Langit Untuk Bintang

Langit Untuk Bintang
kurang beruntung


__ADS_3

"Semua orang sedang memperhatikan anda, nona". Alex mengulum bibirnya agar tidak melengkungkan senyum.


"Nggak peduli!". Sahut Bintang galak tanpa mau mengalihkan tatapannya.


Bintang tak menggubrisnya, ia masih sibuk untuk coba melepaskan diri meski kini ayahnya sudah berdiri disampingnya.


"Tugas saya sudah selesai tuan, saya akan berjaga di luar". Alex berpamitan pada Henry yang langsung mengangguk mengiyakan.


"Bang Alex ngeselin!!". Teriak Bintang membuat semua orang menyunggingkan senyum melihat tingkah Bintang.


"Ayah sudah bilang kan, kamu tidak akan bisa kabur". Bintang langsung menatap sang ayah dengan bibir mengerucut.


"Mbak, apa Bintang turun melalui balkon kamarnya lagi?". Tanya Naura pada Kiran yang duduk disampingnya.


"Sepertinya begitu, lihat saja penampilannya. Sedikit berantakan". Balas Kiran berbisik.


Keduanya tidak sadar jika mommy Sekar mendengar percakapan singkat keduanya. Entah mengapa, bukannya merasa ilfeel pada Bintang, mommy Sekar justru tersenyum lebar.


Sepertinya calon menantunya bukan gadis biasa seperti kebanyakan gadis yang manja.


Sementara itu, ayah dan Bintang masih terlihat berbicara. Dari bahasa tubuhnya, terlihat jelas jika Bintang masih menolak rencana perjodohan ini.


Langit?? Jangan tanyakan pemuda itu. Semua yang terjadi terlalu mengejutkan untuk dirinya. Rencana perjodohan ini sudah lumayan mampu membuatnya terkejut, dan kini gadis yang dijodohkan dengannya lebih mengejutkan lagi.


Jadi selama ini, Bintang adalah putri bungsu dari keluarga kaya raya? Bintang yang selama ini terlihat sederhana itu adalah anak konglomerat ternama? Dirinya benar-benar tertipu dengan penyamaran Bintang yang terbilang sempurna.


Ia masih terus menatap Bintang tanpa bisa mengalihkan fokus matanya pda hal lain. Pikirannya masih berperang, kenyataan ini terlalu mengejutkan untuk dirinya.


"Dad, lihat anakmu. Bahkan dia tidak berkedip". Mommy Sekar berbisik pada suaminya sambil melirik Langit yang benar-benar fokus menatap Bintang.


"Ini nyata? Ini bukan mimpi?". Batin Langit yang memejamkan matanya sesaat lalu kembali membukanya. Ia bahkan menampar pipinya sendiri untuk meyakinkan dirinya jika apa yang dilihatnya adalah nyata.


"Ini bener-bener nyata!". Batin Langit berseru senang. Dan semua itu tidak luput dari pengamatan kedua orang tuanya serta kakeknya. Bahkan kedua kakak Bintang saling menatap dan tersenyum geli melihat reaksi Langit.


"Ayo, sekarang kita kesana dan makan malam". Ajak ayah Henry pda putri tersayangnya.


"Nggak mau. Bintang nggak mau dijodohin ayah.." Rengek Bintang manja sambil menggoyang lengan sang ayah dengan wajah memelas.


"Bukannya ayah sudah bilang, ini hanya perkenalan sayang..kenapa kamu takut sekali". Ayah Henry terkekeh pelan melihat reaksi Bintang, yang menurutnya sedikit berlebihan.


"Kan kamu yang bilang sama ayah, nggak suka pacaran. Mending langsung nikah, pacarannya habis nikah". Bintang mencebik. Ia memang pernah berkata seperti itu, tapi tidak secepat ini juga.


"Nggak secepat ini juga kali, yah. Aku masih sekolah ayah. Baru juga mau naik kelas 12..ya kali udah dijodohin". Bibir Bintang semakin mengerucut tajam.


"Maaf..saya tinggal sebentar". Bunda berpamitan karena melihat ayah tak kunjung bisa membujuk Bintang. Sementara semua orang sudah menunggu keduanya untuk makan malam.


Mommy Sekar tersenyum lalu menganggukkan kepalanya saat bunda Ratih pamit sebentar.


"Sayang.." Suara lembut bunda membuat Bintang segera menoleh.

__ADS_1


Memasang wajah se memelas mungkin dan berharap bunda bisa menolongnya.


"Bunda..nggak mau". Rengek Bintang sambil memeluk bunda.


"Dasar anak itu. Nggak berubah". Gumam Dewa sambil menggeleng.


"Bukan Bintang namanya mas, kalau langsung pasrah tanpa perlawanan". Seloroh Juna yang disambut tawa semua orang.


Bunda mengelus rambut Bintang yang malam ini digelung tinggi dan hanya menyisakan helaian rambut yang jatuh disisi kanan dan kirinya. Memperlihatkan leher jenjangnya yang putih mulus.


"Kita kesana dulu ya..tidak sopan membuat tamu menunggu terlalu lama sayang.." Bintang menatap bunda, kemudian kembali menggelengkan kepalanya. Ia benar-benar tidak mau.


"Apa ayah pernah berbohong padamu?". Tanya Bunda lembut membuat Bintang langsung menggeleng. Ayahnya belum pernah membohongi dirinya. Tentang hal apapun itu.


"Apa Bintang tidak percaya pada ayah dan bunda? Pada mas Dewa dan kak Juna?". Bintang diam. Bukan tidak percaya, tapi buktinya kini mereka bersekongkol untuk menjebak dirinya.


"Ayah sudah bilang bukan..ini hanya perkenalan keluarga saja. Sekaligus memenuhi amanat opa sebelum beliau meninggal sayang.." Ini yang tidak Bintang sukai. Ia selalu luluh dengan tutur kata lembut bunda.


"Jadi percaya pada ayah..kalau memang Bintang merasa tidak cocok. Ayah dan bunda akan coba membatalkannya..percayalah". Bujuk bunda terus menatap intens mata putri sambungnya.


Terdengar helaan nafas Bintang. Ayah tahu putrinya akan luluh jika istrinya sudah membujuk. Bintang paling tidak bisa menolak permintaan ibu sambungnya itu. Dan ayah bersyukur memiliki bunda yang menyayangi anak-anaknya selayaknya ibu kandung.


"Hanya berkenalan saja.." Bintang menatap bunda dan ayah bergantian.


"Hanya berkenalan. Kami berjanji". Ucap ayah dan Bunda kompak.


Akhirnya Bintang luluh dan mengikuti langkah ayah dengan kepala tertunduk. Ia masih enggan mengangkat wajahnya bahkan saat kini dirinya sudah duduk disalah satu kursi di meja makan.


"Kamu tidak mau menyapa tamu kita dulu, dek?". Bintang melirik sekilas pada Dewa yang baru saja bersuara.


Ingin sekali ia berteriak dan mengatakan mengapa tidak sejak tadi kakaknya itu mengingatkan. Mengapa harus saat dirinya sudah duduk.


Bintang mengangkat wajahnya, sosok yang pertama ia lihat adalah kakek Wira. Alis Bintang sedikit berkerut saat melihat wajah kakek Wira yang tidak asing baginya.


"Kakek..Wi-ra". Bintang mencoba mengingat nama nya.


Kakek Wira mengembangkan senyumnya saat Bintang masih mengingatnya.


"Kamu masih ingat dengan kakek?". Bintang tersenyum tipis kemudian mengangguk. Bagaimana mungkin ia lupa pada sosok yang pernah ia tolong.


"Papa mengenalnya?". Suara mommy Sekar membuat Bintang menoleh. Bintang masih belum menyadari sosok lelaki yang katanya akan dijodohkan dengan dirinya itu.


"Tentu saja. Dia yang menolong papa saat papa hampir celaka waktu itu. Dia juga yang membawa papa ke rumah sakit saat itu.." Kakek Wira mengenang pertolongan Bintang.


Sejak kejadian itu, kakek bersumpah akan menjodohkan gadis penolongnya dengan Langit, cucu kesayangannya.


Siapa yang mengira jika ternyata gadis yang ia tandai sebagai calon jodoh cucunya itu ternyata memang gadis yang sudah ia jodohkan dengan Langit sejak masih kecil.


"Kebetulan sekali ya..penolongnya papa ternyata adalah calon cucu menantu sendiri". Mommy Sekar tampak senang membuat Bintang terpaksa mengembangkan senyumnya meski terlihat kaku.

__ADS_1


Bintang mencium punggung tangan kakek Wira, kemudian berlanjut pada mommy Sekar dan kemudian daddy Prabu sambil saling menyebutkan nama.


"Langit.." Bintang menatap uluran tangan didepannya. Nama dan suara itu sangat ia kenali. Tapi kenapa laki-laki itu ada dirumah orang tuanya??


Matanya mengerjap beberapa kali, terlihat lucu dan menggemaskan dimata Langit yang kini tersenyum lebar melihat Bintang yang tak kunjung menerima uluran tangannya. Bahkan kepalanya masih saja tertunduk sejak tadi.


"Lo!!!!". Seru Bintang saat mengangkat wajahnya. Dan wajah Langit lah yang pertama kali ia lihat.


"Haii..Bintang.." Langit menyapa Bintang tanpa mempedulikan reaksi Bintang yang tengah terkejut. Ia justru mengambil tangan Bintang dan menjabatnya dengan erat seolah tak akan pernah ia lepas lagi.


Langit terkekeh geli melihat wajah Bintang saat ini. Terlihat sangat terkejut dengan mata melebar dan bibir sedikit terbuka. Telunjuknya bahkan masih teracung menunjuk wajahnya.


"Cobaan apalagi ini ya Allah..." Dan Bintang hanya mampu meneriakkannya dalam hati saja.


"Kalian sudah saling mengenal sepertinya". Bintang langsung memutus kontak matanya dengan Langit dan menoleh untuk menatap kakaknya.


"Iya.."


"Enggak!!". Jawaban yang berbeda keluar dari mulut Langit dan Bintang. Keduanya kembali saling menatap.


Bintang melotot seolah mengatakan untuk tidak menunjukkan jika mereka saling mengenal. Namun Langit justru tersenyum penuh maksud.


"Kita berdua satu sekolah, kak. Bahkan satu kelas". Bahu Bintang merosot mendengar Langit menjelaskan semuanya.


"Udah..kelar semuanya". Batin Bintang ingin menangis. Jika sudah seperti ini, maka bisa dipastikan jika kedua orang tuanya akan semakin bersemangat melanjutkan perjodohan. Karena ia sudah saling mengenal dengan calon yang akan dijodohkan dengannya.


"Wah, kebetulan sekali ya". Bunda angkat suara membuat semua mengangguk mengiyakan.


"Ternyata kalo jodoh memang nggak kemana ya jeng.." Mommy Sekar terlihat paling bersemangat.


"Kita makan saja dulu..nanti kita lanjutkan obrolan kita. Akan kurang nikmat kalau makanannya terlalu dingin." kembali semua mengangguk setuju dengan apa yang ayah Henry ucapkan.


Selanjutnya, semua orang makan dengan diselingi obrolan ringan yang didominasi oleh para wanita, kecuali Bintang tentunya.


Sejak tadi Bintang lebih banyak diam, sesekali ia mencuri pandang ke arah Langit yang rupanya juga tengah menatap dirinya dengan senyum menawannya.


Entah apa arti senyuman itu. Yang jelas Bintang yakin, setelah ini dirinya akan kembali berurusan dengan laki-laki yang sudah berhasil ia hindari selama berbulan-bulan ini.


Bintang menghela nafas panjang. Mungkin memang sudah waktunya jati dirinya terbuka dan diketahui oleh Langit. Kini dirinya hanya bisa pasrah.


"Nasib lo kurang beruntung banget ketemu lagi ama ni biawak". Gumam Bintang lirih.


Makanan yang sebenarnya sangat lezat itu terasa hambar di mulutnya. Ia tak tahu apa yang direncanakan si titisan biawak itu terhadap dirinya.


...¥¥¥•••¥¥¥...


...Nih satu lagi kesayanganku semuaaa🥰🥰🥰 jangan bosen-bosen ya bacanya😁☺️...


...Nanti insyaallah aku tambahin lagi..mau kreji up terus biar kalian juga pada kreji like sama komennya😁😁...

__ADS_1


...Happy reading readers🥰🥰 Sarangheo sekebon😘😘😘🥰💐♥️💋...


__ADS_2