Langit Untuk Bintang

Langit Untuk Bintang
perasaan bunda


__ADS_3

Sudah satu bulan berlalu sejak kejadian Bintang dan Catherine berkelahi. Catherine pun tidak pernah lagi mengganggu Bintang, bahkan terkesan menghindar setiap kali tidak sengaja berpapasan.


Hubungan Langit dan Bintang pun kian dekat saja. Setiap weekend bahkan Langit lebih banyak menghabiskan waktunya dikediaman ayah Henry.


Hampir seisi sekolah tahu tentang hubungan Langit dan Bintang. Jika dulu Langit yang selalu mengejar Bintang, kini gadis itu pun sudah tidak menunjukkan penolakan dengan semua perilaku Langit. Apalagi Langit yang selalu ribut dengan Arsen dan mengatakan jika Bintang adalah kekasihnya.


Menguatkan berita yang beredar jika memang benar Langit dan Bintang berpacaran.


Entah apa sebenarnya motivasi Arsen, meskipun ia selalu menyapa Bintang, namun ia tak pernah melakukan hal lebih apalagi mencoba mendekati Bintang.


Sepertinya Arsen hanya senang membuat Langit marah dan kesal padanya. Karena pada kenyataannya, ia dan Langit adalah seorang sahabat sebelum ada kesalahpahaman diantara keduanya.


Mungkin saat ini Arsen sedang ingin mengembalikan hubungan baiknya dan Langit dengan cara membuat Langit kesal dan mau berinteraksi dengannya.


Jika hubungan Langit dan Bintang mengalami kemajuan, makan lain halnya dengan sahabat mereka. Sam dan Bulan pun kian rumit karena bahkan papa Alan pernah berkunjung kerumah Bulan untuk bertemu bapak dan ibu. Membuat Bulan semakin frustasi karena semakin terjerat dengan Sam.


Sekarang alasan apa yang akan ia pakai untuk mengakhiri semua ini? Bahkan hampir setiap hari ibu menyebut nama Sam.


Memuji Sam yang sopan dan terlihat sangat menyayangi keluarga. Bahkan pernah sekali ibu kelepasan dan membandingkan Samudra dengan Rehan, mantan kekasih Bintang.


"Jangan terlalu berharap, bu. Bulan nggak mau nanti ibu sama bapak kecewa lagi. Lagipula Bulan sama Sam kan cuma pacaran bu. Belum tentu ke depannya masih bisa bersama". Hanya bisa berkata seperti itu untuk memberi sinyal pada ibu dan bapak. Karena pada kenyataannya ia tidak tega jika harus berkata sejujurnya.


Hari ini, Langit tidak berangkat sekolah karena sakit. Sejak semalam ia sudah mengirim pesan dan menelpon Bintang. Meminta maaf karena tidak akan bisa menjemput dan mengantarkan Bintang pulang seperti biasanya.


Pagi ini pun sama, masih pagi tapi pemuda itu sudah menelpon Bintang. Menanyakan keberadaan gadis itu dan bertanya akan naik apa ke sekolah.


"Gw minta maaf ya, lo jadi harus berangkat sendiri". Suara serak di ujung sana, terdengar sedikit berbeda. Sepertinya Langit benar-benar sedang tidak sehat.


"Dulu juga gw sering berangkat sendiri, Lang. Udah deh". Lama-lama kesal juga terus ditelepon dan diteror pesan hanya karena satu hari tidak berangkat bersama.


"Hati-hati dijalannya, jangan ngebut-ngebut ya. Gw khawatir sama lo". Bintang mengulum bibirnya, menahan bibirnya yang terus melengkung hingga membentuk senyum sempurna.


Perhatian Langit benar-benar terdengar tulus, hingga mampu menyentuh hati terdalam Bintang.


"Iya.." Hanya itu jawaban Bintang karena ia sedang tersenyum-senyum sendiri saat ini.


"Nanti kabarin gw kalo udah nyampe sekolah ya.." Bintang semakin tidak bisa menyembunyikan senyuman lebarnya.


"Aaaaaa...gw bener-bener gila!!! Ngapain gw senyum-senyum sendiri". Meskipun batinnya berteriak mengingatkan dirinya untuk tidak tersenyum, nyatanya bibirnya tetap melengkung sempurna.


"Hallo..Bintang?? Hallo?? Lo masih disana kan?". Suara Langit menarik kembali kesadaran Bintang.


"Hah apa?". Tanya Bintang tergagap.


"Nanti kabarin gw kalo udah nyampe sekolah.." Bintang mengangguk, lalu sadar jika Langit tidak akan bisa melihatnya.

__ADS_1


"Iya..lo istirahat aja. Jangan lupa makan sama minum obatnya. Ntar pulang sekolah gw ke rumah lo". Yang diseberang sana sudah berguling kesana kemari diatas kasur saking senangnya mendapat perhatian dari wanita yang dicintainya.


Dan apa katanya tadi?? Bintang akan datang kerumah menjenguknya??? Langit membuka mulutnya lebar, berteriak tanpa suara karena saking senangnya. Bahkan sakitnya seperti tiba-tiba lenyap begitu saja.


"Lang??". Bintang menatap ponselnya, masih terhubung tapi Langit tidak bersuara.


"Langit??". Kembali Bintang memanggil. Dan baru ada sahutan saat ketiga kali Bintang memanggil.


"Hah iya-iya. Gw tunggu dirumah ya.." Senang sekali rasanya Langit. Membayangkan pujaan hatinya akan datang menjenguknya sudah menjadi obat paling mujarab untuk penyakitnya.


"Ya udah, gw mau siap-siap dulu". Akhirnya pagi itu kedua remaja yang sepertinya sudah sama-sama jatuh cinta itu tersenyum mengawali hari.


Senyum Bintang belum luntur bahkan sampai dirinya duduk di meja makan. Membuat ayah dan anak lelakinya saling menatap dan bertanya melalui tatapan mereka.


Hanya saling mengendikkan bahu karena tidak tahu alasan apa yang membuat Bintang tersenyum secerah itu pagi ini.


"Bunda mau nasi goreng nya.." Bintang mengangkat piringnya. Meminta bunda mengisinya dengan nasi goreng.


"Makan yang banyak ya.." Entah mengapa, sejak kemarin perasaan bunda tidak enak. Ditambah saat ini melihat Bintang, perasaannya makin tidak karuan.


"Bunda kenapa?". Tanya Bintang yang melihat wajah bunda nya tidak tenang seperti biasa.


"Langit nggak ke sekolah ya?". Tanya bunda dijawab anggukan kepala oleh Bintang. Ah, pasti Langit yang sudah mengabari bunda. Batin Bintang.


"Kamu ke sekolah naik apa sayang?". Tanya bunda lagi.


"Dianter supir bunda aja, ya?". Bintang mengerutkan alisnya, ada yang aneh dari bunda, batinnya.


"Biasanya kamu sama Langit makanya bunda nggak terlalu khawatir, sekarang Langit lagi sakit. Jadi diantar supir aja ya?". Bunda tidak dapat menyembunyikan kecemasannya.


"Bunda lupa ya, sebelum Langit anter sama jemput Bintang, kan aku udah biasa naik motor sendiri bun". Iya, bunda tahu. Tapi entah mengapa hari ini ia tidak tenang melepaskan Bintang pergi seorang diri dengan motornya.


"Iya, tapi..."


"Sudah lah, bun. Mungkin anak kita ingin bernostalgia dulu". Ayah menyentuh lengan istrinya dan mengelusnya guna menenangkan perasaannya yang sepertinya sedang sedikit kacau.


"Tapi kan lebih aman kalau diantarkan supir, yah.." Ayah tersenyum, tidak ada yang meragukan kasih sayang bunda terhadap Bintang.


Naura bisa melihat sorot kecemasan yang begitu besar dari mata bunda. Ia sendiri tidak mengerti kenapa bunda bisa secemas itu, padahal adik iparnya itu sudah biasa berkendara dengan motornya seorang diri.


"Bintang janji bakal hati-hati dijalan bun.." Bintang tersenyum meyakinkan. Membuat bunda menghela nafasnya panjang sebelum akhirnya mengangguk sambil tersenyum walaupun sebenarnya hatinya tidak rela.


"Ya Allah, perasaan macam ini. Kenapa aku sangat mengkhawatirkan Bintang begini..Lindungi putriku ya Allah". Batin bunda yang terus merapalkan doa untuk keselamatan putrinya.


Entahlah, sejak mimpinya bertemu ibu kandung Bintang semalam, bunda jadi sangat tidak tenang hingga pagi ini.

__ADS_1


"Terimakasih sudah merawat dan menjaganya. Bahkan menyayanginya seperti putrimu sendiri, tolong terus sayangi dan lindungi dia, Ratih.." Penggalan kalimat itu terus berputar dikepalanya. Apa maksud ucapan itu? Apakah ada pesan tersembunyi??


"Bunda.." Bunda tersentak saat tangannya dielus Bintang. Bahkan ia tidak sadar putrinya sudah menandaskan sarapannya.


"Bintang berangkat dulu ya bun.." Bintang mencium punggung tangan bunda kemudian memeluk dan mencium kedua pipinya.


"Bunda antar sampai depan". Bintang mengangguk senang kemudian seperti biasa, menempel pada lengan bunda yang selalu terasa nyaman.


"Bunda kenapa yah?". Tanya Juna yang melihat keanehan ibu sambungnya.


"Entah..mungkin karena adikmu sudah lama tidak membawa kendaraan sendiri". Sahut ayah menebak.


Juna mengangguk menyetujui tebakan sang ayah, tidak dengan Naura. Ibu satu anak itu melihat ada yang lain dari sorot mata bunda.


"Aku ke depan dulu ya.." Juna mengangguk saj saat Naura pamit menyusul ibu dan adiknya.


"Hati-hati dijalan ya sayang, segera kabari bunda kalau sudah sampai di sekolah, mengerti?". Bunda berpesan sambil memeluk putrinya. Ia seolah enggan melepaskan pelukannya pada Bintang.


"Iya bunda..." Hanya bisa tersenyum menenangkan sambil perlahan melepaskan pelukan bunda.


"Bintang pergi dulu ya..assalamualaikum".


"Wa'alaikumsalam". Bunda tidak melepaskan tatapannya dari Bintang. Hatinya semakin terasa gundah tidak menentu melihat Bintang sudah mulai melajukan kendaraannya menjauh dari rumah mereka.


Bahkan sampai Bintang sudah tidak terlihat, bunda masih berdiri diteras menatap lurus ke depan.


"Bun.." Tepukan di pundak membuat bunda tersadar. Naura sudah berdiri disampingnya.


"Bunda kenapa?? Ada yang bunda pikirin?". Tanya Naura yang seolah tahu ada kegelisahan yang coba dipendam ibu mertuanya.


"Bunda hanya khawatir pada adikmu, nak". Naura tahu bunda tengah tersenyum palsu demi menutupi keresahan hatinya.


"Bintang akan baik-baik saja, bun. Kita doakan saja.." Naura mengelus pundak bunda guna menenangkan wanita penyayang berhati lembut itu.


"Ya, itu yang bunda harapkan, Naura.."


"Kita masuk ya..bunda belum makan. Nanti malah bunda yang sakit. Kasian Bintang kalau bunda sampai sakit, dia pasti akan sedih". Bunda menoleh menatap menantunya kemudian tersenyum dan mengangguk.


"Mungkin hanya perasaanku saja. Bintang akan baik-baik saja, aku harus yakin itu". Batin bunda meyakinkan perasaannya.


...¥¥¥¥•••¥¥¥¥...


...Satu lagi nih...kreji kreji lah pokoknya🤭🤭😅😅...


...Happy reading kalian semua😊😊 semoga syuka dan menghibur ya🙏🏻😊☺️...

__ADS_1


...Sayang readers banyakbanyak 🥰🥰🥰😘😘💐♥️💋♥️🥰😘💐💐...


__ADS_2