Langit Untuk Bintang

Langit Untuk Bintang
tuan besar


__ADS_3

Langit segera menarik wajahnya. Kini tampaklah wajah memerah dari kedua remaja itu. Semua yang terjadi benar-benar diluar kendali mereka.


Keduanya membisu, tak ada satupun yang bersuara hingga suara ibu membuat keduanya menoleh.


"Bintang sudah bangun?". Ibu berjalan mendekat dengan segelas teh hangat di tangannya.


"S-sudah bu.." Jawab Bintang terbata. Ia melirik Langit yang ternyata juga tengah melirik dirinya.


"Ibu liat apa nggak ya.." Batin Bintang takut.


"Bintang pusing sayang??", Tanya ibu sambil memegang dahi Bintang.


"Eh..eng-enggak bu. Bintang baik-baik aja kok". Apis ibu tampak berkerut.


"Nggak demam.." Gumam ibu sambil terus memeriksa suhu tubuh Bintang.


"Tapi muka kamu merah banget sayang. Ibu kira kamu demam". Ucapan ibu semakin membuat wajah Bintang memerah. Sungguh kejadian beberapa saat lalu masih teringat jelas diingatan Bintang.


Bahkan hingga sekarang masih Bintang ingat rasanya. Aaah..Bintang berteriak dalam hatinya.


"B-Bintang nggak apa-apa bu. Beneran deh..mungkin efek luka ini". Bintang memaksakan senyumnya, sambil meraba pelipisnya yang kini di perban.


"Syukur kalau begitu.." Ibu terlihat bernafas lega.


"Diminum dulu, nak". Ibu menyodorkan secangkir teh hangat yang tadi dibawa.


"Ya Allah, ibu sampai lupa. Teh nya Langit ada didepan, nak". Ibu menatap Langit yang lebih banyak diam sejak tadi.


"Ibu ambilkan dulu ya.." Baik Bintang maupun Langit langsung terlihat panik. Ditinggalkan berdua? Tidak!! Pasti akan sangat canggung bagi keduanya.


"Nggak usah bu..!". Seru keduanya bersamaan membuat ibu menghentikan langkahnya.


"Kenapa?". Tanya ibu menatap heran pada keduanya yang langsung terlihat salah tingkah.


"B-biar Langit saja yang ke bawah bu. Saya sekalian mau pulang kok.." Langit segera menjawab. Entahlah, biar saja sekarang dirinya menghindar dari Bintang.


"Kok buru-buru. Makan siang dulu saja disini". Langit menggeleng cepat, saat ini saja dirinya sudah gugup, apalagi setiap tatapan matanya tak sengaja bersirobos dengan mata Bintang.


"Nggak baik menolak rejeki. Makan siangnya juga sudah siap".


"Nggak usah bu. Saya sudah makan", Tolak Langit halus.


"Kan tadi pagi makannya. Ibu siapkan dulu ya makannya. Nanti tolong bantu Bintang ke bawah ya". Langit ingin menolak lagi, tapi ibu sudah lebih dulu meninggalkan keduanya.


Langit mengulurkan tangannya pada Bintang tanpa berbicara apapun. Keduanya merasa semuanya menjadi serba salah setelah kejadian tak sengaja tadi.


"G-gue bisa sendiri". Tolak Bintang yang mulai menurunkan kakinya dari ranjang.


"Awas.." Langit langsung memegang lengan Bintang saat gadis itu limbung saat berdiri.


"Hati-hati". Ucap Langit yang tak melepaskan lengan Bintang. Ia pegang erat namun tetap lembut agar tak menyakiti lengan Bintang.


"Ng-nggak usah Lang. G-gue bisa sendiri". Bintang melepaskan tangan Langit, namun sedetik kemudian ia memekik saat Langit mengangkat tubuhnya.


"Lang!!!", Protes Bintang yang kini ada didalam gendongan Langit.


"Luka lo belom sembuh, Jadi nggak usah banyak tingkah". Ucap Langit kemudian melangkahkan kakinya keluar dari kamar Bulan.


"Turunin gue.." Ucap Bintang pelan. Akan sangat memalukan jika sampai ibu melihat.

__ADS_1


"Lang.." Langit tak mau menatap Bintang, ia hanya melihat lurus ke depan.


"Langit!!". Seru Bintang karena Langit tak mengindahkan ucapannya.


"Lo mau gue cium lagi?". Bintang langsung memundurkan wajahnya karena Langit yang tiba-tiba mendekatkan wajah mereka.


Bintang tak lagi protes, hanya menutup bibirnya dengan telapak tangan. Dan itu membuat Langit mengulum bibir menahan senyumnya.


Kembali ia langkahkan kakinya, hingga sampai di meja makan ia baru menurunkan Bintang. Untung ibu tidak ada disana, Bintang bisa bernafas lega.


"Ayo makan.." Tiba-tiba ibu bersuara membuat kedua anak manusia itu terkejut.


"Ibu dari mana?". Tanya Bintang dengan wajah panik.


"Dari dapur sayang.." Ibu tersenyum. Namun dimata Bintang, senyum ibu tampak berbeda dari biasanya. Terlihat seperti ada sesuatu yang membuat ibu tersenyum.


"anak muda kalau jatuh cinta memang dunia serasa milik berdua". Gumam ibu.


Ya, rupanya ibu melihat saat Langit menggendong Bintang dari kamar hingga ruang makan. Ibu yang tadinya hendak memanggil keduanya memilih mengurungkan niatnya saat melihat Langit keluar dari kamar dengan menggendong Bintang.


"Ibu kenapa?". Tanya Bintang yang melihat ibu senyum-senyum sejak tadi.


"Nggak ada apa-apa sayang.." Ibu kembali tersenyum.


"Ayo di makan, nanti keburu dingin makanannya". Ibu sudah mengisi piring Langit dan Bintang dengan nasi dan lauk pauk.


Ketiganya makan dalam keheningan. Hanya sesekali ibu bersuara dan menanyakan bagaimana bisa Bintang mendapatkan luka se parah itu.


"Lain kali hati-hati, nak". Ucap ibu setelah mendengar cerita bohong versi Bintang. Bintang mengangguk saja.


"Dosa oh dosa..numpuk banyak lo. Semua orang lo boongin, Bintang..Bintang..." Batin Bintang menatap ibu dengan sejuta perasaan bersalah.


Selesai makan, Langit pamit undur diri. Ibu menahannya, namun Langit menolaknya dengan halus.


"Nanti biar sama ibu.." Ibu angkat suara, pasti Bintang malu karena ada dirinya. Ibu berpikir jika Langit dan Bintang memiliki hubungan khusus.


"Langit pamit dulu bu.." Langit mencium punggung tangan ibu.


"Hati-hati di jalan ya.." Langit mengangguk sambil tersenyum.


"Ayo ibu antar.."


"Nggak usah bu. Langit sendiri saja.." Langit melirik Bintang, dan ibu paham jika Langit menginginkan ibu untuk menemani Bintang saja.


"Yasudah kalau begitu.." Ibu tersenyum lembut.


"Saya pamit dulu bu. Assalamualaikum".


"Wa'alaikumsalam.." Ibu dan Bintang kompak membalas salam Langit.


Langit masuk kedalam mobil. Menyandarkan kepalanya sambil memejamkan matanya. Bayangan bibirnya yang bersentuhan langsung dengan bibir Bintang membuatnya kehilangan fokus.


Ia raba bibirnya sambil tersenyum. Meskipun hanya menempel saja, namun itu mampu meninggalkan kesan mendalam bagi seorang playboy seperti Langit.


"Ciuman pertama gue.." Gumam Langit masih dengan tersenyum cerah.


Ya, meskipun lelaki itu adalah seorang playboy. Namun belum pernah sekalipun lelaki itu berciuman dengan para mantannya. Yang ia lakukan hnaya sekedar berpegangan tangan saja. Bahkan saat wanita yang menjadi kekasihnya hendak mencium dirinya, Langit selalu menghindarinya.


Langit menyalakan mesin mobilnya setelah beberapa waktu diam. Ia tatapi jendela kamar di lantai dua rumah Bulan. Dimana Bintang ada didalamnya.

__ADS_1


"Lo harus jadi punya gue, Bin". Gumam Langit sambil mencengkeram kuat stir mobilnya.


---***


Langit baru saja masuk ke dalam mansion besar milik kedua orang tuanya. Kedatangannya disambut oleh kepala pelayan.


"Selamat siang tuan muda.."


"Nggak usah formal gitu pak Han. Santai aja". Dengan santainya, Langit merangkul pundak lelaki berumur 50tahunan itu dan mengajaknya masuk kedalam rumah bersama.


"Tuan muda..anda sudah ditunggu tuan besar didalam". Langit langsung menghentikan langkahnya, membuat pak Han ikut berhenti.


Tiba-tiba perasaan Langit tak enak. Ada apa kakeknya itu datang dan mencari dirinya. Apa dirinya akan kembali diomeli?? Ah membayangkannya saja sudah membuat Langit malas bertemu sang kakek.


"Mau apa pak tua itu mencariku". Ucap Langit yang kemudian kembali melangkah.


Pak Han hanya bisa menghela nafas, Langit adalah cucu kesayangan tuan besar Wiratmaja, namun pemuda itulah yang paling menguji kesabaran tuan besarnya.


Entah akan seperti apa perlawanan Langit jika tau apa tujuan sang kakek datang mencari pemuda itu.


Selama ini, tuan Wiratmaja tinggal bersama putri sulungnya, kakak dari ayahanda Langit yang berada di negara S.


Lelaki tua itu hanya sesekali datang berkunjung ke negara ini jika merindukan cucu-cucunya saja.


"Semoga saja mereka tidak kembali berseteru. Aku juga nantinya yang pusing". Gumam pak Han yang berjalan mengikuti Langit.


Sampai diruang keluarga, sudah ada kedua orang tua Langit dan juga kakeknya. Ketiganya menatap Langit yang baru saja melemparkan tas nya dan menghempaskan tubuhnya disamping sang mommy.


"Lang, salam dulu sama kakek dong". Mommy Sekar, ibunda Langit segera meminta anaknya untuk menyapa kakeknya.


"Mau apa kakek kesini?". Mommy Sekar langsung menghadiahkan pukulan tepat dilengan anaknya.


"Jaga sopan santunmu, Lang". Peringat Prabu, daddy Langit.


Langit mendengus, bukan tanpa alasan ia berkata ketus pada kakeknya. Karena kakeknya tidak pernah datang tanpa membawa perkara untuknya.


"Selamat datang pak tua..apa kabar anda?? Sepertinya baik.." Lagi, mommy Sekar meninju lengan Langit karena ketidak sopanan Langit.


Sementara tuan besar Wira hanya tersenyum melihat tingkah kurangajar cucu kesayangannya. Meski tak pernah terlihat akur, namun Tuan Wira sangat menyayangi Langit, cucunya.


"Dasar cucu kurangajar.." Ucap kakek Wira sambil terkekeh.


Keempatnya terlibat pembicaraan, sekedar berbasa-basi. Hingga mommy Sekar melihat noda darah di pakaian putranya.


"Darah apa ini Lang?". Tanya mommy Sekar tiba-tiba, membuat papi dan kakek menatap Langit.


"Kau!! Membuat keributan lagi?". Nada suara tak suka keluar dari mulut papi.


Ya, Langit sudah berulang kali berpindah sekolah karena kenakalannya. Dan di sekolah yang sekarang ini, Langit sudah bertahan paling lama dibanding yang sebelum-sebelumnya.


"Ck..daddy ngegas banget sih ke anak". Langit berdecak kesal, membuat sesungging senyum terpatri di wajah tua tuan Wira.


"Lalu darah apa ini?". Sang mommy terlihat sangat khawatir.


"Tadi ada temen kecelakaan. Aku cuma nolongin dia, mom". Langit memeluk dan mencium pipi sang ibu. Begitulah Langit, ia memang sangat dekat dengan sang mommy yang selalu memanjakannya.


Obrolan kembali berlanjut setelah Langit menceritakan tentang temannya yang terluka. Dan bukan hanya mommy, tapi daddy dan juga kakek melihat bagaimana bersemangatnya Langit saat menceritakan temannya yang bernama Bintang itu.


...¥¥¥••••¥¥¥...

__ADS_1


...Double up nih..jangan lupa double like nya juga dong yaaa🥰🥰🥰...


...Happy reading sayangkuh🥰🥰♥️sarangheo sekebon😘😘😘😘🥰💋♥️💐💐...


__ADS_2