Langit Untuk Bintang

Langit Untuk Bintang
my future wife


__ADS_3

Bintang menghempaskan tubuhnya diatas kasur empuknya setelah membersihkan diri dan menggantin pakaiannya dengan baju tidur.


Kejadian beberapa saat lalu kembali berputar diingatannya. Bagaimana Langit menggenggam tangannya, bagaimana Langit menatapnya dengan tatapannya yang masih sama seperti enam tahun lalu. Dan tidak akan ia lupakan, bagaimana Langit membentaknya.


"Enak aja main bentak! Memang dia pikir dia siapa?!". Sudah mulai kambuh, memaki dan mengumpati Langit yang sepertinya saat ini telinganya berdenging karena ulah Bintang.


Kejadian malam ini tidak pernah ia duga. Setelah sekian lama vakum tidak terlibat keributan, akhirnya tadi ia kembali terlibat keributan.


"Tunggu!!!", Tiba-tiba bangun dari tidurannya saat memikirkan sesuatu.


"Apa Langit melihat semuanya??". Bertanya entah pada siapa karena jelas saat ini dirinya tengah sendirian.


"Mungkinkah??", Kembali bertanya meski tak akan ada yang menjawab.


"Aaah, pasti enggak.." Menjawab sendiri semua pertanyaan yang meluncur dari bibir mungilnya.


"Lagipula, memang kenapa kalau dia melihatnya? Apa pedulinya?". Sudah lah, biarkan saja Bintang seperti itu.


"Aaaakh, masa bodoh!", Kembali menghempaskan tubuhnya ke atas kasur empuknya.


"Membuat pusing saja". Menggerutu sambil menarik selimut untuk menutupi tubuhnya.


Ia meraih ponselnya yang bergetar. Ada pesan dari Alva. Sepertinya balasan pesan yang ia kirimkan sebelum tadi membersihkan diri.


"Aku sudah sampai rumah. Jadi istirahatlah". Benar, itu balasan dari pesan yang dikirimkan Bintang tadi.


Ia meminta Alva mengabari dirinya jika sudah sampai dirumah. Ia akan menunggu kabarnya, baru setelahnya akan beristirahat. Kurang lebihnya begitulah isi pesan yang Bintang kirimkan tadi.


"Selamat istirahat, kak Alva.." Membalas kembali pesan Alva dan kemudian menyimpan ponselnya.


Ia harus segera beristirahat. Mengumpulkan segenap tenaga dan juga kewarasannya untuk menghadapi ceo nya esok hari.


"Apa gadis tadi itu, besok juga akan datang?", Kembali bertanya sambil menatap langit-langit kamarnya.


"Mungkin saja.." Raut wajahnya berubah-ubah. Kadang terlihat dahinya mengerut, kadang melebarkan matanya, tapi kini wajahnya berubah, perpaduan antara kesal dan sedih sepertinya.


"Aaaakkkh..." Kembali berteriak karena kesal dengan dirinya sendiri.


Untung gadis itu tidak tinggal ditengah perumahan padat penduduk yang dindingnya bahkan menempel satu sama lain. Jika iya, mungkin semua tetangganya bahkan rt atau rw datang ke rumah nya karena mendengar teriakan.


"Tidur Bintang!!! Tidur!!", Memaksa matanya untuk terpejam meskipun sulit.


Dan entah pukul berapa ia terlelap. Ia terlalu sibuk bertanya dan mencari jawaban yang tidak ia ketahui.


Bahkan saat dirinya merasa baru saja memejamkan mata, alarm nya sudah berbunyi disusul suara adzan yang berkumandang saling bersahutan dari satu tempat dan tempat lain.


"Aku baru tidur sebentar,." Gumam-gumam sambil merapatkan selimutnya.

__ADS_1


Terlalu mengantuk, ia bahkan tidak terganggu dengan nyaringnya jam yang terus berbunyi sejak tadi. Gadis itu kembali terlelap.


Namun hanya sebentar, karena 10menit kemudian, ponselnya sudah bergetar dan mengeluarkan suara yang tak kalah nyaring.


Membuat gadis itu memaksa membuka matanya meski belum berhasil, mencoba segera mengumpulkan kesadarannya yang masih tercecer.


"Semua gara-gara Langit.." Masih pagi, dia sudah memaki nama Langit.


"Lagian kenapa sih harus dia yang jadi ceo di tempat aku kerja. Nggak ada perusahaan lain apa emang nya". Padahal matanya masih terpejam, tapi bisa-bisanya mulutnya terus memaki nama orang lain.


plak..!


Menampar dirinya sendiri agar segera membuka mata dan menyadarkan dirinya yang terus saja terpikirkan Langit.


"Bangun!!!". Berseru pada dirinya sendiri dan langsung turun dari ranjang meski jalannya masih sedikit sempoyongan. Bahkan ia menabrak pintu kamar mandi yang belum ia buka.


"Ish..." Sudah mau menyalahkan benda mati saja pagi-pagi.


"Aaaaaakh.." Berteriak dari dalam kamar mandi untuk menyalurkan rasa kesalnya saat melihat tamu bulanan nya hadir pagi itu.


"Kenapa nggak semalem sih. Kan aku jadi bisa bangun agak siang". Mengomel terus saja yang dilakukan gadis itu.


Sudah terlanjur bangun. Tubuhnya juga sudah segar karena terkena air. Akhirnya Bintang memilih langsung mandi saja sekalian. Lagipula ia tidak akan bisa tidur lagi.


"Hari ini diawali dengan kes*alan. Hal s*al apalagi nanti yang bakal menimpa?!". Sesaat kemudian ia sudah memukul bibirnya yang lancang mengutuk hari ini.


Masih sangat pagi saat ia keluar dari kamar mandi. Padahal ia merasa sudah seperti berjam-jam dikamar mandi karena membersihkan dirinya.


"Ngapain dulu ya?". Gumam Bintang yang sudah duduk didepan meja riasnya.


Jika dulu saat ia tinggal dirumah ayah dan bunda, pasti saat ini dirinya sudah sarapan dan bersiap berangkat ke kantor. Mengingat jarak yang ia tempuh cukup jauh, dan tentu saja macet.


Setelah berpikir sejenak, akhirnya ia memutuskan untuk memeriksa lagi design yang rencananya akan ia serahkan hari ini pada Langit.


Memastikan jika design nya sudah sempurna. Bintang menyimpan rapi didalam tas kerja nya. Ia tidak mau sampai barang penting itu tertinggal dan membuatnya kembali dalam masalah.


Kembali memikirkan sosok gadis cantik yang menemui Langit. Mungkinkah benar gadis itu adalah kekasih barunya?


"Siapa dia?". Kini Bintang berdiri didepan cermin. Entah apa tujuan gadis itu, karena saat tengah bercermin, secara tidak sadar ia membandingkan tubuh, wajah serta penampilannya dengan gadis yang datang mencari Langit tadi.


"Apasih.." Menggeleng cepat saat batinnya berkata jika dirinya tidak kalah menarik dari gadis bernama Sofia tadi.


Melirik jam diatas nakas. Masih ada waktu empat puluh lima menit sebelum jam masuk kantor. Bisa-bisa mengalahkan ob jika berangkat sekarang.


Lalu mau apa sekarang?? Pikir Bintang bingung sendiri.


Berjalan menuju dapur apartemennya untuk membuat sarapan bagi dirinya. Seperti biasa, roti panggang dengan selai coklat yang tak pernah bosan ia makan.

__ADS_1


Menyiapkan sarapan simple yang tidak akan gagal dan terasa aman di indera penyecapnya. Sudah beberapa kali belajar memasak, tapi selalu gagal dan justru membuat perutnya tidak nyaman.


Akhirnya menyerah dan pasrah dengan ketidak berdayaannya yang tidak mempunyai keahlian memasak seperti kebanyakan wanita.


Menikmati sarapan yang hampir setiap hari ia santap sambil melihat novel favoritnya. Matanya berbinar saat penulis favoritnya sudah mengupdate ceritanya.


Dengan semangat jemarinya bergerak cepat membuka. Membaca sebaris demi sebaris cerita yang kadang membuat nya tersenyum, memaki bahkan mengumpat saat alur ceritanya seolah mengingatkan dirinya sendiri pada kisahnya.


"Dasar nggak jelas". Hampir setiap hari mencibir penulisnya, namun setiap hari pula selalu menanti kelanjutan ceritanya.


Memang dasar Bintang. Mungkin kini hobinya bukan lagi bermain basket, melainkan marah-marah dan memaki orang lain.


Jangan kan orang lain. Dirinya sendiri saja selalu ia maki🤦🏼‍♀️🤦🏼‍♀️


"Oohoo, kali ini kamu nggak akan bisa bikin aku terlambat". Tertawa penuh kebanggaan padahal tidak ada yang spesial🤦🏼‍♀️


Bintang bergegas menutup aplikasi novel langganannya. Memastikan listrik dan kompor dalam kondisi aman, barulah ia menyambar kunci mobil dan tas kerja nya serta tas jinjingnya.


Masuk kedalam mobil dengan bibir yang melengkungkan senyum. Ia ingin mengawali hari nya dengan senyuman. Berharap hari ini akan jauh lebih baik dari sebelumnya.


"Semangat Bintang. Ayo selesaiin kerjaan hari ini.." Memberi semangat pada dirinya sendiri saat mobil mulai melaju dijalanan yang cukup padat.


Melewati kepadatan jalanan sebelum akhirnya ia bisa bernafas lega saat mobilnya memasuki kawasan perusahaan.


Bintang memarkirkan mobilnya. Baru turun dari mobil, ia sudah mendapat sapaan hangat dari seseorang.


"Selamat pagi calon istri.." Menengok ke sekitar saat suara itu menyapa indera pendengarannya.


Matanya melebar saat menyadari siapa yang menyapanya.


"La-Langit?". Bibirnya sedikit bergetar menyebut nama lelaki itu.


"Iya..have a good day my future wife..cup". Kecupan hangat mendarat tepat dikening Bintang. Membuat gadis itu mematung sejenak.


Sebelum akhirnya tersadar dan panik sendiri. Matanya menyisir seluruh area parkir. Takut-takut kalau sampai ada yang melihat hal yang baru saja Langit lakukan.


"Langit.." Geramnya dengan suara tertahan saat melihat lelaki yang baru saja mengecup keningnya berlalu dengan langkah ringan seolah tidak terjadi apa-apa diantara mereka.


"My future wife.." Gumam Bintang sambil mengusap pelan keningnya, tepat dimana Langit mengecupnya.


...¥¥¥•••¥¥¥...


...Wes lah sak karepmu wae cah😂😂😅...


...Jangan bosen ya semua, kita nantikan sesaat lagi untuk mereka bersama🥰🥰...


...Happy reading semua🥳🥳 sarangheo😘😘😘♥️🥰💋💐...

__ADS_1


__ADS_2