Langit Untuk Bintang

Langit Untuk Bintang
jauhin gue


__ADS_3

"Ayo masuk.." Bulan membukakan pintu rumahnya untuk temannya yang berjumlah kurang lebih 16orang itu.


"Assalamualaikum.." Ibu keluar dari dapur saat mendengar suara Bulan.


"Wa'alaikumsalam.." Senyum ibu menyambut semua teman Bulan.


Bergantian, semua teman Bulan mencium punggung tangan ibu. Hingga tiba giliran Langit dan kedua antek-anteknya.


"Ayo silahkan duduk semuanya..aduh maaf ya, rumahnya sempit". Semua teman Bulan kompak menggeleng.


"Nggak kok tante..kami yang minta maaf. Merepotkan.." Iwan yang bersuara membuat ibu kembali tersenyum ramah.


"Sebentar ya, ibu panggilkan Bintang nya dulu di kamar". Bulan dibantu beberapa teman perempuannya sudah ke dapur untuk membantu ibu menyiapkan minuman dan camilan untuk teman-temannya.


"Terimakasih tante..sekali lagi maaf ya tante.." Gantian kini Sam yang bersuara.


"Enggak kok.." Ibu naik ke lantai dua. Setelah bunda pulang, Bintang meminta izin pada ibu untuk ke kamar. Kepalanya masih sering terasa pusing dan bekas lukanya berdenyut.


"Bintang...teman-teman kamu sudah datang nak.." Ibu mengetuk pintu kamar, namun tak ada sahutan apapun dari dalam.


"Nak.." Masih tak ada balasan apapun dari kamar.


"Ibu masuk ya.." Akhirnya ibu masuk meskipun Bintang tak menjawab panggilan ibu. Ibu tersenyum sambil menggeleng saat melihat Bintang tertidur.


"Bintang.." Ibu menepuk pelan pipi Bintang, kemudian lengannya ibu goyangkan perlahan. Seringnya Bintang menginap membuat ibu tahu bagaimana cara tepat membangunkan Bintang.


Dan benar saja, setelah melakukannya dua kali, Bintang terbangun. Gadis itu meregangkan otot-ototnya sebelum akhirnya membuka mata.


"Bintang ketiduran bu.." Suara serak khas bangun tidur yang pertama bunda dengar.


"Nggak apa-apa. Sudah lebih enakan?", Bintang mengangguk sambil mengucek mata.


"Maaf ya, ibu ganggu tidurnya". Bintang duduk dan kemudian menggeleng.


"Cuci muka dulu ya, itu teman-teman kamu sudah dibawah". Dengan penuh kasih sayang, ibu mengelus lembut kepala Bintang. Ibu benar-benar memperlakukan Bintang seperti putrinya sendiri.


"Ibu turun dulu ya. Nanti hati-hati kalo turun tangga.." Peringat ibu, bukan tanpa alasan, Bintang sudah dua kali hampir terjatuh dari tangga karena kepalanya tiba-tiba pusing hingga gadis itu kehilangan keseimbangannya.


"Siap bos.." Ibu tersenyum dan mengacak rambut Bintang yang tengah memberi hormat padanya.


Ibu kembali ke ruang tamu untuk menemui teman-teman putrinya. Dan memberitahu jika Bintang baru bangun tidur.


"Ibu tinggal ke dalam dulu ya.." Semua mengangguk dan tersenyum saat ibu pamit.


Tak lama Bulan datang dengan minuman dan berbagai macam camilan dan kue.


Bintang mengeringkan wajahnya dengan handuk setelah mencuci muka dan menggosok gigi. Ia masih memakai celana tranining dan kaos rumahan yang lumayan kebesaran. Ia pun hanya menggelung asal rambutnya hingga memperlihatkan leher putihnya. Tak ada niatannya walau hanya untuk berganti pakaian.


Tanpa melihat kaca, Bintang berjalan keluar. Seperti pesan bunda, Bintang sangat berhati-hati saat menuruni anak tangga satu persatu. Ia tak mau sampai terjatuh dan lukanya bertambah.


Mendengar langkah kaki menuruni tangga membuat semua mata beralih ke asal suara. Semua orang tersenyum saat melihat Bintang juga tengah tersenyum menatap mereka.


Langit menghela nafas kasar. Bahkan matanya tak bisa beralih dari Bintang. Padahal saat ini penampilan Bintang sangat biasa. Tapi mengapa semua yang ada pada Bintang tampak menarik di mata Langit.

__ADS_1


"cantik.." Gumam Langit menatap Bintang tanpa berkedip.


Sam dan Roman saling sikut melihat Langit. Keduanya tersenyum geli sambil menggeleng pelan melihat kelakuan Langit yang sepertinya sudah mendapat karmanya.


Jika selama ini pemuda itu selalu mempermainkan banyak gadis, kini hanya dengan Bintang saja Langit terlihat berbeda. Dan sayangnya, Bintang masih belum menunjukkan ketertarikannya pada Langit. Itu cukup menghibur bagi kedua teman laknatnya itu.


"Makasih ya semua. Sorry bikin lo semua repot-repot kesini". Langit reflek menggeleng, ia sama sekali tak keberatan meski harus setiap hari menjenguk Bintang.


"Kita kan temen Bin.." Nindi bersuara lebih dulu didukung anggukan kepala teman-temannya.


"Luka lo gimana Bin?". Iwan bersuara.


"Ini..( Bintang menyentuh luka di pelipisnya ) udah mendingan kok.." Jawab Bintang sambil tersenyum.


"Lo mau diem aja Bin?". Suara Roman membuat Bintang langsung menoleh, dia sedikit terkejut melihat Langit disamping Roman. Terlalu fokus dengan teman yang lain sampai ia tak menyadari adanya Langit.


"Iya Bin. Kayanya kali ini si Catherine udah keterlaluan deh.." Timpal teman yang lain.


"Laporin aja lah Bin". Kini Ardi yang bersuara.


"Iya, kita semua mau jadi saksinya kok". Semua temannya mendukung ucapan Ardi.


"Iya Bin. Kali ini tu kucing udah keterlaluan deh". Bintang langsung melirik galak saat Bulan yang ikut menimpali.


"Ssst.." Bintang menempelkan telunjuknya didepan bibir. Ia memastikan jika ibu tidak ada.


Bintang menatap galak pada Bulan yang baru tersadar jika saat ini mereka ada dirumah kedua orang tuanya.


"Nggak usah dibahas lagi deh ya.." Lirih Bintang masih menatap sekeliling. Ia juga sama takutnya seperti Bulan, dirinya sudah terlalu banyak merepotkan. Ia tak mau semakin membuat ibu dan bapak khawatir nantinya.


"Iya jangan pada dibahas lagi. Bisa dihukum ntar gue ama Bintang.." Bulan berbisik namun tetap bisa didengar teman-temannya.


Meski sebenarnya ingin membahas dan meminta Bintang untuk tidak membiarkan Catherine kali ini, mereka memilih diam akhirnya karena tidak ingin teman mereka terkena masalah karena pembicaraan ini.


Selanjutnya pembahasan mereka hanya tentang seputaran sekolah dan pembelajaran yang berlangsung selama Bintang tidak masuk sekolah.


"Ih iya Bin.." Bintang meringis saat tangan Bulan tiba-tiba mendarat keras di pundaknya.


"Pelan-pelan Bul.." Bukan Bintang yang memprotes, namun Langit yang langsung memperingati.


"Cieeee..." Suara sorakan teman-teman mereka menggema memenuhi rumah.


"Alah lupa kan gue..sorry-sorry Bin. Kelepasan". Bulan nyengir menatap Bintang yang masih mengelus pundaknya yang terasa panas.


"Ada apaan?". Tanya Bintang menatap Bulan.


"Pak Budi tadi bilang, dua minggu lagi turnamen basket antar sekolah dimulai". Bulan menatap pelipis Bintang. Ia takut saat turnamen dimulai, Bintang belum pulih.


"Tenang, masih dua minggu ini". Bintang menenangkan.


"Lagian nggak ada gue juga, gue yakin kalian pasti menang". Kembali Bintang besuara sambil menepuk pelan pundak Bulan.


"Kaga usah monyong gitu. Nyantai aja sih.." Bintang berusaha meyakinkan Bulan. Lagipula waktunya masih dua minggu. Dirinya yakin saat turmanen tiba, dirinya sudah pulih.

__ADS_1


Cukup lama mereka mengobrol kesana kemari hingga tak terasa waktu sudah beranjak petang.


Iwan mewakili teman-temannya pamit undur diri. Sama seperti saat mereka datang, bergantian mereka mencium punggung tangan ibu sekaligus mengucapkan terimakasih sekaligus maaf karena merepotkan ibu.


"Maaf tante jadi merepotkan.." Ucap Iwan sungkan.


"Sama sekali tidak. Sering-sering saja main, tidak apa". Sambutan ibu yang hangat membuat semua merasa betah dirumah Bulan.


"Lo bertiga nggak balik?". Iwan menatap Langit dkk yang tak kunjung pamit.


"Pada duluan aja. Kita belakangan". Ucap Langit membuat Iwan mengangguk dan memilih pulang lebih dulu.


Kini tinggal Langit dan dua antek-anteknya serta Bulan dan Bintang serta ibu yang tersenyum penuh makna menatap Bintang dan Langit bergantian.


"Ibu ke dalam dulu ya, kalian lanjutkan saja mengobrol. Ibu harus masak untuk makan malam". Ibu memahami jika ada yang ingin para anak muda itu bicarakan.


Kini tinggalah lima remaja yang masih berdiri di teras rumah. Paham jika Langit ingin berbicara empat mata dengan Bintang, Roman memilih menyingkir.


"Kemana Sam!". Bulan yang tiba-tiba ditarik Sam bertanya ketus.


"Lo nggak peka banget sih. Langit mau ngomong berdua ama Bintang". Bukan Sam yang menjawab namun Roman.


Bulan melirik ke belakang, benar saja, Langit dan Bintang duduk bersebelahan di kursi yang ada di teras rumah.


"Ada apa?". Tanya Bintang karena Langit tak kunjung berbicara.


"Lo mau gue lakuin apa ke Catherine". Bintang langsung menoleh, menatap Langit yang tengah menatap lurus ke depan.


"Maksud lo?". Langit menoleh, menatap Bintang yang wajahnya terlihat bingung.


"Catherine udah keterlaluan. Kali ini lo nggak boleh diem". Langit tatap wajah Bintang dengan intens. Memastikan apakah perasaannya benar-benar perasaab cinta atau hanya sekedar tertarik.


Bintang tersenyum tipis, kini giliran gadis itu yang menatap lurus ke depan. Membuat Langit mengerutkan keningnya.


"Bilang sama gue Bin". Bintang kembali menatap Langit yang juga tengah menatapnya.


"Lo mau bantuin gue?". Langit cepat-cepat mengangguk.


"Jauhin gue". Langit terkejut mendengar ucapan Bintang.


"M-maksud lo apaan?", Tanya Langit tak mengerti. Keduanya saling menatap dalam, sama-sama menyelami perasaan yang ada didalam hati mereka.


"Kalo lo mau bantu gue..gue mohon jauhin gue Lang". Langit menggeleng dengan seulas senyum miring.


"Lo tau, kenapa si kucing bikin masalah mulu sama gue??". Bintang bertanya membuat Langit diam, ia tahu alasan gadis gila itu menyakiti Bintang.


"Gue rasa lo tau persis apa jawabannya. Jadi kalo elo emang mau beneran bantuin gue, gue mohon jauhin gue". Bintang berdiri, ia menatap Langit yang terdiam di tempatnya dengan tatapan kosongnya.


...¥¥¥¥•••¥¥¥¥...


...Waaaaah beneran kreji ini mah..berapa bab ya yang udah di up??🤔🤔 banyak deh pokoknya ya😁😁 kalian jangan lupa juga ya, kreji like nya👍🏻😅🥰...


...Happy reading kalian🥰🥰 sarangheo sekebon readers😘😘😘🥰🥰💋💋💐♥️...

__ADS_1


__ADS_2