
Bel sekolah berbunyi, para siswa berhamburan keluar untuk segera pulang ke rumah mereka.
Ada sosok baru yang kini menjadi pusat perhatian teman-teman Bintang yang baru keluar kelasnya.
Sosok tinggi tampan dengan senyum menawan yang tengah bersandar didinding samping kelas Bintang.
"Lama banget sih pacar gw.." Bintang disambut rangkulan hangat Bima. Membuat kepala seseorang berasap karena melihat interaksi itu.
"Lo nungguin gw dari tadi?". Kepala Bima mengangguk tanpa berniat menyingkirkan tangannya.
"Gw ada latihan tapi.." Ucap Bintang menatap Bulan yang ada disampingnya.
"Latihan? Basket?". Kini giliran Bintang yang mengangguk. Bima sangat tahu apa kegemaran Bintang.
"Gw tungguin ampe kelar". Bima mengacak gemas rambut Bintang hingga sedikit berantakan.
"Ish..jangan diacak-acak. Berantakan". Protes Bintang dan membuat Bima langsung merapikan rambut gadis cantik itu.
Semua interaksi antara keduanya cukup menyita perhatian banyak siswa. Bagaimana tidak, Bintang yang selama ini terkenal menjaga jarak dari para pria, kini terlihat berinteraksi begitu dekat dengan lelaki yang berstatus siswa baru.
"Tapi latihannya lama, Bim. Nggak apa-apa lo?". Bima menggeleng dan kembali merangkul pundak Bintang. Menggiring gadis itu agar menunjukkan dimana gadis itu akan berlatih.
"Tenang Lang..lo emosian banget sih". Roman menahan lengan Langit yang terlihat hendak menyusul Bintang yang pergi bersama Bima.
"Siapa sih tu bocah? Tengil banget jadi orang". Sengit Langit membuat Roman terkekeh melihatnya.
"Anak baru". Sam menjawab singkat membuat Langit mencebik.
"Gue juga tau kalo cuma itunya!". Ketus Langit lagi membuat Sam menyunggingkan senyum tipis. Kali ini Langit benar-benar menunjukkan rasa cemburunya.
Ketiganya berjalan cukup jauh dibelakang Bintang. Wajah Langit masih mendung, apalagi melihat Bintang yang terlihat santai saja setiap Bima menyentuh bahkan merangkulnya.
"Coba kalo gw yang kaya gitu. Auto digampar ama si Bintang". Gumam Langit yang sangat kesal melihat Bintang dirangkul Bima.
Roman dan Sam yang mendengar gumaman Langit saling menatap dan terkekeh geli. Bahkan sepertinya teman mereka itu sudah melupakan tujuan awalnya mendekati Bintang.
"Langit.." Tanpa berniat menghentikan langkahnya, Langit terus berjalan tanpa mau menoleh ke belakang. Ia tahu siapa yang memanggilnya.
"Langit! Lang..." Langit masih mendengar dengan jelas. Namun sengaja menulikan pendengarannya.
"Langit.." Tiba-tiba seorang gadis sudah merangkul lengannya. Langit hanya melirik sekilas lalu kembali fokus pada gadis didepan sana yang masih berjalan bersisian dengan pria yang menurut Langit sangat menyebalkan.
"Aku udah panggil kamu berkali-kali loh.." Suara manja Catherine tak membuat Langit ingin menatapnya. Ia masih fokus pada mangsanya.
"Lang.." Rengek Catherine yang membuat Langit jengah.
"Paan sih lo! Nggak usah kaya gini". Langit melepaskan tangan Catherine yang tengah merangkul erat lengannya.
__ADS_1
Catherine mengerucutkan bibirnya, tak suka dengan penolakan Langit. Ia mendongak menatap Langit, tangannya kembali terkepal saat melihat Langit terus menatap Bintang.
Tadinya ia sudah mulai tenang karena kehadiran sosok baru yang sepertinya sangat dekat dengan Bintang. Namun sepertinya hadirnya lelaki baru tak mempengaruhi Langit. Justru Catherine semakin bisa melihat jika Langit benar-benar menyukai Bintang.
"Apa lebihnya dia sih. Begusan juga gue kemana-mana. Dia cuma cewek miskin yang beruntung bisa sekolah disini. Aku harus minta papa buat tendang tu cewek keluar sekolah ini". Batin Catherine geram.
"Aku nungguin kamu latihan ya..nanti kita pulang bareng". Langit melirik sekilas
"Ogah. Gue balik ama Roman". Langit menjawab tanpa menatap Catherine.
Kesal, itulah yang saat ini dirasakan oleh Catherine. Semua yang ia lakukan tak berhasil menarik perhatian Langit. Bahkan dilirik pun tidak. Benar-benar menyebalkan.
Selanjutnya Catherine terus berbicara, meski Langit tak sedikitpun menanggapinya. Catherine tak menyerah dan terus mencoba menarik perhatian Langit.
Sedangkan saat ini, Bulan dan Bintang tengah mengganti baju mereka dengan seragam basket.
Sambil bersenda gurau, keduanya tengah membicarakan Bima yang kini dengan setia menunggui keduanya.
Kehadiran sosok Bima disisi lapangan mampu membuat para gadis yang biasa menonton menjadi kurang fokus. Jika biasanya mereka selalu memfokuskan pandangan mereka pada Langit, kini mereka dibuat bingung karena harus membagi pandangan mereka.
Apalagi Bima juga bukan sosok dingin dan sombong yang ketus. Bima selalu menebar senyum penuh pesona nya.
"Liatin tuh..bapaknya komodo lagi tebar pesona". Cibir Bintang yang melihat Bima terus tersenyum pada segerombolan gadis yang terus membisikkan namanya.
"Dia sih udah pro banget Bin. Nggak usah diraguin". Bulan ikut menimpali ucapan Bintang.
"Sayaaaang..." Bima segera mengalihkan pandangannya saat mendengar panggilan merdu seseorang yang sangat ia kenali suaranya.
Mata Bima melotot seolah memperingatkan pada Bintang untuk tidak bertindak macam-macam.
Namun justru Bintang tersenyum sangat manis hingga membuat Bima merinding.
'jangan aneh-aneh. Plis jangan lakuin hal yang aneh' Mungkin itulah arti tatapan mata Bima pada Bintang.
"Tunggu sebentar ya aa Bima sayang..adinda nggak akan lama kok latihannya". Bima mendelik mendengar ucapan Bintang. Diliriknya para gadis yang tadi terus menatapnya, kini mereka saling berbisik sambil menatapnya dan Bintang bergantian. Entah apa yang para gadis itu bicarakan.
Tak hanya para gadis itu, tindakan Bintang yang memanggil Bima dengan sebutan 'sayang' mampu membuat seseorang semakin terbakar.
"Bagus. Lo emang harus jauh-jauh dari Langit nya gue, Bintang. Jangan pernah deket-deket Langit lagi, karna Langit cuma punya gue". Catherine yang juga ikut menyaksikan apa yang Bima dan Bintang lakukan tampak senang. Karena berpikir jika kedua orangvitu memang memiliki hubungan khusus.
Catherine mungkin adalah salah satu orang paling bahagia jika memang Bintang dan Bima berpacaran, karena dengan begitu dirinya akan lebih mudah memiliki Langit.
"Sumpah Bin, elo minta gw *****". Geram Bima yang berbicara pelan namun penuh penekanan.
"Mau dong di ***** sama bapaknya komodo, pengen tau rasanya". Bukannya takut, Bintang justru semakin senang menggoda Bima. Ia majukan wajahnya masih dengan senyuman super manis. Senyuman yang khusus ia berikan untuk Bima.
"Kasih sabar hamba ya Allah, gini amat punya temen". Keluh Bima, menengadahkan dua tangannya seolah tengah berdoa.
__ADS_1
"Gila!! Si Bintang cantik banget kalo senyum kaya gitu". Puji Roman secara reflek saat melihat senyuman Bintang. Semua yang terlontar dari bibirnya adalah sebuah spontanitas.
Langit menatap galak Roman yang baru tersadar jika ucapannya pasti menambah kekesalan Langit.
"Beneran tapi Lang. Liatin deh, gila sih cantik parah. Udah kaya bidadari kesasar aja tu bocah". Bukannya berhenti, Roman justru semakin memuji Bintang hingga membuat wajah Langit semakin memerah karena kesal.
Sam hanya menggeleng saja melihat Langit dan Roman. Fokusnya bukan pada dua sahabatnya, namun pada gadis yang berdiri disamping Bintang dengan senyum lebarnya. Senyum yang mampu membuatnya ikut menyunggingkan senyum walaupun sangat tipis.
"Siapa sih sebenernya tu cowok?! Bisa-bisanya nempelin si Bintang mulu". Kesal Langit yang masih fokus menatap Bintang yang kini terlihat tertawa.
"Mereka cocok banget kan Lang?". Langit langsung menoleh dengan tatapan tajamnya. Membuat gadis yang baru saja bersuara tampak kesulitan menelan salivanya lantaran ditatap setajam itu oleh Langit.
"A-aku kan cuma nanya aja.." Cicitnya lirih
"Sono lo jauh-jauh! Gw mau latihan!". Ketus Langit mengusir Catherine tanpa basa-basi.
Terlihat pak Budi sudah berdiri ditengah lapangan dan memanggil seluruh pemain. Termasuk Bintang dan teman-temannya.
Rupanya pak Budi menerapkan pola pelatihan yang sama lagi. Membiarkan tim Bintang berlatih dengan melawan tim Langit. Siapapun yang menang, maka dia yang berhak memakai lapangan lebih dulu.
priiiitttt....!!!
Peluit panjang berbunyi, membuat Bintang dan Langit melompat bersamaan meski sudah jelas jika Langit lah yang akan unggul karena faktor tinggi badannya.
"Go Bintang, go Bintang go..!!!". Dari pinggir lapangan, ada pemandu sorak dadakan yang terus meneriakkan nama Bintang.
"Dasar komodo edan". Gumam Bintang tersenyum tipis melihat Bima terus berteriak menyemangatinya.
Alis Bintang sedikit berkerut saat melihat Langit kehilangan fokus dan beberapa kali melihat ke sisi lapangan. Membuatnya mudah mengambil alih bola dari tangan lelaki itu.
"Fokus dong Lang!". Tegur Roman yang melihat Langit hilang fokus akibat teriakan Bima.
Bintang tersenyum samar. Kali ini dirinya tidak mau kalah dan berlatih hingga petang. Ia akan memanfaatkan kehadiran Bima untuk keuntungan dirinya dan timnya.
"Bintang..Bintang..Bintang, semangat Bintaaaang..." Bima benar-benar mendalami perannya sebagai pemandu sorak dadakan untuk Bintang.
"Makasih aa Bima sayang..." Bintang balas berteriak bahkan melemparkan ciuman jarak jauhnya untuk Bima yang langsung berlagak menangkap ciuman yang Bintang lempar.
Kali ini Langit benar-benar hilang fokus dan mengakibatkan timnya kalah dari tim Bintang.
"Makasih banyak aa Bima ganteng..muuach". Ingin sekali rasanya Langit menyeret Bintang dan membungkam bibir gadis itu dengan bibirnya. Agar tak terus memuji lelaki lain bahkan memberi fliying kiss lelaki itu.
...¥¥¥•••¥¥¥...
...Othornya mengsedih deh, ternyata peminatnya Bintang sama Langit nggak sebanyak Kisah sebelumnya😪😞...
...Tapi ora popo deh..tetap syemanga buat yang udah dukung dan ngikuti kisah mereka ini. Terimaksih banyakbanyak kalian semuaaa🙏🏻🙏🏻🥰🥰...
__ADS_1
...Happy reading readers😊😊 sarangheo banyakbanyak deh kalian semua🥰🥰😘😘😘💋😅♥️...