
"Nggak mau pindah resto aja?". Tanya Bintang membuat Langit menoleh.
"Kenapa? Disini makanannya enak-enak banget. Mommy sama daddy aja seneng kesini". Bintang hanya menghela nafas panjang. Bukan tidak suka menu di restoran itu, Bintang bahkan mungkin lebih tahu daripada Langit.
Langit membawa Bintang ke sebuah restoran yang sangat Bintang tahu. Karena ia sering mengunjungi restoran itu. Bahkan para pelayan di restoran itu sudah sangat mengenalnya.
Bintang sedikit menundukkan kepalanya saat memasuki restoran. Berharap tidak ada pelayan yang menyapa dirinya.
Rupanya Langit membawa Bintang ke restoran milik Kirani, kakak ipar Bintang. Hanya saja Langit tidak tahu jika restoran itu milik kakak ipar Bintang.
Sambil mengedarkan pandangannya ke seluruh sudut cafe, Langit tak melepaskan tautan tangannya dari Bintang. Bahkan ia mengeratkannya saat merasa Bintang mencoba melepaskan tangan mereka.
"Lang, lepasin tangan gw.." Bintang berbisik namun Langit sengaja menulikan pendengarannya dan justru semakin erat menggenggam tangan Bintang.
Bukan tidak suka, hanya saja Bintang merasa jantungnya perlu bekerja berkali-kali lipat jika Langit menggenggam tangannya seperti saat ini. Lagipula ia akan malu jika sampai salah satu pegawai kakak iparnya melihat dirinya datang bersama seorang laki-laki.
"Disana kosong.." Langit kembali menarik Bintang yang terlihat menghela nafas panjang dan mengikuti langkah kaki Langit diikuti sorot mata tajam dari seseorang yang sudah mengepalkan tangannya saat melihat keduanya masuk kedalam restoran. Apalagi melihat tangan keduanya yang saling bertaut.
Tak lama datang seorang pelayan membawa buku menu untuk keduanya. Langit terlihat membuka buku menu untuk menentukan makanan apa yang akan ia makan.
"Lo mau apa?". Tanya Langit karena sejak tadi Bintang diam dan menunduk.
"Ayam bakar, dada. Dibakarnya agak gosong, sambel bawang yang pedes banget sama ca kangkung, minumnya jus jambu". Tanpa mengangkat kepalanya, Bintang menyebutkan pesanannya.
"Mbak Bintang?". Bintang memejamkan matanya rapat saat pelayan yang berdiri disampingnya ternyata mengenalinya.
Perlahan Bintang mengangkat wajahnya. Ia tersenyum canggung saat netranya bersirobok dengan mata pelayan yang terlihat menyipit karena tersenyum lebar padanya.
"Ah ternyata bener mbak Bintang.." Langit mengerutkan dahinya. Bagaimana mungkin pelayan itu mengenal Bintang dengan baik. Apa mungkin restoran ini juga langganan keluarga Bintang.
"Pantes pesenannya kok saya kenal sekali. Cuma mbak Bintang yang pesen ayam bakar digosongin". Senyum si pelayan semakin lebar membuat Bintang semakin malu. Inilah alasannya enggan masuk ke restoran ini tadi.
"Hehe, iya mbak.." Bintang tetap tersenyum walau terlihat kaku.
"Bu Rani nggak di tempat tapi mbak.." Bintang mengangguk, ia kesini bukan untuk menemui Kiran.
"Iya tahu kok mbak..mbak Kiran dirumah". Langit semakin bingung mendengar percakapan Bintang dan pelayan itu.
"Lo mau pesen apa? Jangan bengong". Bintang menyadarkan Langit yang masih terlihat kebingungan.
"Hah?". Bintang menghela nafas.
"Samain aja ya mbak, tapi jangan di gosongin yang temen aku nya. Sama sambelnya yang biasa aja". Pelayan mengangguk sambil menulis pesanan Bintang.
"Mau minum apa?". Tanya Bintang
"Orange juice aja". Sahut Langit masih terus menatap Bintang.
"Itu aja mbak..makasih ya mbak". Ucap Bintang membuat pelayan mengangguk.
__ADS_1
"Mohon ditunggu". Pelayan itu membungkuk sedikit sambil tersenyum sebelum pamit undur diri.
"Ini resto punya mbak Kiran". Bintang paham arti tatapan Langit. Karena itulah ia menjelaskan sebelum Langit bertanya padanya.
Langit menganggukkan kepalanya beberapa kali. Kini ia paham mengapa pelayan tadi begitu mengenal Bintang. Bahkan sampai hafal makanan kesukaan Bintang jika datang ke restoran itu.
Tidak butuh waktu lama untuk menunggu pesanan Langit dan Bintang datang ke meja mereka.
"Selamat makan.." Ucap Bintang disertai binar kebahagiaan menatap makanan kesukaannya sudah didepan mata.
"Gemes". Gumam Langit menatap Bintang yang mulai menyantap makanannya.
Lelaki itupun mulai menikmati makanan yang sudah Bintang pesankan untuknya. Matanya tak lepas memandang sosok Bintang yang memang berbeda jauh dari gadis kebanyakan.
Jika gadis lain, pasti saat ini mereka tengah menjaga sikap mereka. Makan dengan perlahan dan elegan, namun tidak dengan Bintang. Gadis itu terlihat acuh meski Langit memperhatikannya, Bintang bahkan tak segan memakai tangan saat makan tanpa alat sendok atau garpu.
"Enak banget?". Tanya Langit yang hanya dijawab anggukan kepala oleh Bintang karena mulut gadis itu penuh dengan makanan.
"Kaya anak kecil makan belepotan". Bintang berhenti bergerak, bahkan berhenti mengunyah karena lagi-lagi Langit menunjukkan perhatiannya pada Bintang. Tanpa segan Langit mengusap sudut bibir Bintang yang kotor karena bumbu ayam bakar, lelaki itu bahkan tak merasa jijik memasukkan jempolnya kedalam mulutnya sendiri setelah mengusap bibir Bintang.
Bintang dibuat tak mampu berkata-kata mendapat perlakuan seperti itu dari Langit. Hatinya kian melemah, tembok kokoh yang selama ini sengaja ia bangun itu mulai rapuh karena terus menerus digerus oleh perhatian tulus Langit.
Keduanya saling diam dengan mata saling bertaut, hingga sebuah suara membuyarkan momen romantis kedua remaja itu.
"Ah ternyata beneran Langit.." Baik Langit maupun Bintang kompak menoleh.
Bahkan tanpa rasa malu atau sungkan, gadis yang tak lain adalah Catherine itu langsung mendudukkan dirinya disamping Langit. Kemudian menatap Bintang dengan sinis sebelum tersenyum sangat manis pada Langit.
"Biang masalah". Gumam Bintang pelan hingga tak ada yang mendengarnya.
"Kebetulan banget deh Lang kita ketemu disini. Atau karna kita jodoh?". Catherine terkekeh pelan sambil menutup bibirnya dengan gaya kemayunya.
Bintang kembali mencibir Catherine yang sok manis ketika didepan Langit. Padahal gadis itu sudah seperti kucing liar jika berhadapan dengan Bintang.
"Jodoh-jodoh pala bapak kau!". Cibir Bintang pelan membuat Langit yang mendengarnya samar tersenyum geli. Sedangkan Catherine salah mengartikan senyum Langit dan mengira Langit setuju dengan ucapannya.
"Kamu kok bisa disini sih Lang?". Pertanyaan konyol Catherine benar-benar membuat Bintang ingin menoyor kening gadis itu.
"Mata kau kemana dasar mak kucing sinting. Kaga liat apa lagi makan disini". Kembali Langit mendengar gerutuan Bintang membuatnya hampir tak bisa menahan tawanya.
"Makan". Sahut Langit acuh, ia lebih senang melihat bibir Bintang yang komat kamit mencibir dan memaki Catherine meski hanya lirih.
"Terus kok bisa sama si upik abu ini?". Tatapan mata Catherine langsung berubah sinis saat melirik Bintang yang tampak acuh saja tak peduli ucapan Catherine.
"Kalo elo tahu siapa Bintang, mungkin lo bisa mati berdiri Cath". Batin Langit yang membayangkan akan seperti apa reaksi Catherine saat tahu siapa Bintang nya yang sesungguhnya.
"Gw yang ngajak dia". Bintang melirik Langit sekilas. Ia tak menyangka Langit akan dengan gamblang mengatakan jika keberadaan Bintang di restoran itu karena ajakan Langit.
"K-kamu ..."
__ADS_1
"Iya, gw yang bawa Bintang kesini". sAmbar Langit cepat, bahkan sebelum Catherine menyelesaikan ucapannya.
"T-tapi kok bisa.." Tatapan Catherine menajam menatap benci pada Bintang yang terlihat sangat tenang dan masih menikmati makan siangnya.
"Jangan bikin keributan Cath!". Ucap Langit saat melihat Catherine hendak memaki Bintang.
"Kamu belain dia Lang?". Tanya Catherine tak terima. Baginya, Langit adalah miliknya. Dan tak ada yang boleh merebut miliknya, siapapun itu,
"Udah deh Cath. Gw udh ngomong ama elo berulang kali. Kita nggak ada hubungan apapun. Jadi jangan bertingkah kaya gw ini pacar elo". Suara Langit sudah terdengar sangat dingin. Wajahnya pun sudah tidak bersahabat.
Gerakan tangan Bintang terhenti, matanya terpejam saat tiba-tiba Catherine berdiri dan menyiramnya dengan jus jeruk milik Langit.
Bintang menghela nafas panjang. Mencoba tenang dan tidak membuat keributan direstoran milik kakak iparnya itu.
Ia tidak ingin restoran sang kakak terkena imbas dari permasalahan yang sebenarnya ia tak inginkan.
"Catherine!!!". Seru Langit sambil berdiri. Menatap tajam Catherine yang tersenyum puas melihat Bintang basah kuyup karena satu gelas jus mengenai wajah dan sebagian bajunya.
"Are you okay?". Langit langsung mengambil tidu, dan dengan cekatan membersihkan sisa jus yang ada di wajah Bintang.
"Gw nggak apa-apa. Lo urus dia aja". Bintang memegang tangan Langit yang masih sibuk mengeringkan wajahnya dengan tisu.
"Yakin ni bumi sesempit ini? Kenapa musti ketemu si kucing mulu sih. Heran gw". Batin Bintang kesal.
Kebetulan macam apa sebenarnya yang ada dihidupnya. Mengapa selalu membuatnya dalam masalah. Apalgi jika sudah bersinggungan dengan si kucing biang masalah. Lagi-lagi Bintang hanya menghela nafas.
"Ada apa ini?". Datang seorang pria yang tak lain adalah manager restoran, matanya melebar sempurna melihat sosok Bintang yang kini terlihat sedikit berantakan.
"Nona Bin---" Bintang menatap manager restoran kemudian menggeleng pelan.
"Ada apa ini nona?!". Tanyanya menatap galak Catherine.
"Kenapa melotot padaku! Dia yang membuat masalah! Katanya restoran terkenal, tapi kenapa membiarkan orang miskin seperti dia masuk kesini!". Sinis Catherine membuat manager dan beberapa pegawainya saling menatap dengan alis berkerut.
"Siapa yang anda maksud nona?". Catherine dengan penuh percaya diri menunjuk Bintang yang saat ini masih dibersihkan oleh Langit.
"Sepertinya anda salah orang nona". Sinis manager restoran yang ikut kesal karena ucapan Catherine.
Selama ia bekerja di restoran milik Kirani, ia mengenal baik siapa Bintang. Gadis itu adalah gadis ramah yang baik hati. Jadi, jika ada yang menghina adik ipar bos nya, maka dia akan berdiri paling depan untuk membelanya.
Bintang mengedipkan matanya kemudian menggeleng pelan saat manager hendak menegur Catherine lebih lanjut.
...¥¥¥•••¥¥¥...
...Si mbak kucing minta disantet onlen ama readers kali ya. Hobinya gangguin Bintang sama Langit mulu🤦🏼♀️...
...Nggak apa-apa tapi ya, kalo nggak ada ucing yang satu itu, nanti nggak seru dong..ya kan ya kan?😆😆...
...Sekian dulu, kebanyakan ngemeng mak othornya, selamat menikmati kalian semua😘😘🥰💋♥️💐...
__ADS_1