
Mobil Langit sudah terparkir dihalaman rumah besar keluarga Bintang. Namun baik Langit maupun Bintang belum ada yang bergerak sedikitpun. Keduanya masih duduk dalam kebisuan yang menyelimuti mereka.
"Tunggu Bin.." Langit menahan lengan Bintang saat Bintang hendak membuka pintu.
"Jangan kaya gini, aku mohon.." Lirih Langit dengan wajah sendu nya.
"Aku ngelakuin ini buat kita.." Imbuhnya.
Bintang tidak menjawab, ia kembali menarik handle pintu dan hendak keluar.
"Aku harap kamu datang ke bandara besok.." Ucap Langit pasrah pada akhirnya. Ia kemudian ikut membuka pintu mobilnya. Namun suara Bintang membuatnya mengurungkan niatannya untuk keluar.
"Kalo kamu bener-bener pergi. Nggak akan ada lagi kita, Lang. Kita berakhir disini". Setelah mengatakan hal menyakitkan itu. Bintang benar-benar keluar dari mobil dan membanting pintu mobil Langit saat menutupnya.
"Galaknya gw.." Gumam Langit tersenyum lirih menatap punggung Bintang menjauh.
Akhirnya Langit ikut turun. Ia akan pamit pada ayah dan bunda.
"Sudah pulang sayang?". Pertanyaan bunda diabaikan oleh Bintang. Gadis itu langsung menaiki tangga dengan kepala tertunduk.
Bunda menatap ayah, keduanya menghela nafas panjang. Karena sepertinya Langit sudah menceritakan semua pada Bintang tentang keinginannya untuk pergi.
"Wa'alaikumsalam..Masuk Lang.." Ucap bunda saat mendengar Langit mengucapkan salam.
"Duduk.." Titah ayah sambil menunjuk sofa didepannya.
Langit mengangguk patuh kemudian duduk disana. Dari wajahnya saja ayah tahu jika ada beban berat yang diemban Langit.
"Jangan memaksakan diri jika kamu merasa berat, Lang. Ayah tidak memaksa, sungguh". Ayah Henry tidak tega melihat kesedihan dimata Langit.
Jika Langit saja sesedih ini, lalu bagaimana putrinya? Itu yang ayah pikirkan saat ini.
"Maaf yah.." Ayah menghela nafas lagi mendengar jawaban Langit. Ia pun tak bisa memaksakan keinginannya pada Langit.
"Bintang marah?". Tanya ayah dan dijawab anggukan kepala oleh Langit.
"Apa dia menangis Lang?". Tanya bunda menatap Langit. Lagi, Langit hanya mengangguk pelan membuat ayah dan bunda menghela nafas panjang.
"Ayah, bunda.." Keduanya menatap Langit.
"Langit titip Bintang. Besok Langit berangkat.." Suara Langit terdengar berat. Dan ayah ataupun bunda tahu jika ini juga sulit untuk Langit.
"Tapi ayah tidak bisa menjamin kalau Bintang tidak akan jatuh cinta dengan laki-laki lain, Lang.. Mungkin saat kamu pergi, ada laku-laki lain yang merebut hatinya". Ucapan ayah membuat Langit tersenyum perih. Ya, ia tahu resiko itu.
__ADS_1
"Langit akan merebut Bintang jika memang Bintang sampai jatuh cinta pada laki-laki lain yah". Gurau Langit membuat ayah tersenyum tipis, pun dengan bunda.
"Jadi kalau nanti Langit kembali dan Bintang punya pacar, jangan halangi Langit untuk merebut Bintang ya yah?". Pinta Langit serius. Ia benar-benar serius dengan apa yang ia katakan barusan.
"Lakukan semua dengan cepat Lang. Cepat kembalilah dan lindungi Bintang kami dengan kedua tanganmu. Bunda percaya padamu..juga Bintang". Ucapan bunda bagaikan oase ditengah gurun pasir gersang.
"Langit akan berusaha sekuat tenaga, bun. Doakan Langit dan restui keputusan Langit ini, yah, bun". Langit menatap bunda dan ayah bergantian.
"Doa kami selalu bersamamu dan Bintang. Kami akan mendoakan kebahagiaan untuk kalian dan segala hal yang terbaik.." Ucap bunda tulus, karena bunda tahu Langit adalah laki-laki yang baik. Laki-laki yang tulus menyayangi putri kecilnya.
"Terimakasih, bun..." Langit sangat beruntung bertemu ayah dan bunda.
"Mas Dewa sama kak Juna dimana yah?". Tanya Langit karena tak melihat keduanya.
"Mereka tidak mau bertemu denganmu karena kesal, kamu meninggalkan adik mereka". Kelakar ayah yang tidak sepenuhnya bohong.
Langit hanya bisa tersenyum tipis, karena pasti memang banyak yang kecewa dengan keputusannya kali ini.
"Tolong sampaikan permohonan maaf Langit pada mereka, yah. Langit harap kemarahan mereka tidak lama". Ucap Langit
"Mereka tidak benar-benar marah. Mereka menitip salam untukmu, dan mendoakan keberhasilanmu.." Ucap bunda menenangkan, karena memang dua putranya menitipkan pesan itu untuk Langit.
"Jangan terlalu lama pergi. Atau aku akan membuat adikku menghilang dari jangkauanmu!", Langit tersentak mendengar suara seseorang. Dan ternyata itu adalah Arjuna.
"Aku kesal sebenarnya padamu. Tapi aku memahami apa tujuanmu melakukan ini. Jadi..." Juna mengacungkan telunjuknya pada Langit.
"Berjanjilah untuk cepat kembali. Dan kembalilah menjadi Langit yang jauh lebih kuat sehingga kami tidak akan ragu mengizinkanmu berdiri disamping adik kami". Dewa yang entah dari mana datangnya langsung menimpali ucapan Juna.
"Berjanjilah pada kami", Imbuh Dewa yang langsung membuat Langit mengangguk mantap. Kini ia merasa mendapat suplai energi setelah dua kakak Bintang mendukung dan mendoakannya.
Mereka mengobrol beberapa saat. Berulang kali Langit menatap tangga, berharap Bintang keluar dari kamarnya dan berubah pikiran. Namun sepertinya itu hanya khayalan Langit saja.
"Langit harus pulang, yah..bun. Masih ada yang harus Langit siapkan". Pamit Langit pada semua orang.
"Hati-hati dijalan..maaf kami tidak bisa mengantarmu besok". Langit mengangguk paham.
"Cepat kembali. Pekerjaanmu akan lebih berat saat nanti kembali kesini". Ucap Juna menepuk pundak Langit.
"Dia bukan gadis yang mudah dibujuk Lang. Jadi akan lebih sulit meluluhkannya nanti daripada saat kamu mengejar tujuanmu". Dewa menimpali.
"Tujuanku hanya Bintang, mas.." Jawab Langit tegas.
"Jadi sesulit apapun, aku tidak akan menyerah. Bahkan jika Bintang mengusirku sekalipun. Jadi nanti maafkan aku jika tidak tahu malu dan terus mengejar Bintang". Dewa dan Juna terkekeh pelan.
__ADS_1
"Kami menanti saat itu tiba Lang". Ucap Dewa.
"Langit pulang dulu, bun". Langit mencium punggung tangan bunda. Kemudian bunda memeluknya.
"Hati-hati dimanapun kamu berada Lang, kamu sudah seperti anak kandung bunda, jadi jaga dirimu baik-baik". Langit mengangguk
"Dan bunda mohon, cepatlah kembali". Imbuh bunda.
"Langit akan berusaha sebaik mungkin bun. Tolong restui dan selalu doakan Langit".
"Pasti..doa bunda akan selalu bersamamu dimanapun kamu berada nantinya". Ucap bunda sambil mengusap kepala Langit.
Sementara di ruang tamu Langit tengah berpamitan. Bintang mengurung diri didalam kamar sambil menangis.
"Lo jahat Lang..lo jahat". Tangis Bintang terdengar pilu.
Marah, kecewa, sekaligus sedih dan takut bercampur menjadi satu. Ini kali pertama dirinya jatuh cinta pda seorang pria. Bahkan ia baru menunjukkan perasaannya pada Langit beberapa waktu belakangan. Tapi kini dirinya sudah mau ditinggal lagi.
Bintang segera bangkit saat mendengar suara mesin mobil dinyalakan. Ia mengintip dari jendela kamarnya tanpa membuka tirainya.
Air matanya semakin deras meluncur saat melihat mobil Langit perlahan berjalan keluar dari gerbang rumah besar ayahnya.
"Lo bahkan nggak bujuk gw.." Lirih Bintang meremas tirai kamarnya.
Bukan nggak ngebujuk neng Bintang, kan tadi dibujuk juga nggak mau dengerin. Si eneng emang kadang-kadang kalo lagi kesel suka amnesia jadinya😂
"Apa ini bener-bener akhir dari kita Lang?". Air mata Bintang kembali menetes.
"Kenapa secepat ini.." Gumamnya lagi sambil mengusap pipinya.
"Kalo besok lo bener-bener pergi, gw bakal lupain elo Lang..awas aja lo". Kini tangis itu bercampur kesal sekaligus marah.
"Lagian kenapa harus pergi sih! Emang kalo disini nggak bisa apa jadi laki tangguh". Ngomel-ngomel sendiri sambil berjalan menuju ranjangnya karena mobil Langit sudah tidak terlihat.
"Dasar alesan aja mau pergi". Sambil masih menangis, Bintang terus mengoceh kesana kemari.
"Ini apaan lagi!! Berhenti nggak!". Omel Bintang pada air matanya.
Fix, Bintang lagi error. Air mata aja diomelin coba bayangkan pemirsah😅😅
"Ish!!! Kok malah makin banyak sih!!". Semakin Bintang menyeka air matanya, semakin deras saja air mata itu mengalir.
...¥¥¥•••¥¥¥...
__ADS_1
...Satu dulu ya pemirsah🤭😁...