
Langit dan Bintang sama-sama terdiam. Bibirnya boleh berbicara yakin, namun terbesit sedikit keraguan di hati Bintang saat meminta Langit menjauh.
Tanpa Bintang sadari, sikap menyebalkan Langit yang selalu mengganggu dan mencap dirinya sebagai calon pacarnya sudah mulai membuat Bintang terbiasa.
Ah entahlah, Bintang hanya ingin kehidupan damainya dulu kembali tanpa ada lagi drama yang membuatnya terluka dan membuat orang-orang terkasihnya khawatir.
"Gue nggak bisa Bin". Bintang langsung menoleh saat Langit berbicara.
"Gue bakal lakuin apapun, tapi nggak bisa kalo harus jauhin elo". Imbuh Langit dengan tatapan dalam.
Bintang memalingkan wajahnya. Tak mau matanya bertemu dengan mata Langit yang terus menatap dirinya.
"Nggak ada yang bisa lo lakuin. Karna gue maunya lo jauhin gue". Tegas Bintang tanpa menatap Langit.
"Dan lo harus mau jauhin gue". Kini Bintang beranikan diri menatap Langit yang ternyata masih menatap dirinya.
"Gue nggak mau, Bintang". Langit tak mau kalah.
"Lo harus mau. Gue mau kehidupan tenang gue yang dulu balik". Keduanya saling menatap tajam, tak ada yang mau mengalah.
"Nggak mau!". Langit berkata tegas
"Harus mau!!". Bintang tetap kukuh pada keinginannya.
"Tapi sayangnya gue nggak akan pernah lakuin!".
"Lo kenapa sih ngotot banget nggak mau! Gue cum--"
"Karna gue suka sama lo!!". Bintang diam, kata-kata Langit membuat lidahnya tiba-tiba kelu.
Mungkin mudah bagi Langit mengucapkannya, karena pemuda itu sudah terlalu biasa menyatakan suka atau bahkan cinta pada gadis manapun. Sedangkan Bintang? Ini adalah pertama kalinya ada lelaki yang terang-terangan menyatakan perasaannya.
Banyak laki-laki yang mendekatinya, namun pernyataan cinta mereka hanya melalui pesan singkat atau kiriman bunga dan cokelat atau hal lainnya. Tapi yang ini berbeda hingga membuat lidah Bintang terasa kelu.
Bintang menyadarkan dirinya untuk tidak terbuai. Ia tidak boleh melupakan siapa Langit, laki-laki playboy yang bisa dengan mudah menyatakan cinta dan memutuskan hubungan tanpa beban.
"Heuh.." Bintang tersenyum miring membuat Langit mengernyit bingung melihat reaksi Bintang.
"Kalo gitu, jangan suka sama gue mulai sekarang". Mata Langit membola mendengar ucapan Bintang. Apa-apaan maksudnya? Tidak boleh menyukainya??
"A-apa?".
"Berhenti suka sama gue!". Tegas Bintang menatap langsung mata Langit.
"Nggak bisa gitu lah! Lo kira perasaan gue bisa gue atur". Langit tak terima, suka pada Bintang juga bukan rencananya. Kenapa kini dirinya dilarang menyukai gadis itu.
"Harusnya bisa kan? Bukannya selama ini lo bisa dengan mudah nyatain cinta terus mutusin kalo udah bosen?". Skakmat! Langit tak bisa berkutik.
__ADS_1
Untuk pertama kalinya, Langit menyesali tingkah playboynya yang senang berganti-ganti pacar.
Mungkinkah ini karma untuknya yang sudah membuat banyak gadis menangis karena ia putuskan secara sepihak??
Belum sempat Langit berbicara, sebuah mobil masuk kedalam halaman parkir rumah orang tua Bulan.
"Bapak udah pulang. Mending sekarang lo balik". Usir Bintang yang sudah berdiri, bersiap menyambut bapak.
Langit yang semula hendak memprotes mengurungkan niatnya. Ia tak mau membuat keributan dirumah orang lain. Akan sangat memalukan.
"Eh ada temennya Bintang.." Senyum ramah bapak membuat Langit ikut tersenyum. Pantas Bintang menjadi orang yang sangat baik, kehidupannya dipenuhi oleh orang-orang baik pula.
"Kok nggak diajak masuk, nak?". Tanya bapak pada Bintang.
"Udah mau pulang kok pak.." Langit hanya bisa menghela nafas panjang sambil tersenyum paksa mendengar ucapan Bintang pada bapak.
"Kenapa buru-buru?".
"Udah dari tadi pak disini nya. Ini mau pamit.."
"Iya kan Lang? Lo mau balik". Langit menatap Bintang, tatapan matanya seolah berbicara 'iyain!! Terus cepet sana balik lo!' Mungkin jika Bintang berbicara, akan seperti itu gadis itu mengusir dirinya.
"Iya pak, ini saya mau pamit. Lagi nunggu temen-temen saya". Bukan bohong, Langit memang harus menunggu dua sahabatnya karena ia menumpang mobil Roman.
"Oh seperti itu. Dimana mereka?". Tanya bapak mencari sekeliling.
"Itu mereka pak.." Ucap Bintang menunjuk Bulan yang berjalan bersama Roman dan Sam.
---***
Langit dan Roman yang duduk dibangku depan tampak saling lirik. Sejak pulang dari rumah Bulan tadi, Langit jadi lebih pendiam. Tak banyak kata keluar dari mulutnya. Padahal biasanya lelaki itu selalu cerewet dan banyak bicara.
"Jauhin gue.." Ucapan Bintang bagaikan kaset rusak yang terus berputar di kepala Langit.
"Aaaahhh!!!!". Tiba-tiba Langit berteriak, membuat Roman dan Sam berjingkat karena terkejut mendengar teriakan Langit.
"Lo kenapa sih Lang? Cerita kalo ada apa-apa". Sam akhirnya buka suara setelah diam cukup lama.
"Iya lu. Si Bintang ngomong apa ampe lu frustasi gitu?". Langit menghela nafas panjang. Haruskah ia katakan apa yang Bintang minta darinya??
"Ah masa bodoh! Siapa tau mereka punya jalan keluar lain". Batin Langit yang memutuskan memberitahu apa yang Bintang minta darinya.
"Dia minta gue jauhin dia".
"Hah???!!!!". Kini Langit yang berjingkat karena Sam dan Roman berteriak bersamaan.
"Sumpah lo? Bintang minta lo jauhin dia?". Roman tak percaya, bahkan kini ia menepikan mobilnya dan duduk menghadap Langit yang ada di bangku belakang.
__ADS_1
Langit mengangguk pelan. Sungguh ia pun masih sama terkejutnya seperti kedua temannya. Langit bisa melakukan apapun untuk Bintang, membuat Catherine membayar semua kelakuannya pun Langit bisa. Lalu kenapa Bintang lebih memilih jalan memintanya menjauh.
"Dia bilang hidupnya damai sebelum gue deketin dia.." Langit menghela nafas kasar, seolah udara didalam paru-parunya cepat sekali habis.
"Emang tadi lo ngomong apaan?". Sam bertanya dengan alis berkerut.
Langit menceritakan apa yang ia katakan pada Bintang dan apa saja yang menjadi jawaban dari Bintang. Antara kasihan dan ingin menertawakan.
Rasa itulah yang kini bercokol dihati Roman dan Sam. Selama ini keduanya sudah pusing dengan tingkah Langit, berharap suatu saat ada gadis yang bisa membuatnya bertaubat dan benar-benar mencintai hanya satu gadis saja. Dna kini setelah menemukannya, rupanya gadis itu yang enggan menerima Langit.
Jadi harus apa kini Sam dan Roman? Haruskah mereka iba? Atau justru tertawa karena nasib malang yang menimpa sahabat mereka?
"Sabar Lang.." Langit menatap Roman, ia tahu sahabat laknatnya itu pasti sangat ingin tertawa. Bagaimana mungkin seorang cassanova bisa patah hati seperti sekarang ini. Bahkan bisa dibilang, ia kalah sebelum berperang.
"Dari awal kan elo udah tau. Bintang susah diluluhin.." Sam coba memberi support dengan mengatakan jika Bintang memang berbeda dari gadis kebanyakan.
"Masa gitu aja lo mau nyerah sih". Roman mengompori, lama-lama kasihan juga melihat wajah tertekan Langit.
Langit menghela nafas, baru cerita seperti ini saja dua teman baiknya itu sudah berusaha mati-matian menahan tawa. Akan seperti apa dirinya jika sampai ia menceritakan rencana kakek yang ingin menjodohkannya. Bisa habis dia ditertawakan dua teman durjananya itu.
"Laper gue.." Sam dan Roman kembali saling menatap kemudian tertawa.
"Oke lah, makan dulu kita". Roman kembali menyalakan mesin mobilnya, ketiganya memilih makan diwarung tenda pinggir jalan daripada harus datang ke restoran mahal
Sedangkan kini, Bulan tengah menjadi seorang hakim yang memimpin sidangnya sendiri. Dengan terdakwa Bintang.
Sejak tadi Bulan ingin tahu apa yang dibicarakan Langit. Namun Bintang tak mau menceritakannya.
Selepas makan malam bersama ibu dan bapak, kedua gadis itu kembali ke kamar dengan alasan ingin belajar. Kalau Bintang, gadis itu memang benar-benar belajar. Menyalin catatan dari buku Bulan agar tak ada yang terlewat. Sedangkan Bulan? Gadis itu sibuk bertanya ini itu pada Bintang.
"Diem deh Bul. Gue kaga bisa konsen ini". Keluh Bintang yang sudah lelah dicecar banyak pertanyaan oleh sahabatnya.
"Gue bakal diem. Tapi jawab dulu pertanyaan gue.." Bintang mendengus saat Bulan menutup buku yang tengah ia salin catatannya.
"Apa???". Bintang mengalah, daripada ia tidak bisa mencatat, lebih baik menjawab keingintahuan sahabatnya itu.
"Langit ngomong apa aja?". Bintang mencebikkan bibirnya. Kesal sekali rasanya mendengar pertanyaan yang sama terus saja Bulan ulangi.
"Nggak ada". Bulan tak percaya dengan jawaban Bintang. Apalagi saat tadi melihat wajah masam Langit. Sangat berbeda dengan wajah Langit yang biasanya cerah jika nerurusan dengan sesuatu yang berbau Bintang.
"Ssssttt..." Bintang langsung menginterupsi saat Bulan hendak membuka mulutnya lagi.
"Diem! Gue mau nyatet terus mau tidur!". Mendengus kesal karena tak mendapat jawaban yang memuaskan, Bulan memutuskan membiarkan Bintang menyalin catatannya dengan tenang dan damai.
Ia memilih membaringkan tubuhnya diatas kasur dan menonton video baru dari boygrup kesukaannya.
...¥¥¥•••¥¥¥...
__ADS_1
...Bonus tengah malamnya pemirsah😅😅 othornya lagi bener-bener semangat nulis nih😊😊😅...
...Happy reading and lopelope banyak kali buat kalian🥰🥰🥰😘😘😘😊💋♥️♥️💐💐...