
"Lang tenang..jangan kaya gini. Gimanapun juga dia cewek". Roman memegangi lengan Langit yang terlihat sangat marah.
Sementara seseorang didepannya sudah menunduk dengan air mata yang terus mengalir.
"Ni cewek sakit jiwa tau kagak!!". Suara Langit terdengar menggelegar membuat semua orang takut.
Alasannya sama, karena selama ini Langit tak pernah sekalipun menunjukkan kemarahannya apalagi dihadapan seorang wanita.
"Gila si Langit kalo udah ngamuk, serem banget". Gumam seorang siswa yang langsung diamini oleh semua teman yang mendengarnya.
Bagaimana tidak mengerikan, Langit yang terkenal ramah dan genit pada semua gadis itu kini tengah marah besar bahkan membentak seorang gadis tanpa ragu.
"Gue tau, tapi lo harus sabar. Lo cowok Lang, nggak pantes teriak-teriak gini didepan cewek". Roman masih coba menenangkan, sedangkan Sam terlihat acuh. Karena sejujurnya ia juga tak suka cara Catherine menyakiti Bintang.
"Peduli se*an!! Dia juga nggak mikir nyakitin anak orang!". Langit menghempaskan tangan Roman yang sedari tadi memegangi lengannya.
"Bantuin gue anj*r!!! Malah ikutan nonton lo". Sengit Roman yang melihat Sam hanya menjadi penonton. Sam mengendikkan bahunya acuh.
"Kenapa Lang?!!!". Tiba-tiba Catherine berteriak membuat suasana mendadak hening.
"Kenapa kamu mati-matian belain Bintang! Dia juga bukan siapa-siapa kamu!! Terus kenapa kamu belain dia mati-matian?!!!". Langit diam sesaat, coba menanyakan pertanyaan yang sama pada dirinya sendiri.
Ya, mengapa dirinya begitu tak terima Catherine menyakiti Bintang? Bintang bukan kekasihnya. Perasaannya pada Bintang pun hanya sekedar tertarik dan karena tantangan teman-temannya. Lalu mengapa ia semarah ini pada gadis yang sengaja melukai Bintang??
Semua diam menunggu jawaban Langit. Pun dengan Sam dan Roman yang juga penasaran. Reaksi Langit sangat berbeda, bukan karena teman yang lain mendukung sikap Catherine, sama sekali bukan. Mereka pun marah dan kesal dengan ulah Catherine, namun tidak sampai semurka Langit.
"Jawab Lang!! Jawab!!! Dia bahkan nggak pernah liat kamu! Aku yang selalu ada buat kamu!". Catherine kembali berteriak. Beruntung pak Budi sudah tidak ada disana karena pergi ke ruang kesehatan untuk melihat kondisi Bintang.
Seulas senyum terbit di bibir Langit membuat Catherine termangu saat melihatnya.
"Karna gue suka sama Bintang! Gue nggak suka ada yang nyakitin Bintang! Siapapun itu termasuk lo!". Pernyataan Langit membuat semua terkejut. Langit berbicara begitu lantang tanpa keraguan sedikitpun.
Memang sudah berbulan-bulan ini Langit mengejar Bintang, tapi tak ada yang mengira jika Langit memang benar-benar menyukai gadis itu.
Maklum saja, reputasinya yang terkenal sebagai seorang playboy membuat semua orang mengira jika Langit hanya ingin mendapatkan pengakuan dari semua orang jika bisa menakhlukkan Bintang. Sama seperti gadis-gadis lain yang sebelumnya memang sudah Langit pacari kemudian ditinggalkan.
"Nggak!! Nggak mungkin! Kamu boong kan?!". Catherine jelas tak terima. Selama ini dirinya selalu menjadi primadona, mendapatkan semua yang ia mau dengan statusnya. Dan kini, lelaki yang disukainya menyatakan perasaan sukanya untuk gadis lain? Jelas Catherine tak bisa menerimanya.
"Cukup Cath!!!", Suara Langit kembali terdengar keras hingga membuat Cath bungkam sambil menggeleng tak percaya.
"Gue peringatin sama lo---" Tangan Langit masih mengacung di udara. Menunjuk Catherine dengn telunjuknya tepat diwajahnya.
"Lang!!!!". Langit menoleh, melihat Bulan yang sudah berdiri ditepian lapangan dengan nafas tersengal. Sekilas lihat saja orang sudah tahu jika gadis itu baru saja berlari.
__ADS_1
Bulan masih coba mengatur nafasnya yang naik turun. Jika melihat situasi saat ini, dimana semua mengerubungi Langit dan Catherine, Bulan yakin jika Langit sudah memberi peringatan pada Catherine.
Bulan hanya bisa berharap semoga masalah ini tak berlarut dan membawa sahabatnya masuk menemui guru konseling yang jelas akan memanggil orang tuanya.
Bulan kembali berlari menghampiri Langit yang masih berhadapan dengan Cath. Bulan tak tahu apa yang sudah Langit katakan dan lakukan hingga Catherine menangis. Bulan tak peduli, yang jelas ia harus menjauhkan Langit dari Catherine untuk saat ini.
"Kenapa lo kesini? Bintang sama siapa?". Tanya Langit saat Bulan sudah berdiri disampingnya.
"Sen-sendiri". Nafas Bulan masih belum teratur, hingga tersendat saat ia menjawab pertanyaan Langit.
"L-lo, lo di-cari-in Bintang". Masa bodoh jika nanti Bintang mengamuk karena ia membohongi Langit dan mengatakan Bintang mencarinya.
"Lo nggak ngelarang gue boong. Selanjutnya jadi urusan lo Bin. Lagian gue bingung gimana caranya mau bawa ni biawak pergi dari sini. Lo juga kaga ngelarang gue pake cara apa harus jauhhin ni biawak dari kucing kan? Jadi jangan salahin gue". Batin Bulan yang sebenarnya takut jika nanti Bintang mengamuk karena ia berbohong perihal Bintang yang mencari Langit.
"Gue belom kelar ama ni cewek! Gue musti bawa ke gur---"
"Kaga usah!!! Bintang sendiri di sana". Mata Sam memicing menatap Bulan. Ada yang aneh menurutnya. Rasa-rasanya tak mungkin Bintang mencari Langit sedangkan disana tadi sudah ada Bulan yang menemani.
Bukan hanya Sam, Roman pun sama curiga nya. Sangat aneh menurut mereka alasan yang diberikan Bulan. Apalagi melihat cara Bulan menghampiri Langit yang terkesan terburu-buru. Dan jelas ada raut ketakutan di wajah Bulan. Membuat Sam dan Roman curiga ada sesuatu yang ditutupi Bintang dan Bulan.
"Nggak bisa Bul. Dia musti dikasih pelajaran". Langit tetap kukuh pada niatnya untuk menggelandang Catherine masuk ke ruang BK.
"Alamak, mati gue. Kenapa susah banget bujuk ni biawak". Mata Sam semakin memicing curiga saat melihat kepanikan di raut wajah Bulan.
"Gue juga mikir gitu. Aneh aja Bintang nyari si Langit sementara tadi ada Bulan disana". Sam mengangguk, rupanya bukan hanya dirinya yang merasa aneh.
"Haish..biar dia gue yang urus". Langit menatap Bulan tak percaya membuat Bulan kembali menghela nafas.
"Biar gue urus! Lo balik aja temenin Bintang". Ternyata tak semudah itu membujuk si biawak. Bulan sampai habis akal. Hingga sebuah ide yang ia yakini akan membuat Langit pergi terlintas dibenaknya.
"Pelipisnya Bintang harus di jahit! Dia takut jarum jah---" Belum selesai Bulan berbicara, Langit sudah berlari meninggalkan lapangan secepat kilat.
"Berhasil?? Gue berhasil??? Kenapa kaga dari tadi sih". Batin Bulan yang kini wajahnya sudah tak sepanik tadi.
Tidak sepenuhnya ia berbohong, Bulan memang berbohong jika Bintang mencari Langit. Namun Bulan mengatakan kejujuran jika sahabatnya memang takut dengan jarum jahit dan peralatan rumah sakit lainnya.
Bulan menatap Cath yang tengah menatap ke arah pergi nya Langit. Senyum sinis Bulan tersungging menatap Cath.
"Lo bebas kali ini. Sahabat gue masih berbaik hati biarin lo bebas". Catherine langsung menatap Bulan yang kini tengah menatapnya tajam.
"Cih, temen lo emang pantes dapetin semua itu". Tangan Bulan terkepal mendengar ucapan yang terlontar dari bibir Catherine.
Bulan maju mendekat hingga kini ia berhadapan langsung dengan Catherine. Sudah tak seramai saat Langit meneriaki Cath, tapi masih ada beberapa temannya yang ada disana.
__ADS_1
"Jangan seneng karna Bintang diem. Dia diem bukan karna takut sama lo. Sama sekali bukan". Bulan menjeda kalimatnya untuk melihat reaksi Catherine. Dan benar saja, gadis itu nampak terkejut dengan semua ucapannya.
"Bintang masih diem karna kasian sama lo. Bukan, dia bukan kasian sama lo. Dia masih pengen nikmatin hidupnya yang sekarang. Kalo suatu saat Bintang mau bertindak, apapun yang lo lakuin, bahkan mau sampai lo bersujud pun, nggak akan ada yang bisa nolong lo, termasuk bokap lo". Desis Bulan dengan tatapannya yang tak kalah tajam dari Bintang.
Catherine terhenyak mendengar ucapan yang bernada ancaman itu. Tak pernah sebelumnya, baik Bintang maupun Bulan melawan dirinya apalagi mengancamnya. Lalu keberanian dari mana hingga gadis itu kini berani mengancamnya.
Dan tanpa menunggu Catherine bereaksi, Bulan sudah berlalu meninggalkan Catherine yang masih mematung karena begitu terkejut mendengar semua yang Bulan ucapkan.
Sementara Langit yang baru saja menginjakkan kakinya diruang kesehatan dibuat terkejut dengan teriakan Bintang yang menolak dijahit luka nya.
"Di tambal aja deh dok..jangan dijahit. Dikira saya celana robek pake dijahit segala". Langit segera masuk.
"Kamu ini, kondisi kaya begini aja masih bercanda". Rupanya pak Budi sudah menunggui Bintang didalam.
"Jangan ya pak. Saya udah nggak apa-apa kok pak. Beneran deh". Sejak kematian ibunya, peralatan medis dan segala yang berbau rumah sakit memang tak Bintang sukai, karena itulah saat Langit dirawat dirumah sakit, Bintang semakin enggan ikut menjenguk.
"Kamu ini anak hebat. Masa seperti ini saja takut. Tidak akan terasa sakit, nanti dibius dulu". Pak Budi membujuk. Namun Bintang justru semakin menggeleng kuat.
"Dibius? Disuntik?". Pak Budi mengangguk
"Nggak mau pak!". Bintang melepas paksa tangan orang-orang yang memeganginya. Ia melompat turun dari ranjang dan hendak melarikan diri, mengesampingkan rasa sakit di kepalanya, namun seseorang lebih dulu menangkapnya.
"Ah syukurlah kamu bisa menangkapnya". Pak Budi bernafas lega saat Bintang bisa kembali ditangkap.
"Bawa kesini Lang.." Perintah pak Budi pada sosok yang berhasil menangkap Bintang yang hendak kabur. Ia tak lain adalah Langit.
"Saya nggak mau pak". Rengek Bintang dengan wajah memelas.
"Lepasin gue. Gue nggak mau disuntik, apalagi dijahit". Langit tersenyum melihat wajah Bintang. Meski masih ada beks darah yang tersisa, namun tak menutupi kecantikan Bintang. Ditambah sekarang ini wajah Bintang terlihat menggemaskan saat memohon dilepaskan.
"Pliis, lepasin gue". Mohon Bintang membuat Langit tersenyum tipis.
"Nanti gue lepasin. Sekarang lo harus diobatin dulu". Bintang memberontak, namun jelas tenaganya kalah dari Langit. Selain karena memang Langit lebih besar dan tinggi, kondisi Bintang sedang tidak dalam keadaan siap melawan.
"Ada gue.."
...¥¥¥•••¥¥¥...
...Yuhuuuuu, double up nih😁😁...
...Jangan lupa nampol like sama komennya juga double ya😊😊😁...
...Makasih buat readers semua, sayang kalian banyakbanyak🥰🥰 Sarangheo sekebon🥰🥰😘😘😘😘💋💐...
__ADS_1