
Dewa menghubungi Arjuna, adiknya. Kali ini tak akan ia biarkan lolos siapapun yang sudah membuat adik tercintanya terluka seperti itu.
Dewa juga mengirimkan foto yang tadi dikirimkan oleh Langit.
Sama seperti Dewa, Juna yang sebenarnya sudah ada dalam perjalanan menuju kantornya langsung memutar arah mobilnya menuju sekolah sang adik.
Sepanjang perjalanan ia mengutuk dan mengumpati orang yang berani membuat adiknya terluka. Bahkan ia yakin jika adiknya menerima tamparan keras. Terlihat dari bekas tangan berwarna merah yang ada dipipi adiknya.
"Kurangajar!!", Umpat Juna sambil memukul stir mobilnya.
Tak terbayangkan seperti apa sakitnya sang adik saat tamparan itu mendarat di pipinya. Membayangkannya saja Juna merasa ngilu.
Sementara itu, Bintang sudah duduk didalam ruang BK. Didampingi pak Budi dan juga Langit yang memaksa ikut dengan alasan dirinya adalah salah satu saksi.
Catherine sudah jauh lebih rapi bahkan lukanya sudah diobati. Sangat berbeda dengan Bintang yang penampilannya masih acak-acakan dengan luka yang dibiarkan begitu saja.
"Maaf sebelumnya pak Baskoro..tapi apa tidak sebaiknya luka Bintang kita obati dulu?", Seorang guru konseling memberi usul, menatap Bintang dengan tatapan kasihan.
"Preman seperti dia tidak perlu diobati. Cih". Pak Baskoro berdecih, menatap Bintang dengan berang.
"Tapi pak---"
"Sudah kerjakan saja pekerjaan anda, Bu!!". Bentak pak Baskoro. Kasih sayangnya sebagai seorang ayah benar-benar membuatnya tidak profesional.
Bahkan ia tidak menanyakan apa alasan dibalik semua ini. Apa yang sudah dilakukan putrinya hingga memancing kemarahan Bintang.
Yang pak Baskoro lihat hanya putri tersayangnya terluka karena ulah Bintang. Hanya itu saja yang menjadi pokok permasalahannya.
"Saya baik-baik saja bu. Tidak perlu khawatir". Ucap Bintang menenangkan guru konselingnya karena melihat sang guru menatapnya iba.
"Lihat!! Dia masih berani bicara setenang itu! Dasar anak berandalan". Sengit pak Baskoro membuat suasana ruang BK terasa panas membara.
"Kenapa tidak tanyakan pada putri kesayangan anda itu kenapa saya melakukan ini?!", Bintang membuka suara. Membalas ucapan pak Baskoro tanpa rasa takut sedikitpun.
Ia sudah tidak peduli, mau satu sekolah tahu siapa dirinya pun ia tidak lagi perduli. Bahkan kini sebenarnya pikirannya tidak ada diruangan ini. Ia tengah memikirkan bagaimana kondisi kaki sahabatnya. Apakah sudah diobati? Atau belum?
"Dasar berandalan kecil! Masih berani bersuara rupanya kamu!", Pak Baskoro sudah berdiri, hendak menghampiri Bintang. Namun pak Budi cepat berdiri didepan Bintang dan mencoba menenangkan pak Baskoro.
"Tenang pak. Jangan seperti ini. Kita tunggu sampai wali Bintang datang. Nanti kita selesaikan". Pak Baskoro mendengus, ia tahu Bintang adalah murid kesayangan pak Budi.
"Saya pastikan kamu didepak dari sekolah ini". Ancaman pak Baskoro disambut senyum miring Bintang.
"Kita lihat saja siapa yang didepak dan siapa yang akan mendepak". Sahut Bintang tak menunjukkan sedikitpun ketakutan.
Langit? Jangan tanyakan pemuda itu. Sejak tadi fokusnya tak beralih dari wajah Bintang. Ia merasa bersalah dan gagal dalam menjaga Bintang.
Merutuki kecerobohannya, jika saja dirinya tak membiarkan Bintang sendirian saat masuk tadi. Mungkin semua tidak akan seperti ini.
"Gw nggak apa-apa Lang. Lo nggak usah liatin gw kaya gitu". Bintang menoleh sekilas pada Langit dan memberikan senyum tipisnya. Mencoba menenangkan Langit padahal dirinya sendiri sedang tidak tenang.
__ADS_1
"Dia tadi dateng-dateng langsung tampar aku, pa". Si drama queen langsung beraksi karena panas melihat interaksi Bintang dan Langit.
"Karna lo pantes dapet itu. Kalo bisa, gw pengen patahin tangan sama kaki elo sekalian". Ucapan Bintang membuat semua orang terkejut. Catherine bahkan kesulitan menelan salivanya karena ia sangat tahu pasti Bintang bersungguh-sungguh dengan ucapannya.
"Kurangajar!!". Pak Baskoro kehilangan kendali dirinya, berjalan cepat menghampiri Bintang. Untung Langit sigap dan berdiri menghadangnya.
"Bapak bisa terkena pasal penganiayaan jika kembali memukul Bintang!". Peringat Langit
"Dia juga harusnya terkena pasal itu karena sudah menganiaya putriku!!". Bentak Pak Baskoro murka.
"Itu karena Catherine juga yang memulai semuanya!". Langit mati-matian membela Bintang. Sedangkan yang dibela tampak santai duduk menunggu kedatangan kakaknya.
Mobil Juna dan Dewa sampai di area parkir di waktu yang hampir bersamaan. Keduanya keluar dari mobil dengan aura yang sudah sangat menyeramkan.
"Ayo cepet mas!". Kiran menarik tangan suaminya. Ia sudah sangat mengkhawatirkan kondisi adik iparnya itu sejak tadi.
Kedatangan sosok Dewa dan Kiran serta Juna menyita perhatian hampir seluruh siswa yang melihat sosok ketiganya.
"Itu bukannya laki-laki yang ada di foto mading ya?? Kok ada disini ya?". Hampir seluruh siswa mempertanyakan hal yang sama ketika melihat sosok Dewa.
"Ruang bimbingan konseling dimana?". Kiran bertanya pada salah seorang siswa yang kebetulan berpapasan dengan mereka.
"Lurus saja bu, nanti belok ke kanan. Ruangannya di sebelah kiri". Kiran mengangguk kemudian mengucapkan terimakasih dan kembali menarik tangan suaminya.
Banyak yang berspekulasi dan menebak apa yang sebenarnya terjadi. Tentang Bintang dan kehadiran sosok laki-laki yang diduga sugar daddy Bintang.
Sampai didepan ruang bimbingan konseling, Kiran langsung membuka pintu tanpa mengetuknya lebih dulu. Masa bodoh dengan sopan santun atau apapun itu. Kiran hanya ingin memastikan kondisi adik iparnya.
"B-bu Kirani". Gumam semua orang tak percaya saat melihat Kiran.
Dibelakang Kiran ada Dewa dan Juna. Semakin bingung saja semua orang melihat dua putra pemilik sekolah ini berada disini.
"Pak Dewa, pak Juna.." Sapa pak Baskoro ramah. Sangat berbeda saat berbicara dengan Bintang.
"Dasar penjilat". Sindir Bintang dengan suara yang cukup keras hingga pasti ada yang mendengarnya.
"Sebelumnya mohon maaf, ada keperluan apa sampai bapak berdua berkunjung tanpa pemberitahuan". Tak perduli ucapan Bintang, pak Baskoro tetap bersikap ramah.
"Bintang!!". Kirani segera mendekati Bintang setelah melihat dimana adik iparnya itu. Tadi ia tidak melihat karena tertutup oleh tubuh Langit.
"Astaga!! Kamu kenapa kaya begini?!!". Panik, Kiran sangat panik dan khawatir melihat penampakan adik iparnya yang sangat berantakan dengan beberapa luka di wajah dan leher serta tangannya.
Kancing kemejanya juga sudah terlepas beberapa hingga memperlihatkan bagian dadanya yang juga terluka. Kiran mengelus lembut pipi adiknya yang masih memerah, bahkan ada bagian yang sedikit membiru.
"Maaf kalau kedatangan kami mengejutkan. Adik kami tadi menghubungi, dia bilang membuat masalah di sekolah". Dewa mengucapkannya dengan dibumbui senyum. Namun aura mengancam menguar begitu saja hingga membuat semua guru yang ada diruangan itu kesulitan bernafas.
"Ayah kami sedang ada pertemuan bisnis di luar kota. Jadi kami yang datang untuk menjadi wali adik kami, Bintang". Pak Baskoro seperti kehilangan setengah nyawanya mendengar penuturan Juna dan Dewa.
Ia melirik gadis yang sejak tadi ia maki dan bahkan ia tampar begitu keras. Gadis yang kini tengah dipeluk hangat oleh menantu tertua keluarga Laksmana.
__ADS_1
Tenggorokannya tiba-tiba kering, suaranya seolah tercekat ditenggorokan mengetahui fakta besar ini. Hanya satu yang ada dipikirannya, kehancuran karir dan jabatannya.
"Terimakasih Lang, sudah mendampingi Bintang". Dewa menepuk bahu Langit.
"Maaf mas, aku nggak bisa jagain Bintang". Langit tertunduk merasa bersalah.
"Nggak apa-apa, kita tahu dia memang sedikit bar-bar". Juna ikut menenangkan Langit dengan sedikit candaan.
"Ini apa-apaan!! Kenapa adik saya dibiarkan seperti ini! Paling tidak biarkan dia membersihkan dulu luka nya dan mengobatinya!". Kiran langsung marah-marah. Tak terima melihat kondisi adiknya. Semua menundukkan kepala melihat Kiran yang sudah marah.
"Mereka!!". Kiran menunjuk Catherine dan dua temannya.
"Mereka yang berkelahi dengan Bintang?". Tanya Kiran berapi-api. Pak Budi menganggukkan kepalanya perlahan sebagai jawaban.
"Sekolah macam apa ini! Tidak adil sekali! Kenapa luka mereka yang tidak seberapa sudah diobati, sementara? lihat adik saya!!!". Bintang menunduk, menyembunyikan senyumannya. Setiap mendengar Kiran mengomel, Bintang memang selalu merasa senang. Kakak iparnya itu justru terlihat menggemaskan jika mengamuk.
"Sayang, tenanglah dulu.." Dewa menarik Kiran agar duduk disampingnya.
"Gimana bisa tenang mas! Mereka ini bagaimana sebagai guru, terlihat sekali pilih kasih! Harusnya tidak seperti ini mas!! Nggak bisa! Aku nggak terima adik kesayangan aku diginiin!". Pak Baskoro tak berani bersuara, ia benar-benar kehilangan semua keberaniannya.
"Apa adik kami menyulitkan bapak ibu guru semua?". Semua kompak menggeleng saat Juna bertanya.
"M-maafkan kekeliruan kami pak Juna, pak Dewa. Kami benar-benar tidak tahu kalau Bintang ini---"
"Adik kami? Begitu maksud pak Baskoro?". Dewa tersenyum sinis. Jika ayah mereka tahu, maka habislah. Bisa jadi sekolah ini yang diratakan sekalian.
"Apa kamu patah tulang?". Pertanyaan yang diajukan Juna ditujukan pada Catherine dan dua temannya.
"T-tidak pak". Sahut Catherine lirih.
"Ah syukurlah, sepertinya adik kami sudah pandai mengontrol dirinya". Menelan salivanya meski terasa tersangkut ditenggorokan. Catherine dan kedua temannya tampak saling berpegangan tangan. Tak pernah mereka kira jika gadis yang selama ini selalu mereka hina dan rendahkan adalah putri bungsu keluarga konglomerat itu.
Dewa mengusap kepala adiknya beberapa kali. Jika boleh jujur, ia tengah memendam amarahnya yang siap meledak kapanpun. Tapi ia berusaha semaksimal mungkin untuk meredamnya.
"Ada apa sebenarnya hm?". Tanya Dewa lembut.
"Dia bikin Bulan terluka! Sebelum dia minta maaf, aku nggak akan lepasin dia mas!". Bintang menatap tajam Catherine yang tak berani mengangkat wajahnya.
"Hanya itu?", Juna yang bertanya.
"Itu fatal kak!". Juna terkekeh, hal yang sama seperti empat tahun lalu rupanya. Batin kedua kakak Bintang.
"Yang lain??". Tanya Kirani
"Bintang dikira sugar baby nya mas Dewa gara-gara kemaren nemenin mas Dewa cari hadiah buat istrinya. Konyol". Kiran melotot tak percaya mendengar hal tak masuk akal itu.
Juna dan Dewa saling pandang, tidak mengalami patah tulang saja sudah bagus. Batin kedua kakak lelaki Bintang itu.
"Tapi bisakah adik kami diobati lebih dulu, kita akan membicarakannya tanpa adik kami bukan?". Pak Baskoro mengangguk cepat, membuat Bintang tersenyum miring melihat bagaimana cepatnya perubahan sikap pak Baskoro.
__ADS_1
"Menggelikan". Sinis Bintang melirik Baskoro dan Catherine.