementara yang didalam kamar sedang berbunga-bunga dimabuk cinta, dua wanita paruh baya yang masih awet muda itu tengah di mabuk keadaan. Kepala keduanya terasa pusing, hatinya pun tak tenang memikirkan akan bagaimana kelanjutan hubungan kedua anaknya.
Padahal jika dipikirkan lagi, keduanya masih sangat muda untuk dipikirkan hubungan seriusnya.
"Hah.." Terdengar helaan nafas dari keduanya. Menggambarkan bagaimana keadaan hati kedua ibu itu.
Keduanya saling menatap sesaat sebelum kembali menghela nafas. Pasti akan sulit bagi putra putri mereka. Apalagi melihat kedekatan Langit dan Bintang yang sudah mengalami banyak sekali kemajuan.
"Gimana ini jeng?". Pertanyaan yang sama meluncur secara bersamaan dari mulut mereka hingga akhirnya hanya bisa menghela nafas panjang.
"Kita berdoa saja, semoga ke depannya hubungan mereka akan tetap baik-baik saja meskipun harus berpisah untuk sementara waktu". Bunda Ratih akhirnya hanya bisa berdoa dan berharap kebaikan untuk kedua anak itu.
"Iya, sepertinya memang hanya itu yang bisa kita lakukan sekarang. Lagipula, Langit juga sudah mantap dengan keputusannya untuk pergi sementara waktu ini". Timpal mommy Sekar.
Akhirnya siang itu, kedua ibu itu hanya menghabiskan waktu makan siang mereka dengan banyak diam. Bahkan keduanya tidak memesan makanan apapun. Keduanya hanya memesan minuman saja.
----
Waktu yang sudah ditentukan semakin dekat. Keduanya bahkan sudah masuk ke sekolah sejak kemarin. Banyak pertanyaan teman-teman mereka yang menanyakan kemana keduanya beberapa hari ke belakang.
"Gw kecelakaan, makanya istirahat dirumah". Bohong Langit yang memang meminta kasus penculikan Bintang dan penganiayaan terhadap dirinya ditutupi dari publik.
"Terus elo kemana Bin?". Tanya Ardi yang kini menatap Bintang.
"Gw ada keperluan keluarga. Ikut bokap sama nyokap pergi". Bintang nyengir, menampakkan deretan giginya yang rapi.
Meskipun merasa janggal, namun teman-teman keduanya percaya juga dengan alasan Langit dan Bintang.
"Nanti pulang bareng gw ya.." Ucap Langit.
"Lo udah bawa kendaraan sendiri?". Tanya Bintang kaget.
"Gw bawa mobil, jadi nggak terlalu pengaruh sama kaki gw. Lagian kaki gw juga udah mendingan". Jelas Langit yang melihat Bintang melotot.
"Ntar gw bilang sama bunda dulu. Biar supir rumah nggak usah jemput". Ucap Bintang akhirnya.
"Gw udah telpon bunda tadi". Bintang tersenyum dan mengangguk.
"Cie ini berdua yang lagi dimabuk cinta mah. Serasa ini dunia punya berdua aja, yang lain ngontrak doang", Cibir Bulan yang sejak tadi melihat interaksi Langit dan Bintang.
"Sirik aja lo". Balas Langit dan Bintang kompak kemudian tertawa. Sementara Bulan tampak mendengus kesal melihat kekompakan kedua orang itu.
"Gw bahkan belom mikirin gimana cara ngomong ke elo, Bin. Gw harus mulai dari mana?". Batin Langit yang sebenarnya bingung sekaligus takut untuk mulai membicarakan perihal rencana kepergiannya pada Bintang.
Padahal waktunya hanya tinggal dua hari lagi sebelum benar-benar pergi meninggalkan Bintangnya.
Sekolah hari itu terasa sangat menyenangkan bagi Bintang maupun Langit. Bahkan rasanya waktu cepat sekali berputar hingga kini sudah waktunya istirahat.
__ADS_1
"Lo yakin bisa?", Tanya Bintang entah untuk keberapa kalinya.
"Bisa, Bintang. Astaga, lo ngeremehin gw banget sih". Langit yang gemas mengusak rambut Bintang hingga sedikit berantakan.
"Uuuuuuu...yang lagi kasmaran nih". Sorak teman-teman yang lain ketika melihat interaksi keduanya.
"Gw nggak apa-apa. Tadi gw juga jalan dari parkiran ke kelas kita". Langit kembali menjelaskan, berharap Bintang tidak mengkhawatirkan dirinya.
"Ya udah. Kalo capek bilang ya, kita duduk dulu kalo kaki lo kerasa capek". Langit tersenyum, jika tidak disekolah, ia pasti sudah mencium pipi Bintang.
"Ututututu..co cweet banget sih ayang Bintang. Aa Roman juga mau dong diperhatiin". Langit langsung menoyor kepala sahabatnya yang tengah menggodanya dan Bintang.
"Sono lu, ganggu aja. Dasar jomblo". Ledek Langit membuat Roman mencebik kesal.
"Kaya lo berdua udah jadian aja. Dasar bucin". Balas Roman kesal kemudian meninggalkan Bintang dan Langit yang langsung diam membeku mendengar ucapan Roman yang memang benar adanya.
Keduanya tidak memiliki hubungan itu, pacaran, berkencan atau apapun itu. Keduanya hanya dekat dan saling memberikan perhatian layaknya sepasang kekasih.
Keduanya saling melirik, kemudian Langit merangkul pundak Bintang.
"Nggak usah dipikirin si Roman. Kantin aja.." Ajak Langit yang kemudian bersama Bintang menuju kantin.
Bulan sudah lebih dulu di sabotase oleh Samudra. Entah seperti apa sekarang hubungan kedua anak manusia itu.
"Mommy.." Gumam Bintang saat melihat ibunda Langit yang baru saja keluar dari ruang kepala sekolah.
"Lang, itu bener mommy kan?". Tanya Bintang membuat Langit ikut menatap kemana telunjuk Bintang mengarah.
"Mom, Mommy.." Teriak Bintang sambil berlari menghampiri mommy Sekar.
"Bintang.." Gumam mommy Sekar yang sempat terkejut. Namun cepat-cepat mommy menetralkan ekspresi wajahnya.
"Sayang..awas, jangan lari-lari". Mommy Sekar menyembunyikan kegelisahannya dengan senyuman hangat menyambut Bintang.
"Mommy apa kabar?". Tanya Bintang sekedar berbasa basi.
"Mommy baik sayang. Kalian mau kemana?". Mommy balas bertanya.
"Tadinya mau ke kantin, tapi Bintang liat mommy disini, makanya disamperin kesini sama dia". Jelas Langit pada sang ibu.
"Mommy ada keperluan kesini?". Tanya Bintang membuat wajah mommy bereaksi. Terlihat sedikit keterkejutan dengan pertanyaan yang menurut Bintang sangat biasa.
Sebenarnya Bintang sedikit curiga belakangan ini pada Langit. Pemuda itu terus saja meminta maaf dan memintanya untuk tidak kecewa apalagi membenci dirinya dengan apapun yang terjadi nantinya.
"Mommy ada sedikit keperluan sayang.." Mommy mengelus lembut kepala Bintang yang mengangguk mengerti.
Bintang melirik Langit dengan sebelah alis terangkat saat tiba-tiba mommy memeluk dirinya dengan erat.
__ADS_1
"Mom.." Lirih Bintang yang juga balas memeluk mommy Sekar.
"Mommy sayang sekali padamu". Ucap mommy Sekar yang berusaha keras menahan air matanya yang mulai menggenang di netranya.
Setelah berulang kali berpikir, akhirnya sebuah keputusan mommy ambil dengan persetujuan suaminya. Mommy akan menemani Langit sampai pemuda itu benar-benar bisa ditinggalkan seorang diri, mungkin satu atau dua tahun.
Dan dalam waktu itu, sudah pasti ia akan sangat merindukan gadis yang saat ini tengah ia peluk.
Beruntungnya mommy karena bisa nertemu dengan Bintang hari ini. Meskipun tidak bisa berpamitan dengan layak, namun setidaknya mommy bisa mengucapkan salam perpisahan meskipun mungkin Bintang tidak menyadarinya.
"Bintang juga sayang sama mommy.." Bintang menepuk pelan punggung mommy beberapa kali.
"Tolong jangan kecewa pada mommy ataupun daddy..dan jangan membenci Langit". Dahi Bintang berkerut. Lagi-lagi permohonan maaf dan permintaan yang sama seperti yang diucapkan Langit berulang kali.
"Mom.." Mommy menahan tubuh Bintang tetap ada dalam pelukannya ketika gadis itu coba melepaskan pelukannya.
"Sebentar saja sayang. Mommy sangat merindukanmu, biarkan mommy memelukmu sebentar lagi". Akhirnya Bintang mengalah dan membiarkan mommy memeluknya meski di kepalanya bersarang puluhan pertanyaan yang ingin segera ia ketahui jawabannya.
Mommy mengendalikan dirinya, menarik nafas dalam kemudian melepaskan pelukannya pada Bintang. Sementara Langit tidak berniat mengganggu ibunya itu, ia hanya memberi isyarat atau sekedar mengingatkan sang mommy jika terlihat sang mommy hampir kelepasan.
"Kamu cantik sekali.." Puji mommy membuat Bintang tersenyum malu.
"Calon mantu mommy emang paling cantik". Ucap Langit menimpali membuat Bintang semakin malu.
"Apaan sih.." Gumam Bintang.
"Sayang.." Bintang kembali mengalihkan tatapannya pada mommy yang memanggil dirinya sambil menangkup kedua pipinya.
"Apapun yang terjadi nantinya, tolong jangan membenci Langit ya. Dia sangat mencintai kamu.." Ucap mommy sendu.
"Mom, sebenarnya ada apa? Kenapa mommy dan Langit selalu berbicara tentang hal ini?". Akhirnya pertanyaan itu keluar juga dari mulut Bintang.
"Tidak ada. Mommy hanya tidak ingin kamu dimiliki laki-laki lain, selain putra tampan mommy". Kelakar mommy disertai tawa hambarnya.
"Maaf kalau mommy egois, Bintang. Tapi mommy benar-benar sudah sangat menyayangimu, pun dengan Langit yang sangat mencintaimu. Tolong maafkan kami dan jangan membenci kami sayang". Ingin sekali mommy menjelaskan, namun lagi-lagi putranya menggeleng.
"Langit sangat mencintaimu sayang.." Ucap mommy lagi pada Bintang sambil melirik putranya.
"Mommy tenang saja, dia paling tahu seberapa besar Langit mencintainya". Bintang mencebik, meskipun begitu, lengkungan bibirnya tak bisa ia sembunyikan.
"Mommy harus pulang. Kalian lanjutkan saja kegiatan kalian". Mommy melirik jam nya. Sudah saatnya ia pulang dan mulai berkemas.
"Waktunya benar-benar udah deket". Batin Langit. Bibirnya tersenyum, tapi hatinya menangis.
...¥¥¥•••¥¥¥...
...Yaaaah, bentar lagi Bintangnya bener-bener ditinggal deh☹️...
__ADS_1
...eittsss✋🏻 jangan sedih dulu..nggak akan lama kok. Mau puluhan tahun juga kalo di novel mah cuma beberapa bab🤭🤭...
...Terimakasih buat semua readers🙏🏻🙏🏻 sayang readers banyakbanyak💋💋♥️🥰😘💐♥️💋...